
Pernikahan impian yang seperti apa yang di impikan oleh banyak para wanita pada umumnya?
Tentu saja pernikahan yang sakral dengan pesta yang meriah, bukankah di zaman modern ini acara resepsi pernikahan adalah hal yang sudah lumrah?
Begitupun denganku tak munafik aku juga menginginkan pesta yang meriah untuk pernikahan sekali seumur hidup. Meskipun pada akhirnya hanya acara pernikahan yang sederhana aku sudah merasa bersyukur pernikahan kami dapat terlaksana dengan khidmat dan berjalan sesuai rencana.
Tak ada pesta meriah, hanya ada acara makan jalan untuk para tetangga dan teman-teman kerja serta teman kuliah suamiku.
Sebenarnya orang tuaku masih mampu jika hanya mengadakan acara pesta resepsi untukku, hingga orang tuaku menyarankan kepada kami setelah tiga bulan nanti alangkah baiknya acara resepsi pernikahan kami digelar.
"Bagaimana apakah kalian setuju?"
Bapak mencoba berbicara dengan mas Arga, suamiku.
Ku lirik suamiku yang hanya diam membisu, aku tidak tahu apa yang kini sedang di pikirkan olehnya.
"Kalau itu semua terserah kepada bapak saja. Sejujurnya aku merasa tidak enak pak begitupun dengan ayahku pasti beliau tidak akan setuju."
Aku mengerti mengapa suamiku bisa berkata seperti itu, orang tuanya pasti enggan mengeluarkan biaya tambahan apalagi ibunya yang sangat pandai matematika.
Untuk menikahiku saja mas Arga sangat bersusah payah, dia harus bekerja keras demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Aku juga ikut andil dalam mengumpulkan dana untuk pernikahan kami.
Sebagian tabunganku aku serahkan kepada mas Arga untuk menambahkan uang tabungannya yang memang tidak seberapa untuk melamar.
Orang tuaku memang tidak meminta mahar dan uang bawaan dengan nominal yang besar tapi mas Arga sebagai lelaki tentu tak mau hanya datang dengan membawa pakaian yang melekat dibadan.
Hari lamaran telah berlalu hingga acara pernikahan kami usai semua berjalan tanpa hambatan.
Sedikit cerita ketika acara seserahan kami sempat mengalami kendala semua itu karena ulah ibunya mas Arga.
Sejumlah uang yang diberikan oleh mas Arga untuk dibelanjakan keperluan acara seserahanku justru dibelikan Emas dan sejumlah kebutuhan pribadi untuk dirinya sendiri.
"Ibu, bagaimana Arga harus menjelaskan lagi kepada ibu? Bukan Arga tidak sayang ibu tetapi uang itu untuk acara besok pagi. Mau bawa apa kita kerumah Nadin bu? Aku sudah tidak mempunyai uang cadangan lagi."
__ADS_1
Arga bersungut, sungguh saat itu suamiku kecewa dengan sikap iri ibunya yang hadir tidak tahu tempat.
"Wesss, bela saja wanita itu memang kamu mau jadi anak durhaka sama ibu?"
Lagi-lagi suamiku hanya diam menahan geram, ia tahu marah kepada ibunya hanya akan memperkeruh suasana.
Akhirnya malam itu juga mas Arga menelepon Mba Leni kakak iparku dan suaminya untuk membantu membelikan seserahan yang seadanya sesuai dengan uang yang tersisa.
Aku yang mendengar kabar hanya bisa pasrah semoga esok keluargaku bisa menerima.
Acara seserahan tiba hanya ada tiga parsel kue bolu tanpa roti buaya, satu set seprei yang tentu saja sumbangan dari kakak ipar, beberapa parsel alat make up, baju kebaya yang sudah kami persiapkan jauh-jauh hari dan beberapa perhiasan yang tentu saja sudah mas Arga beli.
