Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 15. Target monster


__ADS_3

Memulai perburuan, mereka memasuki hutan yang sangat gelap, semakin masuk suasana semakin terasa tidak enak seolah mereka sedang di intai oleh sesuatu.


Arva berjalan dengan perasaan penuh was-was, dia yang satu-satunya tidak memiliki kekuatan pastinya akan menjadi incaran yang empuk.


Yuni terus menempel di belakang Arva sambil sesekali melihat keadaan sekelilingnya, gelapnya suasana hutan membuatnya menjadi ketakutan.


Ryan yang merasa perlindungan tim merupakan tanggung jawabnya terus mengikuti barisan sambil berjalan mundur, dengan pedang kayu dan perisai yang dia dapatkan dari tempat rosokan dengan gagah berani dia menjaga daerah belakang.


"bisa jalan lebih cepat lagi?".


Dinda yang berada di barisan paling depan ternyata sudah berjalan cukup jauh di depan, di rasa jarak mereka dengan Dinda terlalu jauh mereka berlari mendekati Dinda.


"Yuni lepaskan pelukan mu dari Arva, kau membuatnya sulit berjalan, dan Ryan jangan berjalan mundur, kau terlihat seperti orang bodoh".


"ma-maaf".


Yuni melepaskan pelukannya, Ryan hanya diam tanpa berkomentar, dia membalikkan badannya dan mulai berjalan maju.


"maaf Dinda, mereka berdua hanya mencoba membantu dengan cara mereka, tolong jangan terlalu keras pada mereka".


"bukan itu masalahnya, hutan ini terlalu luas dan aku ingin menyelesaikan misi ini secepatnya, aku tidak ingin sampai harus menginap di tempat yang random seperti ini, aku setidaknya harus tidur di hotel bintang lima agar kecantikan kulit ku tidak terganggu".


Arva terdiam, dia bingung harus menjawab seperti apa kata-kata Dinda.


"paham kan?, ayo percepat jalan kalian".


Mereka mempercepat jalan mereka menyesuaikan tempo jalan Dinda, masuk semakin dalam ke hutan hawa terasa semakin dingin, Ryan dan Arva mulai mengeluarkan embun pada nafas mereka, Yuni yang memang merupakan penyihir es tidak terpengaruh sedikit pun dengan keadaan.


Dinda yang berada di depan tetap berjalan dengan tempo yang sama walaupun nafas nya mengeluarkan embun, di tengah dinginnya hawa Dinda masih berjalan dengan semangat yang sama membuat Arva terkagum pada gadis berambut pirang itu, ketangguhannya membuktikan bahwa dia adalah gadis yang tidak manja.


Langkah Dinda terhenti, terlihat pergerakan dari arah depan.


"semua hati-hati, kita sudah masuk wilayah monster landak itu, persiapkan diri kalian".


Dinda berjalan mundur mendekati Arva, Ryan dengan perlengkapan seadanya berlari mengambil posisi paling depan, dengan perisai ala kadarnya dia membuat posisi bertahan.

__ADS_1


Mata Yuni menyala, warna biru laut yang memukau terpancar dari kedua matanya mengartikan sihirnya telah aktif.


"oh, mereka berdua tau harus apa ya, hebat juga, lumayan rakyat miskin".


"kami telah berpetualang bersama untuk waktu yang lama, ini sudah menjadi kebiasaan kami".


Yuni menjelaskan sambil berjalan maju mengambil posisi tepat di belakang Ryan.


"oi cewek sultan, lu janji bakal lindungi si bro kan?".


"tenang saja, aku akan melindungi Arva, kalian fokuslah bertarung".


"gw pegang kata-kata lu".


Tampang Ryan berubah menjadi serius, Dinda terdiam melihat sosok Ryan dan Yuni yang dia kenal sebagai orang lugu dan biasa saja kini berubah drastis ketika di hadapkan dalam kondisi seperti ini.


Keseriusan mereka mengalahkan rasa takut mereka.


Pergerakan terlihat, sebuah sosok meloncat ke arah Ryan, sosok itu berputar-putar bagaikan bola, Ryan dengan perisainya menahan kedatangan sosok itu.


Gesekan antara putaran sosok itu dengan perisainya menimbulkan percikan, dengan kokoh Ryan mempertahankan posisinya sampai sosok itu melompat menjauh.


