KEBAHAGIAAN

KEBAHAGIAAN
3


__ADS_3

Tidak ada yang berani menjawab. Satu di antara mereka mengarahkan tangannya ke arah pintu. Eun Ji tidak melihat siapa pun di sana kecuali Myung Soo dan beberapa anak-anak tertua. Dan detik selanjutnya, Eun Ji menyadari perbedaan yang terlihat di raut wajah Myung Soo.


Laki-laki itu terlihat seperti menantang dan meremehkan. Matanya ia sipitkan dan mulutkan terkunci rapat. Ia tahu Myung Soo sedang berusaha melindungi anak-anak ZIA.


Takut terjadi sesuatu yang fatal, Eun Ji pun melangkah keluar.


Matanya terbuka menyadari sosok yang tengah berdiri menatap Myung Soo, tatapan yang sama dengan tatapan yang diberikan Myung Soo. Bahkan ia menantang orang yang tidak dikenalnya, cih.


“Kyung Won.” Panggil Eun Ji perlahan. Memecah kesunyian dan menghentikan perang tatapan kedua laki-laki tersebut.


“Lama tidak bertemu Eun Ji. Bagaimana kabarmu?”


Eun Ji mendapati dirinya mendengarkan Kyung Won yang kembali melesatkan omong kosongnya. Tangannya tergerak dan terlipat di depan dadanya. Tanpa mendapat aba-aba atau perintah, Kyung Won memajukan dirinya satu langkah pada Eun Ji.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eun Ji masih dingin.


“Hanya melihat-lihat.” Jawab Kyung Won, “Ku pikir tempat ini cukup bagus juga untuk dijadikan proyek baru. Bagaimana menurutmu?”


“Lebih baik kau menutup mulutmu dan pergi dari sini sebelum kupanggil polisi.”


Kyung Won tertawa meremehkan.


“Aku tidak sedang bercanda, bodoh.”


Tawanya berhenti, ia memandang Eun Ji lebih serius. “Atas tuduhan apa kau melaporkanku? Dan ah, siapa dia?” Kyung Won menunjuk Myung Soo dengan telunjuknya. “Korban selanjutnya?”


Eun Ji merasakan tangannya mengepal. Ingin rasanya memukul Kyung Won saat ini.


“Tutup mulutmu, bodoh.”


“Ada apa Eun Ji-ah? Bukankah itu yang kau inginkan? Ah tunggu, apa ia tidak tahu kebiasaanmu? Apa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padanya? Oh, pasti mengerikan Eun Ji-ah.”

__ADS_1


“Eonni sudah tidak melakukan hal itu!”


“Anak kecil tahu apa? kau bahkan masih mau mengikuti eonni yang selalu mengganti pasangannya setiap malam.”


Emosinya semakin meluap mendengar pernyataan Kyung Won pada Minhwa. Tanpa sadar, Eun Ji melangkah mendekati Kyung Won. Hanya tersisa beberapa centi untuk menggapai laki-laki itu dan menamparnya di depan anak-anak ZIA.


“Pergi sekarang Kyung Won-ssi.”


“Jadi, setelah bertemu dengan laki-laki ini, kau sudah belajar untuk menghormatiku? Sungguh luar biasa Eun Ji-ah.”


“Ku bilang pergi.”


“Baiklah. Ku rasa kau sudah tau dimana dan kapan kau bisa menelponku untuk sekedar membantumu dari efek obatmu itu.”


“Tidak, dan pergi.”


Kyung Won tak lagi menjawab setelahnya, laki-laki itu memilih untuk pergi dengan sejuta kepuasan terpampang di wajahnya.


Eun Ji memutar tubuhnya dan mendapati anak-anak yang datang menenangkannya. ZIA keluargaku, dan aku keluarganya. Satu tersakiti, semua merasakannya. Tidak akan ada perih setelah ini.


Berbagai ucapan penenang keluar dari mulut anak-anak itu, termasuk Minhwa dan terkecuali Myung Soo. Laki-laki itu kini menatapnya tajam, raut wajahnya tidak bisa ditebak. Eun Ji yakin Myung Soo mengerti maksud perkataan Kyung Won, dan ia juga yakin kesimpulan yang di buat Myung Soo berbeda dengan kenyataan yang dijalaninya.


Myung Soo menggerakkan tubuhnya. Berjalan mendekat tanpa melepas pandangannya.


“Aku menunggu penjelasanmu, Eun Ji.”


Myung Soo melirik jam tangannya yang terpasang rapi di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir pukul 9 malam dan Eun Ji masih belum bicara. Untuk satu permintaan, Myung Soo yakin Eun Ji mempunyai berbagai penjelasan di dalamnya. Walaupun pada kenyataannya Myung Soo mengerti apa yang dimaksud Kyung Won. Hanya saja, alasan dan obat jenis apa yang Eun Ji pakai, ia tidak tahu menahu soal itu.


“Kapan kau akan mulai bicara?” Myung Soo mendapati dirinya bicara. Terdengar serak dan rendah. Hampir tidak mengenali suaranya sendiri.


