
Kami telah tiba di Semarang, aku mengubah haluan perjalanan, memutuskan untuk berlibur ke Semarang sekalian menjenguk ayah mertua disana. Mas Arga sangat antusias, aku tahu sudah lama dia tak menghabiskan banyak waktu bersama ayahnya. Mobil yang Mas Arga bawa telah terparkir pada sebuah halaman yang sangat luas.
"Pak, bapak. Itu siapa yang datang." Ibu tiri Mas Arga teriak kaget melihat kedatangan kami yang tiba-tiba. Ibu tiri Mas Arga menyambut kedatanganku dengan pelukan hangat. Ah, rasanya hangat sekali aku merasakan diperlakukan seperti layaknya seorang anak. Sikap ibu tiri Mas Arga justru berbeda jauh dengan ibu kandungnya. Jangankan menyambut kedatanganku dengan peluk, bahkan saat aku mencium tangannya saja dia akan dengan segera mencuci tangannya kembali apalagi jika aku peluk? Mungkin dia akan mandi kembang tujuh rupa. Begitulah sikap ibu kandung Mas Arga yang terlihat jijik kepadaku.
"Apa kabar ayah?" Mas Arga memeluk ayahnya erat. Aroma rindu yang menggebu tercium sangat pekat. Suamiku sangat merindukan ayahnya.
"Baik Nak, kamu kenapa tidak menghubungi ayah? ibumu jadi bisa bersihkan kamar atas untuk kalian terlebih dahulu." Kami hanya saling melemparkan senyum. Mas Arga mulai menceritakan perjalanan yang tiba-tiba berubah. Sesungguhnya kami akan pergi ke Bandung, tapi aku urung pergi kesana karena ada alasan lain yang aku pikirkan.
__ADS_1
Sementara Mas Arga mengobrol dengan ayah mertua, aku ikut bersama ibu tiri Mas Arga menyiapkan minuman segar di dapur. Ibu tiri Mas Arga sangat terbuka, aku menjadi tidak merasa sungkan dalam mengerjakan apapun yang ingin aku lakukan.
"Ini ayah, Mas Arga minumnya." Aku meletakkan dua gelas minuman hangat ke meja. Setelahnya aku pamit untuk membantu ibu mertua yang sedang membersihkan kamar atas untuk aku dan Mas Arga beristirahat. Aku dan ibu mertua berbagi tugas. Aku yang membersihkan kasur dan mengganti seprei sementara ibu menyapu lantai kamar. Kamar sudah bersih dan rapih ibu mertua turun ke bawah untuk memberitahu Mas Arga kamarnya telah siap untuk dihuni.
"Terimakasih ibu." Mas Arga terlihat cukup dekat dengan ibu tirinya. Aku semakin penasaran bagaimana bisa Mas Arga sama sekali tidak membenci atau merasa sungkan terhadap seorang ibu tiri. Jika gambaran seorang ibu tiri adalah galak dan suka menyiksa kali ini aku tidak setuju. Karena semua berbanding terbalik dengan yang suamiku alami. Banyak hal yang belum aku ketahui tentang Mas Arga. Cepat atau lambat ia pasti akan menceritakan semua kepadaku.
"Mas," panggilku. Mas Arga sedang merebahkan tubuh dan sudah memejamkan mata. Dia hanya menjawab dengan kata hmm seperti malas menanggapi panggilan dariku.
__ADS_1
"Mas, apa kamu tidak pingin?" tanyaku kepada suamiku yang masih memejamkan mata.
"Pingin apa?"
"Pingin anu, Mas. Sudahlah, ayo kita tidur." Aku urung melanjutkan ucapanku. Sepertinya Mas Arga masih belum juga peka dengan keinginan dariku. Mas Arga sudah tak memejamkan mata. Kini dia merubah posisi tidur dan beranjak diatas tubuhku.
"Maksudmu mau ini?" Mas Arga menunjuk ke salah satu bagian tubuhku. Aku hanya tersenyum malu sekali rasanya. Mas Arga sedikit menekan tubuhnya kepadaku dan berbisik lembut ditelinga.
__ADS_1
"Aku akan mulai malam ini," ucapnya dan beralih mencium bibirku. Kami saling melepaskan tautan bibir yang telah menyatu. Aku mengangguk tanda siap memulai segalanya. Mas Arga mulai memainkan permainannya.