Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 20.Hasrat


__ADS_3

"kak Silva, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini".


"akhirnya, aku mendapatkannya, bertahun-tahun aku mengharapkannya dan akhirnya menjadi kenyataan".


Air mata Arva mengalir, dengan lengan bajunya dia mengusap air matanya.


"dengan begini, aku bisa membela diri, dengan ini".


Arva teringat kejadian penyerangan pada malam itu, rasa sakit dari sambaran masih bisa terbayang olehnya.


"siapapun yang melakukan itu, pasti akan ku temukan dan dengan kekuatan ku ini, akan ku hancurkan dia".


Arva memegang tangan kakaknya.


"jadi kak Silva tenang saja, aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu, aku tidak lemah, jadi, tidak perlu mengkhawatirkan aku".


Para pasukan Leina berbaris, dengan perlengkapan tempur yang lengkap mereka berdiri dengan gagahnya, Leina datang memasuki kamar Silva untuk menjemputnya, memindahkan sang pahlawan ke kota yang jauh lebih besar, Kota Meriva.


"apa sudah boleh aku bawa?".


"iya, silahkan, tolong jaga kakakku".


Dengan bermodalkan peti mati yang mewah di sertai hiasan emas dan perak, Silva di bawa dengan keamanan yang tinggi, tidak ada satupun pasukan kecuali memiliki tingkat perlengkapan dan kekuatan tinggi menjaganya.


Seluruh penduduk kota Zatar beramai-ramai menyaksikan tubuh sang pahlawan di bawa pergi dari kotanya, tidak sedikit dari mereka menangis karena teringat jasa yang di lakukan oleh Silva.


Arva yang melihat betapa antusiasnya orang-orang dalam menghargai kakaknya menandakan betapa berjasanya kakaknya di masa lalu, dengan berlinang air mata dan sambil mengucapkan selamat jumpa, dia bangga memiliki kakak yang menyandang julukan pahlawan.


Ryan dan Yuni berdiri di samping Arva sambil menyemangatinya, Dinda yang tidak jauh dari lokasi mereka berusaha untuk mengusap air matanya, dia malu jika teman-temanya melihatnya menangis.


Hari ini, tercatat dalam sejarah, pemindahan tubuh sang pahlawan Silva, di abadikan dalam tugu kota Zatar sebagai tanda kebanggaan, karena di kota yang kecil ini, sempat singgah tubuh pahlawan yang mulia.


.....


....


...


..

__ADS_1


.


Satu bulan telah berlalu, kehidupan berjalan seperti biasanya, Ryan dan Yuni mendapatkan promosi naik ranking karena keberhasilan dan kelayakan mereka, sedangkan Arva tidak, menurut para penilai dia tidak terlalu berperan besar dalam misi, meski begitu dia mendapatkan penghargaan karena telah ikut berjasa dalam penyelamatan para elf yang di jadikan budak.


Di sebuah hutan, Arva dengan sebuah senjata rakitan pada tangannya sedang membidik sebuah burung, begitu pelatuk di tekan sebuah peluru keluar dari arah belakang senjata dan nyaris mengenai kepalanya, suara yang di hasilkan membuat burung yang menjadi sasaran melarikan diri.


Hampir saja peluru itu menembus kepalanya.


"lagi-lagi, kurasa aku salah memahami sistem pada senjata ini".


Arva berjalan menuju tendanya, terlihat berbagai macam perkakas dan besi-besi, dia membongkar senjata rakitan yang hampir membunuhnya dan mencoba menemukan masalahnya.


"seharusnya jika teori ku benar, ada masalah pada sistem area pelatuk, sehingga membuat pelurunya tidak keluar dari tempat yang aku inginkan, nyaris aja, bergeser sedikit aku pasti akan mati".


Arva kembali merakit ulang senjatanya, dengan keterbatasan informasi dia mencoba segala macam teori yang ada di kepalanya, senjata besar yang dia temukan di dalam gua masih tersimpan rapi, Arva memutuskan untuk tidak menggunakannya dulu, menunggu momen yang tepat.


"mungkin dengan begini, bisa".


Senjatanya kembali terbentuk, Arva siap mencoba lagi, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan, suara itu terdengar tidak jauh.


