
...Chapter 5 : Ujian Akhir...
...Bagian 2...
Setelah membunuh Bos Bandit tersebut, Aku langsung bergegas menuju ke Kereta Kuda dan membuka pintunya. Didalam terlihat sesosok gadis yang sepertinya umurnya berbeda 4 tahun daripada diriku. Dan juga seseorang kakek tua yang sedang sekarat.
“[Penyembuhan Rendah]” Aku hanya bisa menggunakan sihir penyembuhan tingkat rendah. Namun Efeknya lebih kuat dibandingkan biasanya.
Karena [Peningkatan Sihir] Sihir Penyembuhanku seperti tingkat atas, dengan kata lain Kakek tua tersebut berhasil sembuh meski nyawanya terancam. Kakek tua tersebut bangun dengan cepat lalu menatapku. Lalu Dia menghela napas yang panjang.
“Terima kasih telah menyelamatkan kami, Tanpa Anda, mungkin kami telah tiada” Kata Kakek Tua Tersebut sambil membungkukkan dirinya.
“Ah, sama sama” Jawabku.
Lalu Guruku akhirnya sampai, Aku terlalu cepat sampai akibat [Peningkatan Sihir], Tetapi tiba tiba Guruku menunduk hormat, Aku tidak tau kenapa dia melakukan itu.
“Apakah Anda tidak apa apa? Tuan Putri” Guruku menyebutkan kata Tuan Putri
Aku langsung sadar kalau “Tuan Putri” yang dimaksud adalah anak berumur delapan tahun itu dan kakek tua itu mungkin pelayannya. Aku langsung keluar dan ikut menunduk.
“Maafkan Aku, Tuan Putri, Aku tidak menyadari Anda” Aku meminta maaf.
“Sudahlah, Tuan telah menyelamatkan kami dari sekelompok bandit tadi” Kata Pelayan itu
Tuan Putri menatapku lalu saat kutatap balik, Dia memalingkan wajahnya. Tapi saat tidak kuperhatikan, Dia menatapku, dan memalingkan wajah lagi.
“Maaf tapi, Aku ingin bertanya, kalian ingin pergi kemana?” Guruku tiba tiba bertanya.
“Aku tidak bisa memberitahumu dengan jelas, tetapi intinya Kami ingin pergi ke kediaman Hilson” Kata Sang Pelayan
“Maksudmu, kau ingin bertemu dengan ayahku?” Tanyaku.
“Kau, jangan jangan?” Pelayan itu mulai menyadarinya.
“Ya, Aku adalah Zare Hilson, anak dari Albert Hilson Baron” Aku memperkenalkan diri kepada mereka.
“Sungguh kebetulan yang bagus, bisakah kalian mengantar kami? Tentu saja ada hadiahnya” Pelayan itu menawari kami sekantung koin perak.
Dalam kantung itu terdapat sekitar 30 koin perak. Aku pernah membaca sebuah buku di perpustakaan milik Ayahku, kalau 100 koin perunggu setara 1 koin perak, dan 100 koin perak setara 1 koin emas. Memiliki satu keping koin emas aja sudah bisa membeli sebuah rumah kecil.
Uang sebanyak 30 koin perak setidaknya bisa membeli berbagai macam peralatan, tetapi uang sebanyak itu tetap saja tidak baik untuk dipegang oleh anak berumur 4 tahun sepertiku.
“Zare, ini buat kamu aja” Guru Cariel langsung memberikan sekantung koin perak itu.
__ADS_1
“Eh?” Aku kebingungan.
“Kamu yang menyelamatkannya kan, jadi buat kamu aja” Kata Guru Cariel.
Bagaimana bisa seorang guru seperti Cariel bisa memberikan anak kecil uang yang banyak. Kalau begini, bisa ada yang menculikku diam diam.
“Kalau begitu, mari berangkat” Kata Pelayan itu.
Aku dan Guru Cariel berjalan disamping kereta kuda dan sekaligus menunjuk arah menuju ke rumahku.
Selama perjalanan, Kami berbincang bincang tentang banyak hal, tetapi Putri itu masih aja memalingkan wajahnya dariku. Aku tidak tau apa Aku berbuat salah padanya. Dan juga Ia tidak pernah mengeluarkan suaranya sama sekali, itu membuatku penasaran.
Kita telah sampai di rumahku, lalu nampak Ayah dan Ibuku berada di luar untuk menyambut Tuan Putri.
“Selamat datang Tuan Putri, Kami memohon maaf jika anak kami melakukan hal buruk pada kalian” Jawab Ayahku dengan membungkuk.
“Dia anak yang baik ya, dan juga Dia sangat kuat dibandingkan anak seusianya” Kata Pelayan Itu.
