KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 12


__ADS_3

Banyak yang mengatakan bahwa aku dapat bercerai dengan Mas Arga karena aku tak mendapatkan nafkah batin darinya. Sebelumnya aku sangat bahagia dengan perhatian kalian, tapi bagiku perceraian bukanlah sebuah solusi. Semua yang Mas Arga lakukan pasti memiliki sebuah alasan. Dan alasan utama adalah ibunya. Jadi tugas yang aku harus perbaiki adalah alasannya. Mengubah alasannya.


Hari libur akhir pekan seperti biasa aku mengunjungi rumah ibu mertua bukan sebagai menantu melainkan sebagai seorang babu. Aku merasa diperlakukan demikian karena sikap ibu mertua yang selalu semena-mena terhadap diriku. Semakin aku diam dirinya semakin banyak tingkah. Lihat saja suatu saat nanti, aku akan memberikan sebuah hadiah yang berharga yang pantas ibu mertua terima.


"Astaga Nadiiin, ngepel kok masih licin begini? Bisa ngepel gak sih kamu? Lihat tuh masih kotor dan berminyak."


Begitulah ibu selalu marah-marah sepertinya aku selalu salah dimatanya. Entah sudah yang ke berapa kali aku bolak-balik mengepel lantai. Barulah ibu dengan sumringah mengatakan bersih setelah melihat wajahku lemas bercucur keringat.


Kini waktunya aku mencuci pakaian ibu. Meski aku mencuci seminggu sekali tetapi pakaian ibu tak banyak menumpuk. Aneh bukan? Tentu aneh tapi tidak untuk diriku. Awalnya pakaian itu hanya sedikit tapi setiap akan selesai pakaian itu seperti beranak.

__ADS_1


Brukkkk


"Tuh Nadin baju yang dibelakang pintu ndak kamu bawa," ujar mertua sembari melemparkan pakaian kotor kedalam bak.


Tak lama kemudian.


Brukkkk


Hingga tak terasa aku mencuci dua ember baju ibu beserta yang lainnya yang sudah membentuk sebuah gunung.

__ADS_1


Aaaaa, aku tidak kuat lagi.


Rasanya aku ingin segera melambaikan tangan ke kamera. Benar-benar keterlaluan ibu mertua. Aku segera menyelesaikan cucian tanpa ku sikat hanya aku bilas-bilas saja. Aku campur tak perduli kena luntur. Selesai mencuci aku segera menjemur, sehabis menjemur tugasku masih banyak dan belum kelar.


Aku harus membersihkan kamar Mas Arga. Sungguh berat jadi menantu. Ibu diruang tengah sedang asyik menonton televisi bersama Mas Arga. Setelah pekerjaan aku selesai, aku menghampiri mereka yang sedang asyik bercengkrama. Ibu menatap kedatangan diriku dengan sinis. Mas Arga seperti sudah tahu kelelahan yang aku rasa. Buru-buru ia buka suara soal rencana resepsi yang orang tuaku usulkan.


"Bu, Arga mau bicara soal resepsi pernikahan kita." Arga berbicara dengan hati-hati.


"Arga, ibu ndak setuju. Pokonya ibu ndak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk acara kalian." Ibu nyerocos sama sekali tidak memberikan Arga kesempatan berbicara. Setelah ibu bungkam barulah Mas Arga menjelaskan semuanya. Tentang biaya resepsi yang di tanggung oleh mertuanya, ayahnya Nadin.

__ADS_1


"Oh kalau begitu, kalian harus meminta pesta yang mewah. Biar ndak malu-maluin ibu saat ngebesan. Amplop warga di sini rata-rata tidak sedikit." Ujar ibu mertua.


Hah? Apa aku tidak salah dengar? Sudah di biayai protes ingin mewah? Benar-benar tidak tahu terima kasih sudah dikasih ati malah minta jantung. Aku hanya mengelus dada. Rasa lelahku rasanya tak akan lama lagi berganti dengan emosi karena harus kembali menghadapi sikap ibu mertua yang menyebalkan. Aku benar-benar tidak tahan lagi berlama-lama dirumah ibu mertua dengan segala sifat tamak dan serakah yang ia punya.


__ADS_2