KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 10


__ADS_3

Bayang-bayang Mas Arga bersama Evi mengisi benakku, bayangan mereka berdua sungguh menghambat pekerjaan yang aku punya. Santi merasa tidak enak hati denganku, berkali-kali dirinya meminta maaf kepadaku.


"Nadin, kamu tidak apakan? Maafkan aku yah Nadin," begitulah yang diucapkan Santi hingga beberapa kali.


Aku hanya tersenyum, justru aku merasa berterima kasih kepada Santi karena sudah memilih tempat yang tepat. Jika saja kami tak kesana mungkin mereka berdua tak dapat aku tangkap basah. Sepulangnya bekerja aku memutuskan untuk menginap di rumah ibu tetapi niatku harus aku urungkan sebab Mas Arga sudah berada di depan kantorku menunggu kepulanganku. Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja semua aku lakukan untuk menutupi yang terjadi antara kami agar teman-teman tak berfikiran yang macam-macam tentang pernikahan kami yang masih seumur jagung. Aku juga sudah berpesan kepada Santi agar semua yang terjadi biar menjadi rahasia di antara kami berdua.


"San, aku minta satu hal tolong simpan baik-baik kejadian hari ini. Semua ini cukup menjadi rahasia kamu dan aku," ucapku.


Mas Arga mendekat dia berusaha mengambil lenganku, aku segera menghindar dan masih tak membiarkan dirinya untuk menyentuh tubuhku. Tiba-tiba saja suara seorang lelaki menyapa Mas Arga sepertinya mereka saling kenal.


"Arga? Ini Argakan? Apa kabar?" tanya laki-laki itu sok kenal.

__ADS_1


"Iya aku Arga, kamu Hendra bukan?" tanya Mas Arga kembali. Laki-laki yang dipanggil Hendra itu menjawab dengan senyum.


"Sedang apa kamu disini?" tanya laki-laki yang bernama Hendra.


Mas Arga menjelaskan bahwa dirinya kebetulan lewat dan sekalian menjemputku. Mas Arga memperkenalkan aku sebagai istrinya kepada teman lamanya yang kebetulan satu kantor denganku. Aku merasa tergelitik dengan ucapan Mas Arga.


"Perkenalkan ini istriku, Nadin." Ucap Mas Arga memperkenalkan namaku.


Setelah di perhatikan wajahnya Hendra memang tak asing bagiku. Siapapun dia tak penting bagiku kini yang terpenting adalah hubungan rumah tangga yang terasa semakin runyam. Kami meninggalkan teman Mas Arga di parkiran, motor Mas Arga melaju dengan santai menuju rumah kontrakan.


Aku tak mengeluarkan suara sedikitpun. Rasa sakit hatiku tadi siang karena dibohongi oleh Mas Arga masih belum mampu aku hilangkan. Setelah selesai mandi aku bersantai rebahan diatas kasur sambil asyik memainkan gawai. Mas Arga menyusul ke atas kasur.

__ADS_1


"Dek, maafkan Mas. Mas tahu kalau Mas salah sudah membohongi kamu dan lebih memilih makan siang bersama Evi. Semua itu karena--" ucapan Mas Arga terhenti.


Berani-beraninya Mas Arga menyebutkan nama perempuan itu dihadapan ku. Emosiku kembali memuncak tapi lagi-lagi emosi itu hanya keluar dengan air mata sebagai wakilnya.


"Karena apa?" tanyaku melanjutkan dengan sedikit terisak.


"Karena ibu yang meminta." Mas Arga menundukkan kepalanya, dia benar-benar sangat menyesal telah menuruti kemauan ibunya.


Lagi-lagi karena ibunya, sebenarnya apa sih keinginan ibu mertua? Bukankah dia tahu bagaimana rasanya dimadu? Bisa-bisanya ibu mertua menyuruh Mas Arga yang telah beristri untuk pergi makan siang bersama wanita lain terlebih mereka adalah mantan kekasih. Aku sudah merasa muak mengapa ibu mertua selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kami.


"Maafkan ibuku yah Dek, sumpah demi apapun Mas tidak pernah ada maksud macam-macam terhadapmu," Mas Arga memelukku sangat erat. Rasanya sakit sekali aku mendengar pengakuan dari suamiku. Bahkan ibu mertua sampai seperti ini ingin memisahkan anaknya dariku. Jika memang ibu mertua tak pernah setuju denganku mengapa dirinya membiarkan Mas Arga menikahi aku?

__ADS_1


__ADS_2