KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 8


__ADS_3

Hari ini kedua orang tuaku memanggil Mas Arga untuk mampir kerumah. Aku sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba kedua orang tuaku menyuruh Mas Arga untuk bertandang ke rumah sehabis pulang kerja.


Aku sudah pulang kerja terlebih dahulu, setelah beres-beres di rumah kontrakan aku bergegas kerumah ibu dengan berjalan kaki tanpa menunggu kepulangan Mas Arga.


Belum lama aku menempel di kursi pintu rumah ibu seperti ada yang mengetuk.


Tok.. Tok.. Tok..


"Itu pasti Mas Arga," batinku.


"Assalamualaikum," suara salam samar-samar terdengar dari luar.


Ibu yang hendak membuka pintu dengan segera aku larang.


"Tidak usah Bu, biar Nadin saja yang buka."


Ibu kembali duduk di kursinya. Benar saja saat aku membuka pintu wajah lesu suamiku yang terlihat.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Jawabku sambil mencium punggung tangannya.


Aku mempersilahkan Mas Arga masuk, suamiku masuk dan menyalami ibu.


"Dimana bapak?" tanya Mas Arga.


"Di dalam sebentar ibu panggilkan dulu yah." Ibu masuk ke dalam untuk memanggil bapak dan tak lama mereka keluar bersama. Mas Arga segera meraih tangan bapak tanpa basa-basi bapakpun langsung membicarakan inti mengapa bapak memanggil kami.


"Begini Nak Arga, kalian kan sudah tiga bulan menikah. Apa tidak sebaiknya resepsi kalian adakan segera? Bapak khawatir jika Nadin nanti hamil maka secara otomatis acara resepsi kalian pasti akan diundur lagi." Ucap bapak dengan nada serius. Aku hanya terdiam, ku lirik suamiku yang tertunduk semakin lesu.


Bapak dan ibu manggut-manggut, mereka mengerti masalah yang dihadapi oleh Mas Arga. Kedua orang tuaku tak mempermasalahkan soal biaya karena acara resepsi itu nanti sepenuhnya akan ditanggung oleh bapak. Bapak dan ibu sudah memutuskan tinggal menunggu persetujuan antara Mas Arga dan bapaknya. Mas Arga menghubungi ayah mertua agar bapak dan ibu dapat berbicara langsung kepada beliau.


Setelah melalu perundingan akhirnya mereka sepakat bahwa pesta resepsi pernikahan akan segera diadakan dikediaman ku tentunya. Aku merasa senang akhirnya Mas Arga mau juga membuka pikirannya untuk menerima saran dari bapak.


"Kalian tinggal terima beres saja, biar bapak yang akan mencarikan hari jika sudah dapat akan bapak hubungi kalian." Bapak terlihat begitu senang.


"Baik pak, terima kasih." Ucap Mas Arga dengan senyum canggung.

__ADS_1


Hari semakin larut aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah kontrakan. Setelah berpamitan kami langsung pulang menuju kontrakan. Sesampainya di kontrakan aku terjun bebas ke atas kasur, sementara Mas Arga pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mumpung Mas Arga sedang mandi, ide gila diotakku kembali muncul. Aku mengeluarkan beberapa senjata untuk aku gunakan bertempur malam ini.


"Ahay," dalam hati aku tertawa-tawa sendiri.


Tak lama Mas Arga keluar dari kamar mandi aku segera mendorong tubuh Mas Arga hingga punggungnya membentur tembok. Aku menyeringai nakal. Mas Arga hanya mengernyitkan keningnya.


"Kamu sakit, Dek?" tangan Mas Arga menyentuh dahiku. Dengan cepat aku menepis tangan kekar milik suamiku dan menaruhnya di atas panggulku. Sepersekian menit Mas Arga masih tak bergeming.


"Dek, Mas capek mau istirahat." Mas Arga mencoba melepaskan diri dariku.


Tak semudah itu Ferguso. Aku sudah susah payah menyiapkan ini semua. Jika secara lembut tak pernah mempan sepertinya harus dengan cara yang kasar. Aku mencoba meraih bibir milik suamiku tetapi sia-sia. Mas Arga menolak diriku mentah-mentah.


Mas Arga meninggalkan aku sendirian yang masih mematung. Setelah memakai pakaian dengan lengkap, Mas Arga mengambil sebungkus rokok dan menghisapnya diluar halaman.


Aku mulai merasa sesak menghinggapi dada. Mas Arga lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan sebatang rokok ketimbang bercumbu dengan aku istri yang sudah sah ia nikahi. Mas Arga ingin sekali aku bertanya kepadamu apa arti dari pernikahan kita? Bahkan sampai detik ini diriku masih belum engkau jamah.

__ADS_1


__ADS_2