
Setelah semua yang terjadi Arva dan yang lain memanggil pihak keamanan kota Zatar, di karenakan jaraknya yang lumayan jauh Leina dan pasukannya menawarkan diri untuk membantu alhasil Leina dan para pasukannya lah yang datang.
Para penjahat yang masih hidup tidak lebih dari setengahnya, semua yang masuk ke dalam gua mati karena di tembak dengan senjata api, pasukan Leina memeriksa semua benda yang ada di gudang, senjata, stok makanan dan barang-barang lainnya semua di amankan tapi hanya satu yang tidak.
Arva yang mengambil semua senjata api serta amunisi yang dia temukan, tanpa sepengetahuan siapapun dia menyembunyikan nya dan memasukkannya ke dalam sebuah karung, menyamarkannya sebagai barang bawaan pribadinya.
"apa sudah semua?".
Leina bertanya kepada bawahannya.
"iya, semua persiapan sudah selesai, kami siap untuk kembali ke kota".
"kerja bagus, segera berangkatkan, para gadis elf itu sudah mengalami hal yang mengerikan, sesampainya di kota kirim mereka ke tempat rehabilitasi".
"baik!".
Bawahan Leina pergi.
"terima kasih sudah datang Nona Leina, perkenalkan saya salah satu dari kelompok Arva, Dinda".
Dinda datang dan memperkenalkan dirinya dengan anggun.
"tidak masalah, tindakan seperti memang di haruskan, aku kagum melihat kalian semua berani melawan penjahat seperti ini".
"kami hanya melawan sebisa kami, selain itu saya penasaran dengan satu hal".
Dinda melirik ke arah mayat penjahat dengan luka tembak di kepalanya.
"apa yang sebenarnya terjadi?, waktu itu hanya Arva yang berada di dalam gua, kami sempat mendengar suara yang keras dari dalam, tapi kami tidak tau itu apa".
"maaf Dinda, kami juga tidak mengetahuinya, aku juga sempat menanyakan hal ini kepada Arva tapi dia terlihat tidak tau apa-apa".
"sungguh mengerikan, padahal baru beberapa menit orang-orang ini masuk ke dalam, kini sudah dalam keadaan mati".
"kekuatan yang mampu membunuh dengan cepat, jika sampai ada orang yang bisa melakukan hal itu maka seharusnya dia berada di ranking A sekarang, aku curiga sewaktu di dalam gua ada petualang yang sempat menolong Arva dan para elf".
"kemungkinan, siapapun dia aku ingin berterima kasih sudah menyelamatkan gadis-gadis ini dan juga menyelamatkan teman ku".
"dengan kekuatan sehebat itu dia lebih memilih menjadi orang baik, dia pasti adalah orang yang sangat bijaksana".
Beberapa meter dari Leina dan Dinda terlihat Arva yang sedang mengawasi para gadis elf, dia khawatir jika ada dari mereka yang membocorkan apa yang mereka lihat, sesekali dia melirik ke arah senjata yang dia sembunyikan, khawatir jika ada orang yang memindahkannya.
"bro, bro!".
__ADS_1
Ryan menegurnya.
"oh, maaf, ada apa Ryan?".
"gw tanya lu beneran ngak papa?, mumpung pasukan Mbak Leina disini, pulang bareng mereka aja biar lebih cepet".
"tidak, aku pulang bersama kalian saja, aku baik-baik saja, lihat".
Arva membentangkan kedua tangannya.
"ya lu keliatan sehat sih, lain kali lu jangan gitu lah bro, tunggu gw balik baru kita hajar bareng, gw ama Yuni kayak orang gila tau ngak gara-gara lu ilang".
"iya iya maaf, lain kali aku akan hati-hati".
Arva melihat wajah Yuni yang tertidur bersandar ke pundaknya, wajahnya terlihat pucat sepertinya dia memaksakan dirinya lagi.
"maaf Yuni".
Bisik Arva, Leina terlihat mendekat bermaksud untuk berpamitan kembali ke kota Zatar, sebelum pergi Leina menawarkan agar Arva ikut bersama kelompoknya kembali ke kota dan menanyakan kembali pertanyaan tentang apa yang terjadi di alam goa, Arva dengan ekspresi wajah yang biasa menjawab dengan ketidaktahuan, jawabannya yang terasa natural membuat Leina percaya.
