
...Chapter 7 : Keberangkatan...
...Bagian 1-2...
Setahun akhirnya berlalu, kini umurku sudah lima tahun. Dan juga Ibuku saat ini sedang mengandung. Perutnya mulai sedikit membesar dan sudah pasti kalau Dia itu adalah adikku di dunia sebelumnya.
Dan hari ini, Ayah akan pergi menuju ke medan perang, meninggalkan kami dengan persiapan yang banyak. Meski begitu ada hal yang membuatku khawatir.
“Zare, Ayah mengakui jika Kamu itu kuat, maka dari itu, jaga ibumu dengan baik” Kata Ayah.
“Tentu saja, jadi Ayah tidak perlu khawatir, lagipula Aku memiliki Fenrir dan Undine yang akan menjaga kami” Balasku.
“Lalu uang satu koin emas itu akan dikirim oleh Viscount setiap bulan, jadi ambil uang itu jika Dia datang ke desa ini” Kata Ayahku.
“Baik” Balasku.
Ayahku naik ke sebuah kereta kuda yang terlihat tua. Tapi masih kuat dan tahan ketika dipakai. Ayahku segera berangkat dengan kereta kuda itu dan supirnya. Semakin lama, kereta kuda itu semakin menjauh dan sekarang sudah tidak terlihat.
“Sepertinya hari ini akan merepotkan” Kataku kepada Fenrir yang berdiri disampingku saat mengantar Ayahku pergi.
Beberapa hari berlalu setelah Ayahku pergi menuju ke medan perang. Saat ini Aku berada di depan rumah karena hendak menyirami tanaman yang mulai layu, sedangkan Cecily pergi membeli bahan makanan di pasar.
Letak Pasarnya berada di Kota Netium, jaraknya dari desa sekitar empat jam perjalanan jalan kaki. Untuk bolak balik pasti memakan waktu yang banyak, tetapi karena Cecily memiliki sihir angin tingkat atas, Dia dapat membuat gerakan tubuhnya menjadi lebih cepat dan ringan. Lalu tiba tiba Fenrir berkata sesuatu.
“Tuan, Itu kereta dari Viscount” Kata Fenrir
Dari kejauhan terlihat sebuah kereta yang terlihat bagus dan indah. Warnanya cerah sehingga mudah di lihat di siang hari. Dan kereta itu menuju ke arah rumahku.
Tidak lama kemudian, kereta itu sampai di depan rumahku, lalu seorang Viscount, Derria Nor Viscount, turun dari kereta lalu menghampiriku.
“Hei nak pelayan, tunjukkan dimana Nona Stella berada” Kata Derria.
“Aku bukan pelayan, Aku adalah Zare Hilson, jadi uang kompensasi yang diberikan Raja ada dimana?” Tanyaku.
Derria memberiku sekeping koin perak lalu masuk kedalam. Dia tidak memberikanku Uang yang sesuai dengan yang diberikan Raja. Hal itu membuatku sedikit emosi. Lalu Dia menerobos masuk kedalam Rumah dan menghampiri ibuku yang berada di ruang tamu.
“Nyonya Stella, seperti yang kau tau, Aku adalah penguasa sementara desa ini, tapi Aku bagaimana kalau aku berkata bahwa aku akan mengambil alih semuanya?” Kata Derria.
"Lagipula, Albert itu tidak akan bisa mengurus desa ini, kalau Aku yang memimpin desa ini, akan kubuat desa ini menjadi lahan industri" Lanjut Derria.
“Tidak bisa begitu, Desa ini adalah milik kami, kami tidak akan membiarkanmu mengambil alih desa ini. Lagipula kau hanya ditugaskan untuk mengurus desa sementara, jadi jangan seenaknya mengambil desa ini” Balas Ibuku dengan suara membentak.
“Kalau kau bersikap seperti itu, kau akan dalam masalah” Derria memberikan sebuah ancaman.
