KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 7


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan kami menikah, mas Arga masih sama setiap hari bolak-balik kerumah ibunya bahkan lebih sering bermalam di sana.


Sementara aku? Ya sudah nasib mungkin menikah dengan mas Arga meski terkadang aku jengkel setengah mati.


Hari Minggu telah tiba, aku dan mas Arga memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah ibu mas Arga. Aku kesana hanya untuk bersih-bersih rumah, mencuci pakaian ibu mertua dan menyikat kamar mandi yang lumutan. Biasanya ada mbak Leni yang membantu mengerjakan karena ia sedang hamil dan mengidam parah aku tak tega membiarkannya membantu juga, belum lagi anak-anaknya banyak beruntung mas Arjun mau membantu tugas mbak Leni dirumah.


Bruuukkkk


"Aduh, Nadiiinnn ini disikat apa enggak sih? Lantai kamar mandi licin begini kamu mau bikin saya jatuh, struk terus mati yah." Ibu ngedumel karena terpleset dan hampir jatuh dari kamar mandi.


Aku hanya meminta maaf, biarlah mengalah saja dari pada nambah masalah.


"Sikat lagi sampai bersih!"


Aku hanya tertunduk, kembali ku sikat lantai kamar mandi dan menaruh kain kering untuk lap kaki disana.


Baru saja aku terduduk, aku melihat halaman rumah ibu berserakan sampah, entah datang dari mana rasanya tadi sampah-sampah itu tak ada.


Kembali ku ambil sapu lidi mengumpulkan sampah yang tercecer dan membuang di tempat sampah depan.

__ADS_1


Aku benar-benar lelah. Habis nyapu, ngepel, cuci piring, beres-beres kamar mas Arga, cuci pakaian ibu dan sikat kamar mandi sampai dua kali dapat bonus nyapu halaman.


Aku terduduk lemas, mas Arga kerumah mas Arjun tapi belum juga pulang. Perutku sudah keroncongan, ibu mertua juga masih di dalam kamar. Sepertinya aku harus makan di Warteg depan. Aku melangkah pergi menuju tempat makan tak jauh dari rumah ibu mertua. Mau di bungkus tidak enak karena hanya beli satu bungkus kalau membelikan ibu takut dibuang dan dicela. Serba salah!


Akhirnya aku makan di warung dengan tergesa-gesa. Setelah selesai aku bergegas kerumah ibu mertua takut nanti mencariku dan menggadu yang tidak-tidak pada mas Arga.


Mertuaku didepan rumah, sedang asyik makan kuaci yang kulitnya berhamburan dimana-mana.


Duh Gusti, baru juga aku makan isi tenaga udah abis lagi deh nih.


Aku memasuki rumah dan duduk di samping ibu mertua. Dia tak menghiraukan kehadiran diriku. Seperti aku adalah setan yang mengganggu dia pergi kembali masuk kedalam sambil membuang bungkus kuacinya sembarang.


Ah, telat kamu mas. Nunggu kamu datang membawa makanan bisa pingsan aku karena menahan lapar. Aku hanya bergumam dalam hati menatap lekat bungkus plastik hitam yang ditenteng.


"Assalamu'alaikum, ibu mana dek? Loh kamu belum selesai?"


Belum aku menjawab pertanyaan mas Arga, tiba-tiba ibu keluar dari dalam kamar.


"Istrimu itu Ga, kalo kerja lama, lelet dan gak bersih pula. Betah kamu tinggal berlama-lama bersama dia?" Ibu meracau memandangku dengan tatapan sinis mengejek.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum, berusaha agar tak terpancing amarah.


"Maaf mas, tadi aku tunda aku lapar sekali jadi aku makan diwarung depan," ucapku.


"Oh bagus yah makan pergi ngeluyur sendiri, gak nawarin ibu dan suamimu."


"Bukan begitu bu-"


"Halah, emang dasar kamu pelit!"


Degg..


Ibu mertua bilang aku pelit? Lantas bagaimana dengannya? Aku pontang-panting menyelesaikan pekerjaan rumah, aku kehausan dan ibu membiarkan tenggorokan aku kering kerontang tak berbelas kasih meski hanya setetes air minum melepas dahaga.


Ibu mertua, dari mana kata pelit itu bisa kau cipta?


Ibu menyambar kilat bungkus plastik yang mas Arga bawa.


"Sini buat ibu saja. Kalau kalian sudah selesai lebih baik kalian pergi dari sini."

__ADS_1


Ibu menghentakkan kakinya masuk ke dalam kamar yang selalu terkunci. Aku bingung kamar apa itu? Apakah itu gudang? Atau ? Lalu kenapa selalu dikunci? Ah, rasanya aku semakin penasaran dan lagi-lagi aku hanya bisa menyimpan rapat seribu pertanyaan yang masih menggantung di pikiran.


__ADS_2