Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 11. Gadis bergaun biru


__ADS_3

"anda ingin mencari anggota baru mas Arva?".


Fralin menghentikan penanya karena terkejut mendengar permintaan Arva.


"iya, kalau bisa petualang dengan rank tertinggi di kota ini".


Fralin menyandarkan punggungnya sambil menatap Arva dengan heran.


"boleh saya tau alasannya?".


"ini demi Ryan dan Yuni, mereka selama ini tertahan menjadi petualang rank bawah hanya demi bisa berpetualang dengan ku, akan sangat di sayangkan kalau orang seperti mereka terhambat perkembangannya".


"apa anda tidak puas dengan kehidupan yang kalian jalani sekarang?".


"tidak bukan itu, ini bukan tentang kehidupan ku, tapi tentang masa depan mereka, Ryan dan Yuni sudah sangat baik padaku, aku hanya ingin mereka bisa mendapatkan masa depan yang cerah sebagai seorang petualang".


Fralin melihat ke arah lain, dari wajahnya dia seperti memikirkan sesuatu, jari jemarinya memutar-mutar pena, dia terdiam untuk beberapa saat seperti mempertimbangkan sesuatu.


"bagaimana pak Fralin?, apakah permintaan ku memungkinkan?".


Fralin menghentikan jari-jemarinya.


"bisa, akan tetapi rank tertinggi yang bisa saya usulkan hanyalah sebatas petualang rank C, untuk petualang rank B keatas pasti tidak akan mau menetap dalam satu grup, keterampilan mereka membuat mereka mendapat banyak peluang dari pada menetap dalam satu grup".


"rank C, tidak masalah, terima kasih pak Fralin".


"itu sudah menjadi tugas saya mas Arva, tidak perlu berterima kasih".


"meski begitu itu sudah sangat membantu, terima kasih banyak".


Itulah percakapan Arva dengan Fralin, perekrutan akan di lakukan dengan tertutup, karena banyaknya petualang yang membenci Arva tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan sabotase kepada lowongan perekrutannya.


"akan segera saya informasikan kepada anda jika sudah saya temukan kandidat yang cocok".


Kalimat ini terus terngiang-ngiang di kepala Arva, dia yang sedang ada di toko perlengkapan melamun sambil terus terbayang-bayang akan ucapan Fralin, dia khawatir, bagaimana kalau orang yang Fralin rekomendasikan menolak bergabung dengan timnya hingga berujung pada titik tidak ada lagi petualang yang mau mendaftarkan diri.


Kebencian para petualang pada dirinya bukan masalah sepele, justru inilah inti dari masalah dalam kasus perekrutan anggota baru.


"hei lihat ada si beban".


"kemarin beli panah, sekarang beli apa lagi ya?".


"beli yang manapun pasti akan berujung pada hal yang sama, tidak berguna, hahaha".


"hei jangan keras-keras nanti dia dengar loh".


Arva yang jelas-jelas mendengar para petualang itu menghinanya memutuskan untuk tetap diam, dia menyampingkan kekhawatirannya dan mulai melihat-lihat isi toko perlengkapan.


Ini merupakan bentuk usahanya dalam mengembangkan diri, mencari sekiranya senjata apa yang cocok untuknya, tongkat sihir, perisai, pedang dan semacamnya jelas membutuhkan energi magis, tentunya ini sangat tidak cocok dengan Arva.


Matanya melirik ke bagian barang mahal, perlengkapan tingkat tinggi dengan bahan dan di buat oleh pengerajin ahli, dari tampilannya yang mengkilap serta designnya yang indah memberikan kesan bahwa ini adalah barang yang sangat berguna.


Arva melihat harga untuk sebuah pedang yang terbuat dari cakar monster rank B, dua keping emas, harga yang terlampau mahal untuk petualang dengan rank E sepertinya.


"hei lihat, dia mau membeli pedang itu".


"astaga, dia bahkan tidak tau diri, dasar beban, hahaha".


"memangnya dia punya uang untuk membelinya hahaha".


Para petualang masih saja menghina Arva, nafas sesak terasa pada dadanya, hatinya seperti terhantam benda keras, Arva mencoba untuk tenang dan membuang perasaan itu jauh-jauh, dia mengambil nafas dalam untuk menenangkan hatinya sekaligus menghilangkan sesak pada dadanya.