“Meski kau memberikan ancaman seperti itu, Aku tidak akan memberikan desa yang telah diurus oleh keluarga Hilson selama beberapa generasi!!” Debat Ibuku.
“Aku sudah memperingatimu, tapi karena sudah begini mau tidak mau kau harus kutangkap. Lagipula sekarang tidak ada yang akan menolongmu” Jawabnya.
“Anakku yang akan melindungiku, kau tidak bisa berbuat apapun” Balas Ibuku.
“Anakmu? Maksudmu anak kecil yang menyiram tanaman itu?, Hahahaha kau sedang melawak? Anak seperti dia hanya bisa merengek meminta apapun” Dia nampak merendahkanku.
“Apa Kau Bilang!” Aku merasa sangat kesal dengan perlakuannya.
“Prajurit tangkap” Perintahnya.
Tiba tiba seluruh prajurit miliknya datang dan mengepung rumah ini, dan masuk di setiap jendela dan menyudutkan Aku dan Ibu, di ruang tamu.
“Sekarang menyerahlah, Desa ini akan menjadi milikku” Jawab Derria dengan nada sombong.
“Tidak akan kubiarkan Kau mengambil desa milik ayahku” Aku tiba tiba berkata seperti itu.
“Kau anak kecil yang sombong ya, prajurit tangkap bocah itu” Perintahnya lagi.
Prajurit itu langsung berlari menuju ke arahku, namun
“[Kecepatan Petir], Fenrir serang mereka, Undine datang kesini cepat” Sambil bergerak dengan cepat, Aku memanggil kedua rekanku.
__ADS_1
Fenrir yang berada di luar rumah langsung mendengar suaraku, begitu pula Undine yang berada di danau kemarin. Dengan cepat mereka tiba ke ke dalam rumah.
Aku berlari menuju ke prajurit ke prajurit lainnya hingga membentuk zig zag dan memukulnya satu persatu. Namun ternyata tidak terlalu mempan. Lalu tibalah Fenrir dan Undine, mereka mulai membentuk posisi bertahan.
“Selanjutnya [Genangan Air]” Meskipun hanya sihir tingkat dasar tapi...
“[Peluru Es Beruntun]” Ditambah esnya Fenrir membuat musuh membeku.
Semuanya membeku selain Viscount, tapi Aku yakin jika Aku akan menang dengan mudah. Maka dari itu Aku langsung menyerang dengan melompat lalu terjun dengan sihir angin sehingga membuat pusaran angin yang kuat.
Tapi Viscount itu dapat menghindar dengan mudah. Tapi masih belum sampai disitu. Aku menggunakan sihir petir untuk menambah kecepatan lalu berlari dengan menggunakan sihir angin tadi.
Tentu saja Viscount masih bisa menghindarinya dengan mudah. Aku tidak tau bagaimana cara dia melakukan hal itu, tetapi Aku harus melindungi Ibu dengan sekuat tenaga. Ibuku tidak dapat mengeluarkan sihir ketika mengandung, maka dari itu Aku harus menjaganya.
"Hahahahahaha!!! Apa kau tidak tau? Aku adalah pengguna seni pedang tingkat atas, serangan seperti ini tidak akan melukaiku" Jawab Derria dengan nada sombong.
Kami mengabaikan perkataannya lalu, Undine membentuk pelindung sihir roh air sehingga tidak mudah di tembus oleh prajurit yang diam diam datang menyerang dari belakang.
Aku menambah kecepatanku lalu terus menyerangnya, tapi ternyata Dia sangat kuat. Kalau kulihat, Dia mungkin hampir setara dengan Ayahku yang kuat dalam ilmu berpedang.
“[Pusaran Angin]” Muncul angin yang melingkar dan seakan akan mengelilingi sesuatu. Bentuknya mirip seperti tornado tapi versi yang lebih kecil.
