Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 09. setelah badai


__ADS_3

Di area luar rumah sakit, di sebuah gang sempit dimana tidak ada satupun orang berlalu lalang, jauh dari keramaian, seseorang yang mengenakan jubah gelap mengamati ruang rawat Arva dari kejauhan.


"sayang sekali padahal tinggal sedikit lagi".


Dari belakang berjalan mendekat seorang gadis dengan rambut pink yang bergelombang, dari penampilannya saja sudah terlihat bahwa gadis ini melakukan perawatan pada dirinya, pakaian serta tas yang dia bawa merupakan barang brand yang mahal.


"lah kamu sih goblok, tinggal sikat sat set sat set kan selesai, padahal sudah ku bantu dengan kekuatan manipulasi amarah ku, tetap saja tidak berhasil, dasar goblok, tolol, idiot".


"sabar dulu, kita tidak boleh asal serang, kalau sampai kematiannya tidak natural maka itu akan menjadi masalah buat kita, aku juga tidak menyangka bahwa monster api yang aku pancing ke daerah itu bisa di kalahkan".


"memangnya kenapa kalau tidak natural, kita kan punya kuasa dan uang, tinggal suap saja saksi matanya bereskan, dasar dungu".


"hai nona berbibir bebek, dia adalah adik Silva, kematiannya pasti akan menggemparkan seluruh dimensi ini, apa yang sudah di lakukan Silva berpengaruh besar, jadi jangan anggap remeh".


Gadis itu cemberut dan membuang muka.


"lagian ya, awalnya kan cuma perlu membunuh Silva, kenapa sekarang harus juga membunuh adiknya, ini semua salah mu, kalau saja kau selesaikan pekerjaan mu dengan benar, semua pasti aman-aman saja, dasar tidak berguna, goblok!".


"aarrgghh!, berisik!, kalau kau tidak suka dengan caraku berkerja pergi sana, aku tidak butuh bantuan mu!".


"HEH!, DASAR!, yang awalnya datang meminta ku untuk memanipulasi perasaanya adalah kau idiot, apa otak mu jadi sangat dungu sampai tidak bisa mengingat!".


Gadis itu pergi dengan perasaan jengkel.


"awas ya!, aku sudah tidak mau ikut campur lagi, aku tidak ingin melakukan hal ini lagi, apa yang kau lakukan sudah sangat berbahaya, kalau sampai Bima tau soal ini, kau pasti mati".


Perkataan gadis itu merubah ekspresi orang berjubah gelap, emosi amarah terpancar dari wajahnya.


"tenang saja, aku pastikan, selanjutnya, aku akan melakukannya dengan rapi, bersih, dan tentunya".


Dari jari jemari orang berjubah gelap mengeluarkan percikan petir berwarna kuning.


"tidak akan ada yang mengetahuinya, hahahaha, lagi pula orang mati mana mungkin bisa memberikan kesaksian".


....


...


..


.


Sore hari telah tiba, langit memancarkan cahaya kekuningan, suasana sore yang memberikan ketenangan batin, Arva duduk bersandar di atas ranjangnya sambil menikmati suasana sore.


Tidak berlangsung lama ketengan yang dia nikmati kemudian menjadi rusak, di depan ruangannya dia mendengar suara gaduh, para staff sepertinya sedang berdebat dengan sekumpulan orang, tiga orang berpakaian jazz hitam.


Tiga orang tersebut memaksa masuk ke ruangan Arva, para staff dan dokter menghalang-halangi langkah mereka, keributan terjadi tepat di depan Arva, demi menenangkan suasana Arva mengijinkan tiga orang ini untuk masuk.


Dari pakaiannya, mereka bertiga adalah agen pemerintah dari dimensi asal Arva.


"permisi mas Arva, kami adalah petugas Pemerintahan yang di tugaskan untuk menjemput anda berserta nona Silva, apa yang terjadi pada anda sungguh sangat di sayangkan, karena itu pemerintahan mengutus kami untuk memindahkan anda dan kakak anda ke tempat yang lebih baik".


Para staff rumah sakit tersinggung mendengar perkataan agen pemerintahan, mereka mengerutkan alis mereka.

__ADS_1


"tempat yang lebih baik?, apa maksud nya?, maksud kalian kami tidak becus merawat mas Arva?".


"kalian dengan tidak bertanggung jawab membiarkan Arva, adik dari sang pahlawan Silva pergi seorang diri ke tempat berbahaya dan nyaris mati, kalau tidak becus lalu apa namanya?".


"kalian sendiri juga membiarkan dia terserang oleh orang yang sampai sekarang belum tertangkap, dari pada berbuat hal yang tidak berguna lebih baik tangkap pelaku nya".


Dua kubu berseteru, para staff rumah sakit kota Zatar yang ingin tetap Arva di rawat di sini dengan agen pemerintahan dimensi manusia yang ingin membawa Arva kembali ke dimensi asalnya.


Mereka terus menjelekkan satu sama lain sampai membuat keributan hingga memancing perhatian pasien-pasien lain.


"dengar kalian semua, pemerintahan kami memiliki relasi dengan para pahlawan, kalian yakin mau melawan kehendak kami?".


Ketika kata pahlawan di sebut pihak staff rumah sakit seketika terdiam, mereka yang sangat menghormati pahlawan tidak berani melawan lebih dari ini.


"maaf kalau soal aku yang pergi dari rumah sakit itu murni karena kesalahan ku, pihak staff sama sekali tidak ada kaitannya dengan ini".


"mas Arva, salah satu pelayanan rumah sakit adalah keamanan, dari kejadian kemarin sudah jelas bahwa pelayanan mereka sangatlah buruk".


