
Karena kak Adit selalu ingat perkataan papanya, dia disuruh untuk menjaga adeknya walaupun dia bukan adek kandungnya. Sedari kecil Dian lebih suka bercerita kepadanya. Apalagi untuk masalah seperti ini pasti Dian tidak akan mau menceritakan kepada orangtuanya.
Sabtu pagi
Dian sedang duduk di ayunan belakang rumah, sambil menikmati udara segar. Tiba-tiba Dian dikejutkan dengan tangan seseorang yang menepuk pundaknya, refleks Dian langsung menoleh kebelakang.
Dan terlihat kak Adit sedang tersenyum kearahnya.
"Eh, kakak. kakak lewat mana kak kok Dian gak lihat?" tanya Dian
"Kakak lewat pintu belakang dek" jawab kak Adit sambil duduk di ayunan sebelah Dian.
"Dek ada yang mau kakak tanyakan" ucap kak Adit
"Apa kak?" tanya Dian
"Semalam kakak sudah baca buku diary kamu, alasan kamu ditindas karena Manda sahabat kamu itu" ucapan kak Adit terhenti, karena kak Adit melihat ibuk Dian datang menghampiri mereka
"Wah, kalian sedang apa ini? Ayok sarapan dulu. Ibuk sudah siapin sarapan" ucap ibuk Dian
"Ini lagi ngobrol aja buk. Kok ibuk gak panggil Dian buat bantuin masak buk?" tanya Dian
"Ibuk sengaja nak, biar kamu bisa menikmati waktu libur. Apalagi lagi dirumah nenek, pagi-pagi gini udaranya sejuk" ucap ibuk sambil tersenyum
"Ayok sarapan dulu sudah ditungguin lo, ayok Adit" ucap ibuk Dian sambil menarik tangan Dian dan kak Adit.
Akhirnya mereka masuk kedalam dan bergabung dengan yang lain yang sudah siap dimeja makan. Setelah selesai makan, Dian langsung membereskan semuanya. Awalnya ibuk Dian yang akan membereskan, tetapi Dian melarangnya.
Setelah selesai, Dian langsung menghampiri keluarganya yang sedang mengobrol dibelakang rumah. Mereka duduk beralaskan tikar, sudah tersaji teh dan cemilan juga disana.
Dibelakang rumah banyak tanaman bunga, ada beberapa pohon mangga yang menghalau sinar matahari sehingga disana tidak terlalu panas.
__ADS_1
Dian celingukan mencari kak Adit, tetapi Dian tidak menemukannya.
"Buk, kak Adit dimana?" tanya Dian
"Oh, Adit lagi manggil keluarganya biar ikut gabung disini nak" ucap ibuk Dian
"Oh gitu buk" ucap Dian sambil ikut duduk
Beberapa saat kemudian, keluarga kak Adit datang. Mereka langsung bergabung dan ikut mengobrol.
"Enaknya disini, udaranya segar dan tidak terlalu panas juga padahal sudah jam 8 lo" ucap papa kak Adit
"Iyalah, kalian kan tinggalnya di kota. Depan rumah langsung jalan, samping rumah langsung rumah tetangga, belakang rumah ada rumah tetangga juga. Taman juga tidak terlalu luas, sudah pasti disana panas. pagi-pagi juga pasti sudah menghirup asap kendaraan" ucap kakek kak Adit
"Makanya sering-sering main kesini, biar bisa menghirup udara segar setiap hari" ucap kakek Dian
Kebetulan rumah kakek nenek Dian dan kak Adit berada di desa yang lumayan jauh dari kota, sekitar 1 jam perjalanan tetapi jalan yang dilewati merupakan jalan kecil, hanya cukup untuk 1 mobil. Disana masih banyak sawah, dan antara rumah satu kerumah yang lain memiliki jarak yang lumayan jauh.
Rumah kakek nenek Dian dan kak Adit merupakan rumah paling besar didesa itu. Mereka terkenal sebagai orang kaya disana. Mereka memiliki berbagai usaha, tetapi sekarang usaha mereka sudah dipegang oleh anak masing-masing, sehingga sekarang mereka tinggal menikmati hari tuanya.
Usaha dari kakek kak Adit sekarang dijalankan oleh papa kak Adit, karena memang papa kak Adit anak satu-satunya. Sedangkan usaha kakek Dian dijalankan oleh adik bapaknya Dian. Bapaknya Dian memilih menjadi tukang ojek karena dia pernah mengalami kecelakaan pada saat menjalankan usaha keluarganya, setelah diselidiki ternyata itu semua rencana dari saingannya tetapi tujuannya bukan hanya karena usaha tetapi karena dia juga memang tidak suka dengan bapaknya Dian.
