Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab.03 : Perasaan Manusia


__ADS_3

Perlahan mata telah terbuka, atap ruangan yang asing terlihat oleh mata, tubuh yang terasa hampa, nafas terasa berat, muncul sebuah pertanyaan di dalam hatinya, "dimana aku?".


Dalam keadaan lemas Arva mencoba menolehkan kepalanya, sedikit demi sedikit dia memutar lehernya, rasa nyeri akibat sambaran menyertai setiap gerakan lehernya.


Dari jendela dia bisa melihat langit yang biru dan hutan yang hijau, tidak ada gedung-gedung tinggi, hanya ada pemandangan alam dan atap-atap bangunan sederhana.


"aku, di, dunia, lain?".


Arva mencoba mengingat apa yang terjadi, seingatnya dia berada di Surabaya untuk menjaga kakaknya lalu diserang oleh orang tidak di kenal setelah itu semua tampak gelap.


Arva mencoba untuk menggerakkan tubuhnya tapi seluruh tubuhnya terasa lumpuh, tidak terasa apapun bagaikan mati rasa, yang bisa dia gerakan hanyalah kepala dan lehernya, dia tidak berhenti mencoba, dengan usaha yang buta dia mencoba sebisanya, perlahan air matanya mengalir.


Tubuhnya terasa mati tapi hatinya tersayat, lahir dengan kecacatan yang di anggap tidak memiliki kemampuan, tumbuh besar dengan kehidupan di banding-bandingkan dengan sosok seorang kakak yang terpandang sebagai pahlawan, dia terus berusaha sabar, dia menerima semua itu tapi kini, di titik ini, hatinya terasa hancur.


" ke, na, pa?".


Dengan suara terbata-bata dia berusaha meluapkan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya, kekecewaan, amarah, kesedihan, semua bercampur aduk, menghasilkan satu perasaan dominan yang melahap semuanya, yaitu.


Kebencian.


"AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHHH!".


Momentum teriakan yang keras mengejutkan tubuhnya, membangunkan kembali beberapa syarafnya, Arva membanting tubuhnya sampai terjatuh dari tempat tidur, dia terus berteriak sambil menggerak-gerakan tubuhnya.


Terdengar suara seseorang membuka pintu, seorang pemuda dengan postur badan ideal masuk dan memegangi tubuh Arva di ikuti dengan beberapa perawat.


"BRO!, BRO!, TENANG BRO!".


Ryan dan para perawat berusaha menenangkan Arva yang terus meronta-ronta, Ryan berulang kali berusaha menyadarkan Arva tapi reaksi yang di berikan Arva tidak bagus, perawat akhirnya terpaksa menyuntikkan obat bius dengan kadar tinggi ke Arva demi menenangkannya.


Perlahan suara Arva yang semula berteriak kini menjadi semakin pelan, pandangannya yang ada di matanya terasa menjadi berat, hal terakhir yang dia lihat adalah wajah sahabatnya, dan sebuah kata-kata yang berbunyi "bro tenang aja, lu sudah aman".


....


...


..


.


Ryan membaringkan tubuh Arva kembali ke ranjangnya, beberapa alat bantu yang terlepas dari tubuh Arva kembali di pasangkan.


"mbak sus, makasih ya dan sorry, sahabat gw udah bikin gaduh, dia biasanya ngk gini kok mbak".


"tenang saja mas Ryan, hal ini biasanya memang wajar terjadi, keadaan mental seorang pasien memang tidak menentu".


"thanks mbak sus, gw bener-bener tertolong".


"sama-sama mas, kalau ada perlu lagi langsung kabari saja ya, kami siap 24 jam".


"ok mbak, thanks ya".


Para perawat pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Ryan seorang diri menjaga Arva yang tidak sadarkan diri, keadaan kembali menjadi sunyi, Ryan memandangi tubuh Arva yang hampir seluruh tubuhnya di lapisi oleh perban.


Mimik sedih pada wajahnya terukir karena melihat sahabatnya terkapar seperti ini, di tambah reaksi yang barusan dia lihat mengejutkan dirinya, apakah rasa sakit yang dia terima sesakit itu ataukah rasa sakit akan penderitaan takdir yang membuatnya seperti itu, Ryan tidak mengerti.


