KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 15


__ADS_3

“Dasar manusia sontoloyo,” ucap ibuku dengan marah sambil membuang secarik kertas dengan kasarnya ke lantai. Ibuku sangat kesal pasalnya dia benar-benar tak habis pikir akan mengalami kejadian yang seperti ini dari calon besannya. Ketika acara resepsi selesai, ibu menarikku untuk turut membantu membuka amplop undangan. Amplop dari besannya ternyata ia pisahkan. Entah apa maksud dari ibuku memisahkannya.


“Ini, amplop dari ayah mertua dan ibu mertuamu,” suara ibu terucap sangat pelan agar tak terdengar oleh bapak dan Mas Arga diluar. Ibu menyodorkan dua amplop terakhir yang dia simpan terpisah.


“Ayo buka!” seru ibu kepadaku. Perlahan aku membuka amplop dari ayah mertua. Berisi beberapa lembar uang ratusan disana. Ibu menatap terkejut. Pasalnya uang yang diberikan dalam amplop oleh ayah mertua melebihi ekspetasi. Sekarang giliran membuka amplop dari ibu mertua.


Amplopnya tak setebal ayah mertua. Tapi pasti ada beberapa lembar uang disana. Dan ketika aku membukanya isinya cukup membuat kami berdua tercengang, hanya ada secarik kertas.

__ADS_1


Ibu merebut kertasnya dan membaca isi dari tulisan itu.


“Untung ibu pisahkan amplop dari ibu mertuamu Nadin, benar-benar keterlaluan pelitnya ibu mertuamu.”


Ucapan ibuku benar, ibu mertuaku memang sangat pelit bahkan terlalu pelit hanya untuk bernafas.


Aku benar-benar tak habis pikir dengan ibu mertua, dia mungkin berfikir kami tidak akan tahu amplop yang dia berikan. Tapi masa iya dari sekian manusia yang ikut kondangan satupun tidak ada yang ikut urunan untuk mengisi amplop undangan? Atau uangnya di tilep semua oleh ibunya Mas Arga? Aku tahu selain pelit ibu juga matre alias mata duitan. Aku tidak mau berprasangka buruk dahulu, bisa saja memang keadaan tetangga disana sedang tidak ada.

__ADS_1


“Jelas ibu tidak terima, ibu mertuamu itu sudah gede omong banyak gaya pula datang pakai perhiasan seperti toko mas berjalan tapi amplop undangan meski hanya 100 ribu saja dia tak mampu. Sungguh keterlaluan. Mana buktinya dia bilang tamunya yang datang kasih amplopnya rata-rata besar? Yang besar kertasnya?” ibuku kembali menggerutu. Aku khawatir ibu akan menegur Mas Arga dan membuatnya malu. Aku kembali menenangkan ibu dan akhirnya kemarahannya sedikit mereda.


“Bu, tolong jangan bahas ini ke Mas Arga yah?” aku kembali membujuk ibu untuk tidak menceritakan kepada Mas Arga cukup menjadi rahasia kami sekeluarga saja.


“Ibu tidak janji yah, ibu gak akan bilang ke Arga tapi kalo jadi gosip nanti sampe heboh satu kampung jangan salahin ibu. Karna kamu minta untuk gak bilang ke Arga bukan ke warga!” tegas ibu.


Haduh, rasanya kepalaku mau pecah kalau ibu benar-benar akan menjadikan bahan gosip untuk membuat malu ibunya Mas Arga. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan ibu yang masih sibuk membereskan amplop-amplop yang berserakan. Ketika keluar aku bertemu bapak. Bapak memanggilku, mengajak untuk berbincang sebentar diluar.

__ADS_1


“Ada apa pak?” tanyaku bingung. Bapak mengeluarkan kunci mobilnya dan menyerahkan kepadaku.


“Pergilah berlibur besok. Soal cuti bapak akan urus ke kantormu dan Arga.” Ucap bapak membuatku terkejut. Sejujurnya saja memang semenjak menikah aku tidak mengambil cuti untuk berbulan madu, karena biaya menikah saja kami pas-pasan begitupun dengan tabunganku yang juga sudah ikut banyak terkuras. Dengan hati senang aku bergegas menuju kamar dimana Mas Arga telah tertidur pulas. Sepertinya Mas Arga sangat lelah. Aku memutuskan untuk bersiap dari sekarang agar esok pagi kami tak sibuk dan hanya tinggal pergi berangkat.


__ADS_2