
...Chapter 4 : Ulang Tahun...
...Bagian 2...
Aku telah sampai di depan rumah, lalu membuka pintu dan masuk. Saat memasuki rumah, rasanya sangat sepi, seakan akan tidak ada sesiapapun didalam rumah.
“Ibu? Cecily? Ayah? Kalian dimana?” Tanyaku.
Tidak ada yang menjawab satupun, Aku berjalan menuju ke dapur dan berharap Ibuku ada disana. Perlahan demi langkah, makin lama makin mendekati dapur. Saat tiba di dapur....
“Selamat Ulang Tahun Zare Hilson Yang Ke 4 Tahun” Kata Ibu, Ayah, Cecily, bahkan Guruku.
Aku sampai lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sangat bahagia, baru kali ini Aku merasakan perayaan ulang tahunku sendiri semenjak kematian orang tuaku di bumi.
“Sekarang tiup lilinnya” Kata Cecily sambil mengangkat kue.
Aku meniupnya hingga padam, Lalu kue dipotong dan dibagi bagikan.
“Oh iya, Guru, bagaimana caranya guru bisa sampai kesini sebelum Aku?” Tanyaku.
“Sihir petir” Jawabnya dengan singkat.
Sihir petir memang sering digunakan dalam hal kecepatan. Karena tidak ada elemen lain selain cahaya yang mampu menandingi kecepatannya.
“Fenrir, rasanya kau semakin menua ya” Ejek Ayahku.
“Aku tidak menua, Aku berevolusi” Balas Fenrir.
"Eh, Evolusi?" Ayahku nampak kaget.
"Begitu yah, memang tidak jarang monster berevolusi" Jawab Ayahku.
“Zare, ini hadiah dariku” Guru Cariel memberikan sebuah kotak kayu.
Aku membuka kotak kayu tersebut, terlihat sebuah tongkat kecil didalamnya. Tongkat sihir dan diujungnya terdapat bola berwarna merah, itu adalah inti bola sihir.
“Karena kau belum memiliki tongkat sihir, jadinya Aku memberikanmu sebagai hadiah” Jawab Guru Cariel sambil tersenyum.
“Lalu ini hadiah dari Aku dan Cecily” Ibuku memberikan sebuah kotak kayu juga, tetapi ukurannya lebih besar.
Aku membukanya lalu terdapat enam buku, buku dari keenam elemen dasar. Dan juga buku tersebut berisi mantra tingkat dasar hingga tingkat atas.
“Kalau sudah waktunya, kau akan berlatih sihir tingkat atas” Kata Ibuku sambil mengelus rambutku.
“Hadiah ayah dimana?” Tanyaku.
__ADS_1
“Lihatlah diatas meja” Kata Ayahku.
Diatas meja terdapat pedang kayu dan juga pedang besi. Dan juga sepasang sarung tangan agar tangan tidak sakit saat mengayuh pedang.
“Pedang kayu untuk berlatih, lalu pedang besi untuk jaga jaga jika kau dalam masalah seperti delapan bulan yang lalu” Kata Ayahku.
“Terima kasih semuanya” Jawabku sambil tersenyum manis.
Pesta terus berlanjut, hingga tanpa sadar, malampun tiba. Lalu saat kami makan malam, kulihat wajah Guru Cariel yang agak murung.
“Guru apakah kau sakit?” Tanyaku.
“Ah, tidak, Aku baik baik saja. Hanya saja, kita akan berpisah bulan depan” Jawabnya sambil menundukkan kepala.
Kontrak mengajar guruku hanya setahun, setelah itu dia akan pergi. Kenangan selama setahun mustahil untuk dilupakan. Guruku yang sering mengajariku sihir dan memberiku ide untuk menguji sihir dan sebagainya.
“Guru setelah ini ingin pergi kemana?” Tanyaku lagi.
“Mungkin Aku akan mengajarkan di akademi sihir atas di Ibukota kerajaan Textear” Jawabnya.
Akademi sihir terbagi menjadi tiga, yaitu akademi sihir dasar, akademi sihir menengah, lalu akademi sihir atas. Mirip seperti sekolah di duniaku sebelumya. Dengan tingkat sihirku yang sekarang, Aku sudah tidak perlu masuk ke akademi sihir dasar, tetapi Aku ingin mempelajari elemen sihir lebih banyak dan ingin memiliki teman.
“Sepertinya akan lama sebelum kita bertemu lagi, Guru Cariel” Jawabku dengan senyum manis.
“Aku akan menunggumu disana, jadi cepat lah besar” Kata Guru Cariel.
