KEBAHAGIAAN

KEBAHAGIAAN
6


__ADS_3

Eun Ji meringkuk di tempatnya dengan tangan yang memeluk perutnya dari sisi yang berlawanan. Rasa sakit yang dulu menyiksanya kembali terasa. Rasa sakit ketika Kyung Won meninggalkannya ke kamar mandi.


Tapi kali ini lebih sakit.


Dan tidak ada Kyung Won yang akan datang padanya.


Satu-satunya harapan Eun Ji adalah Myung Soo. Eun Ji butuh laki-laki itu, ia berjanji tidak akan menjadikan Myung Soo korbannya selama laki-laki itu mau menyerahkan ponsel milik Eun Ji. Tapi untuk saat ini, ponsel tidak lagi menjadi yang terpenting.


Yang terpenting adalah Kim Myung Soo. Tubuh Kim Myung Soo. Diri Kim Myung Soo. Dan lagipula, laki-laki itu sudah berjanji akan menyembuhkannya.


Satu jam berlalu, tapi Myung Soo belum juga datang. Eun Ji bisa merasakan bagian tubuhnya yang basah. Waktunya hanya tinggal sedikit, ia tahu semuanya tidak seperti apa yang Myung Soo janjikan. Ia tahu semua ucapan Myung Soo hanya omong kosong.


Myung Soo tidak pernah membantunya.


Myung Soo menginginkan kematian seorang pelacur sepertinya.


Eun Ji menutup matanya. Menggigit bibir bawahnya yang sudah terluka, mencengkram erat bajunya yang masih setia menemani rasa sakitnya. Gelap dalam pandangannya, merah di bawah dirinya.


Pendarahan.


Eun Ji yakin dirinya baru saja akan mati ketika di dengarnya suara pintu yang di buka. Tubuhnya tidak bisa berhenti bergerak, bergulat dengan lingkungan sekitarnya dan perlahan lengan Myung Soo lah yang menarik tubuhnya kedalam genggaman laki-laki itu. Menggendongnya sambil terus mengecupi keningnya yang sudah penuh dengan keringat.


Setelah merasakan tangan Myung Soo yang berada di sekitarnya, Eun Ji mengeram kesakitan. Sedangkan ia tidak tahu apa yang kini di perhatikan Myung Soo. Yang pasti, Myung Soo berada di dekatnya, berada di sebelahnya, di atas kasur yang sama.


***


Pemandangan yang mengejutkan setelah satu jam lebih menunggu waktu keluar. Jung Eun Ji yang sedang berperang dengan rasa sakit yang ditimbulkannya dan dibiarkan seorang Myung Soo.


Dengan gerakan cepat, Myung Soo memopong tubuh Eun Ji ke dalam kamarnya dan membiarkan gaids itu duduk di atas kasurnya sambil terus menggenggam tangannya. Satu hal yang membuat Myung Soo terperangah di tempatnya:


Tangannya yang memerah.


Seketika itu juga tubuhnya membeku, Eun Ji benar-benar mengalami rasa sakit, sakit se-sakit sakitnya orang sakit yang berada di rumah sakit. Myung Soo mengutuk dirinya yang diam mematung memperhatikan wajah pucat Eun Ji. Ia tahu ia harus segera bertindak. Sesegera mungkin. Dengan atau tanpa izin Eun Ji atas perlakuannya nanti.


“Aku minta maaf. Tapi ku harap kau tidak menolaknya.” Kata Myung Soo tepat sebelum bibirnya bertemu dengan bibir Eun Ji.


Eun Ji tidak membalas, juga tidak menolak ciuman yang dilontarkan Myung Soo secara mendadak. Tangannya terlalu sibuk untuk mencengkram lengan Myung Soo, menjadikannya pelampiasan rasa sakit.


Tangan Myung Soo yang tadi menjadi tempat pelampiasan Myung Soo, kini bergerak menurunkan pengait baju Eun Ji. Kulit pucat Eun Ji pun terpampang di sana, dengan satu kait bra. Meskipun baju yang tadi dipakai Eun Ji tidak sepenuhnya turun. Namun, sudah cukup untuk Myung Soo bisa melihat bagian atas tubuh Eun Ji.

__ADS_1


Bibir Myung Soo bergerak perlahan mengecup setiap bagian bahu Eun Ji. Ciumannya terus naik ke leher, dia hanya mengecup dan mencium tanpa menghisap dan meninggalkan kissmark di sana.


“Myunggh…myungsohh…myunghh…”


Myung Soo mendengar Eun Ji menyebut namanya ketika ia menjelajahi lekukan leher Eunji dengan lidahnya yang basah dan hangat.


Myung Soo menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tubuhnya jatuh **** Eun Ji. Masih tetap memaikan bibirnya tanpa memperdulikan Eun Ji yang menahan perutnya dengan kedua tangannya.


“Sakit Myung Soo, sakit.” Erang Eun Ji ketika Myung Soo memberinya ruang untuk mengambil udara di sekelilingnya.


Myung Soo kehilangan akalnya. Ia berani saja membuka celananya dan langsung memainkan inti dari permainan ini. Tapi bagaimana dengan Eun Ji? Bagaimana kalau Eun Ji merasa di remehkan?


“Ahhh…” pekik Eun Ji, menyadarkan Myung Soo dari semua perkiraannya.


Tidak ada bagaimana dalam hal menyelamatkan.