Sihir angin adalah sihir yang paling mudah dikendalikan, jadi sangat bagus dipakai jika Musuh sering berpindah pindah tempat seperti Dia. Aku menyerangnya dengan cepat dan mengejarnya hingga Dia mengeluarkan sebuah pedang dari saku kanannya dan menebas angin milikku.
“Undine, Fenrir, Sekarang” Perintahku.
“[Naga Air]” Undine langsung menggunakan sihir air tingkat rajanya dengan tambahan skill milikku, dan membuat serangannya menjadi dua kali lipat.
Lalu Naga Air itu menelan Derria, lalu disusul dengan sihir milik Fenrir
“[Membeku]” Ini adalah sihir yang kuajarkan kepada Fenrir untuk membekukan Air agar menjadi keras dan membekukan Derria yang saat ini ditelan naga air milik Undine.
“Masih belum!!” Sebelum sempat senang, tiba tiba Derria keluar dari es yang kuat itu.
“Teknik Berpedang : Pedang Naga” Tiba tiba dia menggunakan teknik berpedang.
"Kenapa? Sekarang kau takut? Lebih baik kau merengek saja" Jawab Derria.
"Tidak akan semudah itu" Balasku.
"Tidakkah kau melihatnya? Naga air atau apalah itu, Aku dapat menebasnya dengan mudah.
"Itu..." Aku tidak bisa berkata apapun.
“Sudah kuduga, kau hanyalah seorang bocah yang lemah” Jawabnya.
“Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi, [Inventori]”
[Inventori Slot ∞]
-[Batu 3x]
-[Ranting Kayu 1x]
-[Tongkat Sihir Kayu (Normal) 1x]
-[Buku Sihir Tingkat Atas (Luar Biasa) 1x]
-[Pedang Kayu (Normal) 1x]
-[Pedang Besi (Luar Biasa) 1x]
-[Koin Perak 31x]
Aku mengambil pedang yang telah diberikan oleh ayahku, meski teknik berpedang yang kupelajari masihlah tingkat dasar, meskipun juga Aku tidak terlalu menguasainya. Tapi Aku yakin dengan begini Aku akan menang
[-1 Pedang Besi]
__ADS_1
“Sekarang Aku akan mengenaimu kali ini [Pedang Petir]” Ini adalah salah satu teknik penggabungan antara teknik berpedang dan sihir yang baru baru ini kutemukan secara tidak sengaja.
Dengan cepat, Aku berlari menuju ke arahnya, dan menyerangnya dengan menggunakan pedang, meski pedang milikku di halau oleh pedangnya, tapi Aku melompat keatas lalu berguling di udara dan menyerang dari belakang.
Aku tau kalau Dia akan menghindar, tapi Fenrir langsung membekukan air pada saat Aku berguling di udara dan membuat Derria si sialan itu tidak dapat bergerak sama sekali dan membuat celah yang besar.
Tentu saja Aku menyerang punggungnya hingga berdarah. Lalu, semua prajuritnya berhasil di halau oleh Undine dan membuat Ibuku aman, ini adalah kemenangan bagi kami. Si Derria Nor Viscount segera pergi dari desa dan menggunakan kereta kudanya.
Lalu tiba tiba Cecily datang dan terkejut melihat penampakan rumah yang sudah bolong bolong karena diserbu oleh prajurit dari Viscount. Selama kejadian itu, tidak ada lagi kejadian yang buruk. Tetapi dua puluh hari kemudian.