“Baiklah, silahkan masuk, maaf jika rumahnya kecil” Ayahku nampak merendahkan dirinya.
Kami semuapun masuk ke dalam dan duduk diruang tamu kecuali Aku dan Guru Cariel. Kami berdua berdiri didekat pintu.
“Maksud kedatangan kami kesini adalah menyampaikan pesan Raja. Raja berkata bahwa Anda Albert Hilson Baron, di perintahkan untuk mengikuti penyerbuan benua iblis, lalu sebagai kompensasi, Raja memberikan 1 koin emas perbulan untuk keluarga Anda, lalu tugas mengurus desa Valley ini sementara akan diserahkan kepada Derria Nor Viscount. Saat Anda kembali ke desa, hak desa akan diserahkan kembali pada Anda” Jelas Pelayan itu.
“Dan juga, penyerbuan benua iblis akan dimulai tahun depan. Kuharap Anda bisa menghabiskan waktu selama setahun ini” Jelas Pelayan itu.
Setelah berbincang bincang yang cukup lama, mereka keluar dari rumah lalu menaiki kereta kudanya.
“Baiklah, Tuan Putri, mari kita kembali ke ibukota, Ngomong-ngomong, Tuan Hilson, bisakah Anda memberikan pengawal pada kami?” Tanya Pelayan Itu.
"Apa yang terjadi pada pengawal Tuan Putri?" Tanya Ayahku.
"Mereka mengkhianati Tuan Putri dengan meninggalkan kami di tengah perjalanan" Kata Pelayan itu.
“Cariel, Kamu bisa mengawalnya kan, sekalian Kamu bisa pergi ke Ibukota dengan cepat” Kata Ayahku.
“Tidak masalah, lagipula Aku telah memberikan ujian akhir kepada Zare dan Dia lulus. Aku tidak bisa mengajarinya lagi” Kata Guru Cariel.
“Namamu Cariel kan, Aku akan memberikanmu sekeping koin emas jika Kita sampai ketujuan” Tawar Pelayan Itu.
“Dan juga, Cariel, ini biaya mengajarnya selama setahun ini” Ayahku memberikan lima koin emas kepada Cariel.
“Guru akan pergi?” Tanyaku.
__ADS_1
“Ya, kita akan bertemu lagi di Akademi sihir Textear” Kata Guru Cariel.
“Baiklah, Hati Hati Guru, Aku akan merindukanmu” Aku tersenyum.
“Sampai Jumpa, murid terhebatku” Kata Cariel.
“Ya, Sampai Jumpa” Balasku.
Mereka akhirnya berangkat menuju ke ibukota. Aku melambaikan tangan untuk membuat Guruku melihatku. Aku meneteskan setetes air mata. Setahun ini penuh kenangan, kenangan yang tidak akan terlupakan.
“Yah, kupikir kau akan merengek agar gurumu tidak pergi” Kata Ayahku.
“Aku tidak seegois itu untuk menghalang mimpi guru Cariel” balasku.
“Lebih baik menghabiskan waktu bersamaku setahun ini sebelum Aku pergi menuju ke medan perang” Kata Ayahku.
“Ngomong-ngomong Fenrir mana? Aku tidak melihatnya hari ini” Tanya Ayahku.
“Dia masih tidur, mungkin” Jawabku.
“Sungguh pemalas, sudah siang masih aja tidur” Ejek Ayahku.
“Ekhem, bukannya Aku pemalas, tapi Aku sedang melatih sihirku” Tiba tiba terdengar suara Fenrir.
Lalu Fenrir muncul tiba tiba seakan akan dia berteleportasi dan membuatku dan Ayahku kaget.
“Itu sihir apa?” Tanyaku.
“Sihir angin, entah mengapa sihirku semakin kuat, sehingga Aku bisa mencapai sihir angin tingkat raja” Jawab Fenrir.
“Sungguh Hebat Fenrir!, itu sihir yang keren” Pujiku.
“Ini tidak seberapa dibandingkan tuanku” Fenrir merendahkan dirinya lagi.
“Fenrir, sekarang kau sudah setara monster level A” Kata Ayahku.
"Level A?" Aku tidak tau maksud Ayahku.
"Saat kau nanti menjadi seorang petualang, kau pasti akan mengetahuinya" Jawab Ayahku.
Kami pun berbincang bincang bersama setelah kepergian Guru Cariel. Aku tidak sesedih itu, karena Aku dapat bertemu dengannya suatu saat nanti. Lalu Ayahku, kurasa Aku perlu menghabiskan waktu dengannya setahun ini. Dan juga sisa setahun lagi sebelum Adikku lahir ke dunia ini.
-+[Bersambung]+-
__ADS_1