Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 12. Hijau dan biru


__ADS_3

Jakarta, istana pemerintahan.


Perempuan berambut hijau dengan pakaian gaun panjang berwarna putih sedang terduduk sambil menutup kedua matanya, terdengar suara seseorang membuka pintu, datang seorang pria dengan pakaian jazz rapi berserta sepatu hitamnya.


Perempuan itu tidak memberikan reaksi atas kedatangannya, sosok nya yang anggun serta tenang tetap diam sambil menutup kedua matanya.


"Nona Rina, para perwakilan dari negara asing tetap mendesak kita untuk memberikan hak atas pahlawan Silva, mereka bahkan mengancam akan mengisolasi Indonesia dari relasi perdagangan dunia, apa yang harus kita lakukan?".


Rina menoleh ke arah pria tersebut dengan tetap menutup mata.


"dari semua pahlawan, kenapa yang kau datangi untuk hal ini adalah aku?, boleh aku tau alasannya?".


"ka-kami berusaha menghubungi pahlawan yang lain, tapi tidak ada balasan, kami takut kalau mengambil keputusan sepihak tanpa menanyakan pendapat para pahlawan akan membuat pihak para pahlawan tersinggung".


Rina menghela nafasnya.


"mereka semua itu bertindak seenaknya sendiri, pada akhirnya aku yang harus berurusan dengan kalian".


Keluhan yang di katakan membuat pria berpakaian rapi itu berkeringat deras, tangannya gemetar, rasa takut yang luar biasa menyerang perasaannya.


"aku berharap Bima disini, dari mereka semua hanya dia dan Silva yang bisa di andalkan, yang lain hanyalah manusia dengan ego mereka".


Rina menulis sebuah tulisan di atas kertas, dengan tenang huruf demi huruf dia tulis, dengan rapi dia melipatnya hingga menjadi lipatan yang kecil.


"berikan ini kepada para perwakilan negara asing yang keras kepala itu, dan katakan tidak ada kesempatan kedua".


Pria itu dengan hati-hati mengambil surat itu dan izin meninggalkan ruangan.


"kalau saja pahlawan yang lain tidak mementingkan ego mereka dan mau bekerjasama untuk masalah ini tentu hal yang menimpa Silva dan Arva tidak akan terjadi".


Rina membuka kedua matanya, terlihat mata hijau yang menyala bagaikan permata.


"andaikan saja tubuhku tidak lemah, pasti aku akan ikut bersama Bima, hidup sungguh tidak adil".


Pria berpakaian rapi memberikan surat yang ditulis oleh Rina, seketika perwakilan asing membaca suratnya mereka terkejut takut bukan main, pria berpakaian rapi penasaran apa yang di tulis oleh Rina.


para perwakilan negara asing bergegas meminta maaf dan pergi meninggalkan ruang pertemuan, pria berpakaian rapi mengambil surat yang terjatuh dan ikut terkejut serta takut.


di dalam surat yang kecil itu tertulis, jangan bermain-main dengan kami jika kalian tetap mendesak, maka kami akan berperang dengan kalian.


.....


....


...


..


.


Kota Zatar, pagi hari, satu hari setelah pengajuan perekrutan.

__ADS_1


Ryan, Yuni dan Arva sedang melihat-lihat tugas di papan pengumuman rank E, semua tugas terbilang mudah tapi bayarannya termasuk kecil.


"kita ambil apa ya?, kalau hajar slime gimana?".


Yuni hanya diam sambil menggelengkan kepalanya, nampaknya dia tidak setuju.


"uhmm..., bjir susah amat, ambil tugas doang padahal, pilihannya kagak mantap sih".


"ka-kalau mengumpulkan tanaman Bagaimana?".


"jangan dah mbak bro, hadiahnya cuma segitu, capek-capek mulung cuma di bayar segitu, skiplah".


"be-benar juga ya".


Arva yang berada di belakang mereka hanya diam tanpa berkomentar, matanya melirik ke area papan pengumuman tugas rank D, dari segi tugas dan hadiah jauh lebih layak dari rank E.


"bro lu ada saran ngak?".


Ryan tiba-tiba meminta pendapatnya.


"apapun boleh, aku ikut keputusan kalian".


"ah lu mah gitu, jawabannya jangan terserah napa, kita lagi pusing nih".


"sebenarnya ada tapi".


Arva terlihat ragu mengatakannya.