Muncul surat dari sang raja, dan di surat itu tertulis :
Wahai Keluarga Hilson yang terhormat, seperti yang kalian ketahui, bahwa Derria Nor Viscount akan menggantikan tugas dari Albert Hilson Baron untuk mengawasi desa untuk sementara. Tetapi menurut laporan, Keluarga Hilson melakukan penyerangan terhadap Derria Nor Viscount dengan bukti luka di punggung dan luka para prajurit. Meski Aku tidak mengetahui bagaimana Keluarga Hilson melakukan hal itu, tetapi Aku sebagai Sang Raja akan memutuskan hukuman terhadap Keluarga Hilson Atas Penyerangan Keluarga Bangsawan Yang lebih tinggi. Yaitu, Keluarga Hilson harus meninggalkan Desa Valley. Desa itu akan diurus oleh Derria Nor Viscount. Tetapi gelar dari Albert Hilson Baron tidak dicabut karena jasanya yang ikut serta dalam misi penyerbuan benua iblis. Jadi Keluarga Hilson harus segera meninggalkan desa atau hukumannya akan semakin berat.
“Ibu Aku minta maaf” Aku tau kalau semua itu terjadi karena diriku.
“Kau sudah melakukan hal yang benar, Ayahmu juga pasti akan bangga dengan dirimu, jadi semangatlah!” Ibuku membujukku untuk tetap semangat
“Tetapi Nyonya Stella, Uang yang diberikan oleh Tuan telah habis dipakai membeli bahan makanan kemarin” Jawab Cecily.
“Apa? Uang sudah habis? Lalu bagaimana dengan uang yang diberikan raja?” Ibuku nampak panik.
"Derria itu tidak memberikan kita Uang yang diberikan raja" Jawabku.
"Lalu bagaimana dengan uang pajak desa ini?" Tanya Ibuku.
"Karena Tuan tidak ada, maka tidak ada yang mengumpulkan pajak" Jawab Cecily
"Lalu bagaimana ini? Kita harus meninggalkan desa karena ulah Viscount itu" Ibuku semakin panik.
“Ibu, Aku punya tiga puluh keping perak yang diberikan oleh pelayan tuan putri setahun yang lalu” Jawabku.
“Sungguh?, Syukurlah, kita dapat menyewa penginapan” Ibuku langsung lega.
“Tapi Nyonya, Uang itu akan habis jika dipakai terus menerus” Kata Cecily.
“Kalau itu, bagaimana kalau Aku menjadi petualang?” Jawabku.
“Tidak Boleh!, itu berbahaya!” Ibuku langsung melarangku.
“Tapi Ibu, kalau tidak menjadi petualang, bagaimana cara agar kita bertahan hidup?” Tanyaku.
Semuanya hening karena memikirkan bagaimana cara mendapatkan Uang dengan aman dan banyak. Meski memikirkan banyak hal, tetap saja tidak bisa menemukan jawaban.
“Nyonya, bagaimana kalau Aku membantu Zare saat menjalankan misi?” Tanya Cecily.
“Kalau kau menemaninya, Aku setuju saja” Ibuku langsung mengiyakan.
“Hore, kalau begitu, Undine yang akan melindungi Ibu selama kami menjalankan misi” Jawabku.
“Hei, kenapa harus aku?” Tanya Undine.
“Kau kan tidak bisa berjalan jauh dan mudah kelaparan, jadi lebih baik Kau tinggal di penginapan sambil makan setiap saat” Aku menjelaskan tentang keuntungannya kepada Undine.
“Yah kalau maumu begitu, mau bagaimana lagi” Meski dia berkata begitu, tapi Aku tau isi hatinya yang sebenarnya.
“Baiklah, mari kira pergi menuju ke desa sebelah. Ibu naiklah keatas Fenrir, oh iya Fenrir, bolehkan?”
“Tidak Masalah Tuan” Jawab Fenrir sambil menundukkan tubuhnya agar mudah di naiki.
semua berjalan menuju ke Kota Netium, tempat yang jaraknya lebih dekat daripada kota manapun. Kami hanya menghabiskan beberapa jam untuk sampai ke tempat itu. Dengan begini Kehidupanku langsung berubah drastis.
{Bersambung}
Arc 1 Selesai
Note : Karena kemarin tidak jadi up, maka harinya ini Aku memberikan Full Chapter nya. Lalu Mengenai masalah Arc 2, akan dijelaskan di pengumuman.
__ADS_1