Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 13. Anggota baru


__ADS_3

Untunglah pada akhirnya semua berjalan sesuai harapan, aku sempat khawatir kalau Ryan dan Yuni akan menolak anggota baru untuk masuk, terlebih karena sifatnya yang agak kasar.


"hah?, kita akan jalan kaki?".


"iya cewek sultan, kenape?, lu ngak suka?".


"jalan kaki itu melelahkan, kenapa kita tidak sewa kereta kuda saja".


"duit nya dari mana?, lu pikir duit jatuh dari langit?, dah lah ngak usah bawel, nurut aja".


"Di-Dinda, ka-kami biasanya selalu berjalan kaki untuk berhemat, jadi kami sudah terbiasa, Dinda juga nanti lama-lama pasti ikut ter-terbiasa".


Yuni terlihat berusaha menyakinkan Dinda dengan suaranya yang kecil, mungkin dia terlalu takut berbicara dengannya mengingat Dinda mudah sekali menampar wajah orang.


"bisakah kau besarkan suaramu, aku hampir tidak bisa mendengarnya".


"ma-maaf".


"Arva, bagaimana menurut mu?, kau yakin mau jalan seperti ini?, tempat tujuan misi kita sangat jauh dari sini".


Entah kenapa pertanyaannya terasa seperti mencari pembelaan bagiku.


"maaf Dinda, aku juga lebih memilih untuk berjalan, selain menghemat biaya, aku juga sudah terbiasa".


"Halah, heh! cewek sultan, yang milih misi ini kan elu, tanggung jawablah, pakai alesan jalan jauh".


Dinda terlihat jengkel, dia memberikan isyarat untuk tunggu disini kemudian pergi berjalan cepat meninggalkan mereka.


"Di-Dinda, kamu mau kemana?".


"udah biarin mbak bro, lagi ngambek kali dia".


Masih permulaan, aku harap setelah ini hubungan kira bisa jadi lebih baik, Fralin sudah meluangkan waktunya untuk membantuku mencari kandidat, aku tidak boleh menyia-nyiakan hal ini.


"eh itu apa ya?".


Ryan menunjuk langit, dari kejauhan terlihat pasukan bersayap dengan zirah mereka, sayap putih dan zirah yang berwarna emas, dari penampilannya mereka pasti bukan pasukan biasa.


Orang yang berada di barisan paling depan berkontak mata dengan ku, dia seperti mengatakan sesuatu kepada pasukannya, dia terlihat seperti akan turun ke arahku sementara pasukannya terus terbang lurus meninggalkan dirinya.


"loh heh?, kok orang nya ke sini, loh loh?".


Ryan terlihat panik, wajar saja, di datangi sebuah mahluk bersayap dengan alat tempur yang lengkap tentunya akan menimbulkan rasa takut.


Di lihat dari dekat aku tersadar bahwa zirahnya tidak hanya berwarna emas melainkan memancarkan sinar cahaya yang lembut, tidak hanya zirahnya sayapnya ternyata juga memancarkan sinar.


Mahluk itu mendarat tepat di depan kita, seorang prajurit perempuan dengan rambut creamnya, bermata kuning ke emasan, wajahnya terlihat sangat cantik melebihi kecantikan gadis elf.


"apa kau adik dari sang pahlawan Silva?".


"iya itu aku".


Aku sempat terkejut ketika dia berbicara padaku, aura penampilannya yang elegan serta penuh kekuatan membuatku agak sulit bicara.


"aku Leina, salah satu pasukan dari kota Meriva".


Kota Meriva?, bukankah itu kota yang ada di balik portal Jakarta?, kota yang berisi petualang rank A keatas, tempat impian para petualang, semua petualang pasti akan menjadikan kota itu sebagai tujuan akhir mereka, dan sekarang berdiri di hadapanku seorang prajurit yang berasal dari kota itu, apa tujuan mereka?, kalau aku tidak berhati-hati dalam berkata bisa berakibat fatal.

__ADS_1


"ada perlu apa mencari ku?".


Leina melirik ke arah Ryan dan Yuni, sepertinya dia ingin berbicara empat mata.


"mereka adalah sahabatku, ini Ryan dan ini Yuni".


Yuni dan Ryan menganggukkan kepala mereka, gerakan kaku bisa terlihat jelas di mataku, dengan begini sepertinya dia paham bahwa mereka berdua bisa di percaya.


"ini soal penyerangan di Surabaya, kami bermaksud untuk memindahkan tubuh sang pahlawan ke kota kami, kudengar kau menolak tawaran dari pemerintahan dimensi mu, jadi kami selaku penduduk dimensi ini yang akan ambil alih".


"sebentar-sebentar, kenapa tiba-tiba?".


apa ini?, ini terasa seperti pemaksaan, jauh berbeda dengan apa yang di lakukan oleh pemerintahan dimensiku.


"kakakmu tidak mengatakan apapun padamu ya".


Mengatakan?, apa yang dia maksud?.


"aku tidak paham, apakah kakakku menyampaikan sesuatu yang penting?".


