KEBAHAGIAAN

KEBAHAGIAAN
5


__ADS_3

Myung Soo merasa sebagian dirinya masih tersisi di dalam apartemen Eun Ji. Pemandangan ketika ia melihat Eun Ji memainkan piano kembali terputar di dalam pikirannya. Dan ketika Eun Ji menggandeng lengan-lengan mungil yang hidup kekurangan, Myung Soo merasa dirinya baru saja melihat seorang Ibu. Seorang Ibu yang benar-benar seorang Ibu, tidak seperti Ibunya.


Ibunya terlalu sibuk untuk sekedar menelpon atau menemui Myung Soo di apartemennya. Jadwal penerbangan yang selalu menunggu dan banyaknya pemegang saham dunia terlalu menjadi masalah bagi seorang Nyonya Kim. Bahkan terkadang Myung Soo berpikir, hidup di panti asuhan lebih menyenangkan.


Walaupun saat ini ia tahu kebenarannya.


Hidup di panti asuhan tidak semudah yang ia bayangkan. Anak-anak itu, hidup dengan kekurangan dan kesederhanaan. Namun ada kalanya, ia merasa bahagia berada di dekat anak-anak panti. Termasuk berada di dekat Eun JI.


Gadis itu. Caranya menikmati hidupnya. Caranya meraih kebahagiaannya. Dan caranya mengatasi semua masalahnya. Bahkan disaat sedih ia masih bisa melakukan hal sebodoh itu. Menghilangkan air mata dengan cara yang sangat tidak masuk akal dan memalukan…


Tunggu. Myung Soo memutar kembali semua perkataannya. Mulai dari sedih sampai dengan menangis. Keraguan menimpanya. Diabaikannya panggilan dari ruang informasi dan segera berlalri menuju apartemen Eun Ji. Dengan gerakan secepat kilat, ia membuka pintu apartemen tersebut.


Terlambat. Pemandangan di depannya benar-benar menyisahkan rasa sakit.


“Aku butuh bantuan salah satu temanmu, alamat biasa.”


Satu kalimat itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Eun Ji. Myung Soo berlari menghampiri Eun Ji dan menarik paksa ponsel gadis itu. memutuskan sambungan telpon dan mengadu mata mereka. Lagi, ia merasa dibodohi seorang Jung Eun Ji.


Myung Soo mengalihkan pandangannya, mengelilingi ruang tengah apartemen Eun Ji. Matanya terpaku pada obat yang tadi dibacanya. Obat itu terbuka dan ia bisa melihat bekas cairan dalam suntikan di sebelahnya. Eun Ji berhasil menggunakan obat itu tadi. Dan ia terlambat. Sangat terlambat.


“Kembalikan ponselku Myung Soo-ssi.” Pinta Eun Ji mengalihkan perhatian Myung Soo.


Berlawanan arah, Myung Soo memasukan ponsel itu ke saku celananya. Menatap Eun Ji dengan pandangan mengerikan.

__ADS_1


“Berhenti melakukan hal-hal bodoh. Hal seperti ini hanya akan menyiksamu!” kata Myung Soo dengan emosi yang tertahan.


“Demi kebahagiaan, aku siap menerima siksaan yang tidak akan bertahan lama.” tanggap Eun Ji yakin, “Dan kau, kenapa kembali? Bukankah kau bilang kau akan pergi?”


Myung Soo menatap Eun Ji dalam. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada gadis ini, dan ia tidak ingin Eun Ji merasakannya lagi. Namun, ponselnya kembali berdering. Menyuruhnya untuk pergi.


“Tidak ada laki-laki bajingan untuk malam ini. Tunggu di sini dan kau akan kehilangan rasa sakitnya.” Ucap Myung Soo berusaha menenangkan.


Eun Ji tertawa meremehkan dan berjalan mendekati Myung Soo untuk meraih ponselnya. Myung Soo berjalan mundur dan berniat melangkah keluar ketika Eun Ji berteriak padanya.


