
Sakit. Eun Ji merasakan sakit di dadanya yang tidak tertahankan. Bahkan Myung Soo yang baru dikenalnya hari ini, mampu membuatnya merasakan rasa sakit yang minggu lalu ia rasakan. Rasa sakit karna seorang Kyung Won. Dan saat ini, rasa sakit karna seorang Kim Myung Soo.
“Kau tidak mengerti.” teriak Eun Ji di tengah isaknya.
Habis sudah kekuatan Eun Ji untuk menghadapi Myung Soo. Ia tahu ia memang tidak pantas untuk memiliki seorang teman, bahkan hanya untuk satu teman.
Eun Ji mendongakkan kepalanya ketika Myung Soo berada tepat di hadapannya. Entah sejak kapan laki-laki itu berjongkok di hadapannya, menarik kepalanya, dan mempertemukan mata mereka berdua. Air mata Eun Ji tidak bisa tidak berhenti mengalir, tapi juga ia tidak bisa menghapusnya. Tatapan mata Myung Soo benar-benar mempengaruhi tubuhnya.
“Jelaskan padaku,” kata Myung Soo lebih lembut, “Apa yang tidak ku mengerti.”
Tangis Eun Ji pecah tepat setelah suara lembut Myung Soo mengelegar di telinganya. Untuk yang pertama kalinya ia menangis di depan seorang laki-laki, yang bahkan baru dikenalinya hari ini. Sebelumnya, Eun Ji tidak tertarik sedikit pun untuk menangis di depan laki-laki, terkecuali anak-anak laki-laki di ZIA. Keluarga laki-lakinya.
“Saat itu, tepat ketika hari ulang tahun pertama hubunganku dengan Kyung Won, kami pergi bersama. Aku, ZIA, dan Kyung Won.” Eun Ji memaksakan satu senyum tipis di wajahnya, “Hanya makan malam biasa, dan Kyung Won berjanji mentraktik anak-anak. Aku percaya dan kami pergi dengan mobil yang berbeda. Kyung Won denganku, dan anak-anak dengan mobil Kyung Won yanglainnya.
“Kami makan di salah satu restoran di daerah Gangnam. Setelah cukup lama berada di sana, anak-anak kembali ke panti asuhan lebih dulu dengan mobil yang sama, meninggalkanku dengan Kyung Won. Di sanalah semuanya terjadi. Kyung Won memberikanku minuman dan setelah itu meninggalkanku sendirian di sana dengan alasan pergi ke kamar mandi.”
Eun Ji menutup matanya sejenak, menarik tangan Myung Soo yang sampai saat ini berada di dagunya. Menggenggamnya dan tidak melepaskannya. Tubuhnya bergetar, kenangan buruk itu kembali harus diceritakannya.
“Di sana, sakit itu menyerangku. Sangat sakit sampai aku tidak mampu berdiri dan menemukan Kyung Won. Meskipun pada akhirnya ia datang dan mengajakku pergi, tanpa bertanya aku membiarkan dirinya memopong tubuhku memasuki mobilnya, membawaku pergi menuju hotelnya.
__ADS_1
“Aku sadar apa yang terjadi dan apa yang ia lakukan padaku. Sakit. Itu pertama kalinya bagiku, dan aku masih tidak biasa dengan rasa sakit itu. Sampai akhirnya sesuatu melesat ke dalam perutku, meninggalkan rasa hangat di dalamnya, dan kembali menenangkanku. Kau tahu apa yang dikatakannya?”
Myung Soo menggeleng, meminta Eun Ji untuk melanjutkan ceritanya.
“’semua yang terjadi malam ini, seutuhnya mengembalikan kebahagiaanmu’. Benar-benar omong kosong bukan? Tapi bodohnya aku mempercayai semua perkataannya. Kami melakukan itu lagi dan lagi, sampai akhirnya aku tahu apa yang Kyung Won inginkan dariku.”
“Apa?” tanya Myung Soo cepat. Lebih cepat dari perkiraannya sendiri.
“Panti asuhan. Ia mengambil tempat tinggal ZIA dan ia memanfaatkanku. Aku tidak mempermasalahkan diriku yang dimanfaatkannya, karna aku tahu, yang ia katakan benar. Obat itu ataupun apa yang ku lakukan, berhasil membuat masalahku pergi, walau untuk sementara.
“Sejak saat itulah, anak-anak dan ibuku harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Minhwa dan teman-temannya menemukan bantaran kali dan mengajak ibuku tinggal di sana. Namun, Ibu lebih memilih untuk kembali ke rumah lamanya. Dan aku masih harus bertanggung jawab atas ZIA…”
“Karna obat itu membantuku menenangkan diriku sendiri. Membantuku kembali mendapatkan kebahagiaan di dunia, walaupun dengan cara yang salah.”
Eun Ji menundukkan kepalanya, merasa malu dengan semua cerita buruknya yang tidak menyentuh hati siapapun. Ia tahu reaksi apa yang akan diterimanya dari Myung Soo, laki-laki itu pasti akan menganggap rendah dirinya dan pergi begitu saja. Sama seperti yang lain yang pernah ia temui sebelumnya.
Entah mendapat keberanian darimana, Eun Ji yakin Myung Soo lah yang memeluknya. Eun Ji tidak tahu apa yang ada dipikiran Myung Soo saat ini, yang ia tahu dirinya saat ini sedang kacau dan harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kekacauannya.
Ditengah pelukan itu, Eun Ji mendengar sesuatu, dan ia yakin Myung Soo juga mendengarnya, karna kemudian laki-laki itu mengangkat telpon tepat di hadapannya.
__ADS_1
“Ya… Apa… Dimana… Baiklah.”
Obrolan singkat namun juga jelas menandakan suatu kesibukkan. Mata mereka kembali beradu dan Eun Ji merasakan adanya kecemasan di mata Myung Soo.
“Aku harus pergi.”
Eun Ji tahu sebuah cerita memliki akhir. Dan inilah akhir ceritanya hari ini, sebuah perpisahan. Seperti yang biasa ia lakukan. Semuanya pasti memilih untuk berpisah dengannya.
Eun Ji menahan air matanya, takut-taku tumpah di depan Myung Soo yang masih menatapnya intens. Sedikit ada perasaan menyesal dalam benak Eun Ji, kenapa laki-laki itu harus datang kalau akhirnya ia juga harus pergi dari hidup Eun Ji?
Tanpa menunggu jawaban Eun Ji, Myung Soo pun melangkah menuju satu-satunya pintu masuk dan pintu keluar. Eun Ji di tempatnya, hanya memandang tubuh Myung Soo yang menghilang di balik pintu apartemen.
Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji menangis. Menangisi kebodohan dirinya dan menangisi semua yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia terlalu bodoh dalam hal memilih laki-laki?
Mengingat kembali hari ini, Eun Ji kembali menyadari kebahagiaannya yang pergi ketika Myung Soo melangkah melewati batasan apartemennya. Pergi dari hidupnya. Bukan hatinya yang menginginkan keberadaan Myung Soo, tapi dirinya yang menginginkan seorang Myung Soo yang mampu membuat hari ini terasa lebih menyenangkan.
Merasa kebahagiaannya pergi, Eun Ji mengambil jarum suntikan dan mengisi tabungnya beberapa mili obatnya. Setelah yakin dengan keputusannya, ia memandang jarum suntik itu dan mendekatkan lengannya padan jarum suntik.
Dan menit berikutnya sambungan telpon terdengar.
__ADS_1
***