Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 08. Satu keletihan


__ADS_3

Yuni yang berada di ruang rawat Silva mendengar suara kegaduhan, dia penasaran apa yang terjadi, mungkin saja itu Ryan yang membawa Arva, dia ingin pergi memeriksanya tapi para penjaga yang ada di luar kamar tidak memperbolehkannya.


Dia merasakan firasat buruk, sepertinya para penjaga merahasiakan sesuatu, dengan memaksa dia pergi meninggalkan ruangan, para penjaga yang berjalan di belakangnya berusaha menghentikan Yuni tapi perkataan mereka sama sekali tidak di dengar.


Dari ujung lorong dia melihat dokter yang berlari di ikuti dengan beberapa perawat yang membawa dua orang yang terbaring lemas di atas ranjang pasien, walau jaraknya lumayan jauh tapi Yuni tau siapa yang sedang mereka bawa.


Seketika dadanya terasa seperti tertekan, ekspresi terkejut terlihat dari mimik wajahnya, dia berlari menyusul rombongan perawat itu, langkahnya terhenti ketika seorang perawat menghentikannya untuk melarang ikut masuk ke ruang darurat.


"mohon maaf mbak, tolong menunggu di luar agar tidak mengganggu proses perawatan di ruang darurat".


Pintu pun tertutup meninggalkan Yuni sebuah pertanyaan besar, "apa yang telah terjadi?".


Padahal beberapa jam yang lalu mereka berdua dalam kondisi yang baik-baik saja, kini keadaan mereka sudah sangat mengenaskan, dari arah belakang datang seseorang yang memiliki rambut pirang, orang tersebut datang dengan raut wajah sedih.


"mohon maaf mbak Yuni, saya telah gagal melindungi mereka".


Fralin terlihat menyesal, sebagai pemimpin kota Zatar, serta petualang dengan rank lebih tinggi dari mereka, dia tidak mampu mengatasi keadaan, tanpa menoleh ke belakang Yuni bertanya apa yang terjadi, Fralin pun menjelaskan semua kejadian, mulai tentang monster beruang, salju longsor, hingga perasaan Arva yang menggiringnya pergi meninggalkan rumah sakit.


Dari sini Yuni tidak menyangka bahwa itu alasan Arva pergi, dia pikir bahwa Arva baik-baik saja, ternyata selama ini dia memendam perasaan yang menyakitkan di hatinya, Yuni merasa seperti orang jahat karena tidak menyadari perasaan sahabatnya itu, sahabat yang sangat berharga baginya.


Keadaan buruk yang menimpanya serta kondisi status kelahiran yang tidak menguntungkan, pandangan dan tatapan jijik serta merendahkan dari orang-orang pada dasarnya terasa begitu menyakitkan bagi Arva, dia diam bukan berarti tidak peduli, dia hanya menahannya hingga akhirnya perasaan itu membesar dan tidak dapat terbendung lagi.


Fralin memegang pundak Yuni, mengajaknya untuk kembali ke ruangan Silva, perlahan Yuni membalikkan badannya tapi tatapannya masih mengarah ke pintu unit darurat, seolah dia tidak ingin pergi.


Dia berjalan pergi dengan perasaan sedih di hatinya serta perasaan merasa bersalah karena mengganggap bahwa selama ini semua " baik-baik saja ".


....


...


..


.


Keesokan harinya, di pagi yang cukup tenang, Yuni terduduk di ruangan Silva dengan kantung hitam di matanya, dia tidak bisa tidur, dia bertanya-tanya bagaimana perkembangan kondisi dua sahabatnya itu, Fralin datang melihat kondisinya sambil membawakan beberapa makanan.


Yuni tanpa basa-basi menanyakan tentang kondisi mereka berdua, awalnya Fralin berusaha mengganti topik pembicaraan tapi Yuni tetap bersikukuh, Fralin yang merasa tidak ada pilihan lain akhirnya memberitahu status kondisi terbaru.


"mereka dalam keadaan kritis, para dokter mengatakan bahwa kesembuhan mereka sangatlah tipis, tapi mereka akan mengusahakan segala cara agar mereka dapat kembali sembuh ".


"apa ini semua karena luka parah yang mereka terima?".


"itu juga merupakan sebuah faktor tapi ada faktor lain yang lebih tepat, karena kerusakan tubuh mereka yang sangat besar di butuhkan perawatan medis yang besar juga, perawatan umum seperti biasanya tidak akan berhasil, jadi perawatan magis lah yang dapat menyembuhkan mereka, tapi masalahnya".

__ADS_1


Fralin seperti enggan untuk menjelaskan bagian sisanya, Yuni yang merasakan ada jeda dalam kalimat Fralin meminta agar Fralin tidak menahan maupun menutupi sesuatu.


"masalahnya adalah perlu energi magis yang besar dari sebuah pendonor, sayangnya tidak ada orang yang mau dengan cuma-cuma memberikan energi magisnya, para staff di rumah sakit sayangnya juga tidak ada yang memiliki energi magis dengan jumlah besar, jadi ini cukup menyulitkan".


Yuni memahami permasalahannya, di jaman di mana persaingan cukup ketat, satu hari aja tidak melanjutkan progres adalah kerugian yang besar, mendonorkan energi magisnya hanya untuk menolong orang akan membuatnya tidak bisa melakukan aktivitasnya sebagai petualang untuk beberapa hari.