Leina dan pasukannya pun terbang meninggalkan mereka sambil membawa para gadis elf, dengan keadaan tubuh yang terasa letih kelompok Arva berjalan keluar hutan menuju kereta kuda mereka.
"aduh, badan gw sakit semua, tangan gw kayak mati rasa".
"itu semua karena ulah bodohmu memukuli penghalang dari magiskan?, untung ada aku, jadi luka mu tidak separah itu, bersyukur lah wahai orang miskin".
Arva meletakan tubuh Yuni di dalam bagian penumpang, dia juga menaruh karung senjata di bagian bawah tempat duduk.
Hari sudah malam, semua terlihat lelah, Arva menawarkan diri untuk menyetir karena dari kondisi tubuh dia terlihat paling bugar.
Dinda tanpa ragu menerima tawaran itu dan masuk ke bagian penumpang lalu menguncinya dari dalam, Ryan yang memang sudah tidak kuat lagi menerima tawaran Arva dan tidur tepat di samping kursi supir.
Di waktu malam, suasana jauh terasa sunyi, sinar bulan purnama menerangi keadaan malam sehingga penglihatan tidak terlalu gelap.
Dengan fokus Arva menyetir, matanya masih terbuka lebar, dia samar-samar kembali merasakan sensasi memegang senjata api itu, momen ketika dia mendapatkan kekuatan untuk melawan balik, rasa senang pada hatinya mengukir senyum di wajahnya.
Dia berusaha menenangkan dirinya, walau seluruh temannya kini sedang tertidur dia berusaha bersikap biasa saja, dia berhati-hati agar apa yang dia dapatkan tidak di rampas oleh orang lain.
"seperti ini kah rasanya menjadi normal".
Gumamnya, dia sedikit mempercepat laju kudanya berharap agar cepat sampai ke kota untuk mencoba hal-hal yang ada di kepalanya.
....
__ADS_1
...
..
.
Sesampainya di kota.
"hooaaammzz, loh si bro mana?".
Ryan yang setengah mengantuk menyadari bahwa Arva tidak ada.
"entahlah, dia pergi sambil membawa karung aneh di punggungnya, sudah ya aku mau pulang dan tidur, aduh terbangun di tengah malam seperti ini tidak bagus untuk kulit ku".
Dinda berjalan pergi, Ryan yang melihat Yuni yang tertidur tidak tega untuk membangunkannya, dia pun menggendong Yuni di punggungnya, dengan perasaan kantuk dia membawa tubuh gadis itu ke penginapan yang tidak jauh dari lokasinya.
"aduh, tangan gw masih terasa sakit".
....
...
..
.
Di ruangan yang gelap, di kamar penginapan Arva, dia membongkar senjata yang dia dapatkan, ada dua senjata dan beberapa amunisi, senjata yang satunya berukuran lebih besar, dia harus menggunakan kedua tangannya untuk membawanya.
Sedangkan senjata yang dia gunakan untuk membunuh para penjahat berukuran sangat kecil, hanya perlu satu tangan untuk memegangnya.
"apa kira-kira aku bisa membuat tiruannya?".
Arva berpikir untuk membuat senjata nya sendiri, dia tau bahwa prinsip senjata ini sama seperti panah, membutuhkan amunisi, sayangnya tidak ada tempat yang menyediakan amunisi untuk senjata api di dunia ini.
"mungkin pertama-tama aku harus menemukan cara membuat amunisinya, beberapa benda kerucut ini hancur ketika menabrak benda keras".
Kata Arva sambil memegang peluru, dia melihat ke arah langit cahaya bulan yang terang masuk menerangi kamar penginapannya.
"ini adalah kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan, aku harus mengembangkan hal ini, dengan begini aku bisa menjadi lebih kuat".
Arva tersenyum puas, dengan ambisi di hatinya dia menemukan jalan yang selama ini dia impikan.
Chapter 1 Selesai~
__ADS_1