"hei kamu!".

__ADS_1


Arva menoleh ke arah samping, berdiri seorang gadis berambut pirang bergelombang, berkulit putih cerah bagaikan salju, memakai gaun satu potong berlengan panjang dengan rok di atas lutut berwarna biru, mengenakan sepatu hak tinggi yang sepertinya terbuat dari kaca.


Dari penampilannya Arva jadi teringat sosok tuan putri pada cerita dongeng budaya barat.


Gadis itu berjalan mendekat, tercium bau parfum yang wangi darinya, bau yang tidak pernah Arva cium sebelumnya.


Gadis itu melihat Arva dengan mengerutkan alisnya, Arva tidak tau apa yang gadis ini inginkan, dari penampilannya sepertinya dia orang luar negeri, sebagai inisiatif Arva menyapanya dengan bahasa Inggris.


"yes, anda who ya?".


Mimik gadis itu berubah menjadi marah.


"kau mengejek ku ya!".


"maaf, ku kira orang luar negeri".


"aku orang Indonesia, lagi pula bahasa Inggris mu bercampur dengan bahasa Indonesia!, kalau bukan mengejek lalu apa!".


"maaf mbak, aku bolos waktu pelajaran bahasa Inggris jadi tidak terlalu pintar dalam bidang itu".


Gadis itu menyilangkan kedua tangannya, melihat Arva dari bawah sampai atas, memperhatikan dengan rinci penampilannya.


"mbak, apa ada yang salah dengan penampilan saya?".


"banyak, kamu orang miskin kan, kenapa ada di bagian barang mahal, barang murah ada di sebelah sana".


"aku hanya melihat-lihat".


"melihat-lihat?, kau yakin tidak berniat untuk mencuri?".


Arva merasa jengkel dengan gadis ini, baru bertemu sudah menuduhnya yang tidak-tidak, Arva kemudian melebarkan tangannya seolah menawarkan diri kepada si gadis untuk mengeledahnya.


"apa yang kau lakukan?".


"kau mau aku menggeledahmu?, mana mungkin aku menyentuh mu!, tangan ku bisa gatal kalau menyentuh benda murah".


Arva semakin di buat jengkel, dalam hati dia berkata "gadis sialan", Arva pun menurunkan tangannya.


"lalu bagaimana caraku membuktikan bahwa aku tidak bersalah?".


gadis itu berjalan memutari Arva sembari memperhatikan dirinya.


"sepertinya kau berkata jujur, baiklah aku percaya".


tingkah laku gadis yang acak ini membuat Arva menepuk jidatnya, dia seperti bertemu gadis remaja yang memiliki jiwa anak kecil di dalamnya.


"hei lihat dia di anggap pencuri".


"wajar sih, si beban kan terlihat seperti gelandangan".


"apa lebih baik kita panggil petugas keamanan biar dia di penjara".


"ide bagus, hahaha".


Para petualang kembali menghina Arva, suasana di dalam toko terasa sesak baginya, dia memutuskan untuk menyudahi pencariannya dan memutuskan untuk pulang.


"hei kalian!".


Arva melihat gadis yang menuduhnya tadi sekarang berdiri di depan para petualang yang menghinanya, para petualang yang tidak menduga hal ini terkejut, mereka terdiam tanpa kata.


"apa yang kalian bisikan, kalau ada yang ingin di katakan, katakan langsung ke orangnya!, berbisik-bisik seperti itu hanya di lakukan oleh orang yang pengecut!".


Baik Arva dan para petualang terdiam tanpa kata, tindakan yang di lakukan gadis ini benar-benar acak, awalnya dia seperti merendahkan Arva sekarang dia terlihat seperti membelanya.

__ADS_1


Salah satu dari petualang berusaha membalas.


"a-apa urusannya dengan mu".


"tidak ada, tapi sebagai petualang apa yang kalian lakukan sangat tidak terhormat, jadilah petualang sejati dan katakan sesuatu langsung ke orangnya, kalau perlu pukul dulu wajahnya baru berbicara".


Benar-benar gadis yang liar.


