
"AYO MASUK KE GOA!".
Para penjaga yang masih bisa bergerak berlari ke dalam gua, salah satu dari mereka menggunakan kekuatan magis tanah untuk menutup jalan masuk.
Dinda yang ingin menyusul masuk terhenti karena serangan dari para penjaga, hanya tersisa beberapa dari mereka, Yuni dan Ryan yang ada di belakang masih bertarung tanpa henti, serangan demi serangan terus mereka lakukan.
Para penjaga yang tersisa juga terlihat masih belum memberikan tanda menyerah, meski mereka takut tapi mereka tetap melawan balik seolah menyerah bukanlah pilihan yang bagus.
Tubuh Dinda mengeluarkan percikan petir biru, dengan rapier di tangannya dia bergerak dengan lincah, satu persatu lawan di tumbangkan kecepatannya dalam bergerak menyulitkan lawan untuk menyerangnya, kecepatan yang tidak dapat di lihat oleh mata, yang terlihat hanyalah cahaya biru yang bergerak-gerak.
Dengan satu tusukan rapiernya dia melumpuhkan lawan, dia berusaha agar tidak menyerang titik fatalnya, sedikit demi sedikit jumlah lawan yang dapat bertarung semakin berkurang, kemarahan Ryan, kehampaan Yuni dan kecepatan Dinda.
Beberapa menit kemudian semua lawan terbaring lemas, pertarungan berakhir, Ryan yang mengkhawatirkan Arva segera bergegas ke mulut gua yang tertutup, dengan pukulan apinya yang beruntun dia berusaha menghancurkan penghalang, Yuni juga membantu dengan puluhan bila es yang jauh lebih tajam dia menembaki penghalang.
Sayangnya setiap kali penghalang itu hancur, kerusakannya akan segera pulih, sepertinya para lawan mengaliri penghalang dengan kekuatan magis dari sisi balik.
"SIALAN!, SIALAN!, SIALAN!".
Ryan terus memukuli penghalang sampai energi magis nya habis, tangannya terluka karena memukul penghalang yang keras, Dinda yang melihat hal itu segera menghentikan Ryan, tapi Ryan tidak mendengarkan kata-katanya.
Dinda pun menampar wajah Ryan dengan tamparan yang keras sampai dia terjatuh, Yuni yang melihat itu menghentikan serangan bila es nya.
"LU KENAPA SIH?, LU NGAK LIHAT GW SIBUK?".
"apa yang kau lakukan sudah sangat tidak rasional, jika terus seperti itu tangan mu sendiri yang akan hancur!".
"LAH TERUS KENAPA?, GW LEBIH MILIH TANGAN GW HANCUR DARI PADA TEMEN GW MATI!".
Yuni yang ada di belakang setuju dengan kata-kata Ryan, dengan wajah yang menatap kekosongan Yuni meminta Dinda untuk minggir, agar mereka bisa melanjutkan penyerangan.
"kalian semua ini kenapa?, kenapa kalian bertindak aneh?".
"udahlah, lu sekarang minggir, lu ngak akan ngerti perasaan kita".
Dinda merasa tersinggung dengan kata-kata Ryan, dia berdiri tepat di depan penghalang gua, dengan menyilangkan tangannya dia memasang wajah cemberut.
__ADS_1
"memang, aku tidak akan mengerti perasaan orang miskin seperti kalian, karena aku percaya bahwa Arva baik-baik saja, dia itu tidak bodoh, dari kita semua dia yang paling pintar, ya walaupun aku rasa aku lebih pintar darinya, tapi aku percaya bahwa dia tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada alasannya, sekarang dia tidak ada si sekitar sini, aku yakin sekarang dia ada di dalam dengan rencana aneh yang ada di otaknya".
Ryan dan Yuni tak membalas perkataan Dinda, walaupun petualangan dia dengan mereka sangatlah singkat ternyata Dinda menaruh kepercayaan yang besar terhadap Arva.
"aku tau kalian khawatir, tapi melakukan sesuatu tanpa rencana merupakan hal yang bodoh, untuk sekarang dingin kan kepala kalian, ya ampun, apa semua orang miskin seperti ini".
Yuni dan Ryan melihat satu sama lain, perlahan mereka menjadi lebih tenang, kesadaran mereka kembali, dengan wajah sedih mereka terdiam dan hanya menunduk.
