
Perempuan itu sama sekali tidak menyangka kalau apa yang dikatakan pria itu memang benar. Mara dan Delon benar-benar telah berubah. Mereka berubah menjadi lebih baik, dan setelah dipaksakan, akhirnya perempuan itu pun akhirnya mau memaafkan sepasang kekasih yang sempat fenomenal tersebut.
Tidak terasa waktu dua Minggu terakhir yang dihabiskan oleh perempuan dan pria itu berlalu dengan sangat cepat. Padahal, dalam waktu itu, mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu bersama. Bahkan di hari-hari terakhir itu, mereka sama sekali tidak sibuk melakukan pekerjaan melukis. Mereka hanya berkencan ke segala galeri seni dan museum, dan berkencan di sana sambil membahas apapun mengenai dunia seni.
Diantar dengan menggunakan mobilnya Delon, Delon dan Mara rupanya memang sudah mengosongkan waktu mereka khusus untuk mengantar kepergian pria yang akhir-akhir ini sudah terlalu akrab dengan mereka. Tentunya selain di dunia bisnis. Selain itu, Mara dan Delon juga sangat berterimakasih kepada pria itu. Karena berkatnya, sepasang pengusaha yang terkenal bertangan besi itu kini mempunyai rasa yang sangat plong ketika perempuan pelukis korban perundungan itu mampu memaafkan mereka, dan kini sudah berbaikan.
Setibanya mereka berempat di bandara, perempuan itu masih tetap terdiam membisu ketika ia dan Mara tengah memperhatikan pria itu dan Delon tengah mengangkat barang-barang dari bagasi mobil Delon. Mara yang berdiri di sebelah perempuan itu pun menyadari kalau orang yang berdiri disebelahnya tengah menatap pria yang akan pergi jauh itu dengan tatapan kosong. Mara yang kini sudah tidak lagi merasa canggung dan segan kepada perempuan itu pun kini merangkul bahu perempuan itu dan mendekatkan dirinya. Lalu kepala perempuan itu ia sandarkan di bahunya. Setelah mendekat dan kepala perempuan itu akhirnya bersandar, Mara pun mengelusi rambut perempuan tersebut sambil terus memandangi aksi bongkar barang yang sudah sebentar lagi selesai dilakukan oleh pria itu dan Delon.
Merasakan kecanggungan dan rasa sakit hati yang dirasakan perempuan itu karena ulah Mara dan Delon di masa lalu itu sudah termaafkan, Mara merasa saat ini ia sangat bahagia. Ia tidak menyangka, ternyata beban masa lalu yang sudah bertahun-tahun memberatkan hatinya dan hati Delon kini terhilang semenjak perempuan itu dengan personal, di hadapan Delon dan pria itu mengaku telah memaafkan mereka. Ternyata berkat pria yang sangat berpengaruh di dunia bisnis yang telah menghilang selama dua tahun itulah yang mampu membuat keajaiban indah itu. Setelah bertahun-tahun Mara dan Delon sangat berputus asa karena sama sekali tidak tahu dimanakah sosok perempuan pesakitan itu berada.
Mara masih merangkul perempuan pelukis itu ketika mereka berempat berjalan menuju gerbang keberangkatan. Mereka berdua berjalan di belakang pria yang sambil mendorong troli yang berisi barang-barang pribadinya itu, dan Delon yang berjalan di sebelah pria itu sambil membicarakan sesuatu yang kelihatannya seru. Walaupun kini ia dan Delon merasa bahagia karena pria itu telah berhasil pulang ke negara asalnya, namun kebahagiaan itu nampaknya tidak terlihat di raut wajah perempuan yang sedari tadi dirangkulnya. Perempuan itu masih berwajah datar, dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
Bahkan, ketika pria itu sudah sampai di depan gerbang keberangkatan, Mara pun meninggalkan perempuan itu di suatu titik yang tidak jauh dari tempat pria itu. Itu dikarenakan pria itu yang memanggil Mara dan Delon untuk mendekat. Terlihat, pria itu memeluk Mara dan Delon secara bergantian, dan dalam perpisahan tersebut pun terlihat wajah mereka bertiga yang terlihat bahagia. Sedangkan perempuan pelukis yang memandang pemandangan tersebut tetap melihatnya dengan tatapan kosong. Perempuan itu bahkan sama sekali tidak bergerak.
