Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 06. Raungan dan cakaran


__ADS_3

Ryan berlari sekuat yang dia bisa, rasa lelah yang dia rasakan masih membebani tubuhnya, dengan zirah pelindung yang ia kenakan serta pedang dan perisai yang dia bawa, pemuda ksatria itu berlari tanpa rasa takut.


Flarin melemparkan sebuah petasan ke arah langit, petasan itu meledak dan berubah menjadi sebuah cahaya, dari kejauhan anak buah Flarin melihat sinyal tersebut, seluruh pasukan bersiap dan menuju lokasi mereka.


Kedatangan Flarin dan Ryan mengusik monster besar itu, dengan raungannya yang buas menimbulkan tekanan angin yang menghempaskan benda-benda kecil, langkah Ryan sempat terganggu karena raungannya.


Tapi dia tidak gentar, dia terus berlari demi menyelamatkan sosok orang yang di duga adalah Arva, Fralin yang berlari di belakangnya berusaha mengingatkannya untuk berhati-hati, perbedaan kekuatan antara dia dan monster itu terlihat begitu jauh.


Cakar yang tajam mengarah ke arah Ryan, dengan siaga dia memasang pose bertahan dengan perisai yang dia bawa, hantaman dari serangan monster memberikan efek getar yang keras, Ryan berhasil menahan walau terpukul mundur beberapa meter.


"MAS RYAN TENANG!, KITA PIKIRKAN STRATEGI UNTUK MELAWANNYA!".


"KELAMAAN, TEMEN GW UDAH BERDARAH-DARAH, GW NGAK MAU DIA MATI!".


Keadaan psikis Ryan sudah dalam keadaan panik, Fralin berusaha menyadarkan Ryan bahwa dengan tindakan gegabah tidak akan mengubah apapun, perdebatan kecil terjadi di antara mereka sembari menghindari serangan dari monster.


Pada titik ini Fralin sadar bahwa satu-satunya rencana terbaik adalah mengevakuasi Arva baru setelah itu mengalahkan monster ini, bertarung dengan keadaan psikis yang kacau bukanlah hal yang menguntungkan.


Angin terasa lebih kencang, Fralin mengambil sebuah ranting pohon besar yang dia gunakan sebagai senjata tombak, dari tangannya dia mengaliri ranting tersebut dengan kekuatan anginnya.


Dengan segera dia berpindah posisi ke belakang monster tersebut, kekuatan angin memudahkan dia untuk berpindah dua kali lebih cepat, mata buas sang monster kini teralihkan ke arah Fralin.


Dengan tangan yang besar serta cakar yang tajam monster itu menyerang Fralin, pergerakan sang monster terbaca dan Fralin menyerang bagian kaki mengganggu keseimbangan monster lalu menjatuhkannya,


Terasa hawa panas dari arah Ryan, dari pedangnya keluar kekuatan api, Ryan melakukan lompatan tinggi dan menusukkan pisaunya tepat ke jantung monster, kekuatan api seketika menyebar ke seluruh tubuh monster melalui dalam, membakar semua yang di sentuhnya.


Ryan berusaha menahan pedangnya agar tidak terlepas dari sang monster, raungan dan gerakan-gerakan liar terjadi akibat dari rasa sakit kekuatan api Ryan, perlahan gerakan mulai melemah hingga akhirnya berhenti.


Seluruh tubuh monster menjadi hitam terbakar hangus, setelah monster berbentuk beruang itu mati Ryan langsung mendatangi sosok orang yang mengenakan pakaian pasien, Ryan membersihkan wajah orang itu yang berlumuran darah.


Jantungnya terasa tertekan ketika dia melihat wajah orang yang di kenalnya.


"BRO!, BANGUN BRO!".


Perlahan nafas lemah terasa, Arva masih hidup, Ryan meminta Fralin untuk segera mengevakuasi Arva dari tempat itu tapi Fralin hanya diam, matanya terus menatap ke arah monster yang baru di bunuh oleh Ryan.


Ryan merasa jengkel, dia marah, di keadaan seperti ini orang berkuping runcing itu malah melamun, dari mulut Arva keluar sebuah suara, suara yang lemah dan pelan.


Ryan mendekatkan telinganya untuk mendengarkan apa yang berusaha Arva sampaikan.


"Ryan?".


Suaranya serak dan terkesan kering.


"iya bro ini gw, lu ngapain pergi ke tempat kaya gini?, apa yang lu lakuin bro?".

__ADS_1


"Ryan".


Terdengar lagi suara Arva yang makin lemah.


"apa bro, apa yang mau lu omongin?".


" a, ku, ber, ha, sil".


Kata-kata Arva di barengi dengan senyuman puas di wajahnya, dia menceritakan betapa puasnya dia karena bisa mengalahkan monster sebesar itu seorang diri, bukti untuk membuktikan kepada dunia bahwa dia tidak lemah akhirnya ada di genggamannya.


"sekarang, aku, bukan, sampah, lagi".


Arva tertawa kecil dengan suara yang sekarat, Ryan yang mendengar apa motif Arva meninggalkan rumah sakit membuat hatinya begitu tersayat, rasa kebencian dan kemuakan dalam diri Arva yang selama ini dia rasakan meledak, Ryan merasa seperti orang bodoh karena tidak menyadari hal ini sebagai sahabatnya.


Dia hanya bisa terdiam, dia memeluk tubuh Arva yang berlumuran darah itu dengan erat, tak terasa air matanya mengalir, membasahi pundak sahabatnya yang tengah sekarat.


