
...Chapter 6 : Roh Air...
...Bagian 2...
“Masih Belum! Aku akan mengeluarkan kekuatan terkuatku!! Wahai Air, Kuperintahkan Dirimu membentuk naga lalu seranglah Dia, [Naga Air]” Roh air itu menggunakan sihir tingkat raja.
Aku tidak menyangka akan bisa bertemu pengguna sihir tingkat raja. Aku berpikir kalau dapat mengalahkannya maka bisa dibuktikan kalau skill milikku sangat berguna.
“Aku akah mengalahkanmu hanya dengan memukulmu dan menendang mu” Kataku.
“Jangan sombong kau manusia rendahan” Kata Roh Air.
“Lihatlah, [Kecepatan Petir]” Aku melawannya dengan kecepatan.
Aku berlari menuju ke arahnya dengan cepat, lalu Dia sadar dan mengarahkan naga airnya kepadaku sebelum Aku mencapai dirinya. Tapi Aku melompat dengan tinggi, dan Naga Air itu mengikutiku.
Aku terjun dengan cepat karena bantuan dari sihir petir. Naga Air itu masih berada di langit. Aku melompat kearah roh air itu, namun dihalangi oleh sihir pelindung air.
“Kau tidak akan bisa menembus pertahananku” Sombong Roh Air.
Aku bergerak melompat dan menyerangnya dari belakang, namun pelindungnya dengan cepat terbentuk dibelakangnya. Tetapi, Aku menyerangnya dengan mengelilinginya dengan cepat hingga membuat sihir airnya berantakan dan membuat pelindungnya menghilang.
‘Saatnya kesempatanku’ pikirku.
Aku berjalan maju dengan kecepatan petir yang sangat cepat. Itu membuatku seakan akan berteleport. Aku berada di belakangnya lagi, tapi kali ini seranganku berhasil mengenainya.
Aku menendangnya hingga terbang di langit, lalu melompat dan menendangnya jatuh dengan cepat dan membuatnya pingsan seketika.
“Sangat Mudah” Kataku.
“Tuanku Memang kuat” Puji Fenrir.
Roh Air itu pingsan tak sadarkan diri. Daripada menunggunya, Aku memutuskan untuk pulang saja.
“Aku Pulang” Kataku.
“Oh, Zare sini, mari makan” Jawab Ibuku dari dapur.
Aku bergegas menuju ke dapur dan duduk di meja makan sambil menunggu makanan siap.
“Ibu, Aku boleh membawa beberapa makanan ke luar?” Tanyaku.
“Tidak, nanti makanannya dingin” Jawab Ibuku.
“Tenang saja, Aku mempunyai sesuatu yang mirip seperti sihir ruang” Yang kumaksud adalah inventori.
“Kau mau berapa kali membuatku terkejut?” Sepertinya Ibuku mulai terbiasa dengan kemampuanku.
“Jadi, Aku boleh membawa makanan ke luar kan?” Tanyaku lagi.
“Baiklah, silahkan saja” Jawab Ibuku.
Setelah beberapa menit berlalu, makanan akhirnya telah siap. Fenrir makan di bawah meja karena ukurannya terlalu besar. Tapi Fenrir tidak mempermasalahkannya.
“[Inventori]” Aku membuka Inventoriku.
[Inventori Slot ∞]
-[Batu 3x]
-[Ranting Kayu 1x]
-[Tongkat Sihir Kayu (Normal) 1x]
-[Buku Sihir Tingkat Atas (Luar Biasa) 1x]
-[Pedang Kayu (Normal) 1x]
-[Pedang Besi (Luar Biasa) 1x]
__ADS_1
-[Koin Perak 30x]
Aku memasukkan beberapa makanan kedalamnya.
[+23 Daging Sapi Kecil]
“Baiklah, Aku pergi latihan dulu” Kataku.
Aku bergegas keluar bersama Fenrir menuju ke danau tadi. Dari kejauhan roh air tersebut sudah sadar dan duduk ditepi danau.
“Hei roh air, kau sudah sadar sepenuhnya?” Tanyaku.
“Hei Manusia, jangan pikir kau sudah mengalahkanku meski Aku pingsan. Aku masih bisa bertarung sekarang” Jawab Roh Air itu.
“Sudahlah, Lebih baik berdamai saja” Kataku.
“Jadi kau menyerah kan” Jawabnya.
“Tidak, Tapi apakah kau bisa bertarung dengan perut kosong?” Tanyaku.
“Tebakan mu salah, Aku tidak kelaparan" Balasnya.
"Krukk Krukk" Terdengar suara perut berbunyi.
"Aku Benar Benar Tidak Lapar!!" Jawabnya dengan nada yang tinggi
“Yah, bagaimana ya, kalau lapar, bilang aja” Balasku.
“Eh, Kau jangan meremehkanku meski Aku kelaparan” Kata Roh Air yang semakin sombong.
“Kau tidak ingin makan?” Kataku sambil membuka inventori dan mengambil beberapa daging didalamnya.
“Bau ini, Ah, Sihir ruang” Dia mulai sadar.
“Kau ingin daging ini kan?” Tanyaku.
Aku memberikan semua daging yang kumiliki hingga membuatnya puas dan kenyang. Dari wajahnya terlihat dia sangat senang, meski terkadang dia terlihat dendam denganku.
“Ah Kenyang” Jawab Roh Air.
“Jadi masih mau melanjutkan pertarungan?” Tanyaku.
“Tidak, Aku ingin mengikat kontrak denganmu” Jawabnya.
“Kenapa tiba tiba berpikir seperti itu?” Tanyaku.
