KEBAHAGIAAN

KEBAHAGIAAN
2


__ADS_3

Myung Soo melihat wanita itu tersenyum dan kembali bernyanyi. Suaranya lembut, persisi seperti pertama kali Myung Soo mendengar suara wanita itu. Meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana persisinya isi lagu tersebut, karna untuk saat ini, suara wanita itu lah yang paling menyita perhatiannya.


Gakkeumen buranhajiman jideuncheoreom neol mideullae


Yongwhonhi nae gyeoteseo hamkkehaejwo igoseseo my love


Naman aneun bimilseureon muneul yeorro chodaehalge


Datyeoitdeon nae mam kkok yeorojun neorul wihae


Neoman anaeun naui jeongwon yeah


Dulman aneun bimilseuron gobaekdeureul soksagyeojwo yeah


Amudo moreul uri dulmanui iyagi


Muni yeollimyeon sarangi sijakdeoneun got


Jigeum isungan nunbusin haruwa hamkke


Secret Garden–Apink


Terbawa suasana, Myung Soo menempelkan tangannya beberapa kali yang menimpulkan suara tepukan. Wanita di hadapan piano itu memasang tampang tidak suka yang membuat Myung Soo salah tingkah.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


***


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eun Ji. Jelas tidak senang dengan adanya kehadrian oranglain diruangannya, laki-laki dihadapannya bahkan memasuki ruangannya tanpa permisi ataupun mengetuk pintu.


Untuk sesaat Eun Ji merasa Lee Kyung Won–cinta pertamanya–lebih baik dibandingkan laki-laki yang tadi pagi memperkenalkan dirinya sebagai Kim Myung Soo.


“Hanya sekedar lewat. Kebetulan aku mendengar suara piano di luar, jadi aku masuk saja. Lagipula pintu di depan tidak dikunci.”


Eun Ji tertawa renyah menanggapi alasan Myung Soo. Bukannya ia menganggap alasan Myung Soo tidak masuk akal, tapi ia tahu kalau setiap ruangan yang ada di studio musik ini dibuat dengan desain kedap suara. Jadi, mustahil kalau Myung Soo mendengar suara piano dari depan.


“Terserah apa katamu.” Tanggap Eun Ji acuh.


Eun Ji kembali ke belakang pianonya dan mulai menekan tuts-demi­-tuts yang menarik perhatiannya. Sedangkan Myung Soo menyapu penglihatannya, memandangi sudut-sudut ruangan yang kini ia datangi.


“Siapa namamu?”


Eun Ji menoleh mendengar Myung Soo bersuara. Kembali mengalihkan pandangannya dari Myung Soo, ia berkata, “Jung Eun Ji.”


“Sepertinya aku tidak pernah mendengar ada penyanyi yang bernama seperti itu.” kata Myung Soo, “Apa kau memakai nama panggung?”


Untuk yang kedua kalinya, Eun Ji melemparkan tatapan tidak sukanya pada Myung Soo. Namun, sejauh yang ia tahu, Myung Soo tidak mengenal dirinya dan ia juga tidak mengenal Myung Soo. Lalu, apa yang membuat Myung Soo berpikir bahwa ia seorang penyanyi?


“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku seorang penanyi?” Eun Ji menyampaikan pikirannya.

__ADS_1


“Suaramu,” Myung Soo menjawabnya dengan mudah. “Suaramu terkesan lembut dan indah. Bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan kalau kau adalah seolah penyanyi? Atau mungkin…”


Eun Ji mengalihkan perhatiannya pada pintu ruangannya yang baru saja diketuk, dan beberapa detik kemudian dua orang bertubuh kekar memasuki ruangannya.


“PD-nim menunggu anda untuk proses rekaman. Ia berharap anda tidak melupakan tugas anda untuk memainkan musik, selagi mereka bernyanyi.” Ucap salah satu dari dua laki-laki itu.


“Aku akan segera ke sana.” Jawab Eun Ji singkat.


Tanpa menunggu lama, laki-laki itu sudah keluar dari ruangan Eun Ji. Menyisahkan Eun Ji dan pertanyaan Myung Soo yang masih belum terjawab.


“Jadi, kau….”


“Ya. Aku Jung Eun Ji, music distributor.”


***


Myung Soo terperangah beberapa saat begitu mendengar pengakuan Eun Ji. Wanita itu tidak bernyanyi, ia hanya menulis lirik lagu dan menciptakan atau terkadang mengaransemenkan musiknya. Benar-benar tidak masuk akal.


