Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab.02 : Sesak dan hampa


__ADS_3

"untuk saat ini masih belum ada perkembangan, kami sendiri juga tidak yakin apakah kakak anda bisa sembuh, jika obat yang di perlukan masih belum di temukan, maka, yang bisa menyembuhkannya hanyalah keajaiban".


Seorang dokter dengan seragam kedokterannya memberikan penjelasan dengan mimik sedih di wajahnya.


"jadi memang harus mencari obat dari dimensi lain ya dok?".


"untuk saat ini hanya itu yang bisa menjadi solusi mas Arva, kakak anda terserang racun dari dimensi luar tentu saja obatnya ada di dimensi itu, kami sudah menggerakkan seluruh yang kami bisa, semua bala bantuan di kerahkan untuk menyembuhkan kakak anda, mengingat bahwa kakak anda adalah pahlawan yang mengalahkan raja iblis, tentu saja kakak anda akan menjadi prioritas utama untuk di selamatkan".


"terima kasih atas informasi nya dok".


"sudah menjadi tugas saya mas Arva, kalau ada yang ingin di tanyakan jangan ragu untuk langsung menghubungi saya".


"baik dok".


Dokter pun meninggalkan ruangan, dengan tubuh yang belum prima Arva terduduk lemas di samping tubuh seorang gadis yang terbaring di atas ranjang.


Ruangan terasa sunyi, hanya bunyi dari alat perawatan yang terdengar di telinga, Arva melihat keluar jendela dengan tatapan kosong, dia melamun untuk beberapa saat, berbagai macam hal saling bertabrakan di pikirannya, kerasnya hidup yang dia jalani serta perasaan ketidakadilan karena terlahir secara berbeda membuatnya menanyakan kenapa dia terlahirkan.


"mau sampai kapan takdir akan memperburuk hidup ku".


Dia memandangi wajah kakak perempuannya, satu-satunya sosok keluarga yang dia miliki, gelar pahlawan yang melekat pada kakaknya menggambarkan betapa kuatnya kemampuan kakaknya, dan dia adalah pahlawan yang berhasil mengalahkan raja iblis membawakan kedamaian di dimensi lain, dengan kenyataan seperti ini membuat Arva bertanya-tanya apa yang terjadi pada hari itu, hari di mana kakaknya di temukan dalam keadaan tak sadarkan diri.


"apa yang sebenarnya terjadi kak Silva?, kakak begitu kuat, lebih kuat dari siapapun, lalu kenapa?".


Arva menyandarkan punggungnya, mengistirahatkan tubuhnya, perlahan dia menutup matanya, rasa kantuk mulai menguasai tubuh nya, rasa letih dari aktivitas yang dia lakukan pada hari ini sudah tidak bisa di bendung dan dia pun tertidur.


....


...


..


.


"wah ini ya pahlawan yang mengalahkan raja iblis, tidak hanya kuat tapi juga cantik".


"dia menjadi kebanggaan penduduk dimensi manusia, ketika namanya di sebut seluruh pasukan iblis pasti akan gemetar".


"hebat - hebat, Nona Silva sangat hebat".


"ya benar, Nona Silva sangat hebat, sangat berbanding berbalik dengan anak ini".


Semua mata mengarah pada Arva, tatapan jijik dan sinis menatap tajam ke arahnya, pandangan seperti melihat sampah tergambar jelas di wajah mereka.


"apa kau ini benar-benar adiknya?".


"hei, jangan-jangan dia bukan adik kandung".


"oh masuk akal, pantas saja dia sangat tidak berguna".

__ADS_1


"kasian sekali Nona Silva, harus menanggung beban yang tidak berguna seperti ini".


Suara mereka semakin keras, mereka semakin mendekat, Arva berteriak meminta ampun agar mereka berhenti tapi tidak ada yang mendengarkan, mereka terus melanjutkannya, cacian-cacian terus mereka lempar tanpa henti, Arva berteriak dengan sangat keras menjerit seperti orang kesakitan, perlahan tangan-tangan mereka memegang tubuh Arva dan mencekik lehernya.