"bro, lu orang baik, lu orang baik bro".


Air mata Ryan menetes.


"lu orang baik bro, tapi kenapa ya?, kenapa".


Ryan mengepalkan tangannya dengan sangat keras sampai urat otot pada tangannya terlihat jelas.


"kok hidup lu gini amat bro, beban yang lu tanggung udah berat, kok masih dapet ginian, apa lagi yang bakal terjadi ke depannya".


Di dalam ruangan itu Ryan hanya bisa berdiri sambil menangis, mempertanyakan tentang keadilan takdir.


....


...

__ADS_1


..


.


"Ryan, Ryan".


Seseorang memanggil-manggil namanya, Ryan membuka matanya dan hari ternyata sudah gelap, dia melihat Yuni yang berdiri di sampingnya yang tengah terduduk di samping tubuh Arva.


"Ryan tadi aku menelfon ta-tapi tidak terangkat, ja-jadi aku khawatir".


"oh, sorry mbak bro, gw ketiduran".


"ba-bagaimana keadaan Arva?"


"ya katanya sih aman, tinggal tunggu pulih aja".


"baguslah, ku harap Arva segera sadar".


Ryan teringat kejadian tadi ketika Arva meronta-ronta, dia memutuskan untuk tutup mulut dan tidak memberitahukan hal ini agar Yuni tidak tambah khawatir.


"Ryan sudah makan?".


"belum mbak bro, perut kosong".


"a-aku ada makanan instant, mau?".


"oh tentu saja, gas kan mbak bro".


Yuni mengeluarkan dua buah makanan mie instant yang dalam kemasan gelas, dengan bermodalkan air panas dari termos yang di bawa dalam hitungan menit makanan instant pun jadi.


Aroma bumbu yang bercampur kuah, serta panasnya suhu makanan mengundang setiap perut lapar yang menciumnya, tanpa basa basi Ryan langsung memakannya mengakibatkan lidahnya sedikit terluka karena panasnya kuah.


"tu-tunggu dingin dulu".


"kelamaan mbak bro, perut udah kagak bisa di ajak kompromi".


Dalam hitungan kurang dari dua puluh detik, makanan milik Ryan habis dengan sangat bersih.


"mantap..!".


"ka-kalau mau nambah, ambil saja di tas ya".


"siap mbak bro".


Tanpa ragu Ryan mengambil tiga cup makanan instant dan menyeduhnya dengan air panas, Yuni sedikit menegur nya karena porsi yang di masak oleh Ryan sudah sangat di luar kata normal, tapi bagi Ryan inilah normal.


Lampu-lampu jalan mulai di matikan, tapi keadaan kota tidak terlalu gelap, cahaya dari bulan pada malam hari menerangi seluruh kota, keadaan begitu tenang jauh berbeda dengan perkotaan, tidak ada suara bising kendaraan, yang ada hanyalah ketenangan suasana malam.


Suhu menjadi lebih dingin, tapi berkat makanan instant yang di bawa Yuni rasa dingin tidak terlalu terasa.


"sunyi ya".


Yuni memulai pembicaraan memecah keheningan ruangan dengan suara bisikannya.


"yoi, kalau di rasa kita udah lama ngak bermalam di dunia lain kayak gini".


Balas Ryan dengan suara bisiknya juga.


"terakhir dulu kita camping di hutan demi mencari monster ya".


"jaman masih jadi petualang baru, nostalgia banget, waktu itu kalau ngak salah sampai dua hari ya, hahahaha, modal bawa pakaian satu set, berangkat ala model Korea, balik-balik jadi gembel".


Yuni dan Ryan tertawa menertawakan hal bodoh yang mereka lakukan.


"iya, rambut ku sampai kusut, aku juga tidak mengira akan sampai dua hari".


"untung waktu itu si Bro ngak segoblok kita, dia yang paling bener persiapannya, dari logistik ama perlengkapan kita akhirnya numpang ama dia".


"iya, Arva memang sangat hebat kalau soal seperti ini".


