
Arc 1 : Kehidupan Baru
...Chapter 1 : Awal Mula...
...Bagian 1...
Beberapa bulan telah berlalu, kini Aku telah mengetahui namaku yang sekarang, Zare Hilson, lalu Ayahku adalah Albert Hilson Baron, dia mewarisi gelar Baron dari kakekku. Lalu ibuku namanya Stella Hilson. Serta seorang maid yang lumayan imut bernama Cecily
Saat ini Aku sudah bisa bergerak dengan cara merangkak. Aku merangkak kesana dan kesini tanpa tujuan yang jelas, ya itu karena sudah lama aku tidak bergerak sama sekali, ini waktunya untuk menjelajahi seluruh rumah ini.
Rumah yang kutempati cukup luas dan terlihat sedikit tua, dan memiliki dua lantai. Kalau dipikir pikir, rumah ini lebih kecil dibandingkan rumahku di dunia sebelumnya, tetapi tidak masalah. Aku merangkak dari ruangan ke ruangan lainnya, kalau dihitung terdapat total 10 ruangan.
Ruangannya adalah, Kamarku, Kamar orang tuaku, Kamar Maid, Ruang kerja Ayahku, Gudang, Ruang Tamu, Dapur beserta tempat makan, Kamar Mandi, dan dua ruangan kosong yang mungkin salah satunya akan ditempati oleh adikku dimasa depan.
Tidak ada yang bisa kulakukan lagi sekarang, Ayahku sedang berlatih pedang diluar rumah, lalu Ibuku sedang menyirami tanaman, dan Cecily sedang memasak. Karena Aku masih bayi, yang kulakukan hanyalah memerhatikan apa yang semuanya lakukan.
Kupikir lebih baik memerhatikan Ayahku yang berlatih pedang melalui jendela. Dia dengan lincah mengerakkan tubuhnya yang kekar itu, saat ku perhatikan, pedangnya seperti mengeluarkan angin karena saking cepatnya. Bisa kusimpulkan kalau Ayahku adalah seorang pendekar pedang.
Sementara Ibuku, dia menyirami tanamannya, kalau diperhatikan tidak ada yang spesial. Tetapi saat dia menemukan tanamannya yang mati, Dia terlihat merapalkan mantra, tetapi Aku tidak tau mantra apa yang dia gunakan. Sebelumnya Aku mendapatkan kemampuan Menganalisis, tapi Aku tidak tau cara menggunakannya.
Aku benar benar lupa menanyakannya kepada dewa tentang cara menggunakan kemampuan menganalisis. Tetapi yasudah, Aku pasti mengetahui cara menggunakan kemampuan tersebut.
2,5 Tahun berlalu, umurku sekarang mungkin sudah tiga tahun, lalu sekarang Aku sudah dapat berjalan serta berbicara, ini hal yang paling kutunggu selama tiga tahun ini. Masih ada dua tahun lagi sebelum Adikku lahir, itu membuatku tidak sabar akan kehadirannya.
Aku sering mengunjungi perpustakaan kecil di rumahku, tulisannya menggunakan bahasa dunia ini, tetapi dengan kemampuanku, Aku dapat membacanya dengan mudah. Ayah dan Ibuku sampai terkejut karena Aku dapat membaca di usia yang sangat muda.
Disaat itu, Aku mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku tentang sihir, dikatakan bahwa sihir dapat diciptakan jika penggunanya merapalkan mantra dan memiliki mana (Energi sihir) serta pengendalian sihir yang cukup tinggi. Lalu terdapat juga mantra dasar dibawahnya.
__ADS_1
Aku membawa buku itu menuju ke ruangan kosong yang ada di rumahku untuk mencobanya. Mantra yang pertama adalah mantra sihir air tingkat dasar.
“Wahai Roh Air, Berikan Sedikit Sihir Airmu, [Bola Air]”
Rasanya tanganku seperti ada sesuatu yang mengalir, lalu muncul air di telapak tanganku dan mulai membentuk seperti bola. Aku mengarahkannya ke ember lalu tiba tiba bola air itu meletus dan membuat lantai menjadi basah.
