Kebusukan Sistem

Kebusukan Sistem
Bab 05. Badai


__ADS_3

Tubuh Silva terbaring lemas di atas ranjang, dadanya bergerak naik turun menandakan bahwa dia bernafas, hanya itu satu-satunya gerakan yang dapat di lihat oleh mata selebihnya dia bagaikan orang mati.


Kaki Yuni mengalami luka karena terlalu banyak berjalan, sementara Ryan mencari Arva di luar, dia terus mencari-cari Arva di area rumah sakit berharap bahwa dengan begitu dia dapat menemukan Arva.


Tapi sayangnya dia tidak menemukan apapun, untuk sekarang satu-satunya harapannya adalah Ryan dapat menemukan Arva dalam keadaan baik-baik saja, di tengah badai seperti ini kondisi tubuh Arva sangat mengkhawatirkan.


Duduk di samping kakak Arva mengingatkannya tentang kenangan di masa lalu, saat-saat mereka berempat menghabiskan waktu bersama.


Dari jendela dia bisa melihat para petugas kota Zatar yang berjaga di depan kamar Silva, penjagaan yang sangat ketat, sebuah perlakuan yang sangat jauh berbeda dengan perlakuan yang di terima ketika berada di dimensi manusia.


Keamanan, medis, bahkan perhatian di berikan secara totalitas kepada Silva, semua itu tersedia selama 24 Jam tanpa henti.


Terkesan, bahwa, dimensi ini lebih menghargai sosok Silva sebagai pahlawan dari pada tanah kelahirannya, bukan hanya Silva, penduduk dimensi ini juga tidak memberikan diskriminasi kepada Arva.


"apa yang membedakan?, apa bedanya di mata mereka?".


Yuni merasa heran, kenapa penduduk yang berada di dimensi lain malah justru yang lebih menghargai dan memanusiakan dari pada tempat asal mereka.


"Ryan, semoga kau dan Arva bisa kembali dengan selamat".


Dengan hati yang penuh dengan kekhawatiran, gadis bermata kristal itu menaruh harapan di tengah dinginnya badai kehidupan.


....


...


..


.


Badai masih terjadi, air yang turun kini berubah menjadi salju, membuat suhu menjadi semakin tidak bersahabat.


Ryan dan Flarin berjalan di tengah badai mencari Arva, mereka berjalan bermodalkan firasat dan insting, keterbatasan informasi tentang kemana Arva pergi membuat pencarian ini terasa seperti ilusi.


Mencari keberadaan seseorang secara acak, tidak di dasarkan pada teori, mereka membiarkan langkah kaki mereka berjalan sesuai kehendak takdir.


Suhu semakin menurun, nafas Ryan mengeluarkan embun dingin, Flarin yang tak jauh darinya bisa melihat tubuh Ryan yang gemetar, cara dia berjalan juga sedikit tidak normal bagaikan orang mabuk yang sempoyongan.


Perlengkapan dan logistik terasa berat padahal Ryan adalah orang dengan profesi class ksatria, class yang di dominasi dengan kelebihan fisik sangat tidak berdaya melawan badai ini.


"MAS RYAN, KITA ISTIRAHAT DULU!".


Suara teriakan Flarin di tengah badai terdengar sangat pelan, angin badai yang kencang bahkan tidak memberikan mereka ampun untuk berkomunikasi dengan nada suara yang normal.


Ryan dengan tenaga yang tersisa berusaha untuk fokus dan mencerna apa yang Flarin katakan, tapi yang dia dengar hanyalah angin, hanya angin.


Flarin yang dari kejauhan tidak menerima respon dari Ryan merasakan firasat tidak enak, dengan langkah berat melawan badai dia berusaha mendekati Ryan.


"MAS RYAN, TETAP DI SITU, SAYA AKAN MENDEKAT, KITA ISTIRAHAT DULU!".


Flarin kembali berteriak sembari mendekat dan reaksi Ryan tetap sama, Ryan masih berjalan ke depan dengan tatapan menghadap kebawah kesadarannya seolah perlahan menurun.


Flarin menghentikan langkah Ryan dan berusaha menyadarkannya, suhu mereka sangat jauh berbeda, tidak terasa sedikitpun kehangatan pada tubuh Ryan, kondisi fisiknya sudah di ambang batas.


Fralin berulang kali memanggil-manggil nama Ryan, berusaha menjaganya agar tidak tertidur, di kondisi seperti ini sekali kehilangan kesadaran maka nyawa akan menghilang.