Tidak ada jawaban. Eun Ji masih diam, larut dalam pikirannya sendiri dan menatap langit-langit apartemennya.

__ADS_1


Sejak kedatangan Kyung Won ke tempat anak-anak pinggiran, Myung Soo menyadari perubahan raut wajah Eun Ji. Terutama setelah ia meminta penjelasan dari gadis itu. Ia hanya tidak ingin salah mengartikan sesuatu yang sangat-sangat-berbeda-dari-apa-yang-Eun-Ji-lakukan.


Kyung Won bilang Eun Ji selalu mengganti pasangannya setiap malam, pasangan dalam hal apa? Kyung Won bilang Myung Soo adalah korban Eun Ji yang selanjutnya, korban apa? Kyung Won bilang Eun Ji dapat menghubungi Kyung Won jika memang membutuhkan bantuan setelah memakai obat itu, bantuan dalam bentuk apa dan.. obat apa yang dimaksud Kyung Won?


Myung Soo mengacak rambutnya sendiri frustasi. Terlalu banyak ‘kata Kyung Won’ di pikirannya. Bagaimana pun, yang ia butuhkan adalah ‘kata Eun Ji’ bukan ‘kata Kyung Won’. Eun Ji lah yang merasakannya dan Eun Ji lah yang tahu banyak semua tentang dirinya sendiri. Lalu sekarang apa? Gadis itu hampir tidak bicara selama satu jam.


“Sudah hampir satu jam dan kau masih belum bicara. Sebaiknya aku kembali ke apartemenku. Mungkin yang dikatakan Kyung Won tadi benar, sebentar lagi pasti akan datang laki-laki ke sini.”


Myung Soo bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju pintu apartemen Eun Ji dan memegang pegangan pintu sampai akhirnya Eun Ji memintanya menunggu. Myung Soo memutar tubuh dan memandang Eun Ji yang sudah bangkit dari tempatnya duduk.


Menit berikutnya mereka lewati dengan suasana yang lebih serius. Keduanya duduk saling berhadapan, sedangkan di tengah mereka, sebuah botoh dan satu alat suntikan berhasil membuat Myung Soo kembali bertanya-tanya. Obat apa dan siapa yang menggunakan obat ini?


Dan detik selanjutnya benar-benar menegangkan. Eun Ji baru saja membaca pikirannya dan berkata, “Ini obat yang dimaksud Kyung Won tadi. Bukan narkoba atau sejenisnya yang menyebabkan kecanduan, kau bisa mengeceknya jika kau mau.”


Untuk beberapa saat Myung Soo merasa ragu. Tangannya gemetar meraih obat itu, di tatapnya Eun Ji yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Myung Soo merasa harus mengecek obat itu, entah mendapat keberanian darimana, dengan gerakan cepat obat itu sudah berada di tangannya.


Ia memandang beberapa hangul yang tertulis tepat di badan botol obat tersebut. Kemudian matanya terbuka, keterangan obat itu benar-benar mengejutkannya. Bagaimana tidak terkejut, di sana, ditubuh obat itu, jelas tertulis kata-kata yang tidak seharusnya Myung Soo temukan dari seorang Eun Ji. Eun Ji yang mengkonsumsi obat perangsang, yang sekaligus dapat mencegah kehamilan dan menimbulkan kematian pada dirinya. Myung Soo memandang Eun Ji, Kali ini giliran gadis itu yang bicara.


“Itu yang selalu ku gunakan ketika aku merasa kebahagiaanku menghilang. Terbang terbawa tiupan angin, dan entah mendarat dimana. Yang aku tahu saat itu aku membutuhkan kebahagiaanku kembali, dan dengan satu suntikan di sini,” Eun Ji menunjuk lengannya. “Dan satu sambungan telpon ke bar terdekat di sini, kebahagiaan itu datang lagi.”


“Dengan menjual dirimu sendiri? Membiarkan jati dirimu di ambil laki-laki bajingan yang memanfaatkanmu?” Myung Soo berkata meremehkan.


Eun Ji menangis, satu tetes air mata pertama yang dilihat Myung Soo tepat di hari pertama mereka bertemu. Kali ini tidak ada rasa simpati dalam diri Myung Soo, ia merasa amarahnya memimpin kendali atas dirinya.


Bahkan bidadari saja bisa menjual dirinya.


“Aku tidak menjual diriku, dan mereka juga tidak memanfaatkanku. Caranya memang salah, tapi sebuah kebahagiaan tidak bisa datang dengan sendirinya. Kau bisa mengatakan aku bodoh atau pelacur, tapi kau tidak bisa mengatakan aku menjual diriku. Karna semua yang kulakukan jelas berbeda dengan apa yang kau pikirkan.”


“Dimana letak perbedaannya?!” tanya Myung Soo dengan suara yang lebih tinggi. “Kau bahkan mengakui dirimu sebagai pelacur. Seharusnya sebagai wanita kau menjaga semua yang kau miliki, memberikannya hanya untuk suamimu seorang. Bukannya membiarkan dirimu ditiduri oleh laki-laki hanya untuk mendapatkan kembali kebahagianmu.”


***

__ADS_1


__ADS_2