KEBAHAGIAAN

KEBAHAGIAAN
BAB 10


__ADS_3

Saat Dian sedang asyik mengajak bonekanya bicara, tiba-tiba ada suara Adit dan teman-temannya.


"Awas dek" ucap mereka kompak


Dian langsung menghadap kearah mereka, tapi Dian tidak bergeser sedikit pun. Dian tetap saja ditempat itu. Sampai akhirnya bola yang melayang mengenai jidatnya. Alhasil Dian langsung menangis.


Adit dan teman-temannya langsung menghampiri Dian yang sedang menangis dipinggir lapangan.


"Maaf ya dek, kakak gak sengaja" ucap teman Adit


"Adek gak papa, kenapa tadi gak menghindar dek?" tanya Adit


"Sakit kak, kan tadi kata kakak Dian gak boleh kemana-mana, disuruh disini aja." ucap Dian sambil memegang jidatnya dan masih menangis.


Adit dan teman-temannya saling pandang dan mereka kompak tertawa.


"Ih, kakak kok malah ngetawain Dian si. Sakit tau" ucap Dia


Dian menangis tambah kencang, dan itu membuat Adit dan teman-temannya kebingungan.


Mereka sudah berusaha menghibur Dian agar berhenti menangis, tapi bukannya berhenti Dian malah tambah kencang menangis.


"Dek, udah jangan nangis lagi ya. Ayok pulang aja, nanti kakak belikan es krim" ucap Adit


Saat mendengar kata es krim, Dian langsung menghapus air matanya.


"Yaudah ayok pulang kak" ucap Dian


"Nah kan tadi aja nangis-nangis, setelah kakak bilang mau beliin es krim langsung berhenti nangisnya." ucap Adit


"Yaudah kalo gak mau beliin es krim juga gak papa, tapi nanti Dian nangis lagi." ucap Dian


"Iya-iya kakak beliin" ucap Adit mengalah


"Teman-teman aku sama adek pulang duluan ya" ucap Adit berpamitan kepada teman-temannya


Adit dan Dian berjalan beriringan menuju rumah, saat diperjalanan Adit membelikan es krim untuk Dian sesuai dengan janjinya.


"Dek, ini es krimnya" ucap Adit sambil menyerahkan es krim yang baru saja dibelinya.


"Makasih kakak" ucap Dian


"Kakak, masih jauh ya" tanya Dian


"Lumayan dek" jawab Adit


"Dian capek kak" ucap Dian


"Nah kan, tadi kan sudah dibilangin jangan ikut" ucap Adit


"Ya kan Dian pengen ikut kakak. Kakak gendong Dian ya." ucap Dian sambil memegang tangan Adit


Adit kasihan saat melihat Dian. Alhasil Adit mengendong Dian di punggungnya.

__ADS_1


"Sini naik dek" ucap Adit sambil berjongkok


"Ok kakak" ucap Dian sambil naik ke punggung Adit.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan Dian digendong Adit. Dengan santainya Dian malahan memakan es krimnya.


Saat mereka sampai di gerbang rumah Adit, ternyata orangtua Adit dan orangtua Dian sedang duduk diteras sambil mengobrol.


Adit yang melihat orangtua mereka sedang berkumpul merasa takut karena tidak bisa menjaga Dian. Adit menyuruh Dian turun dari gendongannya. Dian sudah berdiri dibelakang Adit, saat Adit berbalik dia kaget karena melihat jidat Dian benjol. Perasaan takut Adit semakin bertambah.


Tiba-tiba mama kak Adit memanggil mereka berdua.


"Adit, Dian kesini nak, ngapain kalian berdiri disitu?" ucap mama kak Adit


"Iya ma" ucap Adit


"Iya tante" ucap Dian


Mereka berdua berjalan menuju teras, dengan Adit yang merasa takut. Sedangkan Dian belum sadar kalau jidatnya benjol.


Saat sudah didepan orangtua mereka Adit tiba-tiba menangis dan minta maaf.


"pa, ma, om, tante maafin Adit. Adit gak jagain adek dengan benar. Adek tadi kena bola sampai jidatnya benjol" ucap Adit sambil menangis. Padahal orangtua mereka belum mengatakan apa-apa.


Dian yang tidak tahu jidatnya benjol langsung meraba jidatnya, dan benar saja dia merasakan ada benjolan. Tapi Dian tidak berkomentar apapun, dia hanya diam melihat kak Adit menangis.


