KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 21


__ADS_3

Hari ini aku akan bermalam di rumah sakit bersama Mas Arga sementara Mas Arjun kembali pulang karena tak dapat meninggalkan lama-lama Mbak Leni yang sedang mengandung dengan tiga orang anak yang masih balita. Aku dan Mas Arga mencoba mengerti. Kondisi ibu sudah sadar namun belum dipindahkan karena tak mendapat kamar.


"Maaf untuk kelas tiga saat ini telah terisi penuh namun kelas dua ada satu kamar yang kosong." Bagian administrasi menjelaskan bahwa kamar perawatan sudah terisi penuh. Mas Arga terdiam. Jika ia membiarkan ibu tetap di IGD ia tahu ibu akan merasa tidak nyaman. Namun jika ia memutuskan untuk menaruh ibu di kelas dua tentu biaya yang menjadi masalahnya. Aku yang mengerti dengan kebimbangan suamiku mencoba memberikan jalan tengah.


"Pindahkan ibu saya ke kelas dua secepatnya yah Bu," ujarku membuat Mas Arga menyipitkan matanya.


"Dek, kamu serius? Tapi biayanya?" tanya Mas Arga yang masih memikirkan persoalan biaya.


"Sudah nanti biar kita atur." Jawabku ringan.


Aku membantu ibu mertua karena bagaimanapun dia adalah orang tua dari suamiku. Karenanya suamiku ada didunia ini. Anggap saja itu sebagai ucapan rasa terima kasih dariku. Aku menyelesaikan biaya administrasi yang sudah diminta oleh pihak rumah sakit. Biaya perawatan ibu untuk tiga hari ke depan. Aku bayar lunas dengan sisa uang tabunganku.

__ADS_1


"Dek, terima kasih. Mas akan ganti uang yang sudah kamu keluarkan hari ini. Sekali lagi terima kasih." Mas Arga memeluk tubuhku seketika perasaan hangat mengalir begitu saja. Ucapan terima kasih Mas Arga begitu tulus.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena ibu sudah melahirkan kamu ke dunia."


"Kita keruangan ibu yuk! Ibu sudah dipindahkan." Mas Arga menggandeng tanganku menyusuri lorong kamar yang sangat sepi. Ponselku berdering panggilan dari bapak dirumah. Aku pamit untuk mengangkat telepon terlebih dahulu.


"Mas duluan saja aku angkat telepon dari bapak sebentar yah!"


"Hallo," aku mengangkat telepon. Suara bapak menyambut. Bapak menanyakan kondisi ibu mertua. Aku memberikan kabar tentang ibu mertua yang sedang di rawat.


"Ibu Mas Arga sudah sadar, tapi Nadin belum masuk ke dalam. Baru banget mau masuk bapak telepon Nadin. Nanti Nadin hubungi lagi yah pak. Assalamualaikum." Aku menutup telepon dari bapak.

__ADS_1


Belum juga kakiku masuk ke dalam, aku seperti mendengar ibu mertua mengucapkan namaku dengan jelas. Namun ucapan yang lainnya aku tidak mendengar. Aku segera menerobos pintu untuk masuk.


"Assalamualaikum," aku mengucap salam.


Mas Arga dan ibu menjawab salamku. Aku mendekati ranjang dimana ibu mertua tengah berbaring. Meskipun sedang sakit namun wajah judesnya kepadaku tak hilang begitu saja.


"Bukannya ketuk pintu dulu, ini langsung masuk begitu saja. Dasar ndak punya sopan santun." Ucapan ibu mertua sangat menohok. Apa sebegitu salahnya aku masuk tak mengetuk pintu?


"Maaf Bu," ucapku tak ingin memperkeruh suasana.


"Lihat tuh Arga kelakuan istrimu seperti orang yang ndak punya aturan." Ucapan mertua lagi-lagi menyulut emosi. Aku sudah berusaha tenang dan baik-baik saja namun ibu mertua malah menabuh genderang perang. Aku memilih untuk pergi keluar lagi tanpa sepatah kata. Entah apa yang di bicarakan Mas Arga kepada ibunya. Aku sudah tak perduli. Rasa lelah dan kecewa dengan ucapan ibu mertua sudah berhasil menguasai hati. Aku lelah, aku ingin pulang!

__ADS_1


__ADS_2