
Arva dan yang lain dengan menaiki kereta kuda menuju lokasi misi berada, terdengar dari dalam tempat penumpang suara Yuni dan Dinda berbincang-bincang.
Yuni masih berbicara dengan nada pelan, sesekali kata-katanya terbata-bata, sepertinya dia masih takut terhadap Dinda.
Sementara itu Arva dan Ryan berada di posisi luar, Ryan di kursi supir sedangkan Arva berada di sampingnya.
"emang kalau kuda mahal pasti cepet ya, ngak makan setengah hari udah hampir sampe".
"semakin mahal maka kuda akan semakin cepat, jadi ada harga ada barang, tidak mengherankan".
Dari kejauhan Arva melihat sebuah hutan lebat, sangat lebat sampai cahaya matahari tidak mampu menembusnya, kegelapan terlihat sangat pekat.
"itu tempat nya ya?".
tanya Arva kepada Ryan sambil menunjuk.
"ya kayaknya, gw pakir dimana nih?, ngak mungkin kita bawa masuk ke hutan kan nih kereta kuda?".
Arva melihat daerah sekeliling mencari lahan yang pas untuk memarkirkan kereta kuda mereka, terlihat lahan kosong yang lumayan luas, Arva menyarankan Ryan untuk parkir di sana.
Ryan membelokkan arah kuda ke lahan kosong, setelah itu dia mengatur kecepatan kuda agar sedikit menurun, sesampainya Ryan kemudian memarkirkan kereta kuda di bawah sebuah pohon pada lahan kosong, dengan harapan agar kuda-kudanya tidak kepanasan.
Dinda dan Yuni keluar dari kereta kuda, Yuni kelihatan berkeringat, sepertinya dia benar-benar takut kepada Dinda.
"lumayan juga cara mu mengemudikan kuda orang miskin, hebat-hebat".
Puji Dinda sambil menepukkan kedua tangannya.
"Halah, lu puji kagak ada senengnya gw".
"R-Ryan sudah".
Yuni berusaha menenangkan Ryan yang terlihat jengkel.
"jadi?, dimana lokasi misi kita?, pastinya bukan di tanah lapang ini kan".
Kata Dinda sambil melihat ke daerah sekelilingnya.
"di hutan sana, kita terpaksa parkir di sini karena tidak memungkinkan untuk memarkir di sana".
"jadi kita akan berjalan kaki?".
Pertanyaan Dinda sulit di jawab oleh Arva, mengingat bahwa dia adalah orang yang tidak suka berjalan kemungkinan besar dia akan marah, Arva mencoba untuk berkata dengan hati-hati.
"iya, tapi tidak jauh, tepat di depan sana".
Dina melihat ke arah yang di tunjuk oleh Arva.
"oh gitu, yasudah, ayo berangkat".
Betapa mengejutkannya, ternyata Dinda tidak marah, Arva bersyukur dengan hal ini.
Mereka berjalan hingga sampai di depan hutan, dari tempat mereka berdiri hutan terlihat sangat gelap sampai mereka tidak bisa melihat bagaimana keadaan dalam hutan.
__ADS_1
"ge-gelap ya".
Yuni terlihat takut.
"jadi, kita disini hanya perlu membunuh monster landak kan?".
Tanya Dinda sambil melihat ke atas pepohonan.
Arva mengambil selembaran misi, dia membacakan rincian misi kepada mereka semua sebagai pengingat, misi rank D, target misi memburu monster landak pada hutan lebat, hadiah misi berjumlah lima keping perak.
"gw tau ini udah telat, tapi ngeburu satu monster rank D, hadiah cuman gopek, nih yakin mau di lanjutin?, gw cuma bawa perisai besi ama pedang kayu loh, duit gw ludes semua, hadiah kompensasi juga udah abis, lagian kita-kita ini kan rank E".
"i-iya, aku juga cuma bisa sihir es, apa kita benar-benar bisa mengalahkan monster itu?".
Ryan dan Yuni tampak ragu dengan diri mereka, Dinda kemudian berjalan dan berdiri di depan mereka berdua, menatap langsung ke mata mereka.
Ryan yang merasa bahwa akan datang sebuah tamparan menggunakan Yuni sebagai tameng, Yuni yang ketakutan menutup kedua wajahnya sambil memohon untuk tidak di tampar.
Dinda menaikkan satu alisnya merasa aneh dengan tingkah mereka berdua.