"Perasaan yang kena bola kan Dian, ngapain kakak yang nangis ya?" batin Dian


"Iya gak papa Dit, nanti biar tante obati" ucap ibuk Dian


"Iya sudah gak papa, yang penting lain kali hati-hati" ucap mama kak Adit


"Bener kata mama kamu Dit, lain kali harus lebih berhati-hati. Dan kamu harus jagain adek ya" ucap papa kak Adit


Akhirnya Adit berhenti menangis, dan dia selalu mengingat perkataan orangtuanya dia harus menjaga Dian.


Flashback off


Mereka masih saja tertawa saat mengingat kejadian-kejadian lucu saat Adit dan Dian masih kecil. Mereka terus mengobrol sampai tak terasa ternyata sudah jam 21.30


Dian langsung berpamitan untuk pulang.


"Om, tante, kakak. Dian pamit pulang dulu ya. Sudah malam ternyata" ucap Dian saat melihat jam dinding.


"Oh iya ternyata sudah jam 21.30 gak kerasa ya" ucap mama kak Adit.


"Adit, anterin Dian sampai depan rumahnya. Sudah malam ini" ucap papa kak Adit


"Eh, gak usah om. Cuma berapa langkah juga sampai" tolak Dian


"Gak boleh nolak, walaupun berapa langkah sampai, tapi ini sudah malam" tambah mama kak Adit.


"Iya dek, bener kata papa sama mama, yaudah yok kakak anterin" ucap kak Adit

__ADS_1


"Iya kak" ucap Dian


Sebelum pulang Dian mengucapkan salam dan mencium tangan orangtua kak Adit.


Dian dan kak Adit berjalan beriringan menuju rumah Dian. Setelah sampai Dian akan langsung masuk kedalam tetapi dicegah kak Adit.


"Sebentar dek, ada yang kelupaan" ucap kak Adit


"Apa kak yang lupa?" tanya Dian sambil kebingungan, perasaan gak ada yang ketinggalan


"Pura-pura lupa apa gimana ni?" tanya kak Adit


"Apa si kak? beneran Dian gak tau" jawab Dian


"Heleh adek, salim dulu dek" ucap kak Adit sambil menyodorkan tangganya.


"Oh iya kak, lupa" ucap Dian sambil cengengesan


"Heleh masih muda kok udah lupa aja" ucap kak Adit


"Ish kakak ni, emang kakak gak pernah lupa?" tanya Dian


"Ya sama aja si kadang kakak juga lupa" jawab kak Adit sambil cengengesan


"Oh wajar si kakak kan udah tua" ucap Dian sambil tertawa


"Tua darimana coba baru 23 tahun, ganteng lagi" ucap kak Adit dengan PDnya


"Ish kakak terlalu PD" ucap Dian


"Yaudah kak, Dian masuk dulu ya, Assalamualaikum" ucap Dian kemudian mencium tangan kak Adit


"Waalaikumsalam, hati-hati dirumah ya. Jangan lupa kunci pintunya dek." ucap kak Adit


"Siap kak" ucap Dian sambil masuk kedalam


Setelah mendengar suara pintu dikunci kak Adit baru pulang kerumahnya.


Dikamar Dian


Dian rebahan di kasur sambil mengingat-ingat kebersamaannya dengan kak Adit dulu. Dian sangat kangen, semenjak kak Adit kuliah di semester akhir, Dian jadi jarang bertemu apalagi setelah kak Adit mulai bekerja.


Padahal kak Adit adalah tempat Dian untuk curhat, semua permasalahannya selalu dia ceritakan kepada kak Adit. Tapi sudah 2 tahun Dian tidak curhat lagi ke kak Adit dikarenakan kesibukan kak Adit.


Selama 2 tahun itu Dian selalu mencatat entah itu hal yang bahagia atau permasalahannya di buku diary. Dian mencatat itu karena dia berfikir buku diary dapat menjadi media curhatnya. Dan ketika dia dalam keadaan sedih yang benar-benar rasanya sudah tidak bisa dibendung lagi, dia akan meluapkannya dengan menangis dimalam hari.


Dian melihat jam dinding, ternyata sudah jam 22.00, Dian segera bersiap-siap untuk tidur. Dan mengatur alarmnya, beberapa menit kemudian dia sudah tertidur pulas.


Mohon dukungannya ya🙏


Jika ada kritik dan saran silahkan disampaikan 😊


~flo˙❥˙~

__ADS_1


__ADS_2