KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 16


__ADS_3

Lepas shalat subuh berjamaah aku segera memberitahukan kabar perjalan liburan kami yang sudah bapak siapkan.


"Pergi berlibur? Tapi Dek--" Ucapan Mas Arga terhenti.


"Tapi apa?" Jawabku mengerutkan kening.


Mas Arga terdiam dirinya nampak sedang memikirkan sesuatu, mungkin tentang ibunya.


"Yasudah kalau tidak mau yah tidak masalah, bisa kita undur kapan-kapan." Aku kembali membuka suara. Yah, mau bagaimana lagi prioritas terpenting bagi Mas Arga pasti adalah ibu mertua. Aku juga mengerti jika suamiku sangat khawatir terhadap ibunya yang tinggal seorang diri.


"Bukan, begitu Dek. Bukan Mas menolak, tapi kamu kan tahu ibu hanya sendiri dirumah. Jadi, apa kamu tidak berkeberatan jika aku mengajak ibu?" Jawaban dari Mas Arga membuatku tercengang. Mana ada bulan madu ngajak mertua? Dasar suami semprul.

__ADS_1


"Kalau Mas Arga mau ajak ibu mending gak usah!" Jawabku ketus.


Mas Arga terdiam, kembali memikirkan jawaban yang aku berikan. Aku tahu Mas Arga pasti akan meminta izin untuk mengajak ibunya. Tapi inikan liburan dalam rangka berbulan madu masa iya sih waktu kami untuk berdua harus kembali terusik?


Bukannya aku tidak ingin mertua ikut, hanya saja aku juga butuh waktu privasi berdua bersama suami. Apakah itu salah? Cukup ibu mertua merepotkan hari-hariku ketika kami berdua di kontrakkan jangan sampai ibu mencuri waktu liburan bulan madu yang berharga untuk aku dan suamiku.


"Baiklah, aku akan menghubungi ibu dahulu." Mas Arga sibuk mencari ponselnya kesana-kemari. Aku hanya melihat suamiku yang sesekali bergumam karena tak menemukan ponselnya. Jelas saja tak akan ketemu karena aku telah menyembunyikan ponsel miliknya. Maafkan aku Mas Arga, harus bersikap seperti ini kepadamu.


"Dek, boleh Mas pinjam ponselmu?" tanya Mas Arga. Aku hanya menyodorkan ponselku sebagai jawaban. Mas Arga menghubungi ibunya tapi belum ada jawaban.


Mas Arga nampak sibuk mengetik pesan singkat kepada ibu mertua. Setelah selesai kami segera keluar kamar membawa barang bawaan untuk dipindahkan ke bagasi mobil.

__ADS_1


Aku dan Mas Arga pamit kepada kedua orangtuaku. Satu pesan ibuku yang membuat Mas Arga seperti terenyuh.


"Berikan ibu banyak cucu," pesan ibuku kepada suamiku yang menatap ibu dengan tatapan sendu. Bagaimana bisa memberikan banyak cucu? sementara produksi saja belum pernah. Aku berharap dengan adanya kesempatan liburan yang diberikan bapak memberikan peluang kepada kami. Peluang untuk memulai malam pertama yang sudah tertunda selama tiga bulan lamanya.


Disepanjang perjalanan Mas Arga hanya terdiam, dia sepertinya tak bahagia.


"Mas," panggilku yang hanya dijawab hmm olehnya.


"Mas Arga tidak bahagia yah kita pergi liburan?" tanyaku lagi dengan raut wajah sedih yang sedikit dibuat-buat. Memang harus bersikap licik sedikit sepertinya untuk mencuri perhatian Mas Arga.


"Tidak, Mas bahagia tetapi Mas kepikiran ibu terus loh, Dek."

__ADS_1


"Kan ada Mbak Leni sama Mas Arjun? Kenapa gak minta tolong Mas Arjun untuk menyampaikan kepada ibu dan memantau kondisi ibu?" Jawabku memberikan ide dengan menumbalkan Mas Arjun.


Mas Arga mulai tersenyum sumringah saat aku memberikan solusi dari hal yang membuatnya tak bersemangat. Mas Arga menepikan mobil dan mulai menghubungi Mas Arjun, bersyukur Mas Arjun dan Mbak Leni bersedia. Mereka mengerti sekali dengan keinginan kami kali ini. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, kali ini dengan bahagia dan senyuman Mas Arga yang selalu mengembang tenang.


__ADS_2