KEBAHAGIAAN

KEBAHAGIAAN
cinta pertama


__ADS_3

Cinta Pertama.


Dua kata mengenaskan yang pernah ditemui Jung Eun Ji. Mulai dari semua kebaikan yang dibuat oleh kekasihnya sendiri sampai maksud dari kebaikannya tersebut. Ia hampir mati gila karna semua omong kosong yang tidak memperbaiki hidupnya. Bahkan ia hampir saja memanggil semua laki-laki yang ia kenal untuk datang ke apartemennya setiap malam secara bergantian.


“Sudah ku katakan aku harus pergi! Carikan aku apartemen untuk sekedar membersihkan diri, cepatlah aku butuh mandi. Setelah itu jangan lupa memanggil orang untuk memperbaiki shower di apartemenku.”


Eun Ji bicara dengan nada suara yang ia tinggikan. Berharap agar lawan bicaranya tidak banyak bertanya dan langsung menjalankan perintahnya, karna ia benar-benar dalam kondisi terburu-buru.


Bosnya menelpon dan memintanya untuk datang ke kantor saat ini. Ia menunggu kehadiran Eun Ji dalam satu jam. Dan Eun Ji yakin ia akan terlambat, mengingat ia belum membersihkan diri dan shower di kamar mandinya mendadak rusak. Ia pun memaksa untuk dicarikan apartemen kosong dan menumpang membersihkan badan di kamar mandi, dan ia akan membayar akan hal itu.


Tak lama, pintu apartemennya diketuk. Yakin dengan orang yang berada di balik pintu apartemennya, ia pun meraih tas tentengnya dan membuka pintu apartemennya sesegera mungkin. Setelah menyadari bahwa dugaannya tepat, ia pun mengikuti pelayan menuju tempat yang sudah disiapkan.


Sebuah pintu di lantai 4 tempat apartemennya berada terbuka. Terlihat sepi dan kosong, tapi apartemen itu berisi. Sejenak Eun Ji mengira bahwa pemiliknya sedang pergi sehingga ia bisa menggunakan kamar mandi yang berada di apartemen nomor 287.


“Anda bisa menggunakan kamar mandi di sini. Ini kunci cadangannya, anda bisa menyerahkan kuncinya di pusat informasi nanti. Kalau begitu, saya permisi.”


Pelayan itu membungkukkan badannya dan kemudian menghilang di balik pintu. Eun Ji tidak terlalu memperdulikan pemilik apartemen, yang ia lakukan detik berikutnya adalah memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya secepat yang ia bisa.


Usai membersihkan dirinya, Eun Ji menyiapkan dirinya serapi mungkin. Dengan rok sepanjang lutut dan atasan yang terkesan modeling, ia melihat bayangan dirinya. Cukup sempurna untuk 30menit.


***


Kim Myung Soo memaksakan dirinya melangkah keluar dari apartemennya. Kakinya membawanya menuju ruang tunggu, dan disanalah ia sekarang. Menunggu apartemennya kosong dan ia bisa dengan bebas bermalas-malasan di hari minggunya.


Menjadi seorang pemilik gedung yang terdiri dari banyak apartemen di dalamnya memang sangat menyita waktu istirahatnya. Bahkan terkadang keluhan setiap pelanggannya membuahkan sebuah pengorbanan dalam hidupnya. Contohnya untuk saat ini.


Baru saja, seorang wanita menelpon ke pusat pelayanan dan meminta untuk dicarikan apartemen untuk sekedar membersihkan dirinya. Bagaimana mungkin apartemen yang sudah dibeli oleh orang lain bisa disewakan dengan mudahnya kepada orang yang tidak mereka kenal? Jadi, pada akhirnya, ia pun harus mengalah dan memberikan apartemennya sebagai tempat membersihkan diri.


