
Sepanjang perjalan mulut ibu mertua mengoceh tak karuan membuat migrain di kepalaku menjadi kumat. Rasanya ingin aku suruh Mas Arga untuk menurunkan ibu mertua di pinggiran jalan pantura. Eh, tapi dosa gak sih? Enggak kali yah secara mertua aku nyebelin sangat.
"Eh Nadin, bicara apa saja itu manusia laknat?" tanya ibu mertua dengan segala kejudesannya.
Manusia laknat? Aku hanya terdiam tak menanggapi pertanyaan ibu mertua.
"Eh Nadin, kalau ditanya orang tua itu mbok yah dijawab? Apa kamu bisu?" tanya ibu Mas Arga lagi semakin menjadi-jadi.
"Bukan Nadin gak mau jawab tapi istriku bingung dengan apa yang ibu maksud." Kali ini suamiku yang menjawab dan membelaku.
__ADS_1
"Alah, pura-pura ndak ngerti. Itu loh gundik ayahmu. Cerita apa dia sama kamu dan istrimu?" cerocos ibu mertua tak mau kalah.
Aku hanya menjawab sekenanya. Memang tak ada hal penting yang ibu tiri Mas Arga bicarakan selain tentang hubungan mereka di masa lampau. Aku menjawab yang bagus-bagus sengaja untuk membakar hati ibu Mas Arga. Hah, rasakan. Memang suka sekali membuat panas orang yang memiliki hati iri dengki. Ucapanku berhasil membuat api di hati ibu tersulut.
"Halah, kau Nadin belum saja kenal dengan si muka dua itu sudah berani menilai bagus." Ibu Mas Arga tak terima.
"Memang selama aku disana, aku dan Mas Arga diperlakukan dengan sangat baik. Jadi wajar jika aku bilang ibu disana memang baik karena itu fakta." Jawabku yang membuatnya semakin marah.
"Sudah cukup! Ibu ini kenapa sih? Sudah lebih baik Ibu diam dan Nadin kamu juga diam saja tak usah menjawab pertanyaan dari ibu." Mas Arga membuka suaranya karena kesal mendengar perdebatan kami. Memang adu argumen dengan ibu mertua tak akan pernah selesai. Selalu tak mau kalah meski pendapatnya sudah dipatahkan.
__ADS_1
Sudah sampai dirumah ibu mertua. Ibu meminta kami untuk menginap malam ini dirumahnya. Aku menolak secara halus. Mas Arga pun sama dirinya lebih nyaman tidur di kontrakan.
"Sudahlah, lebih baik kalian pergi saja." Ibu tak mau kami mencium tangannya. Dirinya sudah seperti anak kecil yang segalanya harus dituruti. Aku melirik Mas Arga yang menghelakan nafas.
"Biarkan saja, ayo kita pulang. Aku mau istirahat dan meminta jatah." Jawab Mas Arga yang membuatku kembali tersenyum. Memang sesekali ibu mertua harus di cuekin. Bukan maksud untuk melawan tetapi kalau apapun inginnya selalu dituruti bisa berabe nantinya.
Sesampainya dikontrakan baru saja Mas Arga membuka pintu, ponselku berdering.
"Mas Arjun?" Aku segera mengangkat panggilan dari Mas Arjun. Suara Mas Arjun terdengar panik.
__ADS_1
"Nadin, kalian harus segera kerumah ibu yah sekarang! Ibu pingsan tekanan darah tingginya sepertinya naik." Ucap Mas Arjun dengan panik. Aku segera memberitahu Mas Arga. Karena merasa panik aku dan Mas Arga segera pergi meninggalkan kontrakan menggunakan mobil bapak. Beruntung kami belum memulangkannya. Mas Arga mengusap wajahnya kasar. Ibunya saat ini pasti sedang banyak pikiran hingga menyebabkan tekanan darah tingginya naik.
Sesampainya dirumah ibu mertua kami langsung membawanya ke rumah sakit. Ibu mertua sungguh-sungguh pingsan. Wajahnya nampak pucat. Malam ini kami bertiga berjaga dirumah sakit. Ibu masih mendapatkan perawatan di IGD. Aku merasa bersalah mungkinkah ibu menjadi sakit karena menahan kesal akan kata-kataku tadi? Entahlah. Yang pasti sekarang aku jadi tahu bahwa ibu mertuaku ternyata memang benar-benar seorang manusia.