
Aku pamit pulang kerumah sementara mas Arga akan tetap tinggal disini bersama ibunya.
Kehidupan kami setelah menikah tidak ada yang berubah bahkan mas Arga pun tidak menyentuh tubuhku sama sekali sejak malam pertama kami menikah.
Entahlah.
Aku sendiri merasa bingung kepadanya, bagaimanapun aku adalah istrinya yang sudah di nikahi secara sah.
Ku pandangi langit-langit kamar ku, berusaha mencoba mencari jalan yang terbaik untuk kehidupan rumah tangga kami.
Pintu kamar ada yang mengetuk, ku buka ternyata ibuku yang berdiri disana.
"Nduk, tadi Lek Narti kesini rencana dia akan pergi ke Jakarta ikut suaminya dan rumahnya mau ia sewakan. Jika kamu dan Arga berminat, kamu bisa langsung menghubungi Lek Narti."
Ibu memberiku secarik kertas tertulis nomor kontak Lek Narti disana.
Aku segera menyimpan nomor itu dan langsung menghubungi Lek Narti.
Tentu saja aku sangat berminat menempati rumah Lek Narti karena rumahnya apik dan bersih, Lek Narti hanya memintaku untuk menjaga dan merawat rumahnya.
Untuk uang Sewa ia tidak meminta sepeserpun tapi aku menolak aku tetap memberikan Lek Narti uang sebagai tanda terima kasih.
Aku bekerja dan mas Arga juga bekerja, seharusnya kita mampu walau mengontrak rumah yang tidak mewah.
Oleh karena itu tanpa persetujuan dari mas Arga aku yakin suamiku tentu akan tetap setuju.
Hari ini aku libur bekerja, aku berniat untuk pergi ke rumah ibu mertuaku, jaraknya tidak jauh hanya berseberangan saja dengan desa tempatku tinggal.
Mas Arga sedang mencuci motor matic di halaman rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Loh dek kenapa gak bilang kalau mau kesini kan bisa mas jemput?" Mas Arga sedikit terkejut melihat kedatanganku.
Aku membawa beberapa buah dan kue kesukaan ibunya mas Arga, dulu sewaktu kami masih berpacaran mas Arga selalu membelikan ibunya kue ini ditoko langganan kami.
__ADS_1
Aku memasuki rumah mas Arga. Sepertinya tidak ada orang didalam rumah.
Aku hendak pergi ke toilet di belakang rumah, ku lihat satu pintu ruangan yang sedikit terbuka.
Penasaran, aku berjalan mengendap menuju ruangan tersebut belum sampai didepannya tiba-tiba ibu mertua keluar dari ruangan itu membawa sebuah makanan dipiring.
Aku terlonjak kaget begitupun dengan ibu mertuaku.
Praangggg....
Piring yang ibu mertua bawa terlempar jatuh berserakan ditanah, makanan berhamburan kemana-mana.
"Astagfirullah." Aku mengelus dadaku rasanya jantungku hampir berhenti berdetak.
"Nadiiiiiinnnnn. Ngapain kamu disini? kamu mau ngintip-ngintip ibu yah?" Suara ibu meninggi.
"Ma..maaf bu Nadin mau pergi ke kamar mandi tapi Nadin lihat pintu terbuka, Nadin mau menutupnya bu." Aku gugup menjawab pertanyaan ibu yang sudah berkacak pinggang siap menerkamku.
Bersyukur mas Arga segera datang.
Mas Arga melirik makanan yang berhamburan.
"Ini loh istrimu belum apa-apa sudah memecahkan piring ibu."
Ibu berlalu meninggalkan aku dan Mas Arga. Dikuncinya pintu ruangan itu dengan rapat.
Sebenarnya ada apa sih diruangan itu?
Rasa penasaranku begitu tinggi, nanti lah akan aku cari tahu melalui mbak Leni.
Aku dan mas Arga kembali ke ruang tamu. Ku lihat ibu mertua masih mendengus kesal. Aku berusaha mencairkan suasana.
"Ini bu, aku bawakan ibu buah dan kue kesukaan ibu."
Aku sodorkan kantong plastik berwarna merah ibu hanya melirik sebentar lalu membelokkan lagi pandangannya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu bawa kue-kue murah? Ibu gak suka. Buang sana!"
Lagi-lagi apa yang aku lakukan salah dimata ibu mertua.
"Ada apa kamu kemari?"
Ibu mulai bertanya kepadaku.
Aku menjelaskan dengan hati-hati maksud kedatanganku kesini kepada ibu mertua dan mas Arga, aku ingin mas Arga segera mengemasi barangnya untuk dibawa ke rumah kontrakan Lek Narti, sebab Lek Narti sudah pergi ke Jakarta dan aku sudah membersihkannya jadi sudah dapat kami huni.
Ibu menatapku dengan sinis sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kata-kata yang sungguh menyayat hatiku.
"Pergilah Arga dengan wanita ini, ibu tidak mau melihat kalian lagi. Ada kalian disini hanya membuat ibu naik darah."
Aku menundukan kepala, salah apa aku kepada ibu mertua? Bukankah sudah seharusnya anaknya yang sudah menikah harus bisa memimpin dan memprioritaskan keluarga kecilnya?
Aku sedikit terisak, Mas Arga hanya mengusap pundakku. Kami membereskan barang-barang milik mas Arga, hanya beberapa baju sudah tak ada lagi yang kami bawa.
Ibu masih mengunci diri dikamarnya. Aku dan mas Arga pamit dari balik pintu kamar ibu, lalu kami melangkah pergi tanpa sahutan dari ibu.
Ku ambil kresek merah yang tadi ku bawa untuk buah tangan berharap ibu mertua akan suka tapi kenyataannya ibu hanya mencela tanpa sedikitpun berniat untuk mencicipi rasa.
Sebelum ke kontrakan aku meminta mas Arga mampir kerumah mbak Leni, paling tidak kue dan buah ini anak-anak mbak Leni pasti akan suka.
Anak mba Leni ada 3 ditambah satu yang masih ada dikandungan. Mbak Leni sedang mengandung usianya baru sekitar dua minggu.
Azka, Zakiyah dan Arkana menyambut kedatangan kami. Mbak Leni juga sama terlihat sangat senang melihat adik iparnya datang mengunjungi.
Aku tidak lama hanya mampir mengantarkan kresek berwarna merah, mbak Leni dan anaknya terlihat sangat senang menerima.
Lebih baik dikasih yang lainkan dari pada mubadzir, toh ibu juga gak doyan.
Aku masih dengan perasaan senang karena pada akhirnya kami mengontrak rumah dan akan menjalani rumah tangga dengan normal sama seperti manusia lainnya.
Sementara ibu mertua?
__ADS_1
Entahlah aku sendiri sudah merasa jengah.