
..."aku tidak mengenal kelahiran yang di berkahi dengan bakat"....
Kota Zatar, merupakan salah satu kota yang didirikan sebagai titik pusat para petualang di area balik portal kota Surabaya, sebagian besar penghuni kota ini adalah mahluk berkuping runcing dengan rambut pirangnya yang tidak lain adalah para elf.
Di sekitar kota sebagian besar hanyalah hutan lebat, tidak jauh dari lokasi kota, tepatnya sisi timurnya, ada sungai yang mengalir dari pegunungan, bangunan-bangunan kota memberikan kesan abad pertengahan, tidak lupa banyak pohon-pohon dan tanaman yang menghiasi jalan-jalan kota.
Berbagai macam ras yang sebagian besar di dominasi oleh manusia dan elf saling berinteraksi satu sama lain tanpa adanya konflik gesekan sosial yang sering terjadi di dimensi manusia, di sini mereka menerima penuh apa itu arti perbedaan.
Kereta kuda berhenti tepat di depan sebuah gedung besar yang ada di tengah kota, di bandingkan dengan bangunan lain, bangunan satu ini terlihat paling mewah, arsitektur nya juga terlihat sangat berbeda dari bangunan lainnya.
Di depan pintu masuk ada beberapa penjaga dengan masing-masing dari mereka membawa senjata, berdiri tegak dan memiliki postur tubuh yang ideal, dengan ramah mereka menyambut semua pengunjung yang masuk ke dalam gedung mewah tersebut.
Dari kereta kuda keluar Ryan dan Yuni, mereka mengecek keadaan Arva yang tertunduk lemas di bagian penumpang, wajahnya masih pucat, tangannya juga terlihat gemetar.
"Bro, lu istirahat aja ya, biar gw Ama Yuni yang urus administrasi nya".
"i-iya, Arva tidak perlu khawatir, fo-fokus istirahat saja".
Dengan senyuman lemas Arva menganggukkan kepalanya, Ryan dan Yuni pun berjalan masuk ke dalam gedung yang tidak lain adalah gedung administrasi, gedung yang berfungsi sebagai pusat aktivitas para petualang mulai dari mengambil tugas, mengambil imbalan, membentuk organisasi dan lain-lain.
Para penjaga langsung menyambut mereka dengan ramah sambil membukakan pintu untuk mereka, ketika memasuki gedung mereka melihat berbagai macam petualang dengan kesibukan mereka masing-masing, mata Ryan terus melirik ke arah para petualang yang mengenakan armor dan perisai dengan kualitas tinggi, perlengkapan yang mengkilap dan tampak tangguh berbeda jauh dengan apa yang Ryan kenakan sekarang.
"kapan gw bisa kayak gitu".
"pelan-pelan pasti akan ada saatnya Ryan bisa seperti itu".
"sip mbak bro, gw suka sifat optimistis lu".
"untuk sekarang kita sudah sangat beruntung, kita hanya perlu terus konsisten seperti ini dan ranking kita pasti akan naik mengikuti usaha kita".
"widih, tumben mbak bro ngomong kayak gitu".
"i-itu kata-kata Arva, aku hanya menirunya".
"owh.., kata-kata Arva, pantes".
Yuni tertawa ringan membalas ucapan Ryan.
"ngak kerasa ya, dulu kita bertiga di akademi belajar bareng, ujian bareng, sekarang udah jadi satu tim solid kayak gini, waktu terasa cepat .
"iya, aku bersyukur, kita bisa berteman selama ini, kuharap kedepannya kita bisa terus seperti ini .
"Yoi, gw juga berharap kayak gitu".
Mereka berhenti di depan resepsionis, terduduk seorang gadis dengan rambut hitam dan mengenakan seragam merah putih yang merupakan seragam resmi tempat ini.
"wah mas Ryan dan mbak Yuni, baru selesai dari menugas?".
Petugas resepsionis itu menyambut mereka dengan ramah.
"yoi mbak admin, biasa, demi sesuap nasi".
Petugas administrasi tertawa mendengar lawakan Ryan.
"jadi, mau ambil imbalan ya, boleh saya lihat surat tugasnya".
__ADS_1
Ryan menyerahkan surat tugasnya kepada petugas administrasi.
"baik, mas Ryan dan mbak Yuni, tugas yang di ambil....".
Petugas administrasi seketika terdiam, matanya langsung terbelalak.
"ma-mas Ryan, ini surat tugasnya ambil di mana ya?".
"ya di biasanya mbak, di papan tugas ranking E, kita-kita ini kan rank E mbak".
"mas Ryan, mohon maaf sepertinya ada kesalahan yang di lakukan petugas kami".
Yuni yang melihat reaksi petugas administrasi menjadi khawatir.
"a-da apa mbak admin?, apa kami melakukan pelanggaran?".
Petugas administrasi meletakkan surat tugas itu di atas meja sambil jari telunjuk nya menunjuk ke nama monster yang ada pada surat tersebut.
"ini tugas ranking D".
Ketika mendengar jawaban petugas administrasi, Ryan dan Yuni hanya bisa terdiam, mereka melihat satu sama lain, seolah-olah batin mereka saling bertanya " apakah ini nyata..? ", petualang ranking E seperti mereka berhasil menyelesaikan tugas ranking D.
"bentar, bentar mbak, jadi intinya, gw ama temen-temen gw ini .
"iya mas Ryan, mohon maaf sepertinya salah satu dari petugas kami salah menaruh tugas pada papan ranking E, monster pada surat tugas ini seharusnya ada di papan ranking D".
"bjir!, pantes susah amat monsternya, sekali seruduk langsung rusak armor gw".
Yumi menangis, dia mengusap kedua matanya dengan lengan bajunya.