Arva membawa senjata rakitannya dan memutuskan untuk memeriksa, langkahnya sempat terhenti karena bimbang apakah dia harus membawa senjata besar itu, setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya dia memutuskan untuk membawanya.


Senjata besar itu terasa berat, dia seperti membawa tumpukan besi, dengan hati-hati dia menuruni bukit, suara teriakan terasa semakin keras.


Dari balik pepohonan Arva mengintip, dia melihat sekawanan perampok yang berusaha mengambil barang-barang dari kelompok pedagang, salah satu dari perampok itu terlihat ingin melecehkan gadis dari kelompok pedagang.


"jumlahnya ada enam, satu kepala untuk satu peluru, apakah akan berhasil?".


Dia bimbang, jika sampai senjata rakitan nya yang kali ini juga tidak berhasil, maka pilihan satu-satunya hanyalah lari.


Para pedagang terlihat tidak kuasa melihat anak gadis mereka akan di lecehkan, Arva yang merasa kondisi tidak akan menunggunya membuat keputusan untuk melawan, dia membidik orang yang akan melakukan hal yang tidak terpuji pada gadis itu.


Dan ketika matanya sudah mengunci target.


"DOR!".


Kepala orang itu pecah, sang gadis teriak histeris sedangkan kawanan perampok menjadi panik karena mereka tidak melihat dari mana serangan itu.


Arva tersenyum, jantungnya berdebar kencang, dia senang kegirangan karena akhirnya senjata yang di buat berhasil.

__ADS_1


"selanjutnya, aku harus mencoba lagi".


Dengan perasaan senang dia menarget kepala berikutnya, satu tembakan di tekan memecahkan kepala orang tersebut, lagi-lagi para perampok tidak melihat dari mana arah serangannya.


"tinggal empat, tinggal empat".


Sekali lagi Arva membidik dan satu lagi kepala hancur karena pelurunya.


"tiga".


Satu tembakan terdengar lagi.


"dua".


Dua perampok yang tersisa berusaha mencari lokasi Arva, salah satu dari mereka menemukannya, dengan bringas mereka berlari sambil menyerang Arva dengan serangan magis.


Arva berlari, dengan memanfaatkan pepohonan dan semak-semak dia menyembunyikan dirinya, para perampok kehilangan jejaknya, dari tempat yang tidak di sadari mereka Arva kembali membidik dan.


"DOR!".


Satu lagi orang mati di tangannya, tertinggal satu perampok Arva kembali membidik tapi dia berubah pikiran, dia ingin mencoba sesuatu.


Perampok yang tersisa seketika menjadi takut, melihat teman-temannya mati satu persatu dalam waktu singkat terasa aneh baginya, dia berlari berusaha menjauh dari lokasi itu, tapi langkahnya terhenti karena tidak jauh dari posisinya dia melihat Arva yang tengah berdiri sambil memegang senjata besar.


"JADI KAU YANG MEMBUNUH TEMAN-TEMAN KU?".


Arva hanya diam, tidak menjawab.


"JANGAN DIAM, KATAKAN SESUATU!".


Arva tetap tidak merespon, karena muak tidak mendapatkan jawaban, perampok itu menggunakan sihir anginnya dan terbang menuju Arva sambil bersiap-siap menikamnya dengan sebuah pisau.


Arva dengan tenang mengarahkan senjata besarnya ke perampok yang akan menyerangnya, dia membidik tubuhnya, begitu pelatuk di tekan daya tembakan yang kuat termuntahkan dan Arva terdorong ke belakang.


Kuatnya daya tembakan membuatnya terlempar, dengan keadaan setengah panik karena tidak menduga hal ini dia bersiaga sambil menodongkan senjatanya ke segala arah, mengantisipasi serangan lawan, selang beberapa waktu tidak ada yang terjadi.


Dalam kondisi masih setengah takut Arva memeriksa apa yang terjadi pada perampok tadi, dia menemukan tubuhnya hancur berlubang karena tembakan dari senjatanya, melihat pemandangan seperti itu Arva tidak takut, dia malah senang kegirangan.


"hebat, hebat!, jadi inikah yang namanya shotgun, sangat luar biasa, hahahaha".

__ADS_1


Tawanya terdengar sampai ke seluruh hutan, para pedagang yang mendengar tawanya merasa ketakutan, dia seperti mendengar suara iblis.


"HAHAHAHAHHA!".


__ADS_2