Myung Soo melirik jam tangannya, 20 menit berlalu dan ia belum melihat tanda-tanda wanita itu melewati ruang tunggu. Walaupun kemungkinan untuk menemui wanita itu hanya sedikit mengingat dirinya yang tidak tahu pasti wajah wanita itu, namun ia tetap memastikan ada wanita yang sedang terburu-buru.


Tepat pada menit ke 30, Myung Soo menemukan seorang wanita–yang menurutnya cukup cantik–melewati ruang tunggu sambil berlari. Ia mengambil kesimpulan bahwa wanita itu sudah keluar dari apartemennya. Dengan perasaan puas, ia kembali melangkah ke apartemennya.


Myung Soo meletakkan tangannya tepat di pegangan pintu sebelum akhirnya mencoba untuk mendorong dan membuka pintu. Dan tepat seperti dugaannya, wanita itu memang sudah pergi.

__ADS_1


Lima langkah pertama ia lalui dengan perasaan bebas. Dan lima langkah berikutnya ia lalui dengan perasaan khawatir. Perasaan khawatirnya itu muncul setelah seorang wanita dengan paras yang hampir memenuhi syarat seorang pramugari, muncul dan menatapnya bingung. Dan detik berikutnya, wanita itu berusaha untuk teriak.


Myung Soo tidak tahu apa alasan ia berlari ke arah si wanita dan menutup mulutnya, dan setelah suara wanita itu tidak lagi terdengar, baru lah ia melepas bekapannya dan mengadu mata mereka berdua.


“Kau siapa?”


Myung Soo mendapati wanita itu bersuara, suaranya terdengar lembut. Benar-benar seperti suara seorang bidadari. Tunggu… apa yang baru saja ia pikirkan?


“Aku pemilik apartemen ini.” jawab Myung Soo bangga. “Kau sudah selesai?”


“Namamu.”


Tanpa menjawab pertanyaan Myung Soo, wanita itu mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi sebuah pertanyaan. Namun, justru terdenagr seperti sebuah perintah. Tidak mau mempersulit suasana, Myung Soo pun menjawabnya santai.


“Kim Myung Soo. Ku rasa kau sudah selesai dengan urusanmu, jadi sebaiknya kau keluar sekarang.”


Wanita tanpa nama, atau tepatnya wanita yang tidak ingin Myung Soo ketahui namanya, keluar tanpa memberikan sedikit kata salam atau pun terima kasih. Mendadak, Myung Soo merasakan dirinya mengalami perubahan suasana. Wanita tadi mengganggu, sangat.


***


“Kau terlambat 10menit Jung Eun Ji.”


Eun Ji menundukkan kepalanya dan melirik jam tangannya sekilas. Hanya sepuluh menit, belum mencapai satu atau bahkan sepuluh abad.


“Sebaiknya kau selesaikan lagu barumu sekarang karna artis kita menunggu lagunya hari ini.”


Satu kalimat, dan satu kejutan. Artis kita? Bagaimana bisa ia menyebut orang-orang yang tidak berbakat itu sebagai artis? Sungguh memalukan.


“Akan ku usahakan. Hanya perlu menambah beberapa lirik dan mengaransemenkan jenis musiknya. Kalau dugaanku tepat, dalam waktu 2 jam lagu itu sudah siap di tangan mereka.” Mereka yang menjadi artismu, bukan artisku.


“Bagus. Kau bisa masuk ke ruanganmu sekarang. Ingat, harus selesai hari ini, jangan sampai menundanya dan mengecewakan semua yang menunggumu.”


Eun Ji mengangguk dan membungkukkan badan sejenak sebelum akhirnya memasuki ruangannya. Dengan pensil dan beberapa kertas yang sejak seminggu lalu menjadi makanannya, ia mulai menguras otaknya. Usai sudah satu lagu, ia beralih pada piano kesayangan yang masih menjadi milik perusahaan.

__ADS_1


Andaikan kau milikku, tidak akan ku biarkan mereka menyuruhmu memainkan lagu yang bukan milikmu.


