
Kejadian penyerangan yang terjadi di rumah sakit Surabaya membuat Indonesia mendapatkan desakan dari berbagai macam negara, mereka menganggap Indonesia tidak serius dalam menangani masalah yang menimpa sang pahlawan Silva.
Di dasarkan atas hal ini mereka menuntut agar sang pahlawan di pindahkan ke negara mereka untuk mendapatkan perlakuan yang lebih layak, tentu saja pihak pemerintahan Indonesia tidak menyetujui hal itu, mereka tetap bersikukuh agar Silva tetap berada di Indonesia walaupun ada di balik portal Surabaya.
Keputusan Indonesia bukan tanpa sebab, dengan adanya Silva di sisi mereka Indonesia menjadi negara yang menyandang kehormatan tertinggi, sebagai pahlawan yang menyelamatkan dunia balik portal Silva tidak hanya memiliki pengaruh di sana melainkan di dimensi manusia juga, dengan pengaruhnya ini apapun tindakan Silva akan menarik perhatian dunia.
Uang, informasi, kekuatan, kini semua berpusat di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai pusat dunia dimana orang-orang akan lebih menginvestasikan hal yang mereka punya ke negara tempat kelahiran sang pahlawan Silva.
Jadi Indonesia khawatir jika sampai Silva di pindahkan walau untuk waktu yang singkat, itu akan mempengaruhi kekuatan Indonesia sebagai pusat dunia, bagi mereka tubuh Silva adalah aset yang berharga.
....
...
..
.
Satu minggu telah berlalu, kondisi ketiga sekawan kini sudah menjadi lebih baik walaupun kondisi Arva dan Ryan belum sepenuhnya sembuh, tapi mereka cukup layak untuk melanjutkan pekerjaan sebagai petualang, sementara Yuni sudah pulih sepenuhnya.
Di pagi hari yang cerah, di sebuah hutan, Arva sedang bersembunyi di balik semak-semak sambil membawa sebuah panah, matanya melihat lurus ke depan, dia mengambil satu anak panah dan mulai membidik.
Samar-samar mulai terdengar suara mendekat, suara lari kaki hewan berkaki empat, dari suaranya mahluk itu sendirian, Arva mengatur nafasnya dengan penuh konsentrasi dia melihat ujung anak panahnya.
Sebuah monster muncul dari semak-semak yang berada tidak jauh dari posisi Arva, dia membidik kepala monster tersebut, anak panah pun di lepaskan dan melesat lurus menancap ke kepala monster berbentuk serigala seketika menewaskan nya.
Arva keluar dari persembunyiannya, dia mendekati mayat monster yang baru saja dia kalahkan, dia mengambil kembali anak panahnya yang menancap, seketika anak panah itu ditarik darah mengalir keluar.
Arva memperhatikan kondisi anak panah nya, bagian ujungnya rusak tidak bisa lagi di gunakan.
"benar-benar tidak efisien".
Arva membuang anak panah itu dan duduk di sebuah pohon sambil memainkan smartphonenya, kata kunci yang dia cari adalah "senjata untuk orang lemah" dia juga sempat mencari "senjata orang jaman dulu".
Sadar atas keterbatasan pada dirinya, Arva mulai melakukan riset untuk dapat menjadi petualang yang ideal tanpa harus menggunakan kekuatan, berbagai macam opsi telah dia temukan mulai dari ilmu bela diri, menyewa pasukan, sampai meminum zat kimia.
Dari semua opsi yang dia temukan tidak ada satupun yang cocok untuknya, dia terus mencari hingga sampai pada sebuah web lama dengan tampilan yang ketinggalan jaman.
"astaga, website jaman batu, tak kusangka website seperti ini masih ada di internet".
Arva mulai membaca artikelnya, website itu memberikan informasi seputar sebuah senjata yang di gunakan di era sebelum adanya portal, terdapat banyak sekali kata yang tidak di mengerti oleh Arva, penamaan pada senjatanya terbilang sangat aneh.