Melihat keadaan tanpa ekspresi yang diperlihatkan oleh perempuan pelukis itu, pria yang sudah selesai melakukan perpisahan itu segera meninggalkan Dara dan Delon. Dengan senyum sumringahnya, pria itu pun berjalan menuju perempuan yang selama ini selalu mengisi hari-harinya dengan berbagai hal yang membuatnya bersyukur dan menghilangkan rasa traumanya selama satu tahun terakhir ini. Ketika pria itu sudah berada di depan nona manisnya, pria itu pun langsung menyentuh kedua pipi tembam yang mulus milik perempuan itu.
"Nona, kenapa tatapanmu kosong? Apa kamu benar-benar berat untuk berpisah denganku?" Tanya pria itu dengan tatapannya yang menatap mata perempuan itu dalam-dalam.
Perempuan yang kini sadar kalau pria itu kini tengah berada sangat dekat dengan dirinya itu, tatapannya kini tidak lagi kosong, ia merasakan degupan rasa sakit itu muncul lagi. Ia kembali lagi merasakan akan lagi-lagi kehilangan sesuatu yang sangat berarti di hidupnya.
"Nona, apakah kamu masih merasakan kalau hari ini adalah hari terakhir aku berada di dalam genggamanmu? Apakah karena itu maka sedari tadi tatapanmu sangat kosong? Apakah kamu benar-benar yakin setelah kita tidak lagi berdekatan secara fisik karena tinggal di beda negara, itu berarti aku bukan lagi milkmu?" Tanya pria itu yang masih menyentuh kedua pipi perempuan itu, namun perempuan itu masih diam dan air matanya terus mengalir.
"Kalau kamu berpikir demikian, kamu salah, Nona. Aku tetap berada di genggamanmu seorang. Tidak di genggaman orang lain. Aku hanya tinggal jauh dari rumahmu. Itu bukan berarti kita benar-benar berpisah. Aku tetap selamanya milikmu dan semoga kamu tidak melupakan itu. Karena aku jamin, suatu saat kita akan tinggal bersama-sama lagi dan bersama-sama membangun sebuah pernikahan yang bahagia. Untuk perpisahan sementara ini, biarkan aku dan kamu semakin memperbaiki diri, sehingga ketika saat pertemuan kembali itu tiba, kita sudah semakin lebih baik." Pria itu pun menghapus air mata perempuan itu dan lalu mengecup ujung kepala perempuan itu.
__ADS_1
Setelah itu perempuan dan pria itu pun berpelukan perpisahan. "Hati-hati di jalan. Jaga dirimu baik-baik. Semoga kamu bisa tetap kuat hidup menyendiri. Semoga kamu tidak merasa ketakutan dan terancam walaupun tak ada aku di sisimu." Ucap perempuan itu berbisik di telinga prianya.
"Terimakasih nona manis. Aku akan selalu mengingat nasehatmu. Semoga kamu juga bisa jaga diri di sini. Dan semoga kamu bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi di dalam hidupmu." Setelah itu sepasang kekasih itu pun melepaskan pelukannya. Pria itu meninggalkan tiga orang yang mengantarkan kepergiannya dan masuk ke dalam ruangan keberangkatan.
---
Mara sengaja duduk di bangku belakang dan dan membiarkan Delon duduk di kursi depan sendirian seperti seorang supir. Mara yang sangat tahu keadaan perempuan di sebelahnya itu memutuskan untuk terus menemani pelukis idolanya itu.
Awalnya, perempuan pelukis itu hanya diam, namun beberapa saat kemudian ia sudah tidak mampu untuk menahan air matanya dan kembali menangis. Mara yang sudah memprediksi keadaan nona manis milik investor yang paling disegani di dunia itu langsung memeluk perempuan yang menangis itu. Lantas perempuan itu pun menangis sesegukan dalam pelukan Mara. Mara dengan senyum lembutnya memeluk perempuan itu dan mengelus-elus lembut bahunya. Dan Delon yang melihat apa yang terjadi di bangku belakang itu menorehkan senyum manisnya, sambil diam-diam mengambil foto kejadian tersebut dan mengirimnya ke pria yang saat ini sedang berada di dalam pesawat.
"Nona, jangan menangis. Perpisahan ini hanya sementara. Dan pria itu hanya milikmu selamanya. Suatu saat nanti kalian berdua akan bertemu kembali." Bisik Mara ke telinga perempuan yang sedang menangis di pelukannya itu, lalu Mara pun mencium ujung rambut perempuan itu dengan penuh perasaan.
__ADS_1