
"segera cari di setiap sudut, periksa juga setiap ruangan kosong, dan tempatkan beberapa orang untuk menjaga area atap, mengingat kondisi mental pasien bisa saja terjadi hal buruk".
Seluruh perawat dan penjaga menjawab dengan serempak dengan jawaban siap, setelah mendapatkan instruksi dari kepala rumah sakit mereka semua berpencar mencari Arva, tidak lupa Yuni dan Ryan juga ikut serta.
Mencari ke segala bangunan rumah sakit secara diam-diam tanpa membuat gaduh demi menjaga kenyamanan pasien lain, ruangan demi ruangan mereka periksa, setiap sudut mereka cek, dan setiap jalan menuju area atap mereka jaga, tidak ada satupun dari mereka yang melihat sosok Arva.
Pikiran negatif mulai menyerang pikiran mereka, berbagai macam kemungkinan apa yang akan terjadi mulai terbayang di pikiran Yuni dan Ryan.
"a-apa jangan-jangan Arva pergi keluar?".
"mungkin aja mbak bro, dari tadi di cari kagak ketemu".
" ba-bagaimana ini Ryan?".
Ryan terdiam, dia berusaha berpikir, dia berangan-angan kira-kira di keadaan seperti ini solusi macam apa yang sekiranya akan Arva pikirkan, kepalanya terasa pusing, perasaan panik dan perasaan seperti di kejar waktu membuatnya tidak bisa berpikir.
"AARRRHH!, OTAK GW MACET!".
" R-Ryan jangan berteriak".
"sorry mbak bro, kepala gw pusing, gini aja, kalau kayak gini ujung-ujungnya bakal lambat, mbak bro ama perawat tetep berjaga dan cari di sekitar rumah sakit, gw ama petugas keamanan kota bakal cari di luar dengan sekala besar".
"ka-kalau begitu aku juga ikut cari di luar Ryan".
"jangan mbak bro, mending mbak bro tetep di sini aja, bukan nya apa, tapi gw tetep khawatir ama mbaknya si bro".
Yuni teringat Silva, Ryan benar alasan kenapa Arva bisa terluka seperti ini karena ada seseorang yang mengincar dia dan kakaknya, demi berjaga-jaga Yuni tetap berada di rumah sakit dan ikut menjaga Silva, keamanan rumah sakit tentunya akan membantu tapi akan jauh lebih membantu kalau orang yang berjaga di sisi Silva adalah orang yang kenal dekat dengannya, demi meminimalisir kemungkinan penyusup.
"tolong ya mbak bro".
Yuni menunduk terdiam beberapa saat, di dalam hatinya sebenarnya dia sangat ingin ikut mencari Arva, tapi dia sadar bahwa dia punya peran lain, Yuni mengangkat wajahnya dan melihat langsung wajah Ryan.
"tolong bawa Arva kembali".
"pasti mbak bro, pasti".
Ryan langsung berlari keluar menuju pusat administrasi, Yuni yang berdiri di depan pintu rumah sakit terdiam melihat langit, mimik sedih dan khawatir memenuhi wajahnya, tak terasa air matanya mengalir, mengalir turun menuju pipinya.
Perlahan air mata itu berubah warna menjadi putih dan membeku, kelopak mata Yuni yang berwarna kebiruan memantulkan cahaya bagaikan kristal, dengan merapatkan kedua tangannya dia berdoa.
"oh tuhan".
"tolong jaga Arva".
....
...
..
.
Dingin, kenapa di saat seperti ini turun hujan, kenapa semua berjalan tidak sesuai dengan keinginan ku, apa dosaku, apa kesalahan ku, kenapa harus aku.
Akan ku buktikan kepada mereka, akan ku buktikan kepada dunia, bahwa aku bukan sampah, aku tidak cacat, aku ada aku nyata, aku....., tidak selemah itu.
"GRRRRRGHH!".
Monster?, atau beruang?, kelihatan seperti beruang tapi dari ukuran bentuk dan cakarnya sudah jelas ini monster.
"GRRRROOOAAAARRR!".