Arva tersenyum mendengar jawaban dari agen pemerintah secara tidak langsung dia mengakui bahwa dari dimensinya sendiri juga buruk dalam melakukan pelayanan, kejadian bahwa ada penyusup yang menyerang nya merupakan fakta yang tidak terbantahkan.


Agen pemerintah yang baru menyadari kesalahannya berusaha bersikap profesional dan tidak memperdulikan tentang apa yang barusan dia katakan.


"ayo mas Arva, kita pergi dari sini, sesampainya di sana anda akan langsung di pindahkan ke Jakarta".


"entah kenapa saya sedikit keberatan dengan hal itu".


Suara yang tidak asing terdengar dari arah pintu, ketika sosok itu masuk para staff segera memberikan jalan padanya.


"anda siapa?".


"jadi anda mau melawan kehendak dari pemerintahan kami?".


"tidak, saya pribadi sangat menghormati para pahlawan khususnya Nona Silva, karenanya saya masih bisa hidup sampai saat ini, yang saya ingin katakan adalah bahwa kita berada di posisi yang sama, sebagai orang yang sama-sama melalaikan keamanan dan membahayakan nyawa adik dari seorang pahlawan, bukan kah tidak baik kalau kita memaksakan sesuatu kepadanya?".


Kata-kata Fralin membungkam mulut para agen pemerintah, fakta yang dia keluarkan sangatlah tepat sampai tidak bisa di bantah.


"jadi apa mau anda?".


"sederhana, kita biarkan mas Arva sendiri yang memilih, dengan begini tidak ada yang keberatan kan".


Para staff setuju dengan usulan Fralin.


"silahkan mas Arva, anda berhak memilih, apapun pilihan anda, kami tidak akan menentangnya".


Fralin memberikan keputusan sepenuhnya kepada Arva, remaja berkulit sawo matang itu berpikir mempertimbangkan beberapa hal, masing-masing pilihan memiliki kekurangan dan kelebihan tapi sebetulnya, bagi Arva, perbandingan ini tidak lah seimbang, dia tau pilihan mana yang harus dia pilih.


"aku lebih memilih tinggal di sini".


Jawaban singkat Arva membuat seluruh staff senang kegirangan, para agen pemerintah yang tidak puas dengan pilihan memutuskan untuk pergi tanpa satu katapun, Fralin menenangkan para staff yang bersorak bergembira agar tidak mengganggu para pasien yang lain, setelah itu mereka semua pergi dengan perasaan lega di dada mereka meninggalkan Fralin dan Arva.


Fralin duduk di samping Arva, sosoknya yang menawan menyatu dengan keindahan langit sore.


"memang kalau elf pasti memiliki paras yang bagus ya".

__ADS_1


"hahaha, pujian anda membuat saya malu, apakah kami segitu indahnya di mata para manusia".


"sangat, bahkan tidak jarang ada orang yang memasang foto anda pada layar smartphone nya".


"saya tersanjung mendengarnya".


"per-permisi".


Terdengar suara lemah lembut seorang gadis, wajah yang tidak asing, mengenakan baju pasien dan duduk di kursi roda, perlahan perawat mendorong nya masuk dan mendekat di samping Fralin.


"terima kasih suster".


"iya mbak Yuni".


Suster pun perlahan menutup pintu dan pergi, Arva terkejut, dia tidak berkata apapun, tapi dia paham apa yang terjadi, ini adalah akibat dari hal bodoh yang dia lakukan.


"maaf Yuni".


"ke-kenapa A-Arva?".


"aku dengar dari para perawat, kau mendonorkan energi magis mu, karena itu kau jadi seperti ini".


"ti-tidak masalah, be-berapa hari pa-pasti akan bisa jalan seperti biasanya".


Yuni berusaha menyemangati Arva tapi ekspresi wajahnya tidak berubah, Fralin menepuk pundak Arva sebagai isyarat untuk tidak terus menerus sedih karena itu akan mempengaruhi suasana hati Yuni.


Arva menyampingkan penyesalannya dan berusaha bersikap seperti biasanya, dengan sedikit bermain kata-kata sambil mengucapkan rasa terima kasih Arva membuat suasana hati Yuni menjadi berseri.


Tidak lama kemudian terdengar suara orang berlari, pintu kamar Arva terbuka karena tendangan kaki seseorang seketika menimbulkan suara yang mengejutkan, di depan pintu masuk terlihat sesosok orang yang seluruh tubuhnya di perban, tidak ada satupun yang terlewat, dari kepala sampai kaki tertutup dengan sempurna seperti mumi.


"BRO!, LU GAPAPA?".


Semua orang tau itu siapa, pria mumi itu langsung memeluk Arva dan menanyakan hal yang sama, Arva berulang kali menjawab pertanyaannya tapi pria mumi itu tidak kunjung tenang.


"Ryan, to-tolong tenang, ja-jangan berteriak".


" BRO!, LU NGAK MATI KAN?, LU NGAK MATIKAN?".


"tenangkan dirimu manusia setengah mumi, aku baik-baik saja".


keributan kembali terjadi, Fralin hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka, sebuah pemandangan yang menyenangkan untuk di lihat, setelah semua yang terjadi akhirnya mereka bisa kembali seperti semula, tiga sahabat yang berpetualang bersama.


....


...


..


.


"halo, ya, kenapa?, hah?, membantu si dungu itu lagi, ngak mau, NGAK MAU!, dengar ya goblok, situasi sudah ngak bagus, aku ngak mau nyawa ku jadi sasaran, kalau tetep mau lanjut, lanjut aja sendiri, dasar tolol".


Gadis berambut pink itu menutup telfonnya.

__ADS_1


"kenapa sih orang-orang kok pada goblok, walau misal ya, misal berhasil membunuh tuh anak, tetep aja si Bima pasti ngak tinggal diam, kalau ketauan gimana coba, tolol amat sih".


__ADS_2