Mereka menyandarkan pundak mereka satu sama lain, duduk bersampingan sambil memandangi wajah sahabat mereka yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"semoga besok Arva sudah pulih".


Yuni perlahan memejamkan matanya, tertidur di pundak Ryan, rasa kantuk juga mulai dirasakan oleh Ryan, dia menyandarkan kepalanya ke dinding dan mulai menutup mata.


"iya mbak bro" .


"semoga" .


"temen kita" .


"segera" .


" mem, ba, ik" .


Ryan pun tertidur.


....


...


..


.


Ryan bermimpi masa-masa di mana dia masih di akademi, ketidaknyamanan suasana pertemanan membuatnya tidak ingin dekat kepada siapapun.


"Ryan ayo maen bola, anak-anak mau kelapangan".


Ryan yang mendengar ajakan itu hanya diam dan pergi tanpa balasan, reaksi Ryan pun membuat beberapa anak kesal dan mengata-ngatainya.


"kenapa sih anak gila itu, mentang-mentang dari Jakarta sombong sekali".


"Halah biasa, anak dari Jakartakan seperti itu semua".


Ryan tetap berjalan tanpa memperdulikan perkataan mereka, dalam hati Ryan berkata " gw ngak mau temenan ama orang berwajah dua".


Dari awal dia datang ke Surabaya hingga sampai hari ini, Ryan sudah muak dengan bagaimana anak-anak di sekolahnya bersikap layaknya penjilat, di depan mereka memuji-muji dirinya di belakang mereka menghina dan memaki-maki Ryan.


"ih kamu temenan ama Ryan?".


"ngak, cuma buat pamer aja, jarang-jarang kan punya teman dari Jakarta, lumayan buat naikin kasta".


"hahaha, jahat banget kasian Ryan, hahahaha".


Hari demi hari dia lalui, hingga akhirnya dia muak dan memutuskan untuk menyendiri, kesehariannya di akademi dia habiskan untuk belajar dan berlatih tidak pernah dia habiskan untuk bermain bersama dengan teman sekolahnya.


Semua ini akibat dari cara mereka memperlakukan Ryan, hingga suatu hari, ketika pulang dari akademi, di sebuah penyeberangan jalan.


"tas mu terbuka".


Seorang murid yang berseragam sama sepertinya memberitahukan sesuatu kepadanya, setelah di periksa ternyata memang benar tas miliknya terbuka cukup lebar sampai barang-barang gadgetnya hampir terjatuh.


Ryan menutup tasnya dan tidak berkata sepatah katapun.


"lain kali hati-hati, dan satu hal lagi".


Murid itu berjalan menjauhi Ryan.


"aku tidak tau bagaimana kehidupan di Jakarta, tapi di akademi kita sepatu harus berwarna sama, bukan beda seperti itu".


Ryan melihat sepatunya dan dia menyadari bahwa dia memakai sepatu yang salah sebelah, wajahnya memerah karena malu tapi dia berusaha menahan, rasa jengkel memenuhi perasaan nya, tapi di sisi lain dia sedikit tertarik dengan murid aneh itu.


Setelah itu secara terus menerus Ryan mengikuti murid aneh itu setiap kali jam istirahat di akademi, lambat laun mereka menjadi kenal satu sama lain dan dari situlah Ryan tau nama murid yang berbicara terus terang tersebut.


"nama?, nama ku Arva".


Akhirnya Ryan mendapatkan teman setelah sekian lama di akademi, teman yang berteman dengan ketulusan, teman yang tidak akan membicarakan dia dari belakang, dari situ lah mereka memulai kisah persahabatan mereka.


Cahaya mulai terasa di matanya, pertanda hari telah tiba, sekali lagi dia mendengar orang memanggil-manggil namanya tapi kali ini suaranya terdengar lebih keras.


" RYAN!, RYAN!".

__ADS_1


"ke-kenapa mbak bro?".


Ryan berusaha memfokus matanya yang masih merasakan kantuk, dia melihat sesuatu yang janggal, seketika itu jantungnya terasa berhenti, di hadapan mereka berdua Arva tidak ada di ranjangnya.


__ADS_2