Myung Soo melepaskan pakaiannya dan dengan gerakan cepat membantu Eun Ji membuka pakaiannya. Sekarang keduanya jelas sudah siap memulai inti permainan. Tanpa basa basi, Myung Soo kembali menyerang bibir pucat milik Eun Ji sambil terus mencoba mencari tubuh dalam Eun Ji.


“Unghh…”


Eun Ji melepas ciumannya ketika merasakan sesuatu memasuki tubunya. Myung Soo yang menyadari hal itu merasa bahwa dirinya baru saja menambah rasa sakit Eun Ji.


“Maaf.” Bisik Myung Soo di telinga Eun Ji lalu mengecupi keningnya.


Eun Ji mengecup lembut bahu Myung Soo. Menghirup aromanya dalam-dalam. Tangannya turun ke bawah mengusap punggungnya yang basah oleh keringat.


“Aaaah…”


Myung Soo menyadari kekejutan yang dirasakan Eun Ji ketika ia mempercepat gerakannya. Myung Soo terpaksa melakukan itu, ia yakin Eun Ji tahu apa yang ia maksud dengan terpaksa.


“Nghh…nggh”


Myung Soo membenamkan wajah Eun Ji ke dalam lehernya saat ia mulai bergerak. Tangannya memeluk pinggang Eun Ji, menariknya lebih rapat.


***


“Nghhh…aahh…aaahh…” desah Eun Ji di tengah sakitnya.


Rasa sakitnya memang masih sangat terasa. Tapi, entah karna tubuh Myung Soo yang menyaatuh dengan tubuhnya, atau karna sentuhkan laki-laki itu, Eun Ji merasa rasa sakit tidak lah penting. Walaupun sesekali, ia masih berteriak kesakitan.

__ADS_1


“Myunghh..cepat ah… sakit nghh bodoh” ucap Eun Ji susay payah.


Eun Ji merasakan Myung Soo yang menghisap kulit lehernya, sementara tubuh bagian bawah laki-laki itu semakin mempercepat gerakannya.


“Nggh..nghh…”


Pinggul Eun Ji bergoyang mengikuti gerakan Myung Soo. Bunyi benturan alat **** keduanya terdengar sangat menggairahkan dan menimbulkan kecurigaan.


Myung Soo menghujamkannya dalam-dalam lalu, “Aaaaaaaaarrrgghh.…”


Tubuh keduanya mengejang sambil melenguh bersamaan saat kenikmatan itu meledak membuat ** Eun Ji berdenyut kuat mengeluarkan cairannya dan ia merasakan sesuatu mengalir di bawah perutnya. Spermanya.


Tanpa menatap dan melepas kontak tubuh mereka, Myung Soo berhenti sejenak. Memberikan jeda pada Eun Ji untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia yakin, Eun Ji sudah tidak merasakan rasa sakit yang separah tadi.


“Sudah lebih baik?”


Eun Ji mengerjap beberapa kali. Ia tidak bisa menatap mata atau wajah Myung Soo. Kepalanya berada tepat di leher laki-laki itu. Mendongak saja tidak mampu, apalagi menatap wajah Myung Soo.


Dan ia pun mengangguk. Rasanya ingin sekali ia mengeluarkan suaranya, tapi semua itu tersumbat. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pita suaranya. Dan detik berikutnya, Myung Soo memperenggang pegangan dan berniat melepas kontak tubuh mereka.


Tidak. Jangan sekarang. Jangan pergi lagi. Jangan.


Myung Soo masih belum beranjak dari atas tubuh Eun Ji, tubuh mereka pun masih menyatu. Untuk sejenak, tatapan mata mereka beradu. Menyalurkan berbagai emosi dan kata-kata yang tidak bisa di ungkapkan oleh mulut mereka.


Keduanya diam, menatap mata-satu-sama-lain dan tidak juga bersuara. Lalu perlahan, wajah Myung Soo mendekat dan Eun Ji memejamkan mata. Myung Soo mengecup bibir Eun Ji lembut dengan teramat pelan.


“Mmhh…”


Myung Soo menghisap bibir atas dan bawah Eun Ji bergantian. Mengulumnya sambil menekan-nekannya lebih dalam. Membawa mereka kembali ke dalam surga dunia. Melupakan semua masalah, dan tujuan awal Myung Soo.


“Jangan pergih… Ku nghh mohon nghh…” kata Eun Ji disela-sela ciuman mereka.


Myung Soo, di depannya, terus mencium dan menggerakkan bagian bawah tubuhnya. Sambil sesekali menarik dan mendorong tubuh sekaligus tengkuk Eun Ji agar memperdalam baik kontak tubuh dan kontak bibir mereka.


Eun Ji merasakan sesuatu yang lembut memaksa bibirnya untuk terbuka. Dibukanya bibir Eun Ji dengan lidah Myung Soo, lalu menyusup masuk ke dalam. Salah satu tangannya menahan tengkuk Eun Ji, memperdalam ciuman mereka.


“Nghh…nghhh…aaahh…”


Tubuh Eun Ji terhentak-hentak saat Myung Soo mempercepat gerakannya. Ia bisa merasakan gesekan junior Myung Soo di dinding vaginanya. Membentur-bentur dinding rahimnya.

__ADS_1


Myung Soo memperdalam tusukannya dan mempercepat gerakannya. Eun Ji merasakan ada yang ingin meledak di dalam vaginanya. Ruangan terasa panas, padahal Myung Soo yakin semua pendingin ruangan repasang dengan baik. Tubuh keduanya bahkan sudah basah dan lengket oleh keringat juga cairan-cairan dan saliva dari kecupan-kecupan.


(********* sensor*****)


__ADS_2