
Acara resepsi pernikahanku akhirnya dapat terlaksana, bersyukur setelah melalui banyak perdebatan karena perselisihan pendapat antara pihak keluargaku dengan ibu mertua.
“Ibu itu kesal nduk sama mertuamu, banyak atur. Bukannya ibu mau perhitungan, tapi seperakpun dia tak membantu. Belum apa-apa sudah banyak maunya.” Gerutu ibuku sesampainya dirumah karena kesal mendengar sederet permintaan ibunya Arga ketika mereka berkunjung kerumahnya.
Niat kedua orang tuaku baik mereka mengunjungi besan selain mengantarkan undangan juga untuk menyambung tali silahturahmi agar tidak terputus. Siapa sangka kedatangan mereka disambut dengan sederet permintaan dari Ibunya Arga pada acara resepsi pernikahan aku dan anaknya nanti. Ibu menceritakan semua yang mereka perbincangkan kepadaku.
“Begini yah Pak, tamu dari desa yang akan datang nanti saya perkirakan akan banyak dan membludak. Oleh karena itu ada baiknya bapak dan ibu menyiapkan kendaraan sewa lebih banyak.” Seru ibunya Arga.
“Tetapi bu, kami hanya akan memberikan undangan sekitar 100 orang untuk warga desa disini,” jawab ibuku mencoba memberi tahu ibunya Arga.
__ADS_1
“Halah, niat mau bikin pesta kok hitung-hitungan. Ingat bu, tamu itu pembawa Rezeki.” Jawab ibunya Arga tak mau kalah.
Entahlah, rasanya benar-benar malas meladeni ibunya Arga. Bukan orang tuaku mau hitung-hitungan tetapi karena ayahnya Arga juga akan membawa rombongan dari Semarang dan itu tidak diketahui oleh ibunya Arga. Setelah berpikir lama akhirnya bapak mengambil jalan tengah.
“Baiklah jika ibu mau mengundang banyak tamu kami tidak masalah akan tetapi untuk urusan mobil itu diluar tanggung jawab dari kami.” Tegas bapakku.
Dia tak menjawab apapun keputusan yang telah di pilih oleh bapaknya Nadin. Kedua orang tua Nadin pamit pulang mereka merasa sudah tak ada hal yang perlu lagi untuk dibicarakan.
***
__ADS_1
Semua terlihat begitu sibuk hari ini, termasuk dengan diriku yang sejak pagi tadi sudah berada diruangan khusus rias pengantin. Tangan cekatan dari sang penata rias benar-benar mampu menyulapku menjadi seorang wanita cantik. Aku akan menjadi ratu semalam. Impianku mengenakan gaun pengantin dan duduk di pelaminan akhirnya terwujud, semua tentu berkat dari usaha bapakku. Mas Arga menatapku dari ujung kaki hingga kepala. Dia terkesima melihatku yang memang sungguh berbeda, memakai gaun beserta riasan pengantin membuat kecantikanku semakin paripurna.
Siang ini tamu undangan ramai, mereka dari Semarang. Ayah dan ibu tiri Mas Arga membawa rombongan sekitar lima mobil. Mereka datang tak lama, setelah selesai dan berbincang-bincang mereka pamit kembali menempuh perjalanan ke Semarang. Aku melihat Mas Arga yang matanya sudah berkaca-kaca. Kerinduannya terhadap sang ayah nampak terlihat dengan jelas.
"Ayah hanya dapat mendoakan semoga kalian berbahagia dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah." Ucap Ayahnya Mas Arga seraya memeluk tubuh putranya.
Tak berselang lama rombongan besan dari desa sebelah tiba. Arak-arakan serta mercon terdengar riuh menyambut. kedatangan mereka seperti sedang menyambut tamu kehormatan. Ibu Mas Arga beserta Mbak Leni dan Mas Arjun berjalan memimpin rombongan. Penampilan ibu mertua sangat ramai. Tubuhnya dilengkapi oleh aneka perhiasan yang menumpuk percis seperti toko mas berjalan. Penampilan Ibu kandung Mas Arga kontras berbeda dengan penampilan ibu tiri Mas Arga yang nampak sederhana namun tetap terlihat anggun. Sikap angkuh dan gengsinya masih sama, enggan menyapa orang lain lebih dahulu jadilah kedua orang tuaku yang berinisiatif untuk menyambut.
Dari jauh aku memperhatikan gerak-gerik ibu mertua. Tamu yang datang nampaknya tak begitu ramai tak seperti yang ibu mertua katakan kemarin, rombongannya tak sebanyak rombongan yang ayah mertua bawa dari Semarang. Aku melirik ibu mertua yang sibuk mencicipi hidangan utama dan hidangan lainnya. Dirinya sedang melihat-lihat dekorasi, mungkin dia sedang mencari celah untuk menghina.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap hidangan mereka pamit untuk kembali pulang, Ibu menyisipkan amplop kepada ibuku. Dengan senang hati ibuku menyambut amplop yang diberikan oleh besannya.
Tak ada basa-basi ibu segera meninggalkan tempat acara bersama rombongan. Aku menghela nafas lega, setidaknya ibu mertua tidak mengeluarkan kata-kata yang menimbulkan luka, sikapnya hari ini juga terlihat biasa saja. Tak terlalu banyak tingkah. Karena sikapnya yang seperti itu justru malah memancing rasa curiga.