“Kau tidak tahu bagaimana sakitnya menggunakan obat itu tanpa laki-laki yang siap menidurimu Kim Myung Soo!”


“Aku tahu. Kau salah kalau berpikir aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tidak ada laki-laki untuk malam ini, dan kau akan sembuh. Percaya padaku Eun Ji-ah.”


Hanya sebentar Eun Ji-ah. Tahan dan bersabarlah.


***


“Kami baru saja memikirkan kerja sama perusahaan kami dengan apartemen Anda. Dan menurut kami hal itu cukup bagus untuk kedua belah pihak. Jadi, ku rasa anda tentu akan bekerja sama dengan kami, bukan?”


“Tentu saja.”


Myung Soo menjawab perkataan rekan bisnisnya dengan perasaan gelisah. Sudah hampir 20menit ia berada di kantornya, dan sudah hampir setengah jam Eun Ji menahan sakitnya.

__ADS_1


Perkiraan dengan apa yang terjadi pada Eun Ji terus menghantui pikirannya. Berawal dari bagaimana gadis itu menyuntikan dirinya satu takaran penuh obat perangsang, sampai bagaimana akhirnya gadis itu menahan efek-efek yang ditimbulkan dari obat itu.


Membayangkan gadis itu berteriak kesakitan di telinganya membuat Myung Soo semakin tidak tahan untuk tidak menemui gadis itu. Tetapi, rekan kerja di depannya seolah berkata lain dan tetap memintanya untuk duduk dengan setianya.


Lagi, Myung Soo melirik jam tangannya. Sudah hampir 45menit, dan ia yakin sebentar lagi kemungkinan terburuk dari efek obat itu akan segera menyiksa Eun Ji.


“Bagaimana jika kita membuat surat perjanjiannya sekarang dan menyepakati kerja sama ini secara resmi pada hari ini juga. Bukankah itu lebih baik?”


Satu kutukan keluar dari tatapan Myung Soo. Laki-laki paruh baya yang menjadi rekan kerjanya benar-benar meminta Myung Soo untuk melayangkan satu pukulan di wajahnya. Bagaimana bisa ia mementingkan urusan pekerjaan di bandingkan nyawa seseorang yang berada di tangannya?


Sebuah penyesalan menyesap ke dalam hati Myung Soo. Seharusnya ia tidak memarahi Eun Ji, seharusnya ia tidak membuat Eun Ji kehilangan kebahagiaannya, seharusnya ia tidak mengambil ponsel Eun Ji, seharusnya ia tidak meninggalkan Eun Ji sendirian, seharusnya ia melakukan hal itu tadi…


“Ah…”


Myung Soo mendapati dirinya berteriak layaknya orang frustasi. Dengan dua orang rekan kerja dan satu asisten di depannya, Myung Soo tidak merasa malu sedikit pun. Dan otaknya, berpikir bagaimana caranya memulai sesuatu yang tidak di rencanakan sama sekali.


Myung Soo tahu ini bukan yang pertama kalinya untuk Eun Ji. Ia sendiri juga sering melakukan hal ini jika mendapat masalah. Namun, sesuatu membuatnya merasa geli pada dirinya sendiri. Ia harus meniduri Eun Ji tapi ia tidak tahu bagaimana cara memulainya.


Bodoh.


Di tengah rasa sakitnya, di tengah kegiatannya menahan rasa sakit. Myung Soo harus menolong gadis itu dengan menidurinya. Bagaimana bisa, bagaimana caranya, bagaimana menghentikan rasa sakit itu?


Jelas ia membutuhkan rangsangan dari Eun Ji untuk memulai hal seperti itu. Myung Soo sedikit mendapat kepercayaan diri bahwa ia bisa melakukan hal seperti itu, tapi bagaimana dengan Eun Ji? Myung Soo tidak mungkin menyerangnya dengan berbagai tindakan yang tidak memberikan hasil. Ia takut kalau pada akhirnya hanya ia yang menikmati rasa nikmat itu sendirian.

__ADS_1


***


__ADS_2