“Aku berpikir kalau dengan mengikat kontrak denganmu Aku dapat makan dengan puas. Lagipula Kau itu kuat, Jadi lebih baik mengikat kontrak denganmu kan” Katanya.
“Kalau kau berkata begitu, baiklah. Aku akan memberikanmu sebuah nama......, Undine,”
Nama undine berasal dari nama Para Penjaga Elemen atau Guardian Spirits Of Elements. Aku mengetahui hal itu di duniaku sebelumnya.
“Baiklah, Sekarang Namaku Undine!” Dia Nampak Bahagia.
Lalu muncul cahaya putih dibawahnya seperti yang terjadi pada saat Aku membuat kontrak dengan Fenrir Dengan begitu, Aku menjalin kontrak dengan roh air.
“Huah!! Rasanya energi sihirku meningkat. Aku merasa diriku sudah seperti Roh tingkat menengah” Kata Undine.
‘Coba aku lihat statusku sekarang’ pikirku.
“[Menganalisis]”
[Zare Hilson (Hikimura Shido) Lv.38] Anak pertama Albert Hilson Baron dan Stella Hilson. Sebelum bereinkarnasi, nama sebelumnya adalah Hikimura Shido. Pernah bertemu langsung dengan dewa. Dan keinginannya saat ini adalah bertemu dengan adiknya.
Status Saat Ini : Sehat
Atribut Sihir : Air (Tingkat Atas), Api (Tingkat Menengah), Angin (Tingkat Atas), Tanah (Tingkat Menengah), Petir (Tingkat Menengah), Cahaya (Tingkat Dasar), Penyembuhan (Tingkat Dasar), Air Panas (Tingkat Dasar), Uap (Tingkat Dasar, Lava (Tingkat Dasar), Magma (Tingkat Dasar), Es (Tingkat Dasar), Udara Panas (Tingkat Dasar)
Skill : [Menganalisis] [Inventori] [Seni Berpedang Tingkat Pemula] [Peningkatan Sihir]
__ADS_1
Makhluk Kontrak :
Serigala Salju Bertanduk (Fenrir) Lv.46
Roh Air Bawah (Undine) Lv.32
‘Makhluk kontrak?, sepertinya dulu namanya Hewan Kontrak’ Pikirku.
“Tuan? Kau kenapa bengong?” Tiba tiba Undine memanggilku dengan nama Tuan.
“Ah... maaf Aku tadi mengecek kemampuanku” Jawabku.
“Undine, lebih baik ikut kami ke rumah” Lanjutku.
“Bolehkah?” Tanyanya.
“Tentu saja, Kau sudah menjadi rekan kami” Balasku.
“Ayo cepat kita pulang” Nampak Fenrir sangat ingin pulang.
“Baiklah, Ayo pergi” Balasku.
Kami bertiga berjalan menuju ke rumah sambil memandangi matahari yang mulai terbenam. Suasana terasa begitu menyenangkan, tidak kusangka akan mendapatkan rekan baru.
Aku bingung bagaimana reaksi mereka saat melihat Undine?. Aku terus berpikir pikir, mau bagaimana lagi, roh sangat jarang berada di benua manusia, jadi pasti mereka heboh kan. Aku berpikir seperti itu, namun.
“Rekan baru?, Roh?, Undine?, Kalau begitu, selamat datang Undine” Nampak Ayahku menyambutnya.
“Kupikir kau akan terkejut, tapi tidak” Kataku.
“Kau sering melakukan hal yang luar biasa, itu membuatku sedikit terbiasa” Balas Ayahku.
“Wah, Ada roh” Tiba tiba ibuku muncul.
“Sepertinya kau roh air, benarkan. Dari dulu Aku ingin punya roh air, namamu Undine kan, Kamu bisa sihir roh air kan?, Bisakah kau mengajariku cara menggunakan sihir roh?, Kalo bisa nanti ku buatin makanan yang banyak loh” Jawab Ibuku dengan wajah gembira.
“Ibu, kamu sepertinya terlalu berlebihan” Jawabku.
“Kau tidak tau? Ibumu itu dulu pernah ke benua roh hanya untuk bertemu roh air” Balas Ayahku.
Seperti biasa, rasanya terlalu hangat. Dibandingkan dengan kehidupanku yang tidak memiliki orang tua. Sekarang rasanya sangat hangat. Aku tidak pernah sebahagia ini selama hidupku.
“Senangnya” Tiba tiba aku berkata seperti itu.
“Tuan, Lapar” Undine berkata dari belakang.
“Tunggulah sebentar” Balasku.
“Makanan dari tadi sudah siap” Tiba tiba terdengar suara Cecily dari arah dapur.
“Baiklah, Ayo makan” Jawab Ayahku dan membuat Undine menjadi semangat.
"Undine, besok mau makan berdua di taman? Nanti ada banyak daging" Ibuku berusaha membujuk Undine.
"Makan?, Daging? Aku Mau!!" Jawab Undine dengan semangat.
'Dia suka makan sepertinya' Pikirku.
Malam ini dipenuhi canda tawa, keramaian ini membuatku merasa nyaman dan aman. Aku suka berada di sini.
Aku sepertinya menikmati hidup ini, kehidupan baru membuatku terasa seperti orang yang berbeda. Mungkin Aku sudah terbiasa dengan kehidupan di dunia ini.
Setelah berbincang bincang dengan Undine, orang tuaku langsung mengajaknya makan dan itu membuatnya merasa senang. Aku berharap akan terus begini selamanya.
\=+[Bersambung]+\=
Note: Karena telah terjadi masalah terhadap internet, Chapter ini yang seharusnya terbit di hari senin, menjadi terbit di hari rabu. Jadi Besok, Aku sebagai Author akan berusaha menerbitkan chapter selanjutnya.
-Shirube
__ADS_1