__ADS_1
Iya, itu yang aku inginkan, monster memang harus bereaksi seperti itu, akan ku buktikan, akan ku buktikan, dengan pisau di tangan ku ini, dengan benda sederhana seperti ini, aku akan membuktikan bahwa aku tidak lemah.
"GGRROOAAARRRR!".
Beruang ini mulai berlari ke arah ku, bagus sesuai prediksi ku, lihat ini, orang yang kalian anggap sampah, tidak berguna, cacat dan tak pantas hidup ini akan mengukir sejarah, ya, aku akan mengukir sejarah, aku akan membuat mereka semua menyesal.
"GGRRRRRROOOOOAAAARRR!".
"MAJU KAU MONSTER!, AKAN KU BUNUH KAU DISINI!".
....
...
..
.
Para petugas keamanan kota Zatar berkumpul di depan gedung pusat administrasi, dengan seragam, senjata, dan perlengkapan.
Mereka berbaris bagaikan pasukan tentara, Ryan berdiri di samping pasukan bersama nona petugas administrasi, di depan pasukan keamanan terdapat seorang pria yang merupakan ras elf memberikan aba-aba pasukan untuk bergerak, sekata dua kata dia lontarkan untuk memberikan semangat kepada pasukan.
"HIDUP MATINYA ARVA MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB KOTA ZATAR, WAHAI TEMAN-TEMAN KU, AYO IKUT MAJU BERSAMA KU" .
Seluruh pasukan dengan tegas memberikan jawaban, tanpa aba-aba mereka membagi diri mereka menjadi beberapa kelompok dan berpencar ke segala arah, Utara selatan barat timur mereka jelajahi sambil meneriakkan nama Arva.
Ryan yang berada di kelompok yang sama dengan pemimpin pasukan memberikan ucapan terima kasih atas bantuan yang di berikan, pria elf itu dengan rendah hati menjawab ucapan terima kasih Ryan dan memberikan dukungan moral dengan mengatakan bahwa Arva pasti akan di temukan.
Di udara yang dingin di sertai hujan tidak menurunkan semangat mereka, di tengah perjalanan pencarian kelompok Ryan bertemu dengan grup petualang yang baru saja menyelesaikan tugas.
"hei lihat itu pemimpin kota Zatar, tuan Flarin".
Para petualang menyapa kelompok Ryan, kelompok Ryan pun berhenti sejenak sembari ingin menanyakan apakah mereka melihat orang yang di cari.
"aduh, udah punya pacar belum ya mas Flarin".
Flarin yang merupakan pimpinan kelompok turun dari tunggangan nya dan menanyakan beberapa pertanyaan, mengetahui ada seseorang yang menghilang para petualang ingin membantu proses pencarian, tapi ketika nama Arva di sebutkan, ekspresi wajah mereka berubah.
"oh maaf tuan Flarin, kami tiba-tiba ingat bahwa kami ada janji".
"aduh maaf ya mas ganteng, kapan-kapan mungkin kami bisa bantu".
"begitu ya, tidak masalah, terima kasih sudah meluangkan waktu".
Para petualang itu berpamitan kemudian pergi melanjutkan perjalanan, Ryan tidak terkejut melihat reaksi para petualang itu ketika mendengar nama Arva, para petugas keamanan mulai berbisik-bisik di belakang setelah melihat kejadian tersebut.
"jadi benar ya Arva di benci oleh penduduk balik portal".
"kupikir itu hanya rumor".
"kasian sekali, padahal dia juga penduduk balik portal, hidup di sana pasti keras ya".
"sssstt!, jangan keras-keras nanti tuan Flarin dengar".
Flarin tidak berkomentar apapun, dia kembali naik ke tunggangannya dan memberikan perintah untuk kembali melakukan pencarian.
Hujan semakin deras dan badai semakin kencang membuat pencarian semakin sulit, beberapa tunggangan tidak mau bergerak karena kencangnya badai.
Pohon-pohon memiring sampai ada di antaranya terjatuh karena kencangnya tiupan badai.
"TUAN FLARIN, BADAI SEMAKIN TIDAK KARUAN, TIDAK MUNGKIN UNTUK TERUS MELAKUKAN PENCARIAN" .
