
"bro gw maju ya, gw udah ngak tahan liat nya".
"jangan Ryan, kita tidak tau rank mereka, bisa saja mereka jauh lebih kuat dari kita".
"lah terus gimana?, kasian mbak-mbak nya!, apa kita balik aja terus lapor ke kota?".
Arva melihat ke sekitar daerah gua, dia melihat beberapa kereta kuda yang berkemungkinan akan di gunakan untuk mengangkut para budak-budak elf.
"sepertinya tidak akan sempat, kelihatannya mereka hanya menjadikan tempat ini sebagai singgahan sementara, kereta kuda yang terparkir di dekat gua membuatku yakin bahwa mereka akan segera pergi dari sini".
Wajah Ryan memerah, dia terlihat sangat marah, Arva berusaha menenangkan Ryan, jika sampai Ryan bergerak karena emosinya akan sangat beresiko mengingat kurangnya informasi soal musuh dan mereka hanya berdua.
"Ryan, tolong dengarkan aku, aku mau kau kembali ke Dinda dan Yuni, beritahu informasi yang kau lihat dan tanyakan kepada mereka, apakah mereka ingin bertarung atau lari ke kota".
"ya jelas lawan lah bro, hal kayak gini ngak bisa di biarin, sekarang aja kita hajar".
"Ryan, tolong".
Arva kembali memohon dengan nada yang lebih lembut, kata-kata Arva akhirnya menggerakkan hati Ryan dan dia mau melakukan apa yang Arva minta.
"yaudah gw balik dulu, hati-hati ya bro, gw ngak bakal lama".
"terima kasih Ryan".
Ryan pun pergi, perasaan Arva ketika melihat perbudakan ini juga terasa sakit tapi yang membuat dia heran, rasa sakit yang dia rasakan tidak sesakit ketika dia baru tersadar di rumah sakit.
"apa karena waktu itu aku memendam dendam ya, jadi emosi ku meluap-luap".
Seluruh budak telah masuk ke dalam gua dan orang-orang berpakaian hitam terlihat sedang mengamati barang di dalam kereta kuda, Arva melihat ini sebagai kesempatan untuk menyusup.
Dengan memberanikan diri dia masuk ke dalam gua tanpa sepengetahuan para penjaga, gua itu tidak gelap melainkan terang di karenakan api obor yang terpasang di setiap pinggiran gua, Arva melihat bayangan seseorang berjalan dari arah depannya.
Dia bersembunyi di balik batu besar, terdengar suara tawa puas laki-laki.
"hahaha, memang kalau elf itu cantik ya, kita untung besar".
"kau benar, harga mereka di pasar sangat tinggi, dengan begini majikan kita pasti akan memberikan kita bonus".
Wajah Arva seketika menunjukkan raut tidak suka, dia berusaha memendam emosinya karena dia tau dia tidak bisa melakukan apapun, langkah kaki para penjaga itu terdengar semakin pelan, mereka pun berjalan menjauh, Arva segera keluar dari tempat persembunyiannya berjalan dengan sangat hati-hati berusaha agar tidak tertangkap.
Dia memasuki bagian terdalam gua, di atas meja yang sudah berjamur dia melihat kunci-kunci yang dia yakini sebagai kunci rantai yang mengikat para budak, tidak jauh dari posisi meja dia melihat dua penjara yang terisi oleh para budak.
Arva dengan membawa kunci yang dia temukan mendekati penjara itu, para gadis elf terlihat ketakutan, mereka memohon ampun agar tidak di pukul.
__ADS_1
Arva yang melihat pemandangan itu seketika meneteskan air mata, keadaan para gadis itu sangat memperihatinkan.
"seseorang tolong".
Terdengar suara lemas dari penjara satunya, Arva segera memeriksa apa yang terjadi, di dalam penjara terbaring lemas gadis elf dalam keadaan pucat, kondisinya terlihat tidak bagus.
Arva membuka pintu penjara menggunakan kunci, ketika dia masuk para gadis elf yang lain memeluk gadis yang sedang lemas itu sambil memohon untuk tidak lagi memukuli nya.
"kumohon, dia sudah sangat lemas, tolong ampuni dia".
"ti-tidak, bukan begitu, aku datang untuk menolong".
"manusia, kumohon ampuni dia".
Arva tersudutkan, para gadis elf memandang Arva sebagai sesama orang yang menyakiti mereka, Arva bingung harus berbuat apa.
"WOY, KENAPA KALIAN BERISIK!".
Dari arah mulut gua terdengar teriakan pria, sepertinya para penjaga akan datang, Arva meminta para gadis elf untuk diam dan tidak memberitahukan keberadaannya ke pada para penjaga.
Arva kembali mengunci pintu penjara dan masuk ke ruangan yang ada di balik pintu kayu, terlihat tumpukan-tumpukan barang, sepertinya ini adalah gudang para penjaga.