"MAS RYAN!, MAS!, JANGAN TIDUR MAS!".

__ADS_1


Tidak ada satupun kata terucap, Ryan tetap terdiam, di tengah situasi seperti itu tiba-tiba Fralin mendengar suara monster yang sangat keras, suara itu berasal dari bawah jurang dari tinggi suaranya Fralin menduga lokasinya tidak jauh dari mereka.


"ini berbahaya, kalau sampai kita bertemu monster dalam keadaan seperti ini, bukannya menyelamatkan Arva, kita sendiri yang akan mati".


Fralin membuang seluruh perlengkapan dan logistik mereka, dia memutuskan untuk kembali ke camp, dalam kondisi seperti ini dia memprioritaskan keselamatan Ryan, setelah itu dia berencana pergi mencari Arva seorang diri.


"maafkan saya Mas Ryan, keadaan lebih buruk dari perkiraan, untuk sekarang ayo kita kembali dulu".


Fralin membahu salah satu tangan Ryan dan menopang badannya, diantara hidup dan mati dia mengambil keputusan yang dia sendiri tidak tau apakah dia akan berhasil atau tidak.


Sekali lagi suara teriakan monster terdengar, tapi kali ini jauh lebih keras, perlahan sesuatu yang aneh terjadi, getaran tanah mulai terasa.


"apa yang terjadi?".


Dari arah bukit samar-samar Fralin melihat gerakan berwarna putih di sertai suara pergerakan, tidak butuh waktu lama untuk Fralin menyadari apa yang terjadi.


"LONGSOR!".


Salju pada pinggiran bukit jatuh longsor ke arah mereka di sertai dengan getaran gempa, Fralin menggunakan kekuatan anginnya untuk mempercepat laju larinya, dengan menggendong Ryan yang ada di punggungnya Fralin melakukan lompatan-lompatan dorongan angin demi menjauh dari longsor.


Longsor menerjang dengan sangat ganas, merobohkan setiap pohon yang di lewati dan menenggelamkannya di dalam tumpukan salju yang bergerak bagaikan monster putih yang hidup.


Kekuatan angin Flarin membuatnya berhasil menjauh dari salju longsor, dia memperhatikan daerah sekitar, mengamati jalur jalan, mencari rute keselamatan dari kejaran salju longsor ini.


Di saat sedang dalam posisi genting badai kembali menerjang, tapi kali ini jauh lebih besar, dorongan angin milik Fralin menjadi terganggu karenanya, mengakibatkan dia kehilangan keseimbangan di tambah lagi berat tubuh Ryan yang memakai zirah semakin memperburuk kondisinya.


Tidak kuasa menahan hembusan badai membuat dia dan Ryan terjatuh, dan dalam sekejap mata sosok mereka berdua tenggelam dalam lautan salju.


Fralin berusaha mencapai permukaan, dia berputar-putar dan sesekali menabrak pepohonan karena dorongan longsor, matanya mencari ke sana kemari berusaha menemukan sosok Ryan.


Di kondisi gawat seperti ini Fralin masih berusaha menyelamatkan Ryan, di ujung penglihatannya dia melihat sesuatu berkilauan, tidak lain dan tidak bukan itu adalah pantulan cahaya dari zirah milik Ryan, dengan sekuat tenaga dan sambil menggunakan kekuatan angin demi memecah longsor, Fralin berusaha mendekati Ryan.


Getaran gempa menjadi semakin besar, longsor yang dua kali lebih besar datang dari arah bukit, dengan cepat longsor itu menyusul laju longsor pertama, melihat hal itu Fralin tidak putus asa, dia malah semakin mempercepat gerakannya agar segera sampai ke posisi Ryan.


Begitu dia berhasil mendekati Ryan yang sedang tak sadarkan diri Fralin segera memeluk tubuh Ryan dan membuat semacam pelindung angin.


Longsor kedua pun tiba dan melahap mereka berdua menghilang dari permukaan, di dalam pelindung angin guncangan dan getaran terasa jauh lebih besar, segala sesuatu menjadi sangat gelap.


Hantaman demi hantaman datang merusak kestabilan pelindung, dengan kekuatan magisnya Fralin meregenerasi pelindung itu setiap kali ada kerusakan, di saat seperti ini satu-satunya harapan yang dia punya hanyalah, berharap agar semua ini berakhir sebelum dia kehabisan energi magis.


Getaran gempa yang sangat besar terasa sampai ke kota Zatar, Yuni dan seluruh orang yang ada di rumah sakit juga ikut merasakan getarannya, para penjaga yang berjaga di depan kamar mulai berbisik membicarakan gempa ini.