__ADS_1
Para personil kewalahan untuk melakukan pencarian di kala badai seperti ini, Flarin yang selaku pemimpin di paksa untuk segera memberikan keputusan, pilihan yang sulit, apakah dia harus memilih berhenti atau melanjutkan, masing-masing pilihan beresiko mempertaruhkan nyawa.
Di saat dia sedang berpikir Ryan tiba-tiba mendekat dan membisikan sesuatu.
"Pak Flarin, terima kasih sudah bantu, untuk selanjutnya biar gw sendiri yang jalan".
Flarin melihat Ryan dengan tatapan terkejut, di tengah cuaca seperti ini dia nekat ingin melanjutkan perjalanan seorang diri, Flarin membalas bisikan Ryan tanpa melihat ke arahnya.
"tenangkan diri anda mas Ryan, akan sangat berbahaya jika pergi di cuaca seperti ini".
"gw tau pak, tapi, temen gw, Arva".
Flarin menepuk pundak Ryan sambil membisikkan kata "sebentar", Flarin berjalan menuju pasukannya dan mengatakan beberapa hal, di karenakan badai hujan Ryan tidak bisa mendengar apa yang Flarin katakan kepada pasukannya.
Tidak lama dari itu Flarin kembali ke Ryan dan menanyakan kematangan niatnya dalam menembus badai ini demi mencari Arva, dengan jawaban yang tegas tanpa keraguan Ryan memberikan jawaban positif.
Flarin pun memberikan sebuah tas berisikan perlengkapan dan logistik, dia juga memberikan aba-aba kepada anak buahnya, para personil yang melihat itu bergegas membangun sebuah camp darurat kecil.
" ni?, apa maksud nya ya pak?".
"kita akan berangkat berdua mas Ryan, anak buah saya akan bersiaga di sini mendirikan camp darurat sementara kita bergerak maju".
"bentar pak, ini berbahaya loh, yakin?".
"ini berbahaya juga mas Ryan, mas nya juga yakin?".
Pertanyaan balik dari Flarin membuat Ryan seperti orang bodoh, dari situ Ryan merasa kesungguhan dari Flarin untuk membantu, di tengah badai yang ganas ini mereka berdua berjalan mencari satu orang yang tidak di ketahui keberadaannya.
....
...
..
.
badai?, hahahaha, satu demi satu kutukan takdir mulai datang, aku penasaran apa lagi yang akan datang setelah badai ini.
" GRRRRRRR!".
Pisau tidak berguna ini hanya bisa merobek sedikit, sementara cakar miliknya mampu merobek batang pohon yang tebal, benar-benar keadilan yang benar-benar adil.
Adil ya.
Hahahaha.
"GRRRRRRRR!".
Monster itu berhenti bergerak, apa karena badai ini, sial ini kesempatan ku tapi tubuh ku terasa lemas di gerakkan.
Apa aku harus memikirkan cara lain?, sepertinya, tapi apa yang harus ku lakukan di saat tubuh ku mati rasa seperti ini.
Mati rasa?, oh iya, entah kenapa tubuhku terasa sangat hampa, hambar, tidak ada rasa apapun, rasa sakit pun tidak kurasakan, apakah ini kemajuan?.
Entahlah aku tidak tau, tapi yang pasti ini akan sangat membantu karena rasa sakit sering kali mengganggu konsentrasi ku.
"HHHRRRRRR".
Suaranya semakin pelan, sepertinya monster itu sudah mulai lengah, berpikir bahwa aku sudah mati adalah kesalahan besar monster bodoh, dengan begini kesempatan dan keberhasilan ku untuk membunuhnya semakin besar.
Hmmm, apa ini?, aku kesulitan untuk berdiri, sepertinya aku harus segera bertindak dan membunuhnya sebelum aku kehabisan waktu, iya, aku ragu akan berhasil kalau kesempatan ini aku lewatkan, tapi itu bukan berarti aku harus gegabah, tenang, harus tenang.
__ADS_1
Harus tepat sesuai rencana, ku harap ini berhasil, karena aku sudah banyak kehilangan darah.