"tenang saja, kalian pernah mengalahkan monster rank D kan, itu artinya kalian punya kemampuan untuk itu, selain itu ada aku disini, senior kalian, petualang rank C dengan kemampuan luar biasa".
Ryan dan Yuni melihat Dinda dari kaki sampai kepala, ekspresi wajah mereka terlihat meragukan kemampuan Dinda.
"tidak sopan, orang miskin seperti kalian seharusnya lebih menghargai aku".
"anu ya mbak sultan, gini loh, pakaian lu itu emangnya cocok buat bertarung?".
Dinda masih mengenakan gaun biru, pakaian yang sama sewaktu dia baru pertama kali bertemu dengan Arva.
"bu-bukan soal harga Dinda".
kata Yuni yang masih menutupi kedua wajahnya.
"tuh gaun mahal apa kagak bodoh amat, yang jadi soal itu, tu baju mahal cocok kagak buat lawan monster".
Dinda dengan senyum sombongnya memperlihatkan sebuah senjata rapier yang terpasang di pinggangnya.
"soal baju tidak masalah, aku sudah terbiasa mengenakan baju yang indah dan mahal untuk bertarung, yang penting adalah selama aku punya senjata ini, monster macam apapun bisa di kalahkan".
"itu bagian mahalnya emang perlu di sebut ya".
Arva datang dan menengahi mereka.
"teman-teman, ini kesempatan yang tidak boleh di lewatkan, jika misi ini berhasil maka kalian akan naik ranking, itu adalah hal yang bagus bukan?".
Yuni dan Ryan terdiam, mereka setuju dengan perkataan Arva.
"hei Arva".
Dina memanggil Arva dengan wajah heran.
"ada apa?".
__ADS_1
"kau juga ikut masuk".
"hah?".
Ryan dan Yuni terkejut mendengar ucapan Dinda.
"oi cewek sultan, jangan lah, biarin si bro jaga kereta kuda aja, ingat mahal, MAHAL, kalau di comot orang gimane?".
"A-Arva le-lebih ba-baik di luar sa-saja".
Ryan dan Yuni berusaha menyakinkan Dinda agar Arva tidak ikut masuk, mereka khawatir karena keadaan hutan yang sangat gelap serta mereka tidak mengetahui seberapa kuat monster yang akan mereka hadapi, mereka takut jika terjadi sesuatu kepada Arva.
"kalau Arva tidak ikut naik rank kan sayang".
Dinda yang heran memiringkan kepalanya.
"si bro itu spesial, dia itu jenius, ngak perlu ranking, jadi biarin dia di luar ya, ya?, mbak cantik".
"to-tolong Dinda, biarkan Arva di luar".
Melihat mereka berdua yang bersikeras memohon agar Arva tidak ikut, Dinda pun menyetujui itu.
"yaudah, Arva berjaga di luar aja".
Ryan dan Yuni pun lega, tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama.
"aku juga akan ikut masuk".
Ryan dan Yuni terkejut mendengar perkataan Arva.
"bro lu yakin, bahaya, jangan!".
"i-iya Arva, jangan!".
"tenang saja, aku akan berhati-hati, benar kata Dinda, kita seharusnya naik rank bersama, jangan khawatir, aku akan baik-baik saja".
Dinda berjalan ke samping Arva.
"tenang saja, kalian cukup bertarung seperti biasa, yang akan melindungi dia adalah aku, sang rank C".
Ryan dan Yuni tampak belum tenang, mereka terlihat ingin menentang keputusan Arva, Dinda yang menyadari hal itu seketika menyampingkan tubuh Yuni dan menampar Ryan yang bersembunyi di baliknya dengan tamparan yang cukup keras sampai menimbulkan suara.
"ADUH..!".
Dinda melihat nya dengan sinis sambil menyiapkan tamparan selanjutnya.
"OK OK, GW SETUJU!".
Ryan berteriak sambil menjauh dari Dinda.
"Yuni, kalau kau tetap mempersulit aku juga akan menampar mu".
Yuni hanya diam sambil mengangguk, pertanda dia paham.
__ADS_1
"bagus semua setuju, kalau begitu, ayo masuk".
Dinda masuk ke dalam hutan memulai perburuan dengan langkah kaki yang santai, Arva dan Yuni mengikutinya dari belakang sambil di sertai perasaan takut, Ryan yang berjalan paling belakang memegangi kedua pipinya yang memerah akibat tamparan Dinda.