"memangnya siapa kau sok-sokan menasehati kami, kami ini petualang rank D ya, jadi jaga ucapan mu".


Gadis acak itu menaruh kedua tangannya di pinggangnya, dengan senyuman sombong di wajahnya dia memandang para petualang.


"rank D, hahahaha, aku adalah petualang rank C, jadi secara status aku lebih senior, jadi dengarkan kata-kata senior mu ya!".


Para petualang di buat malu olehnya, dengan wajah yang memerah mereka semua pergi meninggalkan toko, kini hanya tersisa gadis aneh dan Arva.


Gadis itu datang kembali menghampiri Arva sambil sekali lagi mengerutkan dahinya, Arva yang sudah lelah menghadapi gadis ini berharap agar cepat pulang.


Gadis itu melihat Arva dengan jarak yang sangat dekat.


"ka-kali ini apa yang kau mau?".


"kau ini ya!, mereka sedang menghina mu!, kenapa kau diam saja?".


"ya di lawan juga tidak ada artinya, jadi aku lebih memilih untuk diam, selain itu".


Arva melihat baju yang dia kenakan.


"aku memang terlihat seperti gelandangan".


sebuah tamparan keras melayang ke wajah Arva menimbulkan bekas merah yang perih di wajah.


"aduh, kau ini sebenarnya kenapa?".


"aku tidak suka jawabanmu!, bagiku orang miskin sepertimu adalah hal yang wajar, tapi membiarkan harga dirimu di injak-injak dan tidak melakukan apapun membuat ku marah!, memang kau terlihat seperti gelandangan dan terlihat seperti ingin mencuri".


Tanpa ragu dia mengatakannya, dalam titik ini Arva sudah terlalu lelah untuk menanggapi.


"tapi!, aku langsung mengatakannya padamu dan tau bahwa kau tidak ingin mencuri, begitulah seharusnya seorang petualang, mengatakan apapun dengan terus terang tanpa berbisik seperti pecundang, dan seharusnya kau juga melawan untuk harga dirimu sendiri!".


tidak hanya tangannya, kata-katanya juga menampar hati Arva, tamparan yang keras sampai membuat hatinya terasa lega, gadis ini memang menyebalkan tapi sebenarnya dia hanyalah gadis yang baik dan jujur.


sebuah kata-kata yang menakjubkan sampai membuat Arva tidak tau harus berkata apa, dia ingin mengatakan terima kasih tapi kata-katanya terpotong oleh pertanyaan si gadis.


"memangnya kenapa kau berpenampilan seperti itu?, apa kau tidak punya baju lain?".


"ada, tapi sebagian besar tipe bajunya seperti ini".


"kenapa kau memilih baju seperti itu, selera mu sangat jelek, apa karena kau miskin ya, jadi pilihan mu terhadap baju sangat rendah".


Arva tidak memberitahunya bahwa dia memilih baju seperti itu agar memudahkan dia dalam pertarungan.


"beli baju yang bagus, pakaian itu juga penting dalam menunjukkan status sosial, dengan begitu orang lain tidak akan merendahkan mu, itu yang papa ajaran padaku".


"terima kasih atas masukannya, jika ada kesempatan pasti aku akan membeli baju yang bagus".


"bukan jika, tapi pastikan, hidup itu singkat, ubah nasibmu, jangan mau jadi orang miskin seumur hidup".


Terdengar sebuah ringtone smartphone, gadis itu mengambil sebuah smartphone dari sakunya, terlihat seri gadget terbaru yang berharga jutaan rupiah, gadis itu mendapat sebuah pesan, setelah membacanya dia menutup telfonnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku.


"padahal aku mau berbelanja, tiba-tiba harus datang ke sana, menyebalkan, jadi itu ya, ingat betul saranku orang miskin".


gadis itu pergi meninggalkan toko perlengkapan, Arva tersenyum, mungkin hari ini dia tidak menemukan senjata yang cocok tapi dia bertemu orang yang luar biasa, walau cara berbicara nya sedikit kasar, tapi maksud yang berusaha dia sampaikan adalah hal yang baik.

__ADS_1


Arva keluar dari toko perlengkapan itu dengan kelapangan dada dan bekas tamparan yang memerah di wajahnya.


__ADS_2