Arva membuka matanya lebar-lebar, nafasnya terengah-engah, dia melihat sekeliling dan ternyata itu cuma mimpi, dia melihat kondisi kakaknya dan seperti biasa tidak ada perubahan, Arva berusaha menenangkan diri, keringat bercucuran keluar dari wajahnya.


Langit terlihat gelap menandakan bahwa hari sudah malam, Arva melihat jam yang ada di dinding ruangan, menunjukkan tepat tengah malam, Arva pergi meninggalkan ruangan demi mencari angin segar, rasa letih yang dia rasakan tidak berkurang sedikit pun malahan sekarang terasa lebih letih dari sebelumnya.


Mimpi buruk yang dia alami memperburuk keadaan psikisnya, dia berjalan di lorong bagaikan mayat hidup, lemas dengan tatapan yang kosong.


Di sekitar parkiran area belakang rumah sakit, keadaan begitu sunyi dan gelap satu-satunya penerangan hanyalah berasal dari lampu mesin penjual minuman kaleng, Arva mengeluarkan dompetnya mengambil beberapa koin untuk di masukan ke dalam mesin.


Satu, dua, tiga koin di masukan, menekan beberapa tombol untuk mengkonfirmasi pilihannya, mesin bergerak minuman kaleng bergetar dan, tidak ada yang terjadi.


Tidak ada satupun minuman yang keluar dari mesin, Arva pun mengulangi proses yang sama dan mendapatkan hasil yang sama, dia menghela nafas dan mencoba sekali lagi dan berujung pada hasil yang sama.


Dia menatap mesin itu, tidak bergeming sedikit pun, bagaikan sebuah patung.


Perlahan tangannya mengepal, kepalannya sangat kuat sampai urat pada tangannya terlihat, eskpresi nya tidak berubah, tetap datar dan kosong, tanpa ragu-ragu Arva memukul mesin kaleng itu dengan sangat keras sampai kaca pada mesin itu retak, dia memukul lagi, lagi dan lagi, dia terus mengulanginya tanpa henti, tangannya berdarah-darah karena terluka serpihan kaca.


Rasa sakit tidak lagi dia rasakan, yang dia rasakan hanya lah amarah dan kemuakan atas segala hal yang terjadi menimpa dirinya.


....


...


..


.


Di dalam kegelapan yang sunyi dia menikmati minumannya tegukan demi tegukan, perlahan dia mulai tenang pikirannya menjadi jernih, dia menoleh ke arah mesin yang sudah dia rusak, sambil menggaruk kepalanya dia bertanya-tanya kira-kira berapa harga mesin itu.


Dia melihat jam yang ada di smartphonenya, waktu menunjukkan dini hari, di rasa sudah terlalu lama menghabiskan waktu di luar Arva memutuskan untuk kembali ke kamar kakaknya tapi sebelum itu, dia membersihkan luka yang ada di tangannya.


Berjalan memasuki lorong rumah sakit pada malam hari memberikan sensasi yang berbeda, di sini terasa seperti tempat mati, tidak ada kehidupan semua tampak sunyi, sangat berbeda jauh dengan suasana ketika matahari masih ada di langit.


Ketika sampai di depan kamar kakaknya, Arva menemui sesuatu yang aneh, pintu kamar kakaknya terbuka sedikit.


"apa aku lupa menguncinya?".


Arva tidak ambil pusing, dia masuk ke dalam kamar kakaknya tanpa rasa curiga, di saat itu lah dia melihat seseorang berdiri di samping kakaknya.


Keadaan kamar menjadi sangat gelap, sangat gelap sampai Arva tidak bisa melihat seperti apa orang yang berdiri di depannya, di dalam kegelapan Arva melihat sesuatu bersinar dari jari jemari orang itu, cahaya berwarna kuning yang tampak familiar.


"RAPALAN SIHIR!".


Dari ujung jari orang tersebut keluar petir kecil yang melumpuhkan tubuh Arva, rasa kejut yang dia rasakan membuat seluruh tubuhnya menjadi tidak bisa di gerakkan, dia terjatuh kaku tak berdaya.