Ketika ingin menjawab dari arah belakang ada seseorang memanggil nama Arva, petugas admin dengan rambut nya yang di kuncir membawa tumpukan berkas yang banyak, dia tampak kesulitan, Ryan pun ambil inisiatif untuk membantunya, dia mengambil separuh berkas dan membawanya dengan satu tangan.


"terima kasih mas Ryan".


"siap mbak admin, kerja keras banget nih ya".


"iya, sedang ramai soalnya".


"tadi anda memanggil saya, ada perlu apa?".


Arva menanyakan keperluan, petugas administrasi pun memberitahu bahwa kandidat yang Arva cari sudah di temukan dan di harap untuk langsung pergi ke ruangan Fralin.


Ryan dan Yuni yang baru mengetahui hal ini terkejut, fakta bahwa Arva melakukan perekrutan tanpa sepengetahuan mereka membuat berbagai macam pikiran buruk melayang-layang di kepala mereka.


"ADA APE BRO!, LU MAU KELUAR DARI TIM?".


Ryan berteriak sambil membuang tumpukan berkas yang dia bawa membuat petugas administrasi lemas seketika.


"ah, padahal sudah di urutkan semalaman".


petugas administrasi terduduk lemas, sementara Yuni tatapannya kosong, dia pingsan sambil berdiri, karena terlalu terkejut dan tiba-tiba, dirinya menolak realita yang dia dengar.


Ryan terus menanyakan maksud tindakan Arva, teriakannya yang keras menarik seluruh perhatian orang di sana, karena keadaan sudah terlalu di luar kendali Arva hanya bisa menepuk jidat.

__ADS_1


....


...


..


.


Di ruangan Fralin, mereka akhirnya mengetahui alasan kenapa Arva membuka perekrutan, penjelasan Fralin menenangkan mereka berdua.


"bro lu santai aja napa, selama ini kita nugas petualang bareng ngak ada masalah kan".


Yuni menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju pendapat Ryan.


"teman-teman kita coba saja dulu, aku hanya ingin kita bisa berkembang dan tidak tertahan di rank ini".


"mas Arva hanya ingin kalian mendapatkan progres yang nyata, dia tidak bermaksud keluar dari tim, kalian akan tetap berpetualang bersama, tidak ada yang berubah yang membedakan hanyalah adanya orang baru bersama kalian".


Jawab Fralin membantu menyakinkan Yuni dan Ryan, mereka berdua melihat satu sama lain dengan sedikit memiliki keraguan akhirnya mereka menyetujui hal ini.


"saya tau kekhawatiran kalian, banyak petualang yang membenci Arva, alasan kalian selama ini menolak karena tidak ingin Arva mendapat perlakuan tidak menyenangkan kan, tenang saja, saya sudah siapkan orang yang sekiranya tidak akan melakukan hal seperti itu".


Jaminan yang di berikan Fralin menghilangkan keraguan pada mereka berdua, terutama Ryan, dia yang tau bagaimana mati-matiannya Fralin membantunya dalam pencarian Arva tau betapa tulusnya orang ini.


Fralin memanggil seseorang untuk masuk, datanglah seorang gadis dengan penampilan mewahnya, untuk Arva pribadi dia terlihat tidak asing.


"oh si miskin".


Kata-kata yang singkat itu seketika mengejutkan Ryan dan Yuni, jelas-jelas gadis ini mengatakan hal itu kepada Arva.


"terima kasih untuk yang kemarin mbak".


gadis itu berjalan mendekat.


"pantas saja mereka menghinamu kemarin, ternyata kau Arva, hmm, wajahmu masih memerah, sepertinya tamparan ku kemarin terlalu keras".


Ryan langsung emosi sedangkan Yuni jatuh pingsan, baru saja bertemu gadis ini sudah memberikan kesan yang tidak menyenangkan.


"WOY!, CEWEK ANEH, LU KALAU NGOMONG AMA TEMEN GW ATI-ATI YA, JADI LU YANG NAMPAR TEMEN GW".


Fralin berusaha menenangkan Ryan di ikuti juga dengan Arva, gadis bergaun biru itu sama sekali tidak bereaksi melihat Ryan yang berteriak di depannya, dengan tenang dia berjalan mendekat kemudian.


"PLAK!!".


sebuah tamparan keras mengenai pipi Ryan.


"berisik!".


Ryan semakin naik darah, Fralin dan Arva memegangi tubuh remaja berbadan ideal itu.


"LEPASIN WOY..!, LEPASIN..!, BIAR GW SMACK DOWN NIH CEWEK!, LEPASIN..!".

__ADS_1


__ADS_2