
...Chapter 1 : Awal Mula...
...Bagian 2...
Hari ini adalah hari latihan pertamaku di dunia ini, sebelumnya Aku ga pernah berlatih di duniaku yang dulu. Bukan berarti Aku membenci olahraga, hanya saja Aku ingin membaca buku dengan tenang di jam pelajaran olahraga.
“Zare jangan bengong saja, perhatikan Aku mengayuh pedang” Kata Ayahku.
“Maaf”
Karena masih pagi, Aku harus belajar berpedang. Ayahku mengayuh pedang dengan cepat sehingga Dia terlihat seperti membelah udara. Di kehidupanku sebelumnya, Aku pernah membaca buku tentang cara berpedang dengan baik, yah karena dulu kupikir belajar berpedang itu tidak berguna, makanya Aku tidak membacanya sampai habis.
“Sekarang giliran kamu mempraktekkannya” Jawab Ayahku sambil memberikan pedang kayunya kepadaku.
Akupun mengayuh pedang sesuai dengan Ayahku lakukan tadi, tetapi tidak sebaik dirinya.
“Hiyaaah” Aku dengan sekuat tenaga mengayuh pedang.
"Hiyaaaah" mengayuh lagi dengan arah yang berbeda.
"Berhenti" teriak Ayahku.
Aku langsung menghentikan gerakanku yang kurasa terlihat berantakan dan membabi buta.
"Untuk mengayuh pedang, diperlukan ketenangan yang tinggi" Jelas Ayah.
"Baik"
Aku mengayuh lagi, tapi kali ini dengan tenang tanpa bersuara.
"Swoshhh" Terdengar suara ayunan pedang.
Beberapa saat berlalu. Aku terus menerus mengayuh pedang, kali ini dengan tenang dan tidak membabi buta. Hingga saat ini, Aku kelelahan akibat mengayuh pedang tanpa henti.
"Istirahat lah sebentar, dan juga akan kuperlihatkan teknik berpedang yang sesungguhnya" Kata Ayahku.
Aku berhenti mengayuh pedang lalu duduk di bawah pohon yang ditanam Ibuku lalu memperhatikan Ayahku yang ingin memperlihatkan teknik berpedangnya.
__ADS_1
"Lihat batu besar itu, Ayah akan membelahnya dengan pedang kayu ini" Jawabnya sambil menunjuk kearah batu besar yang berada di dekat kebun Ibuku.
'Hei hei hei, bagaimana mungkin pedang kayu dapat membelah batu besar itu' Pikirku.
"Shhhh" Ayahku nampak mengembuskan napas.
"Teknik Berpedang : Tarian Pedang" Ayahku melaju dengan kencang.
Tiba tiba ia berada di belakang batu, lalu batu tersebut terbelah menjadi dua. Aku sangat terkejut, bagaimana pedang kayu mampu membelah batu besar itu.
"Bagaimana, kuatkan" Jawabnya dengan menyombongkan kekuatannya itu.
"Ajarkan aku cara menggunakan jurus itu" Jawabku.
"Kau harus berumur paling tidak tujuh tahun dulu baru Kau bisa menguasai teknik berpedang. Kalau tidak, tubuhmu bisa hancur" Kata Ayahku.
"Lebih baik Kau belajar mengayuh pedang saja" Jawabnya.
Latihan berpedangku terus berlanjut hingga siang hari.
“Huaahh lelahnya” Aku mendesah mengeluh.
Aku tersenyum kepada Ayahku. Karena sekarang sudah siang, jadi sekarang waktunya beristirahat di perpustakaan sambil membaca buku yang menarik.
Berjam jam telah berlalu, dikirakan sudah ada lima buku yang telah kubaca sepenuhnya. Buku itu tidak lain adalah buku tentang Dunia Ini. Aku mempelajari bahwa tempat Aku tinggal sekarang ada di desa Valley, letaknya berada di ujung kerajaan Textear dan merupakan tempat yang damai.
Desa Valley merupakan desa dengan penghasil beras terbaik karena kebanyakan penduduknya memilih untuk menjadi petani dan Desa Valley juga memiliki tempat yang sangat bagus dan sejuk.
Kerajaan Textear adalah kerajaan yang telah berdiri selama 500 tahun lamanya. Kerajaan Textear sendiri merupakan salah satu dari lima kerajaan besar benua manusia.