Orang itu kembali melakukan rapalan sihir tapi kali ini jauh lebih besar.

__ADS_1


"a-apa yang kau mau?, apa yang kau inginkan?, siapa kau?".


Banyak sekali pertanyaan dalam kepala Arva, keadaan terjadi terlalu cepat sampai tidak ada kesiapan untuk melawan, rapalan sihir itu kini tidak di arahkan ke Arva melainkan ke arah Silva.


Mata Arva melotot, kakaknya kini dalam bahaya, dia berusaha menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa, seluruh tubuhnya terasa mati.


"APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?, HENTIKAN!".


Rapalan sihir kini menjadi semakin terang dan besar, prosesnya hampir selesai, Arva memutar otaknya mencari solusi yang sekiranya bisa menyelamatkan kakaknya, dengan sekuat tenaga yang dia bisa Arva mengangkat kepalanya.


Dia merapatkan giginya untuk memperkuat otot-otot pada sekitar area kepala dan leher, ketika di rasa sudah cukup dia membanting kan kepalanya ke lantai dengan sangat keras membuat kepalanya terluka dan mengeluarkan darah.


Rasa sakit yang dia rasakan menyadarkan saraf pada tubuhnya dengan segera dia bergerak dan menggunakan tubuh nya untuk menghalangi arah sihir orang itu, rapalan sihir pun menghilang dan Arva melihat kilatan cahaya yang sangat terang.


"AAAAAAAARRRRRRGGGGHHHHHHH!".


Sambaran petir yang besar menyambar langsung tepat di tubuh Arva, suara teriakan Arva terdengar sampai ke seluruh area rumah sakit membuat pasien-pasien terbangun dari tidurnya, para penjaga serta para staff yang mendengarnya segera bergegas menuju sumber suara.


Sambaran petir dengan tekanan yang tinggi membuat seluruh tubuh Arva mengalami kerusakan, matanya memutih dan dia kehilangan kesadaran tapi alam bawah sadarnya tetap membuat dirinya berdiri, perasaan ingin melindungi kakaknya dari bahaya membuat tubuhnya secara alami mempertahankan posisinya.


Terdengar suara kerumunan orang mendekat, orang misterius itu melarikan diri dengan melompat dari jendela, sosoknya menghilang di dalam kegelapan malam, sambaran pun berhenti dan Arva masih berdiri kaku di posisi yang sama, para staff dan penjaga yang melihat pemandangan itu segera memberikan pertolongan.


"MAS ARVA! , MAS ARVA!, TOLONG JAWAB PANGGILAN SAYA MAS!".


Dokter berusaha membuat agar Arva tetap sadar, karena tidak ada jawaban dokter memerintahkan agar Arva segera di bawa ke ruangan darurat sementara para penjaga berusaha mengejar pelaku penyerangan.


....


...


..


.


Arva membuka matanya, dia melihat daerah sekitar, ini tampak seperti area dapur di rumah lamanya, dia melihat pantulan dirinya dari cermin, sosok nya yang masih muda memakai seragam SMP.


Arva menyadari sesuatu, dia melihat salah satu pergelangan tangannya berdarah sementara tangannya yang lain memegang pisau dengan bekas darah pada area tajamnya.


"ARVA!".


Terdengar suara gadis berteriak, gadis itu menampar pisau itu dari tangannya hingga terlempar jauh darinya.


"APA YANG KAU LAKUKAN?".


Dengan segera gadis itu mengambil kotak pertolongan pertama, dengan gemetar dia mengobati tangan Arva yang terluka, sambil menangis dia bertanya kenapa Arva melakukan hal ini.


Arva hanya diam, dia tidak tau harus menjawab seperti apa, gadis itu kemudian memeluk Arva dengan erat, terdengar suara tangisannya tepat di telinga Arva, perlahan tangan Arva bergerak membalas pelukan gadis yang menangis itu.


Arva pun merasa sedih karena melihat gadis ini menangis, dengan bisikan suara yang pelan Arva mengucapkan.

__ADS_1


" maaf, kak, Silva".


__ADS_2