
Orang terlahir dengan berbagai macam kondisi, status yang mereka terima murni mereka dapat di luar kuasa mereka, mereka tidak dapat memilih seperti apa mereka akan lahir.
Tapi setidaknya kita akan terlahir dengan kondisi adil, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang lahir dengan sempurna. Itu yang awalnya ku yakini.
Guncangan gempa terjadi pada tahun 2066, para ahli mengatakan bahwa ini adalah gempa terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah, bangunan dan jalan-jalan hancur bagaikan mainan anak-anak yang rusak berserakan.
Awalnya dunia berpikir ini hanya gempa biasa, ternyata mereka salah, dimensi retakan terbuka di beberapa titik di dunia, sebuah portal dimensi setinggi 10 meter terbuka lebar di hadapan para penduduk bumi.
Dunia di gemparkan atas fenomena ini, mereka masing-masing mencoba menafsirkan apa sebenarnya portal ini, tidak ada satupun dari mereka yang berani memasukinya, selama kurang lebih 10 tahun, portal itu tetap menjadi misteri.
Hingga pada suatu hari, tepatnya pada tahun 2076 di laporkan kasus pertama fenomena aneh yang terjadi pada tubuh seorang gadis, dari ujung jemarinya dia mampu mengeluarkan api, para ahli masih belum mendapatkan kesimpulan dari mana asal muasal gadis ini dapat mengeluarkan api, tapi para ahli yakin bahwa fenomena ini terkait dengan portal misterius itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun berganti, semakin banyak kasus fenomena manusia mampu mengeluarkan kekuatan magis dari tubuh mereka, penelitian besar-besaran pun di lakukan demi menguak rahasia di balik fenomena ini.
Lalu setelah puluhan tahun lamanya, akhirnya para ahli mendapat jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi, setelah gempa hebat yang terjadi pada tahun 2066, manusia mengalami evolusi pada tubuhnya, mengakibatkan mereka memiliki fungsi baru dalam diri mereka, mulai dari dapat mengendalikan elemen, memperkuat tubuh, bergerak sangat cepat, hingga teleportasi.
Dengan modal kekuatan ini lah, akhirnya para ahli mencoba untuk masuk ke dalam portal misterius itu, puluhan subject terbaik di kirimkan untuk menyelidiki apa yang sebenarnya ada di balik portal.
Seketika mereka masuk ke dalamnya mereka tidak melihat neraka ataupun pemandangan yang menyeramkan, tapi sebuah pemandangan dari atas bukit, pepohonan lebat dan gunung-gunung tinggi serta langit yang sangat cerah, tidak jauh dari mereka ada pasukan yang berbentuk seperti manusia tapi memiliki telinga yang runcing.
Dengan panah dan mantra pada tangan mereka, sudah jelas bahwa mereka adalah penduduk dari dimensi ini, mulai titik ini dunia lebih berfokus untuk menjelajahi dan mengeksplorasi dimensi ini atau yang mereka sebut dunia lain.
Melahirkan sebuah profesi baru yaitu "petualang".
.....
....
...
..
.
Kurang lebih seperti itulah sejarah portal dimensi dari buku yang ku baca, nama ku Arva dan aku adalah salah satu petualang, sekarang adalah tahun 2099 sudah sangat lama berlalu sejak eksplorasi pertama di lakukan, petualang kini menjadi profesi yang paling di minati oleh banyak orang, selain di anggap tidak memerlukan modal untuk menjadi petualang, imbalan yang di dapat juga tidak sedikit.
Bayaran yang minimal di terima adalah 2 keping perak, oh ya dunia sekarang memilih emas, perak, dan perunggu sebagai alat tukar demi mempermudah aktivitas jual beli dengan penduduk dimensi lain.
Inti dari pekerjaan petualang terbilang simpel, cukup lakukan tugas pada papan pengumuman dan serahkan hasil pekerjaan mu pada admin pusat petualang maka imbalan akan langsung kau dapatkan, kategori tugasnya pun terbilang mudah untuk petualang golongan bawah sepertiku.