"ada gempa dari arah bukit".


"bukit?, bukankah itu termasuk area pencarian?".


"iya, ku dengar mereka tetap melakukan pencarian dalam keadaan badai seperti ini".


"di saat seperti ini!, itu berbahaya, bagaimana kalau mereka tewas karena kedinginan?".


"itu sudah termasuk resiko, sudah jangan terlalu banyak membicarakan ini, tidak bagus jika di dengar orang lain".


Mendengar pembicaraan penjaga yang samar-samar membuat Yuni berdiri dan bergegas ke pintu bermaksud ingin menyusul Ryan, ketika dia hendak membuka pintu dirinya terhenti karena mengingat permintaan Ryan, satu hal yang tidak kalah pentingnya dari mencari Arva.


Kebimbangan memenuhi hatinya, dia tau dia tidak bisa pergi tapi di sisi lain hatinya tidak karuan karena mengkhawatirkan keadaan kedua temannya, dengan perasaan seperti di tusuk-tusuk oleh sebuah besi Yuni memutuskan untuk tetap tinggal dan menjaga Silva.


....

__ADS_1


...


..


.


Beberapa jam telah berlalu, Ryan tersadar di tempat yang begitu gelap, dia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi sesuatu menahan pergerakannya, perlahan matanya beradaptasi dengan kegelapan, penglihatan kemudian menjadi semakin jelas.


Dia melihat Fralin yang sedang kehilangan kesadaran memeluk tubuhnya, rupanya ini yang menahan gerakannya.


"oi pak, pak Fralin, bangun pak, gw ngak homo ".


Kata-kata Ryan membangunkan Fralin, melihat Ryan sekarang dalam kondisi lebih baik membuatnya bersyukur.


"baguslah Mas Ryan, anda baik-baik saja".


"


i-iya, makasih udah khawatir, tapi bisa lepasin ngak pelukannya?, lama-lama jadi jijik pak".


Fralin kemudian melepaskan pelukannya dengan wajah gembira sementara Ryan menatapnya dengan tatapan aneh.


"bjir!, tadi waktu gw pingsan di apain ama nih elf".


Perasaan jijik masih bersarang dalam hatinya.


"dari suaranya sepertinya badai telah reda, Mas Ryan ayo kita keluar dari sini".


Fralin memusatkan kekuatan anginnya pada kedua telapak tangannya, pusaran angin yang kencang seketika melemparkan seluruh salju yang mengelilingi mereka, cahaya matahari yang masuk menyilaukan mata Ryan.


"AAAARRRHHH!, MATA GW, MATA GW KENA FLASHBANG!".


Sambil bergulung-gulung di salju dia memegangi kedua matanya, Fralin segera menyeretnya keluar ke permukaan untuk kembali mencari apa tujuan awal mereka.


Badai telah berakhir, langit secerah lautan, warna biru yang di tampilkan membuat seolah badai yang berlalu hanyalah mimpi.


"loh, perlengkapan ama logistik gw mana?, kok ngk ada?".


"saya buang, mohon maaf, keadaan sangat genting, saya tidak punya pilihan lain".


"lah, kalau gini waktu kita nemuin temen gw gimana pak? , masa orang lemes di suruh makan salju?".


"akan segera ku kirimkan sinyal pada anak buahku, dalam keadaan cerah seperti ini, menjemput kita menggunakan tunggangan pasti akan cepat sampai".


Ryan diam dan menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia paham, atau tidak.


Mereka berdua melihat ke daerah sekeliling, melihat barang kali ada benda atau hal berguna yang bisa mereka manfaatkan, dari kejauhan Ryan melihat sebuah beruang yang sangat besar sedang berdiri dengan kedua kakinya.


"widih!, besar amat beruang nya".


"beruang ya, sewaktu badai tadi, saya juga mendengar suara raungan monster, mungkin dia sumber suaranya".


Mereka berdua mengamati monster berbentuk beruang itu dari kejauhan, tubuhnya sangat besar bahkan dari kejauhan pun masih terlihat cukup besar, mata mereka berdua terbelalak tapi bukan karena rasa takjub atau takut kepada monster itu.


Melainkan karena mereka melihat sosok orang mengenakan pakaian pasien yang berlumuran darah, dari kejauhan mereka tau siapa itu.


Tanpa berkata apapun Fralin dan Ryan segera berlari menuju lokasi monster dan seseorang yang terbaring di salju tersebut.

__ADS_1


__ADS_2