Arva bersembunyi di balik barang-barang, dari luar ruangan terdengar beberapa penjaga yang datang sambil membentak dan meneriaki para gadis elf, Arva juga mendengar sesuatu di pukulkan ke jeruji besi, sambil menggigit bibir bawahnya Arva hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun.
Sesuatu terjatuh menimpa kepala Arva, sesuatu yang keras dan terbuat dari besi, Arva merasakan sakit di kepalanya, di dalam gelapnya gudang dia berusaha melihat benda apa yang terjatuh menimpa kepalanya.
Mata Arva seketika terbelalak, Arva mencari sebuah tombol pada benda aneh itu, secara misterius ketika tombol di tekan keluar sebuah kotak yang berisi benda aneh berbentuk kerucut.
Dengan begini Arva yakin bahwa ini.
"senjata api".
....
...
..
.
Ryan yang kembali tapi tidak menemukan Arva seketika membuat jantungnya terasa tertekan, emosinya semakin meluap-luap.
"tu-tunggu orang miskin, tenangkan dirimu, wajahmu memerah".
__ADS_1
Dinda yang menyadari kemarahan Ryan berusaha menenangkan remaja itu, di sisi lain tatapan Yuni seketika menjadi kosong, hampa, bagaikan orang mati.
"hei Yuni, katakan sesuatu, Ryan jadi aneh seperti ini".
Yuni tidak merespon, dari tatapan matanya yang kosong menyala warna biru, dari sini Dinda merasa tidak enak.
"kalian berdua, apa yang terjadi pada kalian?, kalian bertingkah aneh".
Yuni dan Ryan tanpa bicara langsung berlari menuju orang-orang berpakaian hitam, tanpa aba-aba Yuni membekukan sebagian orang sedangkan Ryan menghajar mereka dengan pukulan yang di lapisi oleh sihir api.
Kedatangan mereka menimbulkan kegaduhan, menarik perhatian seluruh penjaga berseragam hitam untuk melawan mereka.
"aduh, orang-orang miskin ini, kalian sangat tidak rasional".
Para penjaga menyerang Yuni dan Ryan dengan serempak, Yuni mengeluarkan perisai elemen untuk melindungi diri mereka.
Terlihat kilatan berwarna biru, dengan gerakan yang cepat kilatan itu memutari semua penjaga, setiap penjaga yang di lewati terkena serangan dari petir biru, melumpuhkan tubuh mereka.
Terlihat Dinda yang berdiri dengan sebuah petir biru yang sesekali menyala pada senjata rapiernya, sosok nya yang cantik dan anggun menjadikan seluruh perhatian para penjaga beralih kepadanya.
Para penjaga semakin berdatangan, mereka bertiga terkepung, masing-masing dari mereka bertiga bersiap dengan senjata dan kekuatan sihirnya.
Ryan memukulkan pukulan api kepada setiap penjaga yang dia temui, Yuni dengan kekuatan es nya berusaha melindungi Ryan sembari membekukan setiap lawan yang mendekat, sedangkan Dinda dengan kecepatan yang hampir sulit terlihat bagaikan kilat yang bergerak-gerak menyambar para lawan.
Mereka bertiga berhasil menyeimbangkan pertarungan dengan jumlah mereka yang sedikit, para lawan berusaha mencari celah, dengan sihir angin mereka berusaha menjatuhkan Yuni.
Dengan sedikit tipuan puluhan sihir angin menerjang ke arah Yuni, gadis es yang sekarang tengah fokus ke arah lain tidak menyadari sihir itu datang, ketik sihir angin sudah mulai dekat Ryan dengan tubuh kuatnya menerima seluruh serangan itu, darah keluar dari tubuh remaja perkasa itu tapi sosoknya tidak tumbang meski menerima puluhan sihir angin secara langsung.
Ryan yang berlumuran darah berdiri bagaikan sosok monster di hadapan para lawan.
"kalian".
Suara dengan nafas berat terdengar.
"mana temen gw".
Sosoknya mengintimidasi lawan.
"MANA TEMEN GW?, LU APAIN TEMEN GW?".
Ryan dengan seluruh amarahnya berlari menghajar seluruh lawan yang melesatkan sihir angin, nyali para penjaga yang lain seketika menurun melihat ketangguhan sosok Ryan, mereka berusaha kabur tapi sihir es milik Yuni menghalangi mereka untuk itu.
Yuni dengan tatapan kosongnya bagaikan mesin pembeku, hampa dan mematikan, dengan sekejap dia membekukan beberapa kaki para lawan sehingga tidak bisa bergerak.
__ADS_1
Dinda yang menyaksikan itu semua menjadi bertanya-tanya, dari segi kemampuan mereka seharusnya sudah setara dengan dirinya.
"mereka berdua ini, apakah memang ranking E?".