"hiks, a-aku takut, hiks, kita hampir terbunuh dan Arva hiks".
"i-iya juga sih, kita hampir mati tadi".
"mohon maaf, kami akan berikan kompensasi atas kesalahan yang kami perbuat, kami juga akan mengganti semua perlengkapan kalian yang rusak, kami akan berusaha untuk kedepannya tidak terulang lagi".
"oke mantap mbak admin, heh Yuni, udah jangan nangis terus, malu di lihat orang".
Yuni terus menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Ryan dan petugas administrasi berusaha menenangkan Yuni tapi tidak berhasil, seluruh petualang serta para petugas yang ada di dalam gedung itu melihat ke arah mereka, bertanya-tanya apa yang terjadi.
"waduh mbak bro, cup cup, udah mbak bro".
"mbak Yuni, tolong tenang, keadaan sudah aman, jadi tolong berhenti menangis".
Psikis Yuni terguncang, menyadari kenyataan mengerikan, monster ranking D, para petualang seperti mereka biasanya akan langsung mati jika melawan monster sekuat itu, para petualang sekelas ranking E seperti mereka akan di himbau untuk menghindar jika tidak sengaja berpapasan dengan monster yang lebih tinggi ranking nya dari mereka, sadar bahwa dirinya baru saja melawan maut membuat Yuni tidak bisa berhenti menangis.
"apa yang terjadi?".
Terdengar suara familiar dari arah pintu masuk yang tidak lain adalah Arva, dengan wajahnya yang pucat suaranya menarik perhatian seluruh orang yang ada di dalam gedung.
Dengan kakinya yang gemetar, dia perlahan berjalan mendekati Yuni yang menangis.
"bro, badan lu udah gapapa?".
"aku sudah mendingan, kenapa Yuni menangis?".
__ADS_1
Petugas administrasi menjelaskan apa yang terjadi, dan kali ini tidak hanya Arva dan teman-teman yang mendengarkan tapi juga seluruh orang yang ada di dalam gedung, setelah mendapat kejelasan Arva perlahan memegang kedua tangan Yuni dan melepaskannya dari wajahnya.
Dengan jari jemarinya Arva mengusap kedua air mata Yuni dengan lembut sambil mengucapkan kata-kata dengan nada pelan untuk menenangkan perasaan Yuni, perlahan nafas Yuni kembali normal dan dia berhenti menangis.
"ma-maaf, aku hanya takut".
"kita semua takut Yuni, kau tidak sendirian, itu wajar".
Yuni pun tersenyum mimik wajahnya kembali seperti semula, tepat setelah Yuni tenang seluruh petualang dan petugas memberikan pujian dan rasa kagum kepada mereka, sebuah prestasi yang luar biasa karena berhasil mengalahkan monster yang satu ranking di atas mereka.
"KALIAN HEBAT..!"
"KEREN..!"
Pujian demi pujian datang di sertai dengan tepukan tangan, Ryan dan Yuni merasa sangat senang atas reaksi orang-orang yang memberikan apresiasi kepada mereka, semua senang, kecuali.
"ya memang Ryan dan Yuni seharusnya sekarang ada di Rank D, jika bukan karena si beban ini".
Samar-samar Arva mendengar suara bisikan di tengah sorakan orang-orang.
"enak ya, modal jadi beban dapat penghasilan besar".
"aku jadi kasian sama mereka berdua, di manfaatkan oleh si beban".
Yang datang bukan hanya pujian tapi juga hinaan, atau lebih tepatnya pujian hanya di berikan kepada Ryan dan Yuni sedangkan hinaan hanya di tujukan kepada Arva, sebagai satu-satunya orang yang tidak memiliki kekuatan dalam tim.
Arva tetap diam, karena menurut dia apa yang di katakan mereka ada benarnya juga.
"jika bukan karena aku, pasti ranking mereka sudah naik". kata Arva bergumam
....
...
..
.
Dua puluh keping perak, itulah hasil yang mereka dapatkan termasuk kompensasi dari pihak administrasi, Ryan mengajak Yuni dan Arva untuk makan bersama sebagai bentuk perayaan atas keberhasilan mereka, tapi sayangnya Arva tidak bisa ikut karena ada sesuatu yang harus dia lakukan.
"oh iya ya bro, lu harus ke rumah sakit ya".
"a-apa perlu aku temani?".
"tidak, aku baik-baik saja, badan ku juga sudah terasa lebih baik, kalian berdua makanlah, mungkin lain kali aku akan ikut".
"kalau begitu ganti tanggal aja dah, kurang pas kalau ngak lengkap, kabari aja ya bro kapan kosong nya".
Arva memberikan tanda jempol dengan tangan kanannya dan pergi berpisah, berjalan sendirian tanpa Ryan dan Yuni membuat tatapan kebencian dari petualang lain semakin jelas terasa, ketika berpapasan dengan petualang lain tatapan sinis terlihat dari mata mereka, ada juga di antara mereka yang sampai meludah ke Arva.
Arva tetap diam dan terus berjalan menuju portal besar yang ada di tengah kota, portal yang akan membawanya ke dimensi asalnya, dimensi manusia.
Seketika dia melewati portal, dia melihat gedung-gedung tinggi yang memantulkan sinar matahari, suhu terasa jauh lebih panas, kendaraan-kendaraan berlalu lalang sambil mengeluarkan polusi, suara musik dan ketikan dari gadget orang-orang di sekitar juga ikut memeriahkan keadaan.
Arva menoleh ke atas, sebuah papan yang bertuliskan selamat datang menghadap ke arah portal, kalimat pada papan itu berbunyi, " selamat datang di Surabaya".
__ADS_1