Pestanya pun berakhir, hari telah berganti. Kini Aku berada di tepi danau bersama Fenrir dan melatihnya menguasai sihir es, dan juga melatih sihir esku.
“Sekarang coba sihir ini [Peluru Es Beruntun]” Sihir yang mirip Peluru Tanah Beruntun, tetapi sihir ini jika menyentuh lawannya, lawannya akan membeku.
“Baiklah tuanku [Peluru Es Beruntun] Fenrir menciptakan sihir yang sama, namun ukurannya lebih kecil dariku.
“Kurasa kau perlu melatihnya terus” Kataku.
“Hei kalian, apakah kalian lupa dengan latihan hari ini?” Guruku tiba tiba berlari menuju ke arahku.
“Ah benar juga, maaf kelupaan” Jawabku sambil menundukkan kepala.
“Tidak masalah, lalu mari memulai latihan seperti biasanya” Jawab Guruku.
“Tuan, Aku ingin tidur dulu” Kata Fenrir sambil berbaring dibawah pohon.
“Ah, Fenrir jangan lupa melatih sihir esmu” Jawabku.
“Nanti kulakukan” Balas Fenrir.
__ADS_1
Aku berjalan mengikuti Guruku, kali ini dia membawaku ke luar desa, Kami menuju ke tempat yang luas dan penuh rerumputan. Guruku bilang kalau ingin pergi ke tempat yang aman
Source : Pinterest
“Disini sepertinya cocok” Kata Guru Cariel.
“Kita mau ngapain?” Tanyaku.
“Kau ingin mencoba sihir tingkat atas kan?” Tanya Guru Cariel.
“Ya Aku ingin” Balasku.
“Baiklah, perhatikan diriku” Jawabnya.
Guruku mengambil tongkat sihirnya lalu berdiam sejenak. Angin kencang mulai datang, pepohonan terasa seperti ingin terbang. Muncul aura ditubuh Guruku membuatnya terlihat serius.
“Wahai Roh Roh Angin, Roh yang baik hati. Kelembutan anginmu memenuhi satu dunia. Izinkan Aku untuk meminjam kekuatanmu, dengan kekuatanmu, kalahkan mereka orang yang merusak duniamu yang dipenuhi anginmu. [Tornado]” Muncul Tornado di tempat yang lumayan jauh dari tempatku.
Angin di sekitar semakin lama semakin kencang. Itu membuatku seakan akan terlempar jauh. Aku langsung membuat tempat berlindung melalui sihir tanah. Anginnya semakin membesar, lalu menghilang.
“Fiuhh, jumlah manaku tersisa sedikit” Kata Guru Cariel.
“Guru, tadi itu hebat sekali” Pujiku.
“Ya tentu saja, lalu sekarang giliranmu. Aku sudah menuliskan mantranya di kertas ini” Guruku memberikan sebuah kertas.
Kertas tersebut berisi mantra sihir tingkat atas sihir angin. Guruku mengatakan kalau sihir tingkat atas dan seterusnya, mantranya akan semakin memanjang. Maka dari itulah, kebanyakan penyihir menuliskan mantranya sendiri.
“Wahai Roh Roh Angin, Roh yang baik hati. Kelembu---tan” tiba tiba lidahku tergigit.
Mantranya menghasilkan sihir angin tetapi gagal. Sihir angin muncul ditanganku lalu tidak bisa di kendalikan. Aku mencoba melemparnya menjauh namun tidak berhasil. Lalu sihir angin itu membesar dan membawaku terbang dan menciptakan tornado walaupun kecil.
“Hahahaha, lucu sekali” Guruku tertawa melihatku.
“Bukan waktunya tertawa, Guru tolong Aku” Aku semakin panik karena sihir ini tidak bisa ku kendalikan.
“Wahai Roh Tanah, Kekuatan, Ketahanan, Tolonglah [Dinding Tanah]” Sihir itu tiba tiba mengurungku lalu Sihirku berhasil berhenti.
“Fiuhh, Hampir saja” Kataku sambil kepusingan karena berputar putar mengelilingin Tornado.
“Latihan hari ini selesai, silahkan beristirahat, dan juga Ujian Akhirmu adalah menguasai sihir ini” Jawab Guru Cariel.
Guru Cariel pergi meninggalkanku. Aku tersasa sangat pusing hingga membuatku hampir pingsan. Untung saja Fenrir datang dan membawaku pulang.
__ADS_1
×Bersambung÷
Note : Gambar yang diatas diambil dari pinterest karena Aku tidak pinter gambar, jadi tolong maklumi aja.