Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 16. Besi


__ADS_3

Kegesitan monster membuatnya dapat bergerak dengan kecepatan tinggi, merasa pertahanan Ryan terlalu kuat untuk di lawan mata monster kini melirik ke arah Yuni, belokan tajam terjadi tepat di depan mata Ryan, dia paham kemana arah serangan ini.


Yuni yang berselancar sambil menyerang kini mempercepat gerakannya, dia berhenti menyerang dan fokus untuk menghindar, serangan tajam menuju ke dirinya, di detik-detik akan terkena serangan Yuni mendadak melakukan belokan sehingga serangan monster dapat di hindari.


Serangan demi serangan datang tapi tidak ada satupun yang berhasil, Yuni berhasil mengimbangi kecepatan dan kelincahan lawan, Yuni sesekali memperlambat lajunya demi memprovokasi lawan agar terus menyerang dirinya.


Naluri monster yang mengganggap itu adalah kesempatan untuk menerkam mangsanya terus terpancing oleh trik Yuni, hingga perhatiannya tertuju pada gadis itu.


Dari arah belakang si monster ada Ryan yang berselancar mendekat, dengan pedang es yang ada pada tangannya dia menebaskan pedang itu, tebasan dari kuatnya kekuatan es melukai tubuh si monster.


Ketika pedangnya masih menyentuh tubuh si monster kekuatan api dialirkan dari dalam pedang, meledakkan sihir es yang menempel padanya dan menciptakan kobaran sihir api yang membakar tubuh si monster.


Monster landak berteriak kesakitan menandakan betapa fatalnya serangan yang di berikan oleh Ryan, kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Yuni, dengan sihir es nya dia mengeluarkan beberapa bila es yang tajam dan segera melepaskannya ke arah monster, dengan serangan yang mematikan monster landak pun terluka parah.


Gerakannya terlihat melemah, monster itu melompat menjauh dari mereka semua, melihat target mereka melarikan diri, membuat mereka semua bergegas mengejarnya.


Yuni melebarkan medan es nya sambil mengejar target buruan mereka, kecepatan mereka dalam berselancar berhasil mengejar posisi monster, satu bila es keluar dari telapak Yuni, dengan bidikan dari mata kanannya dia mengunci musuh dan melesatkan bila esnya.


Satu serangan tajam menembus tubuh lawan, seketika menewaskannya di tempat.


"MANTAP MBAK BRO".


"te-terima kasih".


Mereka memeriksa tubuh target mereka, benar-benar tidak ada tanda kehidupan.


"sip, misi beres, tinggal balik lapor dapet duit".


"lumayan, ternyata begini ya cara bertarung orang miskin, kalian hebat juga".


Pujian yang di berikan Dinda sama sekali tidak membuat mereka berdua senang, dia memuji tapi juga merendahkan di saat yang sama.


"kerja bagus teman-teman".


Arva memberikan pujian sambil tersenyum bangga melihat kedua temannya.


"yoi bro".


"te-terima kasih pujiannya Arva".


Mereka tersenyum senang mendengar pujian dari Arva.

__ADS_1


"kok reaksinya beda sekali, padahal aku juga memuji kalian orang miskin".


Dinda protes dengan wajah jengkelnya.


"iya-iya, dah cewek sultan ayo balik, lu ngak mau kelamaan di tempat random kayak gini kan".


"jangan mengalihkan topik Ryan!".


"dahlah, bawel amat sih, ayo balik".


Ketika mereka berbincang terdengar suara seperti besi yang terseret, mereka semua terdiam serentak ketika mendengar suara itu.


Keanehan pun mereka rasakan, di hutan alami seperti ini, hewan atau monster macam apa yang mampu menimbulkan suara seperti itu.


"aneh ngak sih, emang ada ya hewan atau monster yang suaranya kayak gitu?, apa jangan-jangan itu setan?".


"R-Ryan jangan bicara sembarangan!, ya ampun dasar orang miskin, tidak rasional".


Dinda menegur nya sambil terlihat takut, Yuni memegang salah satu sisi baju Arva dengan tangannya, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya, Arva pun terlihat cemas.