"apa ini, AK 47 huh?, nu-nuklir?, sebenarnya ini website macam apa".
Arva terus membaca, dia yang awalnya tidak tertarik dengan isian artikelnya mulai mengerutkan alisnya, dia membaca tentang efek kerusakan yang dapat di timbulkan oleh senjata-senjata ini.
"satu tembakan mampu membunuh orang, kecepatan serangannya juga sulit di hindari, apa ini?, hebat sekali".
Arva terus membaca, jantungnya berdebar, akhirnya dia menemukan opsi yang cocok untuknya, dia terus mengscroll website itu sampai bawah membaca semua artikelnya.
"hah?, habis, website ini tidak memberitahukan bagaimana cara mendapatkan senjata-senjata ini, sial!, sepertinya aku harus mencarinya sendiri".
Arva mencari informasi dengan kata kunci "senjata api", tapi hasil yang di munculkan sangat tidak memuaskan, bukannya informasi mengenai senjata melainkan hasil-hasil acak lainnya, dia mencoba berbagai macam kata kunci yang sekiranya dapat membantu mendapatkan hasil yang dia inginkan.
Sayangnya tidak ada satupun website yang menginformasikan tentang senjata api, ujung-ujungnya dia kembali lagi ke website awal dia temukan.
"wajar saja, sudah sangat lama sejak era tanpa portal, pastinya senjata-senjata ini sudah lama di lupakan, aku termasuk beruntung menemukan website ini".
__ADS_1
Arva mematikan smartphonenya menyudahi pencariannya, angin berhembus memberikan sensasi sejuk di barengi dengan suara daun pepohonan yang saling bergesekan.
Arva kembali menghidupkan smartphonenya demi memeriksa waktu.
"sudah saatnya berkumpul".
Arva berdiri dan berjalan menuju tempat yang tidak jauh dari posisinya, kedatangan di sambut oleh Ryan dan Yuni.
"gimana bro badan lu, masih ok?".
"tenang saja Ryan, semua terkendali".
"mantap, yaudah kalau gitu kita laporan hasil tugas ya, gw udah bantai sepuluh monster serigala".
Yuni mengangkat tangannya.
"a-aku dapat dua belas".
"sip mbak bro".
"maaf teman-teman, aku hanya berhasil membunuh satu".
"ngak masalah bro, yang penting kita masing-masing dah usaha".
"i-iya, jumlah tugasnya juga sudah tercukupi, hari ini kita berhasil besar".
Arva tersenyum mendengar balasan dari dua sahabatnya.
"terima kasih teman-teman".
Dengan berjalan kaki mereka bergerak menuju kota, di perjalanan Arva hanya diam, dia merasa tugas kali ini terlalu mudah untuk Ryan dan Yuni.
Fakta bahwa mereka pernah mengalahkan monster yang berada satu rank di atas mereka menandakan bahwa potensi mereka sebenarnya bisa jauh lebih berkembang, tapi karena rasa pertemanan mereka terhadap Arva membuat perkembangan mereka berdua jadi terhambat.
"bro lu gapapa, kenapa diam aja?".
"tidak, aku hanya sedang melamun".
"loh loh, hati-hati bro nanti kesambet".
Yuni tertawa mendengar candaan Ryan, Arva tertawa ringan tapi itu dia lakukan untuk menyembunyikan keresahan yang dia rasakan saat ini.
Sesampainya di kota Ryan langsung menghampiri petugas administrasi untuk melaporkan hasil tugas mereka, sementara itu Arva sedang berdiri di depan papan perekrutan, tempat dimana para petualang menempelkan informasi seputar lowongan perekrutan tim.
Yuni berjalan dan menghampiri Arva.
"perekrutan tim ya, apakah menambah anggota tim itu sangat penting?".
Tanya Yuni sambil melihat-lihat selembaran yang menempel pada papan.
