KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 6 ( POV ARGA )


__ADS_3

Hari ini aku sangat bahagia. Akhirnya aku akan menikah juga.


Aku akan menikahi Nadin kekasihku. Memang waktu kami berpacaran hanya sebentar karena aku memutuskan untuk menikahi Nadin karena ia adalah perempuan yang baik.


Sebelumnya aku pernah gagal menikahi mantanku yang bernama Evi.


Entah mengapa Evi memutuskan untuk membatalkannya secara sepihak.


Aku sendiri tak tahu pasti apa alasan Evi.


Namun kini aku sangat beruntung mempunyai Nadinku. Nadin sangat baik kepada ibu dan kakak ipar.


Aku beruntung memilikinya.


Nadin tak banyak menuntut seperti Evi.


Kesabaran Nadin juga berlapis-lapis.


Kejadian tak mengenakan terjadi menjelang hari H lamaran kami.


Uang tabungan milik Nadin yang ia berikan untuk membeli beberapa pelengkap acara seserahan di pakai oleh ibuku.


Aku sangat marah oleh ibu, tapi apa daya aku sebagai anak rasanya tak tega melihat ibu yang nampak begitu bahagia.

__ADS_1


Memamerkan beberapa perhiasan dan barang yang ia beli dari uang hasil tabungan Nadin.


Akhirnya aku mengalah.


Aku menghubungi Nadinku, ia nampak sabar menerima perlakuan ibu.


Aku mencoba mencari jalan keluar. Kembali ku minta uang yang tersisa.


Tinggal 300 ribu rupiah, cukup apa?


Padahal uang yang Nadin berikan lebih besar dari pada modal nikah yang aku sendiri punya.


Nadin memberikan uang tabungannya sebesar 18 juta. Rencana aku akan membelikan beberapa peralatan elektronik rumah tangga.


Aku sudah buntu.


Aku menghubungi mbak Leni meminta bantuannya tak menyangka kalau semua akan terasa rumit.


"Cah gendeng, kenapa ndak kamu aja sama Nadin yang belanja? Kalau begini jadi memalukan nama baik keluarga Ayah, mana acaramu tinggal besok."


Mbak Leni dan mas Arjun memutuskan menghubungi ayah. Mau tidak mau ayah besok pasti datang.


Ayahku tinggal di Semarang orang tuaku sudah berpisah cukup lama, kini beliau sering sakit-sakitan. Untuk hari lamaranku saja beliau tidak bisa hadir karena masih mendapat perawatan dari rumah sakit karena penyakit jantung yang sudah komplikasi.

__ADS_1


Aku tidak tega memberinya kabar dari ulah Ibu, ayah kecewa kepada ibu karena bagaimanapun tindakannya sudah sangat keterlaluan. Terpaksa ayah akan datang di antar oleh mas Nino suami dari kakak perempuanku.


Aku hanya terduduk mendengar ocehan yang keluar dari mulut mbak Leni.


Memang apa salahku? Yang salahkan ibu?


Uang untuk beli seserahan Nadin di pakainya untuk foya-foya.


Sekali lagi aku mau marah, tapi aku tidak bisa.


Karena bagaimanapun dia adalah Ibu yang melahirkanku.


Baktiku padanya adalah Surga.


Hari lamaran berjalan lancar, aku hanya menahan malu saat bertemu keluarga Nadin. Bersyukur mereka mau mengerti dan menerima dengan lapang dada.


Tinggal satu langkah lagi, kami mencari waktu untuk hari pernikahan. Tentu kami berdebat masalah resepsi. Orang tua Nadin menyerahkan sepenuhnya kepada aku dan Nadin perihal resepsi tapi lagi-lagi ibuku ikut andil memberi saran.


Aku mengerti Nadin ingin pesta yang meriah karena bagaimanapun Nadin adalah anak pertama yang menikah begitu juga denganku anak bungsu yang setelahnya takkan ada lagi yang menggelar pesta.


Ibu tidak setuju, memang benar apa kata ibu uang yang sudah susah payah aku kumpulkan bertahun-tahun hanya akan habis dalam satu malam.


Aku merasa pusing, tapi Nadin menerima. Baginya tidak mengapa yang terpenting kami menikah secara SAH saja dulu urusan pesta kalau memang rezeki tak akan kemana.

__ADS_1


Ah, Nadinku beruntungnya aku memiliki wanita yang sabar dan mampu menerima perlakuan ibu meskipun aku tahu sifat ibuku bertentangan dengan dirimu.


__ADS_2