"tenang saja, dia orang yang cerdas, pasti dia akan keluar dari gua ini hidup-hidup".
.....
....
...
..
.
"WOY AYO CEPAT, ORANG-ORANG GILA INI TERUS MENYERANG PENGHALANG, KALAU TIDAK CEPAT ENERGI MAGIS KU AKAN SEGERA HABIS!".
Seorang penjaga berlari ke dalam bagian gua, sesampainya di suatu titik dia merasakan sesuatu yang aneh, api-api obor mati, suasana menjadi gelap dan sunyi.
"aneh, kok sunyi, kemana yang lain, OI SUDAH BELUM?, AYO CEPAT KELUAR DARI SINI!, MAJIKAN KITA AKAN MARAH KALAU KITA TERLAMBAT!".
Dia berteriak ke arah kegelapan, tidak ada balasan, dia berjalan masuk kegelapan, dia merasa sesuatu mengawasinya, dia terus berjalan sampai ke bagian penjara elf, dia sangat terkejut melihat semua elf berada di luar penjaranya.
"APA INI?, KENAPA KALIAN BISA KELUAR?, KALIAN CEPAT MASUK ATAU KAMI AKAN MENYIKSA KALIAN!".
Para elf terdiam, mereka ketakutan, tapi arah mata mereka bukan ke dirinya.
"KALIAN TULI HAH?, CEPAT MASUK ATAU".
Dia merasakan sesuatu di kakinya, seperti tubuh manusia, setelah dia amati ternyata itu adalah tubuh temannya, dia pun terkejut dan ingin berteriak tapi sesuatu menahan mulutnya untuk berteriak, dari arah belakang ada sesosok yang menodongkan besi dari arah belakang.
__ADS_1
"si-siapa kau?".
Sosok itu hanya diam, besi yang di arahkan ke punggungnya kini berpindah ke lehernya, sensasi dinginnya besi terasa menyentuh kulitnya.
"hah?, memangnya apa yang ingin kau lakukan padaku dengan benda aneh ini, ini hanyalah tumpukan sampah".
Sosok itu tersenyum dan di ikuti dengan suara yang keras, leher orang tersebut mengeluarkan darah, dia merasakan sesuatu menembus lehernya, dia memegangi lehernya dan berlutut tatapannya menjadi tidak jelas dalam hitungan detik orang tersebut mati.
Temannya yang menjaga penghalang penasaran apa yang terjadi, dia dengan terpaksa meninggalkan penghalang dan berlari menyusul.
"WOY ADA APA?".
Larinya berhenti, dia melihat seseorang berdiri di depannya, penghalang tanah pun tubuh cahaya masuk ke dalam gua, perlahan cahaya menerangi sosok itu, terlihat Arva yang berlumuran darah tersenyum dengan tenang sambil memegang senjata api di tangannya.
"SI-SIAPA KAU?".
Penjaga itu mengeluarkan sihir tanah tepat sebelum rapalan sihir selesai sesuatu melubangi tangannya.
"AAARRGGH".
Sesuatu menembus tangannya, darah keluar dari tangannya, dia berlutut karena rasa sakit yang dia rasakan, Arva datang berjalan mendekati orang itu kemudian menodongkan senjatanya ke kepala orang tersebut.
"a-apa kau teman mereka?".
Dengan penuh rasa takut penjaga ini bertanya.
"aku harus berterimakasih kepada kalian, akhirnya aku mendapatkan apa yang ku inginkan".
Jari Arva perlahan menarik pelatuk dan terdengarlah suara yang keras di ikuti dengan tumbangnya penjaga.
Para elf yang melihat semua itu menutup mulut mereka, mereka sangat takut untuk berteriak, Arva mengambil peluru yang melubangi kepala lawannya, dia membersihkan peluru yang sangat berharga baginya dan memasukkannya ke dalam saku.
"tenang saja, kalian sudah aman, dan tolong rahasia kan ini, para keamanan dari kota akan menolong kalian dan ketika mereka bertanya soal ini kuharap".
Arva memberikan isyarat diam dengan jarinya.
__ADS_1
"kalian tidak mengatakan apapun".
Mata Arva yang terlihat puas dan senyuman senang di mulutnya memberikan kesan yang menakutkan kepada para elf, orang lemah yang akhirnya mendapatkan kekuatan kini bisa merasakan cita rasa kemenangan, akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.