Bagaimana bisa suara selembut itu disia-siakan?


Myung Soo memperhatikan enam wanita yang tadi ia lihat berdiri membentuk barisan, mulai dari yang paling cantik di tengah dan paling tinggi di belakang. Myung Soo tahu mereka, tapi tidak tahu jika penulis lagu mereka memiliki suara yang jauh lebih indah dibandingkan suara mereka. Bagaimana bisa?


Selama rekaman, yang diperhatikan Myung Soo tidak lain dan tidak bukan adalah Jung Eun Ji. Wanita dengan suara emas yang tidak bernyanyi. Wanita itu memainkan pianonya dengan sangat lihai. Berbeda ketika di dalam ruangannya yang lebih lembut dan berperasaan, Myung Soo tahu Eun Ji merasa diabaikan. Dan Myung Soo menyadari kekecewaan dari wajah wanita itu.


Jam menunjukkan pukul 7malam ketika Eun Ji keluar dari studio musik. Wanita itu tidak langsung berjalan menuju arah apartemennya, ia berjalan menuju tempat lain. Dan Myung Soo menyadari arah wanita itu. Bantaran kali.


Sebenarnya apa yang ada dipikiran wanita ini? Bahkan ia tidak protes sedikitpun tentang keberadaanku yang sudah terlihat seperti seorang penguntit.


“Kau tidak keberatan mengikutiku sampai sejauh ini?”


Myung Soo hampir saja menarik tangan wanita itu dan mengajaknya pergi ketika ia merasakan sesuatu melewati kakinya. Tidak terlalu mengerikan, tapi setidaknya itu mengejutkannya.


“Aku masih tidak tahu apa yang ada pikiranmu. Seperti sebuah teka-teki.” Jawab Myung Soo asal.


Eun Ji berhenti melangkah, spontan Myung Soo pun melakukannya. Bukan jawaban Myung Soo yang menjadi alasan Eun Ji untuk berhenti melangkah. Tapi, keberadaan beberapa anak kecil lah yang membuat gadis itu tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.


Anak-anak pinggiran? Jadi, wanita itu ke sini hanya untuk menemui anak-anak pinggiran? Benar-benar seperti bidadari.


Lamunan Myung Soo buyar ketika seorang anak perempuan menarik tangannya dan membawanya kembali ke dunia nyata. Untuk beberapa saat, Myung Soo tidak tahu harus berkata apa. Yang ia lakukan hanya menatap Eun Ji yang juga menatapnya bingung.


“Sebaiknya kita masuk sekarang. Udara di sini cukup dingin, akan ku ceritakan lagu baruku hari ini pada kalian.” Sahut Eun Ji, tanpa sadar menyelamatkan Myung Soo dari anak-anak kecil tadi.


Layaknya seorang bodyguard, Myung Soo mengikuti arah jalan Eun Ji dan anak-anak yang dituntunnya. Ia suka melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita yang sangat cantik, menuntun anak-anak kesayangannya menuju rumah mereka. Benar-benar sosok yang sempurna.


Tunggu. Sejak kapan aku mulai memujinya? Myung Soo memukul kepalanya, membuang jauh-jauh semua pikirannya mengenai Jung Eun Ji.


Hanya butuh dua menit untuk sampai di tempat tinggal anak-anak pinggiran. Hanya ada dua rumah sederhana yang disusun dari berbagai kardus, dan satu balai yang cukup besar untuk tempat berkumpul. Dalam hatinya, Myung Soo masih mensyukuri apa yang ia punya, dan tanpa suara pun ia mendoakan akhir dari keadaan sulit yang anak-anak pinggiran alami.


Sementara Eun Ji mengajak anak-anak bicara, bergurau, dan–terkadang–berakting menangis dan tertawa layaknya seorang bos. Myung Soo menyadari satu hal, satu hari ini, ia belum melihat Eun Ji menampilkan ekspresi seperti itu, ekspresi tertawa, bahkan tersenyum dengan matanya yang ikut menyipit. Ekspresi yang mengatakan bahwa ia memang sedang melupakan semua masalahnya…

__ADS_1


“Ahjussi!”


Myung Soo menoleh mendapati seseorang memanggil dirinya dengan sebutan ‘Ahjussi’. Ia merasa dirinya terlihat tua di mata anak-anak tersebut. Masih tidak tahu kata apa yang pantas keluar dari mulutnya, ia pun melirik Eun Ji. Wanita itu seperti menunggu dirinya bicara.