"idealnya demi menyelesaikan tugas-tugas berat, tapi kebanyakan karena orang-orang sering berganti-ganti grup atau menambah komposisi tim yang kurang".
"Arva memang genius ya, sampai tau hal seperti ini".
"ini hal umum Yuni, perputaran sosial para petualang sebagian besar di karenakan lowongan-lowongan grup seperti ini".
Arva seketika terpikirkan sesuatu, dia mendapatkan solusi atas keresahannya yaitu menambah anggota, dengan begitu mereka bertiga bisa mengambil tugas yang lebih sulit, dengan begini potensi Ryan dan Yuni bisa berkembang lebih besar.
__ADS_1
Karena mereka tidak ingin Arva pergi dari tim mereka itu berarti satu-satunya pilihan adalah dengan menambah jumlah anggota.
Arva segera bergegas berjalan menuju bagian lain dalam gedung, Yuni yang melihat Arva tiba-tiba berjalan cepat menjadi bertanya-tanya.
"guys ini uangnya, loh?, si bro mana?".
Ryan datang dengan beberapa keping perak di tangannya.
"Arva pergi ke sana, entah kenapa dia tiba-tiba berjalan cepat".
"oh buang hajat, sulit dah, panggilan alam itu emang nggak bisa di lawan".
....
...
..
.
Seorang pria berdiri di tengah badai salju, di hadapannya ada naga es berukuran besar, sisik-sisik pada tubuhnya memancarkan aura dingin, naga es itu membuka mulutnya, berkumpul cahaya biru yang perlahan menjadi sebuah bola es.
Perlahan pria itu mengangkat tangannya mengarah ke naga yang akan menyemburkan semburan es.
Dari langit jatuh sebuah pedang berukuran besar yang memotong leher naga es seketika membunuhnya, pria itu kemudian berjalan dan mengambil sebuah bunga, seperti mawar tapi berwarna biru keputihan yang terbuat dari kristal.
"putih, coba periksa bunga ini".
Muncul sebuah bola cahaya di dekat si pria.
"sayang sekali bukan ini tuan Bima, memang mirip tapi bukan ini yang kita cari".
Rupanya pria itu bernama Bima.
"begitu ya, sayang sekali".
Bima meletakkan kembali bunga itu, terdengar suara geraman, di balik kabut badai ada empat pasang mata yang menyala, rupanya itu adalah naga es lainnya.
Mereka terbang ke arah Bima sambil menyiapkan semburan es di mulutnya.
"terima kasih putih kau boleh pergi".
"baik tuan Bima".
Bola cahaya pun menghilang, Bima berjalan menuju pedang besar yang dia panggil dari langit, seketika Bima menyentuhnya pedang itu berubah menjadi pedang berukuran normal.
Dengan santai dan tenang Bima berjalan menuju empat naga yang siap menyemburnya, cahaya pada mulut naga mengeluarkan asap dingin menyemburkan nafas pembeku, empat semburan mengarah pada satu titik yaitu Bima.
Bima mengubah pedangnya menjadi sebuah perisai untuk menahan semburan dari keempat naga es, sembari menahan serangan mereka Bima tetap berjalan dengan santai seolah serangan mereka tidak berarti apa-apa baginya.
Semburan mereka berhenti, para naga es kembali mengumpulkan nafas dingin di mulutnya, Bima mengubah perisainya menjadi tombak lalu melemparkannya menyamping, tombak itu meleset sangat kencang mengenai ke empat naga es dengan luka lubang yang parah.
Para naga es itu seketika terjatuh ke tanah, mereka kejang-kejang karena luka pada tubuh mereka, perlahan gerakan mereka melemah dan akhirnya mati.
Tombak Bima kembali padanya dengan berlumuran darah naga es, Bima dengan tenang melewati mayat naga-naga yang baru dia bunuh, ekspresinya datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Silva, tunggu aku, pasti akan ku temukan obat itu".
__ADS_1