"bro, lu mikirin apa yang gw pikirin ngak?".


"iya Ryan, aku harap pikiran ku ini salah".


Mereka terdiam, melihat satu sama lain untuk beberapa saat.


"periksa?".


Usul Arva dengan wajah cemas.


"tu-tunggu orang miskin, apa sebaiknya kita hubungi pihak keamanan kota dulu?".


"cewek sultan, jarak kota jauh dari sini, lu kira mereka naik apa?, pesawat jet?".


"se-semuanya tolong tenang".


Yuni berusaha menenangkan teman-temannya yang terlihat saling berdebat, genggaman nya pada baju Arva terasa semakin kuat menandakan betapa takutnya dia.


Mereka kembali terdiam, tidak ada yang bicara, ketika semua tampak sunyi mereka sekali lagi mendengar suara besi terseret, dari suaranya sumber suara tidak jauh dari posisi mereka.


Arva menarik nafas panjang, dengan wajah yang penuh keringat dingin dia memberikan usulan.

__ADS_1


"aku ada rencana, Yuni dan Dinda menunggu di sini, sedangkan aku dan Ryan yang akan memeriksanya, jika kami tidak kembali untuk waktu yang cukup lama segera tinggalkan kami dan kembalilah ke kota".


"hah?, sebentar orang miskin, kau mau cari mati?, kau bahkan tidak punya kekuatan untuk membela diri!".


Dinda tampak tidak setuju dengan usulan Arva.


"jika misal aku dan Ryan yang tertangkap kami mungkin masih memiliki nasib baik".


"tapi kalau cewek".


Ryan tidak melanjutkan kata-katanya, Dinda yang merasa perkataan mereka ada benarnya tidak bisa menolak usulan Arva, Yuni melihat wajah Arva, dengan tatapan takut dan cemas seolah dia ingin mengatakan kepada Arva agar tidak pergi, perlahan Arva melepaskan tangan Yuni yang menggenggam bajunya.


Dengan nada yang pelan dan lembut Arva berkata.


"maaf Yuni, aku harus pergi".


Arva dan Ryan pergi memeriksa ke sumber suara, meninggalkan dua gadis di tengah hutan yang gelap, Yuni menangis dia menutupi kedua wajahnya dengan tangannya, Dinda pun memeluknya dan membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja demi menenangkan hati Yuni.


"orang-orang miskin, kembalilah dengan selamat".


.....


....


...


..


.


Arva dan Ryan berjalan dengan mengendap-endap, mereka berusaha bergerak sesenyap mungkin, suara besi terseret semakin jelas terdengar, samar-samar mulai terdengar suara lain di telinga mereka menandakan lokasi sudah sangat dekat.


Cahaya dari obor api terlihat, dengan sangat hati-hati di sertai dada yang berdebar-debar, Ryan dan Arva memeriksa apa yang ada di balik semak-semak.


Tidak jauh dari posisi mereka terlihat sekumpulan gadis elf yang berbaris, pakaian mereka sangat lusuh dan terkesan tidak layak pakai, ada beberapa lubang di pakaian mereka, dengan wajah yang sedang menangis dan beberapa luka memar di tubuh mereka, para gadis elf itu berbaris sambil terhubungkan oleh rantai besi yang membelenggu leher mereka.


Rantai itu saling terhubung satu sama lain, mengunci mereka bersama, ada beberapa orang dengan pakaian hitam mereka, dengan pecut dan alat pukul di tangan mereka, para orang berpakaian hitam itu berteriak memerintahkan para gadis elf itu untuk masuk ke sebuah gua.


Keputusasaan, kesedihan terlihat jelas di wajah mereka, Ryan yang menyaksikan hal itu mengepalkan tangannya sampai berdarah, wajahnya memerah, Ryan sangat ingin sekali maju dan menghentikan semua itu.


Siapa sangka, di dalam proses misi berburu monster landak mereka menemukan hal ini.

__ADS_1


Arva dengan wajahnya yang penuh dengan amarah berbisik.


"inikah perbudakan?".


__ADS_2