Dengan keseriusan yang tidak bisa ditandingi, Eun Ji membiarkan jari-jarinya menari di atas piano sedangkan mulutnya berusaha menyamai aransemen lagu dan liriknya. Begitu ia merasa ada sesuatu yang salah, maka dengan senang hati ia menghentikan permainan dan memperbaikinya.


Bukankah seorang artis melalukan hal yang seperti ini? bekerja keras untuk hasil yang sempurna dari tangan mereka sendiri. Seperti sekarang, seperti yang Eun Ji lakukan. Hanya saja, seorang Jung Eun Ji tidak pernah dilihat, melainkan diperbudak.


***


Merasa suasana dirinya berubah, ia pun mencoba mencari hiburan. Satu-satunya tempat yang pertama kali berada dalam benaknya, tidak lain dan tidak bukan adalah studio foto. Namun, begitu melihat studio musik di sebelah studio foto langgananya, otaknya menolak untuk mengambil gambar di studio foto.


Perubahan suasana pada diri sendiri terkadang bisa membawa kabar baik.


Di lobi gedung studio musik itu terlihat sepi. Tapi, suasana berubah begitu Myung Soo melewati satu ruangan. Ruangan yang cukup besar dengan beberapa orang di dalamnya. Tanpa basa-basi dan tanpa permisi, Myung Soo menekan tombol capture dalam kameranya.


Puas dengan gambar yang diambilnya, ia pun kembali melangkah. Kali ini ruangan yang sama kembali ia mengambil beberapa gambar mengenai kejadian di dalam ruangan. Mulai dari enam wanita yang sedang dirias, seorang produser–sepertinya–yang sedang bergurau dengan beberapa kameramen di sebelahnya, dan seorang wanita yang sedang bicara dengan laki-laki separuh baya di depannya.


Seperti di lempat batu besar, Myung Soo kembali memperhatikan foto yang baru saja ia ambil. Seorang wanita dan seorang laki-laki paruh baya. Bukan kejadian di foto tersebut yang menarik perhatian Myung Soo, tapi wajah wanitanya lah yang menarik perhatian Myung Soo.


Myung Soo mengerjap. Jadi, wanita itu bekerja di studio musik? Apa posisinya? Apa ia di sini untuk bernyanyi?


Kembali kekenyataan. Myung Soo memperhatikan wanita yang tadi meminjam apartemennya untuk membersihkan badan, keluar dari ruangan tempat Myung Soo sekarang berdiri. Tanpa paksaan, Myung Soo melangkah keluar, mengikuti wanita itu menuju ruangan lainnya.


Pintu terbuka dan kemudian tertutup kembali. Wanita itu lenyap di balik pintu yang kini berada di hadapan Myung Soo. Ada rasa penasaran yang menyinggapi diri Myung Soo, sebelum akhirnya ia membuka pintu tersebut.


Kosong. Tidak ada orang di ruangan tersebut. Kemana wanita itu?


Myung Soo memperdalam langkahnya menjelajahi ruangan tersebut. Setelah sepuluh langkah pertama, ia yakin telinganya menangkap serangkaian nada piano yang dimainkan dengan sangat lembut. Kali ini keraguan menyelimuti Myung Soo, apa ia harus melihat apa yang terjadi di sana?


Jawabannya adalah kakinya yang melangkah ke dalam ruangan tersebut.


Matanya menatap wanita yang tadi di temuinya dengan saksama, sesekali kameranya ia gunakan untuk mengambil gambar wanita yang saat ini duduk di berhadapan dengan sebuah piano dan menjelajahi pianonya. Tanpa sadar, sebuah senyum terlukis di wajah Myung Soo.


Myung Soo melihat wanita itu tersenyum dan kembali bernyanyi. Suaranya lembut, persisi seperti pertama kali Myung Soo mendengar suara wanita itu. Meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana persisinya isi lagu tersebut, karna untuk saat ini, suara wanita itu lah yang paling menyita perhatiannya.

__ADS_1


__ADS_2