Kehidupan Kedua Di Dunia Lain

Kehidupan Kedua Di Dunia Lain
Chapter 2-1


__ADS_3

...Chapter 2 : Seorang Guru...


...Bagian 1...


Pagi hari telah tiba, burung terbang kesana dan kemari sambil mengeluarkan suara kicauannya yang merdu. Cahaya matahari yang terang menembus jendela kamarku, itu membuatku terbangun dari mimpiku yang indah. Hari ini sangatlah cerah, sudah satu bulan semenjak Aku mulai berlatih sihir dan pedang.


Sekarang Aku mampu menguasai dasar dasar dari 6 elemen sihir. Yaitu, sihir api, air, angin, tanah, petir, cahaya. Lalu Aku sekarang sedang belajar menggunakan sihir penyembuhan. Di dunia ini terdapat banyak jenis sihir, tetapi enam elemen sihir tersebut wajib dipelajari bagi seorang penyihir.


Lalu kemampuan berpedangku tetap sama, tidak ada perubahan fisik pada tubuhku. Tetapi Ayahku tetap memaksaku berlatih pedang. Walaupun begitu, Aku tetap mengetahui dasarnya juga.


Aku beranjak dari kasurku menuju ke bawah. Ayahku, Ibuku, dan Cecily si maid sedang berbincang bincang di meja makan. Saat mereka melihatku, semuanya berhenti berbicara.


Aku duduk di meja makan tersebut lalu diam sambil menunggu apa yang akan terjadi. Tetapi tidak ada yang berbicara sama sekali. Apa mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting dan anak usia sepertiku tidak boleh mendengarnya. Saat suasana semakin canggung, Aku memutuskan untuk memulai percakapan.


“a-“


“Zare, Aku ingin menanyaimu. Apakah kamu sudah memiliki sebuah impian?” Tanya Ayahku sebelum Aku memulai percakapan.


Aku tidak paham maksud dari perkataannya. Impian ya, semenjak Aku datang ke dunia ini, Aku belum memiliki impian apapun. Kalau mungkin, Aku ingin menjadi sosok yang kuat dan dapat melindungi Adikku dan keluarga baruku.


“Aku Ingin Menjadi Kuat” Jawabku dengan wajah yang polos.


“Huh” Semuanya menghela nafas lega.

__ADS_1


Mereka berekspresi seperti mengkhawatirkan sesuatu dengan diriku, tetapi Aku masih belum mengerti maksud dari ekspresi mereka yang nampak lega saat Aku menjawabnya.


“Kupikir kamu itu seperti orang dewasa, ternyata kamu masih seperti anak pada umumnya” Kata Ibuku.


Kalau dipikir pikir, sekarang Aku mungkin sudah dewasa secara mental, tetapi tubuhku masih seorang anak anak, apa Aku harus bersikap seperti anak anak pada umumnya?.


“Yah, kalau kamu ingin menjadi kuat, mungkin saat umur tujuh tahun, Kamu akan masuk ke akademi sihir” Jawab Ibuku.


“Eh, lebih baik masuk ke akademi militer” Kata Ayahku yang menginginkanku menjadi seperti dirinya.


“Tidak tidak tidak, Zare lebih berbakat dalam sihir dibandingkan berpedang” Kata Ibuku.


“Tetap saja, Seorang laki laki harus berbakat dalam ilmu berpedang!” Jawab Ayahku dengan nada yang tinggi.


Pertengkaran mereka terus berlanjut tanpa henti. Tetapi, kalau dipikir pikir, lebih baik menjadi penyihir saja, Aku hanya memiliki bakat sebagai penyihir. Setelah berpikir panjang, Aku memutuskan untuk menjadi seorang penyihir. Aku langsung berdiri dari kursiku untuk menenangkan mereka.


“Sudah kuputuskan, lebih baik Aku menjadi seorang penyihir” Jawabku.


“Syukurlah kamu mengerti, sekarang Albert, kamu tidak akan menyela keputusannya Zare kan” Jawab Ibuku dengan tersenyum lebar.


Ayahku hanya bisa tersenyum pahit setelah mendengar keputusanku, tetapi Aku tidak akan menyesalinya karena bakatku hanyalah menjadi penyihir.


“Maaf Ayah, tapi Aku akan tetap belajar berpedang” Jawabku untuk membuat ayahku tidak terlalu kecewa.

__ADS_1


“Baiklah, asalkan Kamu dapat menjadi kuat, tidak masalah kamu ingin menjadi penyihir ataupun prajurit” Jawab Ayahku.


“Oh iya, Zare kamu akan memiliki seorang guru yang akan mengajarkanmu sihir yang lebih baik dari pada Aku” Jawab Ibuku dengan senyum manis.


“Guru?, bukannya Ibu bisa mengajarkanku sihir?” Aku bertanya tanya karena kebingungan.


Ibuku adalah mantan petualang yang katanya merupakan petualang terkuat pada masanya. Sudah pasti Ibuku menguasai sihir tingkat tinggi. Tingkatan sihir terbagi 6 tingkatan, yaitu Dasar, Menengah, Atas, Raja, Kaisar, Dewa. Yang saat ini ku kuasai adalah sihir dasar, masih lama bagiku untuk menguasai sihir tingkat yang lebih tinggi.


“Gurumu lebih berbakat dalam mengajar dibandingkan Aku, jadi akan lebih mudah bagimu untuk belajar dari penyihir langsung” Kata Ibuku sambil memakan roti yang ada dimeja.


“Daripada beradu mulut, lebih baik segera makan sebelum makanan ini dingin” Lanjut kata ibuku.


Aku segera menghabiskan makanan yang di sediakan oleh Cecily. Seperti biasa, rasanya lumayan enak, tetapi makanan diduniaku sebelumnya jauh lebih enak dari pada ini. Aku sudah agak terbiasa memakan makanan dunia ini, makanan disini agak sedikit hambar. Roti yang keras, sup yang hambar, ayam bakar, dan lain lain, tetapi rasanya tidak sebegitu buruknya.


“Ibu, Guru yang ibu katakan kapan akan datang?” Tanyaku


“Kemungkinan Dia akan datang besok” Jawab Ibuku sambil mengangkat piring.


“Baiklah, Aku akan menunggunya” Jawabku dengan tidak sabar.


Aku semakin tidak sabar, karena dengan itu, Aku dapat melatih sihirku menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Ya bisa dibilang Aku sekarang terlalu menginginkan kekuatan untuk melindungi "Keluarga" yang sekarang


+(Bersambung)+

__ADS_1


__ADS_2