"hanya itu informasi yang saya dapat sejauh ini".


Yuni menatap kedua mata Fralin dengan mimik serius, wajahnya yang lemas di sertai kantung mata yang hitam menandakan betapa lelahnya dia sebenarnya, tapi meski begitu.


"saya ingin menjadi pendonor".


Fralin tidak terkejut, dia sudah menduga Yuni akan mengatakan hal semacam ini, dengan tegas Fralin menolaknya.


"kenapa pak Fralin?, a-apa yang kurang dari energi saya?, saya seorang penyihir".


Yuni berusaha menyakinkan Fralin.


"mohon maaf mbak, tapi kondisi anda sedang tidak bagus, pendonor harus berada di kondisi prima demi keselamatan pendonor itu sendiri, jika tetap di paksakan maka akan sangat membahayakan".


"sa-saya baik-baik saja, saya yakin saya bisa".


Fralin tetap berusaha pada pilihannya, tapi Yuni tetap memaksa, secara samar-samar dia merasakan aura dingin, suhu di sekitar menurun, perasaan emosi Yuni yang tidak terkendali mengakibatkan kebocoran kekuatan magisnya.


Fralin meminta Yuni untuk tenang tapi gadis berkacamata ini tetap meminta hal yang sama, sedikitpun dia tidak ingin mengganti topik, suhu semakin menurun embun dingin pada kaca mulai terlihat.


"Prosedur pendonoran ada dalam kuasa kami, jika di rasa sudah berbahaya maka akan kami hentikan secara paksa, anda setuju?".


Yuni tanpa ragu menyetujuinya, tapi Fralin merasa bahwa ini sama seperti Ryan mengusulkan strategi kepada beruang api, ini adalah ambisi buta dimana orang akan menyetujui apapun selama keinginannya tercapai, tidak peduli seberapa bahayanya itu baginya.


Fralin membuka sebuah minuman hangat dan memberikannya kepada Yuni, dengan nada lembut dia berkata.


"saya telah gagal melindungi Ryan, jadi kali ini saya mohon tepati janji anda, saya tidak ingin hal yang sama terjadi dua kali".


"baik pak Fralin".


....


...


..


.

__ADS_1


Apa yang terjadi, kenapa tubuhku terasa hangat, semua tampak gelap, apa aku sedang di neraka?.


Ataukah sedang di surga?, entahlah, aku mati atas pilihan bodohku, tak kusangka ketika dalam kondisi sakit perasaan ku menjadi sensitif.


Bertahun-tahun aku menahannya, entah kenapa hari itu terasa begitu menyakitkan sampai tidak bisa ku tahan lagi, terakhir kali yang kuingat, oh iya, Ryan memeluk ku.


Setelah itu apa yang terjadi?, kuharap Ryan baik-baik saja, monster beruang ganas itu benar-benar pilihan yang buruk, pergi hanya dengan membawa pisau yang bahkan tidak bisa menusuk benar-benar keputusan yang bodoh.


Dan orang yang mengambil keputusan bodoh itu adalah aku, kurasa untuk sementara aku harus berlibur, perasaan aneh akan datang ketika aku stress atau depresi, baru kali ini aku percaya bahwa liburan itu ada gunanya.


Hmm, tetap tidak bisa di gerakkan, tubuhku terasa mati, apa aku lumpuh?, kuharap tidak, kurasa ini adalah efek yang normal, aku sudah melakukan hal gila tentu saja hal ini terjadi.


Oh, aku merasakan ada cahaya, samar-samar aku mendengar sesuatu, ini terdengar cukup familiar, suara mesin ini seperti suara yang ada di kamar kak Silva, suaranya semakin jelas dan cahayanya terasa semakin terang, perlahan aku bisa merasakan kembali otot saraf pada mataku.


Perlahan aku membuka mataku.


....


...


..


.


Arva terbangun melihat atap ruangan yang lagi-lagi asing baginya.


"dimana aku?".


Perawat yang melihat Arva yang tengah siuman pergi berlari meninggalkan ruangan, Arva yang dalam keadaan setengah sadar masih belum mencerna apa yang terjadi.


Dia melihat ke sekeliling, tubuhnya merasa jauh lebih baik, suara mesin yang dia dengar berasal dari alat-alat medis yang terpasang kepadanya.


Dia melihat seluruh tubuhnya di perban, beberapa area masih terasa nyeri.


"entah apa yang terjadi tapi aku selamat, kupikir aku akan mati di bunuh monster itu".


Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa beberapa hal pada Arva, statusnya sudah mendingan para perawat dan dokter berbahagia atas hal ini, bagi mereka keselamatan adik dari seorang pahlawan merupakan hal yang penting.


"mas Arva, jika misal ada hal lain yang anda perlukan jangan sungkan untuk mengatakannya ya".


Dengan penuh kegembiraan para dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Arva sedikit heran melihat cara mereka memperlakukan dirinya, sangat berbanding terbalik dengan dimensi manusia.


"terasa seperti tamu VIP di sini".

__ADS_1


Keadaan psikisnya jauh lebih stabil, kini dia bisa berpikir dengan jernih, di dalam kesunyian dia menutup matanya, berusaha mengistirahatkan tubuhnya.


"kuharap aku segera sembuh, aku ingin secepatnya meminta maaf kepada mereka berdua, atas hal bodoh yang ku lakukan".


__ADS_2