“Ya. Ada apa?” tanya Myung Soo hati-hati.


“Ahjussi siapa? Kenapa tiba-tiba ada di sini?”


“Ahjussi pacar baru Eun Ji eonni, ya?”


“Apa Ahjussi mau mendengar ceria eonni juga?”


Dengan napas yang tertahan, Myung Soo memandang satu persatu anak pinggiran yang menekannya dengan berbagai pertanyaan. Satu saja tidak terjawab, apalagi yanglainnya.


“Hei,” Eun Ji menengahi, “Bagaimana Ahjussi mau menjawab kalau kalian terus menerus menyerangnya dengan pertanyaan yang sangat-sangat-tidak-sopan.”


“Apanya yang tidak sopan eonni? Kami hanya ingin tahu siapa paman itu, dan kenapa ia bisa ada di sini. Apa ia akan melakukan hal yang sama seperti Kyung Won Oppa?”


Myung Soo merasa dirinya dipojokkan. Kyung Won Oppa? Siapa yang mereka maksud dengan Kyung Won? Dan, apa yang dilakukan Kyung Won terhadap mereka?


Rasa penasarannya pun memimpin argumentasi dirinya sendiri. Tidak peduli dengan tatapan menusuk Eun Ji yang di arahkan padanya, ia tetap memaksakan diri untuk bertanya.


“Siapa yang kalian maksud dengan Kyung Won Oppa?”


***


“Apanya yang tidak sopan eonni? Kami hanya ingin tahu siapa paman itu, dan kenapa ia bisa ada di sini. Apa ia akan melakukan hal yang sama seperti Kyung Won Oppa?”


Eun Ji merasakan dirinya mulai memanas. Bukan karna sikap aneh Myung Soo ataupun sikap menyebalkan ZIA–nama kelompok anak-anak pinggiran–melainkan karna nama Kyung Won yang tadi sempat tersebut oleh Minhwa, salah satu anak tertua di ZIA.


“Siapa yang kalian maksud dengan Kyung Won Oppa?”


Kali ini, bukan hanya memanas. Eun Ji sadar akan emosinya yang mengubah moodnya. Tidak ingin mendengar pembicaraan, ia pun memutuskan untuk bangkit dari tempatnya dan berjalan menajuh sebelum akhirnya salah satu dari ZIA memanggil namanya.


“Eonnie-ya! Kenapa tiba-tiba masuk ke dalam?” teriak salah satu ZIA yang biasa dipanggil Eun Ji dengan sebutan Kensy.


Eun Ji menarik sedikit bibirnya dan berkata, “Akan ku buatkan kalian makanan, lanjutkan saja mengobrol dengan Ahjussinya.”


Eun Ji tahu ia baru saja membohongi anak-anak ZIA yang sudah seperti saudaranya. Selain itu, ia juga sudah membohongi dirinya yang sempat mengaku tidak membenci Kyung Won. Andai saja waktu bisa terulang kembali, mereka pasti tidak akan berada di sini.


Eun Ji menyiapkan beberapa kue ringan yang tadi sempat dibelinya di pinggir jalan. Hanya perlu menyusun kue tersebut di atas nampan yang terbuat dari kardus dan ia pun siap menghadapi tatapan Myung Soo. Ia yakin anak-anak itu pasti sudah memberitahu semuanya.


Namun, belum sempat Eun Ji beranjak dari tempatnya. Suara krasak-krusuk terdengar dari luar dan anak-anak berlarian memasuki rumah tempat Eun Ji mempersiapkan kuenya. Eun Ji mengerjap. Sebagian dari anak-anak yang lari memasuki rumah memilih untuk berdiri di belakang Eun Ji, dan sebagiannya–yang berusia lebih tua–memilih untuk berdiri di belakang Myung Soo.


Satu hal yang Eun Ji sadari, anak-anak itu sedang ketakutan. Ada sesuatu atau mungkin seseorang yang membuatnya ketakutan dan memilih untuk bersembunyi di belakang orang yang lebih tua. Bahkan, Minhwa pun berdiri di samping Myung Soo sambil menyenderkan dirinya pada Myung Soo.


“Ada apa?” tanya Eun Ji.


Tidak ada yang berani menjawab. Satu di antara mereka mengarahkan tangannya ke arah pintu. Eun Ji tidak melihat siapa pun di sana kecuali Myung Soo dan beberapa anak-anak tertua. Dan detik selanjutnya, Eun Ji menyadari perbedaan yang terlihat di raut wajah Myung Soo.

__ADS_1


__ADS_2