Di tengah keadaan yang pilu Fralin melihat pergerakan dari sang monster, tubuhnya yang hangus bergerak, suara geraman juga mulai terdengar, Ryan bersiaga dengan tamengnya di dekat Arva demi bersiap-siap untuk apa yang akan terjadi.


"apa-apaan ini?, padahal udah gw bakar dari dalam".


Monster itu berdiri kembali dengan kedua kakinya, tubuhnya kini di selimuti oleh api yang membara, kedua sorot matanya mengeluarkan cahaya orange, suhu di daerah sekitar menjadi lebih panas dari sebelumnya.


"GGGROOOAAARRRR!".


Arva yang melihat monster di hadapannya kembali berdiri seketika membuatnya jatuh ke dalam keputusasaan, sekali lagi takdir memperlihatkan pada dirinya bahwa semua usahanya hanya berujung pada kegagalan.


Fralin menguatkan aliran angin yang ada pada senjatanya.


"ini adalah monster rank C, beruang api, kekuatan sejatinya hanya akan muncul ketika dia mati, dari sinilah pertarungan yang sebenarnya dimulai".


Salju di sekitar mencair menjadi air, pepohonan terbakar menimbulkan asap hitam yang mengganggu penglihatan dan pernapasan, suhu api milik monster jauh lebih merusak dari milik Ryan.


Sang monster menghentakkan kakinya dan membakar tanah yang ada di sekelilingnya, dari sela-sela retakan muncul sebuah dinding api yang sangat panas.


Dinding tinggi yang menghalangi mahluk apapun untuk keluar maupun masuk.


"jadi dia ingin mengurung kita".


" BRO!, BANGUN!, BRO!".


Arva sudah tidak sadarkan diri, badannya menjadi lebih dingin dan kaku, asap dan suhu yang ada di area itu juga memperburuk keadaan Arva, Ryan berusaha membawa Arva pergi dengan menembus dinding api tapi Fralin mencegahnya.


"hentikan mas Ryan!, walau anda bisa menembusnya tapi Arva tidak akan bisa, dia hanya akan hangus terbakar".


"lah terus gimana?, kalau gini terus temen gw bakal mati!".

__ADS_1


"hanya ada satu solusi".


Mereka berdua melihat ke arah yang sama, satu solusi yaitu mengalahkan sang monster, dengan membunuhnya akses untuk pergi pasti akan terbuka tapi yang menjadi masalah adalah seberapa cepat mereka mampu mengalahkannya.


"hanya ini satu-satunya pilihan kita mas Ryan".


Ryan menatap ke arah wajah Arva yang tidak sadarkan diri, dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, pedang yang dia tusukan pada monster kini sudah terbakar dan hancur, satu-satunya yang dia punya hanyalah perisainya.


Dengan kekuatan api Ryan melapisi perisainya, dengan memberikan lebih banyak energi magis dia mampu mengeluarkan suhu panas yang hampir menyamai daya panas milik sang monster, dengan begini tamengnya tidak akan terbakar sewaktu bertarung.


Tatapan buas dari sang monster semakin tajam, monster itu berlari ke arah mereka dengan buas.


"anda siap mas?".


"ya".


Ryan menghantamkan perisainya ke arah monster yang tengah berlari ke arahnya, cakaran dan perisai berbenturan, dua material keras saling beradu menciptakan getaran yang luar biasa serta percikan api dari tabrakan dua suhu panas.


Kali ini Ryan tidak terpukul mundur, dia memposisikan seluruh otot pada tubuhnya untuk melawan, badannya tidak terasa letih maupun sakit, ambisi dan semangat yang membara di apinya membuatnya dalam kondisi siap bertempur.


Cakaran demi cakaran datang tapi tidak ada satupun yang berhasil merobohkan Ryan, Fralin yang bergerak sangat cepat memberikan beberapa tusukan ke arah sang monster memberikan luka dalam yang merobek tubuhnya.


Monster meraung kesakitan pertanda serangan Fralin memberikan kerusakan yang ampuh, monster itu melompat mundur menjauh dari mereka berdua.


Api yang menyelimuti dirinya menyala semakin besar, luka-luka pada tubuhnya tertutup dengan sempurna, seolah-olah tidak ada kerusakan apapun.


"regenerasi?".


"iya mas Ryan, inilah hal yang menyulitkan dari monster ini, dia terkenal dengan penyembuhan diri yang cepat".


"lalu?, cara matiin nya gimana?, kalau gini terus bakal lama, kita harus cepet".


"kita harus memberikan kerusakan yang besar, kerusakan yang berada di luar kapasitas regenerasinya, dengan begitu dia akan bisa di kalahkan".


"gw ksatria, ngak terlalu berdamage, jadi untuk damage gw serahin ke elu ya pak".


"kalau soal itu boleh saja, tapi monster ini tentunya tidak akan membiarkan dirinya di serang begitu saja, walau badannya besar, gerakannya terbilang cukup cepat".


"kalau soal itu".


Ryan meningkatkan suhu panas pada perisainya, keringat keluar dengan drastis dari tubuhnya sebagai efek pemakaian kekuatan magis yang terlalu besar.


"tinggal kita gebukin sampai nih monster kagak bisa gerak".


Fralin juga ikut memperkuat kekuatan anginnya, putaran tornado tipis terlihat menyelimuti ranting pohon yang dia jadikan senjata.

__ADS_1


Monster kembali melakukan raungan sebagai pertanda untuk kembali memulai pertarungan, antara hidup dan mati, demi satu nyawa yang begitu berarti, dua orang menantang maut dengan bermodalkan keyakinan dan ambisi pada diri mereka.


__ADS_2