Di Benua Manusia, terdapat lima kerajaan besar, yaitu Kerajaan Textear, Kerajaan penghasil kebun terbaik. Kerajaan Calbe, Kerajaan dengan militer terkuat. Kerajaan Geryam, Kerajaan yang memiliki banyak dungeon dan petualang. Kerajaan Wishland, Kerajaan yang letaknya berada di hutan lebat. Kerajaan Nexrio, Kerajaan dibalik pegunungan, salah satu kerajaan teraman jika dunia diserang iblis.
Dunia ini terbagi menjadi lima benua, yaitu Benua Manusia, Benua Setengah Hewan, Benua Roh, Benua Iblis, Dan Benua Dewa. Benua Dewa sendiri berada di tempat yang sangat jauh di dunia ini, dengan kata lain benua dewa itu berada di dimensi lain, itu menurut pendapatku karena Aku pernah bertemu dengan dewa di dunia putih.
Karena keasikan membaca buku, Aku sampai tidak sadar kalau waktu sudah sore. Aku segera bergegas menemui Ibuku yang sedang merawat tanamannya ditaman.
“Ibuu, Aku sudah siap” Teriakku
__ADS_1
“Iya iya, tunggu sebentar” Ibuku langsung membersihkan tangannya yang kotor karena berkebun.
“Wahai Roh Air, Ijinkanlah Kami Untuk Membersihkan Tubuh Kami Dengan Air Sucimu, [Pembersih Tubuh]” Ibuku membersihkan tubuhnya dengan sihir tanpa membuat pakaiannya basah sama sekali.
“Woah, Ibu sangat hebat” Aku tergagum karena kemampuan pengendalian sihirnya yang sangat bagus.
“Tentu saja, Ibumu ini seorang mantan petualang. Lalu kamu juga akan mampu mengendalikan sihirmu jika terus berlatih” Kata Ibuku untuk membuatku percaya diri.
“Baik”
Ibuku masuk kedalam lalu membawa buku. Buku itu adalah buku yang kupakai tadi pagi saat menggunakan sihir.
“Zare, kamu akan belajar mengendalikan sihir air terlebih dahulu sebelum sihir lainnya” Kata Ibuku.
“Untuk menggunakan sihir, diperlukan imajinasi yang kuat untuk membentuk sihirmu. Misalnya bayangkan sihirmu berbentuk bola air lalu lempar sekuat tenaga” Jawab Ibuku.
‘Imajinasi ya, baiklah. Bayangkan bola air ditanganku, lalu lempar’
“Wahai Roh Air, Berikan Sedikit Sihir Airmu, [Bola Air]” Muncul bola air ditanganku seperti tadi. Lalu tiba tiba terlempar jauh dengan cepat.
“Lumayan juga” Ibuku memujiku lalu mengusap kepalaku.
Bagaimana kalau menggunakan sihir tanpa mantra, mungkin terdengar sulit, tetapi Aku sudah paham bagaimana menggunakan sihir. Saat sihir aktif, tubuhku terasa seperti mengalir, bagaimana kalau Aku bayangkan kalau sihirku mengalir dari tubuhku, lalu lakukan seperti tadi.
‘Bayangkan sihir mengalir dari tubuhku, bayangkan di telapak tanganku sihir mengalir lalu membentuk bola air’ Tiba tiba muncul air ditelapak tanganku lalu membentuk bola air.
“[Bola Air]” Bola air tadi langsung terlempar menjauh.
“Tadi kamu menggunakan sihir tanpa mantra??” Ibuku langsung terkejut saat melihatku dapat menggunakan sihir tanpa mantra.
Akupun juga kaget saat mengetahui kalau Aku dapat menggunakan sihir tanpa mantra yang panjang dan merepotkan itu, tetapi melihat Ibuku yang begitu terkejut, bisa dipastikan kalau dunia ini tidak memiliki seseorang yang mampu menguasai sihir tanpa mantra ini.
“Ibu, Apa bisa lanjut belajar sihir?” tanyaku.
“Ah.. bisa” Ibuku masih agak terkejut.
Aku terus melatih menggunakan sihir Bola Air tanpa mantra ini. Hingga Aku kehabisan Mana, dan tidak dapat bergerak sama sekali. Ibuku langsung mengangkatku masuk ke kamar lalu berkata
__ADS_1
“Hari ini cukup sampai disini, Zare sudah berlatih dengan keras hari ini. Nanti Ibu buatkan makanan enak saat kamu bangun” Kata Ibuku sambil mengusap kepalaku.
>[Bersambung]<