Yuni melapisi perisai milik Ryan dengan sihir esnya, dia juga membekukan tanah di daerah sekitar, dengan sihir esnya dia melapisi semua kaki teman-temannya.


"oh apa ini?".


Sepatu kaca Dinda ikut membeku.


"Yuni melapisi kaki kita agar mudah bergerak di atas Medan yang membeku, dengan begini kita bisa bergerak lebih cepat".


Dinda melihat kaki Arva, sepatunya juga di lapisi es.


"itu artinya kau juga bisa bergerak cepat?".


"iya, walau seharusnya Yuni tidak perlu melakukan itu padaku, aku hanya perlu bersembunyi di tempat yang aman sampai mereka selesai bertarung".

__ADS_1


"kau seharusnya tidak boleh berkata seperti itu, Yuni melakukan itu mengartikan betapa berharganya kau bagi mereka".


Kata-kata Dinda mengejutkan Arva, dengan kata-katanya Arva seolah dibuat sadar betapa pedulinya teman-temannya padanya, dia malu akan kata-kata Dinda dan menundukkan kepalanya.


Monster landak kembali berputar, gerakannya yang gesit dengan cepat menabrak perisai Ryan, Ryan dengan posisi yang sama bertahan tanpa merasa kesulitan, malahan setiap kali monster landak menyerang dia terkena efek beku dari kekuatan Yuni, membuat pergerakannya melambat.


Yuni mengeluarkan energi es di tangannya mengubahnya menjadi badai kecil, badai itu seketika membekukan sebagian tubuh monster, Ryan dengan perisainya mengambil langkah maju, dengan tenaga pada otot tangannya dia menghantamkan perisainya, membuat tubuh monster landak yang membeku hancur menjadi serpihan kecil.


Monster landak menjaga jarak, walaupun sebagian tubuhnya hancur monster itu nampaknya tidak melemah, monster itu berputar dengan kecepatan yang jauh lebih cepat, gerakannya berubah menjadi semakin lincah.


Monster itu mendaratkan serangan dengan sangat cepat pada perisai Ryan, kecepatannya membuatnya dapat menyerang tanpa tekena efek beku, serangan yang bertubi-tubi membuat Ryan tidak punya pilihan lain selain mempertahankan posisinya.


Yuni bergerak berselancar di atas medan es, dengan kekuatan es nya dia menembakkan bola-bola sihir membantu mengurangi intensitas serangan musuh.


"oh Yuni yang seorang penyihir tapi dia bertarung dengan sangat dekat seperti itu, cara bertarung yang tidak biasa, apa semua penyihir miskin seperti ini ya?".


Dinda mengamati pertarungan sambil berkomentar.


Serangan es Yuni yang bertubi-tubi membuahkan hasil, monster landak menghentikan serangannya karena terganggu oleh serangan Yuni, perisai milik Ryan mengalami kerusakan parah, retakannya melebar dan akhirnya hancur, menyisakan pedang kayu pada tangannya.


Yuni melapisi pedang kayu milik Ryan dengan ketebalan es yang berlipat ganda memperkuat pedang kayu itu agar tidak mudah hancur.


Ryan membuang perisainya, dengan bermodalkan satu-satunya senjatanya dia memasang kuda-kuda bela diri.


"biasanya kesatria akan mundur ketika perisainya hancur, tapi dia dengan senjata murah itu tetap melanjutkan pertarungan, sangat bar-bar, sepertinya rumor soal dia memeluk beruang api itu benar".


Dinda tersenyum melihat pertarungan.


Pertarungan terjadi dengan begitu sengit, Yuni yang bergerak sangat cepat sambil terus melesatkan serangan es, Ryan yang terus menahan serangan lawan dan monster yang terus menerus bergerak dengan lincah sambil menyerang menjadikan alur pertarungan seolah tiada akhir.


Masing-masing pihak tidak memberikan celah pada lawan mereka.


Dinda menjadi bersemangat, dia menarik senjata rapiernya dan berkeinginan untuk ikut bertarung, tapi keinginan nya di tentang oleh Yuni dan Ryan.


"CEWEK SULTAN INGAT JANJI LU, LU JANJI KE KITA APA?".

__ADS_1


Teriakan Ryan menghentikan dirinya, dia dengan wajah cemberut memasukkan kembali senjatanya dan kembali ke posisi semula yaitu menjaga Arva.


Pertarungan semakin memanas, di hutan yang gelap dan sunyi suara pertarungan mereka menggema ke seluruh hutan.


__ADS_2