
Hubungan rumah tangga kami sudah tak sehat lagi, pasalnya ibu mertua selalu ikut campur dan suamiku tak pernah bertindak tegas menolak segala keinginan nyeleneh ibunya. Aku berganti menatap Mas Arga dengan sorot mata tajam.
"Apa karena ibumu juga kamu tak pernah mau menyentuhku? Tak mau menunaikan kewajiban yang seharusnya suami berikan kepada istrinya?" tanyaku dengan kalimat yang sedikit aku tekan.
Mas Arga hanya mengangguk. Kemudian Mas Arga menjelaskan bahwa ibunya tak ingin memiliki cucu dari kami terlebih dahulu. Karena masih banyak hal yang harus kami wujudkan begitulah alasan ibu mempengaruhi Mas Arga.
"Lihat, itu Mas Arjunmu. Banyak anak dia jadi semakin gak karuan. Semakin gak keurus sama Leni. Apa kamu mau seperti Masmu itu?" begitulah ucapan ibu yang diperagakan oleh suamiku sambil berkacak pinggang menirukan gaya khas ibu mertua. Ulah Mas Arga membuat bibirku melengkungkan senyum.
__ADS_1
"Lalu mengapa ibumu menyuruhmu untuk bertemu dengan Evi?" tanyaku kembali karena masih penasaran dengan alasan versi ibunya Mas Arga. Ternyata Evi mendatangi rumah ibunya Mas Arga dan bercerita bahwa dirinya telah diblokir dari semua akun sosial media milik Mas Arga. Maka dari itu ibu menyuruh Mas Arga untuk makan siang bersama Evi dan menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi.
Aku juga sebenarnya merasa kasihan dengan Mas Arga bagaimanapun dia hanyalah seorang anak yang memang harus patuh kepada ibunya semua terjadi karena ada banyak alasan. Tak hanya itu Mas Arga juga menjelaskan bahwa setiap malam di awal-awal pernikahan ketika tidur denganku adalah malam yang sulit baginya maka dari itu Mas Arga lebih memilih untuk pergi tidur dirumah ibu mertua.
"Maafkan Mas yang sering meninggalkan dirimu pergi, semua Mas lakukan untuk menahan diri. Mas juga laki-laki, Mas normal. Mas masih memiliki hasrat maka dari itu Mas menghindari kamu yang selalu menggoda. Jika Mas bisa memilih Mas ingin segera menuntaskan bersama denganmu."
Aku tahu pasti sangat tidak mudah untuk Mas Arga menahan hasratnya sebagai lelaki normal. Aku meyakinkan Mas Arga bahwa jika memang dirinya belum ingin memiliki anak, paling tidak kita bisa mencoba alat kontrasepsi. Aku mengajak Mas Arga untuk konsultasi ke Bidan terdekat. Mas Arga masih menimbang-nimbang entah apa yang sedang ia fikirkan.
__ADS_1
"Bagaimana Mas? Mas yang mau pakai atau biar aku saja." tanyaku membuyarkan pikirannya.
"Dek, apa tidak mengapa jika kamu memakai alat kontrasepsi? Bukankah jika kamu meminum pil pencegah kehamilan akan berdampak kepadamu yang akan sulit memiliki anak." Ujar Mas Arga dengan raut wajah cemas.
Aku mulai menjelaskan kepada Mas Arga efek samping yang pasti akan aku alami karena faktor KB, jika memang dirinya tak ingin aku menggunakan alat kontrasepsi satu-satunya cara kita harus mulai KB mandiri. Aku mengkroscek kembali tanggal terakhir aku datang bulan dan tanggal yang aman untuk kami berhubungan.
Mas Arga sepakat untuk melakukan KB mandiri. Bagaimana pun juga aku tetap ingin melayani Mas Arga sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga. Melakukan semua semata-mata untuk menyempurnakan ibadah, bukan hanya karena hasrat belaka. Aku berharap malam yang kami impikan akan segera tiba meskipun sudah terencana tapi Mas Arga masih enggan untuk melakukannya.
__ADS_1
Baiklah, aku akan kembali bersabar. Menunggu sampai Mas Arga benar-benar siap untuk memulai.