Aku segera turun kebawah untuk mengambil lap agar dapat membersihkan air tersebut. Tetapi saat aku hendak masuk keruangan tadi, tiba tiba Ibuku datang. Dia terlihat sangat serius, Aku berpikir Dia marah karena lantainya basah.
Tiba tiba Ia memelukku dengan erat, saat kupandangi wajahnya, terlihat dia tersenyum lebar kepadaku, Aku tidak tau apa yang dia pikirkan.
“Zare ingin belajar sihir kan” Jawabnya dengan senyum lebar sambil melihat ke arah buku sihir yang kuambil tadi.
“Ya, Ibu” Jawabku.
“Baiklah, Aku akan mengajarkanmu. Jangan anggap remeh ya, Ibumu ini mantan petualang loh” Jawabnya dengan rasa bangga.
"Oh iya, lantainya jangan lupa di bersihkan" Jawab Ibuku dengan nada datar.
"eh... ya"
"Dan juga, dilarang menggunakan sihir di dalam rumah, mengerti" Rasanya nada suara Ibuku semakin tinggi.
Aku hanya bisa berkata "Ya"
"Besok, kamu akan berlatih sihir, jadi bersiaplah" Kata Ibuku.
Keesokan Harinya, hari yang Ibuku janjikan untuk melatihku menggunakan sihir. Dia nampak sangat senang, sedangkan itu Ayahku malah terlihat suram, sepertinya dia kecewa. Aku tidak tau apa yang membuatnya terlihat seperti itu.
__ADS_1
“Stella, Bukannya lebih baik kalau anak laki laki belajar pedang saja” Jawab Ayahku.
“Tidak boleh begitu, dia yang memilih ingin menjadi penyihir” Jawab Ibuku untuk membalas ucapan ayahku.
Pertengkaran mereka terus berlanjut hingga beberapa menit. Saat pertengkarannya semakin tinggi, Aku datang ke tengah tengah mereka untuk menenangkan satu sama lain.
“Ibu, Ayah, Bagaimana kalau Aku belajar sihir dan pedang” Jawabku dengan polos.
“Tidak Boleh, Itu Adalah Hal Yang Mustahil Bagi Bocah Berumur 3 Tahun” Jawab Ayahku.
"Ayolah, kumohon" Jawabku.
Aku berpikir kalau menggunakan sihir dan pedang adalah hal yang bagus untuk melawan musuh yang kuat. Menguasai sihir dan pedang terdengar seperti keren kan.
"Kalau tidak ya tidak. Kamu itu masih kecil, kalau berlatih keduanya, kamu bakalan kelelahan serta tidak memiliki waktu luang" Jawab Ayahku yang semakin melarangku.
“Bagaimana kalau belajar berpedang di pagi hari, lalu sihir di sore hari, jadi siang hari Aku dapat beristirahat, dan malam hari untuk belajar” Jawabku.
“Kamu ini, itu akan sulit bagimu” Jawab Ayahku untuk melarangku terlalu sering latihan.
“Sudahlah, biarkan saja. Diakan anak kita, Dia pasti bisa mempelajari sihir dan pedang” Jawab Ibuku.
“Baiklah, Tetapi Zare jangan memaksakan dirimu, Kamu bahkan baru berumur tiga tahun” Ayahku terlalu khawatir kepadaku.
Dengan demikian, Mereka tidak bertengkar lagi hanya karena diriku. Karena hal itu juga, Aku mendapatkan banyak latihan. Sepertinya setiap hari akan terasa sangat sulit, tetapi kekuatan yang kuat didapatkan melalui latihan yang berat.
-+Bersambung+-
__ADS_1
NT : Jangan lupa di like, dan follow. Kalau kalian suka dengan ceritanya, lebih baik dijadikan favorit dan kalau bisa berikan vote juga. Share ke teman kalian agar novel ini terus berkembang.