DUUUAAARRR....!!!!!
Seharusnya, terlahir dengan adil?, kurasa itu tidak berlaku pada ku.
"ba-bagaimana ini A-Arva?, Ryan terhempas jauh, ba-bagaimana kita harus menolongnya?".
"jika sampai Ryan dibuat kuwalahan, itu artinya ada yang tidak beres dengan tugas ini, apa ini benar-benar tugas tingkat bawah?, melawan babi sebesar itu bukan hal yang mudah".
Dari kejauhan aku bisa melihat Ryan yang berlutut, armor yang dia kenakan sebagian besar telah hancur, untuk orang yang memiliki class Kesatria seperti dirinya di buat seperti ini, itu artinya satu kali terkena serangan babi ini aku pasti akan mati.
"Yuni, apa kau bisa bekukan kaki nya?".
"te-tentu, ta-tapi kalau monster babinya bergerak secepat itu a-aku tidak yakin akan te-tepat sasaran".
__ADS_1
Menahan pergerakan monster seperti itu tidak cocok untukku, apa aku harus memilih cara lain?, tidak, tidak ada waktu lagi, akan ku pikirkan caranya sambil bergerak.
"tunggu aba-aba dari ku Yuni, setelah itu bekukan kakinya, jika tidak memungkinkan langsung habisi saja monster itu dengan kekuatan es mu, akan ku usahakan agar monster itu lengah".
"A-Arva jangan, Ryan saja sampai di buat seperti itu, kalau kau terkena serangannya bagaimana?".
"kalau begitu apa kau ada solusi lain?".
"ti-tidak ada".
Aku langsung berlari menuju arah lain, ku tebas-tebaskan pedang ku ke pepohonan untuk menimbulkan suara yang mengalihkan perhatian monster babi itu, tatapan dari bola mata yang besar terasa begitu mengerikan, salah satu kaki mahluk itu menggores-gores ke tanah, dia akan segera mengejar ku, apa stamina ku mampu mengatasinya?, sial kenapa di saat seperti ini aku malah ragu, sudah terlambat untuk mundur.
Monster babi itu berhenti menggoreskan kakinya dan mengambil ancang-ancang, dengan dorongan dari otot kaki yang kuat dia bergerak dengan sangat cepat sambil merobohkan setiap pohon yang dia lewati, ku percepat langkah kaki ku sambil menoleh ke belakang, memperkirakan jarak antara aku dengan monster buas itu.
Entah karena aku yang terlalu lambat atau monster ini yang terlalu cepat, dia sudah berada tepat di belakang ku, jantung ku berdetak sangat cepat hidup ku berada di ujung tanduk, tidak ku sangka aku akan terkejar secepat ini, aku harus berpikir, aku harus menemukan solusi, atau aku akan mati.
Di ujung mataku aku melihat sebuah ranting yang tidak jauh dari ku, ku raih ranting pohon itu untuk membuat gerakan berbelok yang tajam sehingga dapat lolos dari serangan monster mengerikan ini.
Monster babi itu mengerem lajunya dengan keempat kakinya, memberikan kerusakan pada medan yang dia lalui, matanya masih menatap tajam ke arah ku, stamina ku sudah habis, jangankan berlari untuk berdiri saja aku sangat kesulitan, di sisi lain sepertinya psikis ku terguncang karena rasa takut yang ku rasakan.
Sial!, aku kesulitan menggenggam pedang ku karena gemetar ini, babi itu mulai mengambil ancang-ancang, apa yang harus ku lakukan?.
Ke empat kaki monster itu mendorong tubuhnya, dia berlari ke arah ku, aku harus segera berlari, tapi kaki ku gemetar, sial! aku harus berlari, aku tidak boleh mati seperti ini.
"BRO!".
Aku melihat sosok kesatria dengan armor besinya, perisai yang ada pada tangannya memblokir serangan kepala babi itu mengakibatkan suara benturan yang keras di sertai getaran.