Pernah beberapa kali ada orang yang mengincar Dian juga, sehingga bapaknya Dian khawatir dengan keselamatan keluarganya. Akhirnya bapak Dian merundingkan masalah itu ke orangtuanya dan juga adiknya. Dan diambil keputusan yang menjalankan usaha adalah adik laki-lakinya. Orangtua bapak Dian memiliki 2 anak laki-laki.
Bapak Dian memilih menjadi tukang ojek dan memulai kehidupan dengan sederhana. Dan benar saja setelah bapak Dian menjadi orang biasa orang yang tidak suka kepadanya berhenti mengganggunya. Mungkin mereka menganggap bapak Dian telah kalah karena dia sudah tidak lagi memiliki harta dan hanya menjadi orang biasa.
Siapa sangka kehidupan keluarga Dian malahan menjadi lebih bahagia. Karena apa? mereka dapat hidup dengan tenang, tidak ada lagi yang mengganggunya. Yang menjadi prioritas bapaknya Dian adalah dapat melindungi keluarganya, membahagiakan keluarganya.
Dia selalu menasehati Dian bahwa kebahagiaan tidak harus dengan memiliki kekayaan yang banyak, atau memiliki pangkat yang tinggi. Tetapi kebahagiaan bisa didapat dengan melihat keluarganya bahagia, dapat hidup dengan nyaman dan aman tanpa ada orang yang berniat mencelakai mereka. Dapat saling menjaga antara satu dengan yang lainnya.
Walaupun menjadi tukang ojek, Alhamdulillah keluarga Dian tidak kekurangan untuk masalah biaya hidup. Karena bapaknya Dian juga mendapatkan penghasilan dari usaha keluarganya. Walaupun tidak ikut terjun langsung bekerja di sana, tetapi bapak Dian masih ikut menangani usaha keluarganya. Hanya saja bapak Dian melakukannya dirumah, itulah mengapa bapak Dian juga sering berkunjung ke rumah orangtuanya, yaitu untuk membahas tentang usaha keluarga mereka.
__ADS_1
2 keluarga itu masih mengobrol dan bercanda.
"Oh iya Sar, aku ada rencana kan besok hari minggu. Gimana kalau kita buat acara kayak gini lagi. Tapi kita masak-masak dulu nanti kita makanya di deket danau yang deket sini itu lo." ucap mama kak Adit
"Wah ide yang bagus itu, di danau kan pemandangannya bagus. Apalagi kita sudah lama gak main kesana" ucap ibuk Dian
"Maksud ibuk, danau yang dulu sering kita kunjungi itu buk?" tanya Dian
"Iya nak" ucap ibuk Dian
Akhirnya mereka semua setuju besok akan main ke danau.
"Oh ya buk, kalau besok Dian ajak sahabat-sahabat Dian boleh gak?" tanya Dian
"Boleh nak, makin rame kan makin seru. Sekalian biar bisa kenalan sama sahabatnya anak ibuk" ucap ibuk Dian
Karena memang sudah lama Dian tidak mengajak temannya kerumah, terakhir kali saat Dian SMP itupun cuma berapa kali. Dan hanya ada ibuknya yang dirumah.
"Boleh dong sayang" ucap mama kak Adit
Mereka melanjutkan obrolan, setelah cukup lama akhirnya mereka menyudahi obrolan dan kembali ke aktivitas masing-masing.
Keluarga kak Adit pulang kerumahnya. Setelah keluarga kak Adit pulang Dian masuk kedalam kamarnya untuk mengambil HPnya. Kemudian Dian menghubungi sahabat-sahabatnya.
Unknown (nama Grup Chat yang beranggotakan Dian dan sahabatnya)
Sebenarnya Dian, Dinda dan lutfi merasa aneh dengan nama GC yang dibuat oleh Alvin. Saat ditanya Alvin menamai GC nya seperti itu karena dia tidak tahu harus menamai GC mereka apa, dan dia juga tidak tahu bagaimana mereka bisa bersahabat, padahal mereka baru kenal. Sehingga muncullah ide seperti itu.
Mohon dukungannya ya🙏
Jika ada kritik dan saran silahkan disampaikan 😊
__ADS_1
~flo˙❥˙~