Beruntunglah ayah mertuaku dapat hadir pada acara seserahan kami mendengar kabar yang tidak cukup baik dari putra dan menantunya, ibu tiri mas Arga berinisiatif menyiapkan beberapa parsel buah dan parsel makanan.
Hingga acara lamaran kami selesai ibunya mas Arga kembali membuat ulah dengan mencela hidangan yang kami sajikan untuk para tamu.
Tentu saja aku tahu dia sedang merasa malu atau memang dia tidak tahu malu.
"Ikan macam apa begini? Aneh sekali rasanya."
Gak enak ko diteruskan makannya?
Dalam hati gondok sendiri.
Jangan tanya mengapa mertuaku orang yang sangat angkuh, aku sendiri tidak tahu mungkin karena memang sudah bawaan dari lahir dia begitu.
Usai lamaran orang tuaku memberikan beberapa bungkus makanan sebagai balasan bawaan dari besan.
Ada pindang, ada berbagai macam buah, aneka kue basah, dan segala apa dibungkus ibuku untuk calon besan.
"Gak usah diterima, nanti pada tumpah mobil jadi kotor sayang buang-buang uang buat nyuci. Lagi pula gak ada yang makan, ga ada yang doyan masakan kampungan."
Lagi-lagi mertuaku mencela secara blak-blakan, dia bahkan tidak pamit kepada para tetangga berlalu begitu saja meninggalkan tempat acara.
Arga meminta maaf dan keluarga besarku hanya bisa memaklumi.
__ADS_1
Beberapa makanan yang sudah dibungkus tetap diberikan kepada kakak iparku dan jika ibunya Arga tidak mau, paling tidak ibu tirinya Arga akan dengan senang hati menerima.
Oh ibu mertua sungguh terbuat dari apa hatimu?
Hari pernikahan kami akan segera tiba, setelah melalu perdebatan yang cukup sengit antara ibu mertua dan ayah mertua.
"Gak usah pake acara yang meriah, buang-buang uang saja. Kamu fikir nyari uang itu mudah. Kerja keras hanya untuk bahagiakan anak orang, bahagiakan dulu ibumu ini."
Begitulah ucapan menyakitkan ibu mertuaku menjelang acara pernikahan.
Akhirnya Arga memutuskan dari pada tidak menjadi menikah lebih baik tetap diadakan acara pernikahan dengan sederhana.
Tidak ada pelaminan, tidak ada tenda, tidak ada kursi-kursi yang berjejer rapi di jalan. Acara akad dilaksanakan di KUA, dan setelahnya kami pulang kerumah orang tuaku karena semua acara kami adakan disana.
Ayah dan ibu mertuaku hanya mampir sebentar selepas dari KUA dan memilih pulang tanpa menyentuh makanan yang sudah tersaji.
Ayah mertua berpamitan, tidak dengan ibu mertua tapi ku lihat tadi dia berbisik sesuatu kepada Arga.
Iseng aku bertanya kepada suamiku ada apakah dengan ibunya sehingga ia berbicara padanya dengan berbisik-bisik.
"Ibu menyuruhku untuk membawakan ikan pindang seperti yang kemarin."
Aku hampir saja tertawa terbahak-bahak. Kenapa juga ibu mertua bersikap gengsi untuk mengakui bahwa masakan ibuku memang enak?
Halah, dasar muna
Begitulah yang ada dibenakku, selain angkuh ternyata dia adalah orang yang muna.
Bagaimana jika aku harus tinggal satu atap dengan ibu mertua? yang sudah jelas-jelas sangat susah hanya untuk bersikap ramah.
Aku harus mencari cara agar mas Arga mau untuk tinggal bersama orang tuaku atau paling tidak kami mengontrak rumah saja.
Aku terus berfikir hingga malam pertama, kami lewatkan dengan kelelahan.
Bukan dengan kelelahan versi pikiran buruk kalian tapi kelelahan dengan pikiran kami mencari solusi untuk tidak tinggal bersama ibu mertua.
__ADS_1