"Ryan!".
"teman-teman, ta-tahan sebentar, akan ku bekukan!".
Dari kejauhan aku melihat Yuni dengan rapalan mantra di kedua tangannya, sinar biru yang Yuni keluarkan membekukan kaki monster berbadan besar itu, membuatnya tidak bisa bergerak.
"mantap mbak bro!".
Ryan mengeluarkan mantra merah dari bilah pedang nya, sinar merah yang keluar dari rapalan menimbulkan api, satu tusukan dari pedang Ryan membakar monster itu dari dalam menyelimuti seluruh tubuh nya dengan api.
Monster itu menggeliat kesakitan, meronta-ronta berusaha melepaskan diri, Yuni berusaha mempertahankan es nya agar tidak mencair sedangkan Ryan berusaha menggenggam pedang nya agar mantra api tidak padam.
Mereka berdua berjuang dengan apa yang mereka bisa, sementara aku.
Aku....
....
...
..
.
diam terduduk tidak berguna.
__ADS_1
Monster berhenti bergerak, asap hitam keluar dari tubuhnya, aku bisa mencium bau daging yang terbakar dari bangkainya.
"bro, lu gapapa?".
Ryan menjulurkan tangannya, berusaha membantu ku untuk berdiri, kedua kaki ku lemas, aku bahkan tidak bisa mempertahankan keseimbangan ku, Ryan menopang ku dengan bahunya agar aku tidak terjatuh.
"makasih Ryan".
"haduh, lu tu ya, gw sampai kaget waktu lihat lu lari, jangan gitu bro, utamakan keselamatan lu, kalau tugas kita gagal kan bisa ambil tugas lain".
"ya, selanjutnya aku akan berhati-hati".
"TE-TEMAN-TEMAN!!".
Yuni berlari ke arah ku dengan wajah penuh dengan keringat, wajahnya tampak pucat, dia pasti kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan sihir.
"A-Arva, apa kau baik-baik saja?".
"iya, syukurlah ada Ryan, aku selamat".
"aku sampai mau menangis ketika melihat Arva di serang, la-lain kali, to-tolong hati-hati".
"iya bro, santai aja, lebih baik kita gagal dari pada pulang tapi ngak lengkap".
"iya, terima kasih sudah memperdulikan aku".
"ki-kita teman, tentu saja kami peduli".
Yuni berjalan ke samping ku dan menopang bahu ku yang lain, mereka berdua sama-sama menuntun ku berjalan menuju kereta kuda yang kami sewa, kami bertiga sudah berpetualang bersama kurang lebih satu tahun, dan kejadian seperti ini sudah tidak asing lagi, mereka berdua adalah petualang yang handal sedangkan aku hanyalah beban, meski begitu Ryan atau pun Yuni tidak pernah mempermasalahkan itu.
Mereka selalu memperlakukan aku dengan baik dan sangat peduli padaku, mereka adalah sahabat yang sangat bisa ku andalkan, tapi terkadang.
Aku merasa.
"duduk pelan-pelan bro, yang santai".
"makasih".
"ha-hari ini aku yang menyetir ya".
"jangan mbak bro, gw aja, wajah lu udah pucat gitu ".
"Ryan sendiri kan babak belur, bi-biar aku saja".
"santai aja, gw masih kuat".
"ba-baiklah, kalau nanti di jalan sudah lelah, gantian ya".
"ok mbak bro".
Terkadang aku merasa bahwa, lebih baik aku tidak bersama mereka, kemampuan mereka sangat jauh di atas ku, akan sangat di sayangkan jika perkembangan mereka tertahan hanya demi orang seperti aku.
Kelahiran setara tidak berlaku padaku, kelebihan atau kelemahan tidak ada padaku, karena itu aku tidak mempercayai nya, menurut ku aturan itu hanya berlaku pada orang yang terlahir dengan kekuatan.
__ADS_1
Dan bukan untuk orang yang terlahir tanpa kekuatan sepertiku.