"aku dan Silva adalah teman dekat, kami adalah prajurit yang sama-sama berada di garis depan, dia pernah memohon satu permintaan padaku".


Permohonan?, pahlawan sekuat kakakku?, sulit di percaya tapi, dari cara bicara serta mimik wajahnya, Leina sepertinya tidak berbohong.


"dia meminta, jika suatu hari, terjadi sesuatu padaku, tolonglah aku dan adikku, itu lah permintaan kakakmu".


Tolong?, apa yang sebenarnya terjadi, dari perkataannya entah kenapa aku merasa, seolah-olah kakakku tau bahwa akan terjadi sesuatu padanya.


"aku tau ini sudah sangat terlambat, kami mengalami permasalahan dengan pemerintahan dimensi mu, akhirnya masalah itu dapat terselesaikan dan kami mampu menjemput mu".


Leina mengulurkan tangannya, dia meminta ku untuk ikut bersamanya meninggalkan kota Zatar.


Sebuah hal yang kucari selama ini, aku ingin pergi, ingin, tapi, entah kenapa, hatiku terasa berat, aku melihat ke arah dua sahabat ku, mereka memberikan isyarat agar aku menerima tawaran dari Leina.


Apakah dengan begini, semua akan terselesaikan?.


Apakah aku akan, bahagia?.


Aku...


"maaf Leina, aku tidak bisa pergi".


Leina terkejut setelah mendengar ku menolak nya, Ryan dan Yuni pun memberikan reaksi yang sama.


"boleh aku tau alasannya?".


"aku juga tidak tau, tapi entah kenapa, aku.., aku merasa bahwa belum saatnya aku ke sana".


Leina menurunkan tangannya, dia seperti menghormati keputusanku, tidak hanya kuat tapi dia adalah prajurit yang memiliki nilai moral yang kuat.


"baiklah, kuharap kau bisa hidup dengan aman disini, tapi meski begitu kami akan tetap membawa kakakmu, kau tidak keberatan kan?".


"tidak, silahkan bawa mbak Silva, jika dengan kalian entah kenapa aku bisa percaya".


Leina tersenyum, seakan puas dengan jawaban ku, dia mendekati ku dan memberikan ku sebuah batu, batu merah seperti Ruby, aku tidak tau apa ini.


"bawalah, ku yakin itu akan membantumu dalam petualangan mu".

__ADS_1


"terima kasih Leina".


Leina semakin mendekat dan membisikkan sesuatu kepadaku.


"Arva, bagaimana menurut mu soal hari dimana kakakmu ditemukan tak sadarkan diri?".


Aku terkejut, tiba-tiba dia bertanya hal seperti ini sambil berbisik.


"kepolisian bilang itu hanyalah kecelakaan".


"apa tidak ada informasi lain?".


"tidak, hanya itu, bahkan seluruh media informasi memberikan informasi yang sama".


Leina kemudian berjalan mundur beberapa langkah, dia berterima kasih atas izin yang kuberikan lalu terbang meninggalkan kami.


Aku penasaran kenapa dia tiba-tiba berbisik.


"BJIR..!, CANTIK BANGET".


Ketegangan ku seakan menghilang setelah mendengar teriakan Ryan.


"i-iya, mbak Leina cantik, tegas, dan elegan".


Tak kusangka Yuni juga terpukau, dia adalah ras yang dominan jadi mungkin wajar dia memiliki paras seperti itu.


Ku lihat ada kereta kuda yang mendekat ke arah kami, kereta kuda yang terbilang cukup mewah untuk orang-orang seperti kami, di bagian supir terlihat wajah yang tidak asing.


"ayo berangkat orang miskin, jangan lama-lama".


Kami bertiga terkejut melihat Dinda yang kembali membawa kereta kuda dengan kualitas tinggi.


"heh cewek sultan ngapain lu bawa kereta kuda?, duit kita tinggal dikit".


"ini hanya berharga dua puluh keping perak, tidak mahal".


Jantung ku terasa tertancap besi tajam ketika aku mendengar harganya.


"astaga ni anak, hadiah misinya aja ngak sampai segitu, ini mah namanya rugi".


"apa yang kau bicarakan?, aku membeli ini dengan uangku sendiri, kalian orang miskin tidak perlu patungan dengan susah payah membantu ku, ayo cepat jalan, jangan pakai alasan mahal dan semacamnya!".


Dina turun dan masuk ke tempat penumpang, Ryan yang merasa tersindir hanya bisa menahan emosi sambil duduk di bagian supir.


Pada akhirnya kami berangkat bersama ke tempat tujuan, walaupun awalnya sedikit ada kekacauan tapi untungnya harapan ku terwujudkan.


.....


....


...


..


.


Leina sedang melihat wajah sahabat perjuangannya, air matanya mengalir tak kuasa menahan kesedihan.

__ADS_1


Dalam suara yang lemas lembut dia berkata.


"maaf Silva, aku tidak memberitahu adikmu".


__ADS_2